
...CINTA JOHANNA...
...Penulis : David Khanz...
...Bagian 17...
...------- o0o -------...
"I-ini … pemberian dari … Mas Ravi," jawab Hanna gelagapan.
"Ravi? Siapa lagi dia?" selidik Tante Chika kembali dan langsung ditenangkan oleh Mama Lilian.
"Temen Hanna, Tante."
"Temen yang mana? Temen kuliahmu?"
"Bukan."
"Terus?"
"Dia yang nolongin Hanna selama ini."
"Nolongin? Orang Islam juga?"
"Tenanglah, Chika," ujar Lilian pada Chika. "Nanti saja kita omongin lagi."
"Gak bisa begitu, Kak," tandas adik kandung Jonathan tersebut. "Hanna harus jujur sama kita. Selama ini, aku yang selalu sibuk mondar-mandir nemuin dia. Kenapa baru sekarang ngomong, kalo selama ini dia deket sama laki-laki lain?"
"Bukan begitu maksud Hanna, Tante," ujar Hanna semakin gelagapan. "Mas Ravi itu …."
"Kenapa? Kamu jadi simpanan dia? Kalian berzina dengan dalih poligami?"
"Astaghfirullah … kenapa Tante mikirnya begitu?" seru Hanna terkaget-kaget. "Hanna gak punya hubungan apa-apa sama Mas Ravi, kecuali cuma berteman doang."
"Lah iyalah! Awalnya memang beralasan berteman, tapi lama-lama pasti ada maksud lain. Mana ada seorang laki-laki nolongin perempuan kayak kamu tanpa pamrih? Kalo bukan karena punya maksud lain, gak mungkin dia mau nolongin kamu."
__ADS_1
"Tante …."
"Hhmmm, emang ya? Dasarnya emang udah jelas. Laki-laki Islam itu pikirannya emang gak pernah jauh dari ************!"
"Astaghfirullah … Tante?"
"Sudahlah, Chika." Mama Lilian melerai. "Gak usah ngebahas itu di sini. Kasihan sama kakakmu."
"Percuma aku bela-belain kamu dari Kak Atan, Hanna. Ternyata kelakuanmu di luar selama ini … seperti itu, ya?" sungut Tante Chika menyebalkan. "Tante bener-bener kecewa sama kamu!" Dia bergegas keluar dari dalam ruangan dengan raut marah.
"Tante!" panggil Hanna hendak mengejar.
"Sudah, Hanna. Biarin aja dia begitu," seru Mama Lilian mencegah anak gadisnya turut mengejar. "Chika emang begitu, Sayang."
"Iya, tapi 'kan gak usah ngomong kayak 'gitu, Ma."
Wanita tua itu menarik napas dalam-dalam. Lantas mulai bertutur, "Mungkin karena dia dulu punya pengalaman pahit sama mantan suaminya."
"Om Steven?"
"Kok, Hanna baru tahu sekarang?" tanya Hanna seraya mengerutkan kening.
"Waktu itu … kamu dan Andrew masih kecil-kecil. Ya, sudah pasti … kalian berdua gak bakalan inget kejadian itu," kata Mama Lilian dengan pandangan kosong, seperti sedang menerawang jauh ke beberapa waktu silam. "Sekarang … kejadian itu terulang. Kamu, Hanna. Kamu ngikutin jejaknya si Steven. Hhmmm, entah dosa apa yang pernah Mama lakuin dulu sama Tuhan. Padahal Mama sudah berusaha taat dan rajin beribadah ke gereja. Tapi … lagi-lagi … cobaan itu datangnya dari mereka, orang-orang Islam itu."
Hanna menatap mamanya dengan rasa pilu. Dia merasa ada banyak hal yang harus diluruskan terkait pandangan orang-orang seperti Mama Lilian dan Tante Chika, juga Papa Jonathan, terhadap dunia keislaman. Saat itu juga? Tentu tidak. Bukan waktu yang tepat. Namun yang pasti harus dilakukan secara perlahan, tanpa bernada menggurui, dan dicontohkan melalui perilaku Hanna sendiri. Berdakwah dengan akhlak sebagaimana yang dulu pernah dilakukan oleh Baginda Rasulullah Salallahu'alaihi Wasallaam.
...—------- o0o —-------...
