
...CINTA JOHANNA...
...Penulis : David Khanz...
...Bagian 10...
...—------- o0o —-------...
Tante Chika tampak ketakutan. Dia segera memburu jendela ruang depan, menyingkap sedikit kain gorden dan mengintip ke luar untuk melihat-lihat.
"Enggak … enggak! Ini gak bener! Bahaya!" seru perempuan itu pelan seraya menggeleng-geleng panik, lantas membalikkan badan, menatap keponakannya dengan raut pucat. "Papamu ada di luar, Hanna!"
Gadis tersebut hanya bisa memerhatikan dari belakang tantenya, agak menjauh dari jendela. "T-tante …." Hanna merasakan hal yang sama. Seketika darah pun serasa tersedot cepat, berkumpul berat memenuhi kepala. "H-hanna harus bagaimana, T-tante?"
Mata Tante Chika berputar-putar hebat. Sambil merogoh kantong celana pendeknya, dia memberikan beberapa lembar uang ke dalam genggaman tangan Hanna. "Pergi cepat ke belakang! Lari sejauh mungkin! Terserah kamu mau pergi ke mana! I-ini … buat bekal kamu."
"T-tante …." Hanna bingung. Bukannya bergegas menuruti perintah, akan tetapi justru terbengong-bengong sendiri dicekal rasa kejut dan takut.
"Cepat, Hanna!" seru kembali Tante Chika geram. "Nanti kalo situasi sudah aman, Tante akan temui kamu di kampus!"
"Tapi …."
"Cepaaattt!" Hampir saja perempuan itu berteriak kesal.
"Tante?"
Tok! Tok! Tok!
"Kak Atan?"
__ADS_1
Spontan Tante Chika mendorong Hanna dengan kasar agar segera meninggalkannya. Disusul suara ketukan kedua di pintu diiringi panggilan keras yang sangat mereka kenal di luar sana. "Chika! Buka pintu!"
"I-iya, K-kak! Sebentar!" seru Tante Chika panik, kemudian repleks menendang kaki Hanna agar buru-buru lari melalui pintu belakang. "Pergi kataku, Bodoh! Buruaaannn!"
"Aduh! Asshhhh …." Gadis tersebut meringis kesakitan sambil mengusapi kaki, lantas bergegas ke belakang, memburu pintu keluar. Sejenak melihat-lihat dulu, sekeliling, untuk memastikan kalau papanya tidak ada di sekitar area tersebut.
"Mana si Johanna?!"
Teriakan itu sempat terdengar meskipun Hanna sudah mulai menjauh dari rumah. Tadinya ingin sekali kembali masuk untuk memastikan kondisi Tante Chika, tapi bayangan wajah papanya seketika menyurutkan niat awal. Lantas berlari sekencang mungkin sambil menenteng kain mukena dan belum sempat berganti pakaian sama sekali.
Beberapa warga sekitar sempat memperhatikan sosok gadis itu, berlari-lari laksana maling yang tertangkap basah dikejar massa. Dia tidak peduli. Pokoknya harus segera menjauh dan menjauh, secepat kemampuan yang ada atau sebisa mungkin menghilang dari pandangan mata Atan atau Jonathan, papanya Hanna.
Dia memasuki lorong-lorong gang sempit di antara pemukiman warga sekitar, hingga sesekali menyenggol permukaan dinding rumah yang kasar tidak berplester. Goresan perih seketika menyengat panas menggaruki permukaan kulit. Namun ayunan kaki harus tetap melangkah, pantang berhenti walaupun sedetik, untuk selanjutnya menemukan tempat yang dirasa aman.
'Sialan!' rutuk Hanna di tengah-tengah himpitan rasa sesak di dada. Pelarian ketiga ini serasa menempatkannya bagai sesosok mangsa tersisa bagi segerombolan makhluk-makhluk zombi di sebuah laga film. Bedanya, itu adalah tentang pilihan hidup dan mati dan benar-benar nyata.
Sebelumnya, Hanna pun sempat terusir paksa dari Musala itu tadi Subuh, tempat sementara untuk berteduh dan bermalam suntuk. Di pengujung janari, seseorang menghardik dengan keras, "Heh! Siapa kamu? Bangun!"
"Eeummmhhh …."
"K-kamu … s-sebangsa manusia atau jin kafir?" tanya sosok tua itu kemudian dengan suara menyentak sakit menusuk gendang telinga. "P-pergi dari sini! Jangan ganggu kami!"