Kidung rohani mengalun sendu di hampir sepanjang hari itu. Meniti syair dan lirik mengagungkan nama serta kebesaran Tuhan, diiringi dentang dawai berirama menyatu dalam jiwa.
Suasana berkabung menyelimuti keluarga Johanna. Tangis dan sembap menghiasi sosok-sosok sendu dengan balutan seragam busana berwarna kelam. Tertunduk dalam-dalam, melafalkan bait demi bait doa suci melalui untaian ayat-ayat firman.
Lilian menatap pilu pada sosok kaku di dalam peti mati, digayuti Hanna dan Andrew duduk berdampingan di sisi kiri-kanan. Mereka tengah bersedih dengan kepergian orang terkasih, yang kini terbaring pucat dalam balutan tuksedo.
Tidak jauh dari sana, berdiri Chika dengan raut sendu senada sambil sesekali menyeka linangan air mata. Masih terngiang-ngiang kalimat-kalimat terakhir mendiang sesaat sebelum mengembuskan napas terakhir ; "Kutitipkan Johanna padamu, Chika," ujar lirih Jonathan di atas ranjang pesakitan. "Aku mungkin telah gagal menjadikannya seorang Kristiani sejati, tapi aku percaya, bagimu bukan sesuatu yang mudah sebagaimana aku lakukan sebelumnya. Bujuklah dia dengan segala daya dan cara, agar kembali ke pangkuan Tuhan kita."
__ADS_1
"Kenapa gak Kakak serahin saja permasalahan Johanna itu sama Lilian, mamanya, Kak?" tanya Chika ikut menyesak menatap raut derita yang tengah Jonathan rasa. "Bukankah itu lebih mudah bagi Kak Lili buat menunaikan amanahmu itu?"
Sambil berusaha menghela napas berat, laki-laki tua itu menjawab, "Eeuuhhh, aku gak percaya sama dia, Chika. Tampaknya Lili lebih memilih membiarkan Johanna seperti itu. Entahlah, aku sendiri sering gak paham. Makanya, aku lebih mempercayaimu ketimbang dia."
Tiba-tiba semuanya terjadi. Napas Jonathan mulai memendek tersengal-sengal. Lantas usai terlelah berkata-kata, laki-laki itu pun melepas nyawa. Meninggal dengan kondisi mata terbelalak dan mulut lebar terbuka.
"Kak Atan! Kak Ataannn!" teriak Chika histeris sendiri seraya mengguncang-guncang tubuh kakak semata wayangnya tersebut.
Beberapa orang datang menghampiri. Mendekat dan berusaha menenangkan. Hingga riuh pun seketika menggaung di dalam ruangan itu.
"Sabar, Kak. Tenang," ujar seseorang seraya merengkuh tubuh wanita tua itu menjauh dari peti mati.
"Jangan tinggalin aku, Kak Atan!" teriak Chika dalam rontaan sekuat tenaga.
"Bawa dia ke ruangan lain."
"Baik, Ci."
Johanna dan Andrew hanya bisa menatap pilu, memandangi Chika digiring menjauh dari ruangan duka. Lalu kembali merapat, memeluk Lilian, dan duduk di tempat semula.
Gema kidung rohani sempat terhenti sejenak, lalu berlanjut seperti sedia kala usai teriakan Chika perlahan menjauh.
Nyaris tidak ada sepatah kata pun yang terucap dari ketiga sosok peninggalan terkasih mendiang Jonathan itu; Lilian atau Feng Lian, Johanna, serta Andrew. Masing-masing terlelap dalam balutan duka nestapa yang paling dalam. Hingga acara penguburan itu tiba.
"Ada yang mau bertemu denganmu, Hanna." Seseorang membisiki Johanna di tengah acara khotbah kematian pendeta.
"Siapa?" tanya Hanna bingung.
"Laki-laki."
'Mungkinkah itu ….' Membatin gadis itu seraya melihat-lihat arah yang ditunjuki seseorang barusan. ' … Mas Ravi?'
Laki-laki yang dimaksud Hanna itu melambaikan tangan dari kejauhan. Dia tersenyum tipis di antara raut sosok-sosok pengantar jenazah yang tertunduk sedih.
"Maaf, aku baru tahu kabar duka ini dari temanmu di kampus, Hanna," ujar Ravi begitu didekati. "Dua harian kemarin, kamu sulit banget aku hubungi."
__ADS_1
...BERSAMBUNG ...