"P-paakk …." sahut Hanna mencoba menjawab pelan. "S-saya … s-saya …." Suaranya sulit sekali keluar, ditambah kondisi tenggorokan serasa mengering kerontang. Mungkin pula akibat semalaman suntuk terguguk sedih meratapi nasib diri.
Sosok tua itu mencoba mendekat. Dia memerhatikan dengan seksama. "Astaghfirullah! K-kamu … k-kamu … eh, sejak kapan ada kuntilanak bermata sipit?" ucapnya dengan nada gemetar. "Atau jangan-jangan k-kamu … orang gila, ya?"
Ingin sekali rasanya gadis itu menjawab. Sekadar berucap permohonan agar diizinkan untuk tinggal di sana dalam beberapa waktu. Setidaknya sampai waktu Subuh nanti tiba. "P-paakkk …."
"Pergi! Pergi!"
__ADS_1
Dia mengenjak-enjakkan kaki ke lantai beberapa kali disertai tiruan suara seperti hendak mengusir ayam liar.
"Hussshhh … hussshhh! Pergi sana! Pergi!"
Spontan Hanna pun merasa ketakutan. Khawatir sosok tua itu akan memperlakukan dia dengan kasar atau bahkan menyakiti, seperti yang telah dilakukan oleh papanya semalam.
"B-baik … b-baik … saya pergi, Pak," ucap Hanna, lantas buru-buru bangkit dan bergegas pergi. Hampir saja terlupa pada kain mukena yang semalam dibiarkan tergantung mengering di dinding berpaku di area wudu.
"Heh! Heh! Kamu mencuri, ya?" tanya kembali sosok tua tersebut. Tertampak sekali dia ragu-ragu hendak mendekat. Mungkin dikiranya gadis tersebut benar-benar orang gila atau penampakan sejenis hantu. "Kembalikan kain itu! Kamu pasti mencurinya dari …." Ucapannya mendadak terhenti. Seperti berpikir sesuatu. Entahlah.
Setengah berlari, Hanna bergegas pergi menjauh dari sosok tadi. Itu pun masih belum cukup bagi dia rupanya. Sayup-sayup masih terdengar suara sumpah serapah menyakitkan di belakang sana.
Seketika gadis itu pun jadi tersadar diri. Bukan apa-apa, dengan penampilan terbuka seperti itu, siapa pun –kemungkinan besar– akan mengira hal serupa. Lihat saja, celana sebatas lutut berpadu dengan baju berlengan pendek, setelan yang biasa dikenakan saat menjelang tidur. Ditambah pula kondisi wajah kusam dan rambut acak-acakan begini, pasti akan dikira gembel. Sebagaimana yang diungkapkan oleh sosok tua tadi, lengkap bersama imbuhan kata beraroma rasis.
Perlakuan yang sama pun hampir didapatkan di tempat lain. Bermaksud menunaikan ibadah salat Subuh, di tengah jalan Hanna –sengaja– mampir ke sebuah mesjid.
"Maaf, Mbak," sapa seorang perempuan ketika Hanna mulai memasuki pelataran rumah ibadah tersebut. "Mbak ini … mau ke mana?" Tampaknya sejak melewati gerbang mesjid tadi, dia sengaja menunggui di teras depan disertai tatapan aneh.
Seorang perempuan yang terlihat masih muda dan ditaksir berusia tidak begitu jauh dari umur Johanna sendiri.
Jawab Hanna pelan di tengah suara jahar imam salat melalui sepiker, "S-saya mau numpang salat di sini, Mbak. Boleh?"
Sejenak dia terpana atau lebih tepatnya mungkin termangu. Tidak percaya? Wajar saja.
"Sholat?" Perempuan tersebut mengerutkan kening. "Mbak ini …."
"Saya muslim, Mbak," tukas Hanna menjelaskan. "Lebih tepatnya … mualaf."
Untuk kali kedua, sosok di depan itu kembali –tampak– terkaget-kaget. "Subhanallah … walhamdulillah … walaa ilaaha illaahuwallahu Akbar," serunya diiringi senyuman takjub. "Maafin ya, Mbak. Tadinya saya pikir … Mbak ini …." Dia tidak meneruskan ucapan, akan tetapi sudah bisa dipahami, akan ke mana arah kata-katanya tersebut.
__ADS_1
"Gak apa-apa, Mbak," ujar Hanna memaklumi. "Maaf kalo penampilan saya kayak begini. S-saya …."
...BERSAMBUNG...