Cinta Johanna

Cinta Johanna
Bagian 62


__ADS_3

...CINTA JOHANNA...


...Penulis : David Khanz...


...Bagian 62...


...------- o0o -------...


Usai berhasil kabur dari sosok Ghea, Johanna bergegas menuju tempat kontrakannya bersama tukang ojek yang dipesan oleh Ravi. Tidak seberapa lama, akhirnya mereka pun tiba di tempat tujuan.


"Makasih ya, Bang," ujar gadis tersebut begitu turun dari motor. Jawab tukang ojek, "Iya, Mbak. Sama-sama. Mari … saya tinggal lagi, ya?"


"Iya, Bang. Silakan," balas Johanna ramah.


Tukang ojek itu pun segera menjauh, kembali ke tempat dia biasa mangkal di depan ujung jalan.


Kemudian Johanna segera mengambil ponsel di dalam tas untuk menghubungi Ravi. Langsung terhubung dan diangkat, lantas bercakap-cakap pembuka biasa, hingga berlanjut pada titik bahasan utama. "Makasih ya, Mas, atas pesanan ojeknya. He-he-he," ujar gadis tersebut merasa semringah. "Tadinya sih, aku berniat naik angkot aja. Tapi … eh, Abang ojek itu keburu ngejemput."


Balas Ravi di seberang telepon, "Iya, Han. Awalnya juga aku mikir, mungkin kamu belom bener-bener mau pergi ke sana. Makanya aku bingung. Mana kerjaan banyak lagi. Ya, udahlah … aku minta aja sama tukang ojek langganan itu buat ngejemput kamu."


"He-he-he. Kamu bisa aja, Mas."


"Aku juga tadi rada mikir sih, kalopun kamu gak jadi pergi ke kontrakan … ya, gak apa-apa juga. Tapi dia tetep aku bayar, kok. Ha-ha-ha!" Gelak tawa Ravi terdengar cukup singkat. Sampai kemudian dia berungkap, "Duh, barusan aku dipelototin atasan, Han. Gara-gara ketawa terlalu keras."


"Hi-hi, lagian … kamu itu kalo ketawa gak tahu tempat," ujar Johanna merasa geli membayangkan Ravi dipelototi atasannya. "Rasain kamu, Mas!" imbuh gadis itu kemudian.


"He-he, gak tahu kenapa, ya … kalo ngobrol sama kamu itu … rasanya kok, aku nyaman banget 'gitu loh, Han. Bawaannya aku pengen ketawa terus," ungkap Ravi terdengar jujur. Namun bagi Johanna, justru menjadi bahan pertanyaan tersendiri. 'Tapi hampir tiap ketemu  setelah kamu pulang ke rumahmu, kamu selalu terlihat murung, Mas. Kayak lagi nahan kesel atau marah 'gitu. Apa selama ini dia ngerasa gak nyaman sama istri kamu sendiri, Mas?' membatin gadis itu.


"Syukur … Alhamdulillah kalo begitu, Mas," timpal Johanna. "Seenggaknya, aku bisa jadi teman yang bisa menghiburmu. He-he."


"Iya, Han. Aku juga bersyukur bisa kenal sama kamu," imbuh kembali Ravi berterus terang. "Awalnya sih, aku juga kaget … kok, bisa ya? Tuhan mempertemukan kita?"


"Allah, Mas. Sebut nama Allah, bukan hanya Tuhan," Johanna mengingatkan.


"Loh, apa bedanya? Karena aku muslim, tiap kali aku nyebut Tuhan, berarti maksudnya Allah, dong."


"Tapi menurutku, perspektif penyebutan kata Tuhan bagi manusia itu bisa bermakna umum. Sesuai dengan penganut agamanya masing-masing, Tuhan itu bisa berarti Yesus, Dewa-Dewi, atau terkadang manusia ataupun makhluk lain yang dipertuhankan," tutur Johanna berpendapat. "Jika kita merasa bener-bener seorang Muslim, maka makna sesungguhnya adalah … laa ilaaha illallah … tiada Tuhan selain Allah. Kita hanya mengakui satu Tuhan, yaitu Allah Subhanahu Wata'ala. Jika hanya menyebut kata 'Tuhan', bisa berarti bahwa kita mengakui adanya Tuhan-Tuhan lainnya selain Allah. Iya, 'kan?"

__ADS_1


"Wow, masuk akal juga sih, apa yang omongin itu, Han," ujar Ravi.


"Itu sih menurut perspektifku, loh."


"Ya, gak apa-apa. Aku malah kagum sama pendapatmu itu."


"Terima kasih," kata Johanna, kemudian lanjut berkata, "Disamping itu, dengan menyebut nama atau kata Allah, secara langsung atau gak langsung … kita sudah nunjukkin diri tentang identitas kita yang sesungguhnya bahwa kita adalah umat Islam. Jadi, gak perlu malu buat menunjukkan keislaman kita. Makanya, di dalam dunia Islam itu sendiri, ada banyak ungkapan-ungkapan khas yang melabeli diri, kayak … Insyaa Allah, Alhamdulillah, Masyaa Allah, Subhanallah, Wallahi, dan lain-lain. Semuanya berbahasa Arab sebagaimana bahasa yang digunakan di dalam Al Qur'an, tapi bukan berarti Islam itu selalu identik dengan Arabisasi, ya? Ada batasan-batasan tersendiri di dalamnya."


"Waahhh, panjang banget ceramah, Bu Ustadzah," ucap Ravi bernada kelakar. "Aku pengen ketemu sama Bu Ustadzah, nih."


"Ustadzah apaan, sih? Aku cuman tahu dari buku-buku yang pernah Mas Ravi kasih ke aku dulu, loh," ujar Johanna merasa jengah terhadap istilah 'ustadzah' yang diucapkan oleh Ravi.


"Loh, emangnya kenapa? Ustadzah 'kan sebutan buat guru perempuan."


"Aku tahu. Kalo laki-laki itu ustadz."


"Nah, itu kamu tahu. Ustadz atau ustadzah itu sendiri artinya 'kan guru."


"Terus?"


"Semua orang itu bisa menjadi ustadz atau ustadzah bagi sesama orang. Dalam arti, jika mengetahui suatu keilmuan, dia berhak dan wajib menyampaikannga pada orang lain. Jika ilmu yang disampaikan itu bermanfaat dan diambil oleh orang lain, syukur-syukur diamalin, maka pihak pemberi ilmu itu adalah ustadz atau ustadzah. Makna lainnya adalah kita semua bisa saling mengajarkan dan melengkapi satu sama lain. Termasuk kamu barusan, ngajarin aku. Untuk itulah, aku berhak menyebutmu guru karena perspektif yang kamu bilang tadi, aku terima sebagai tambahan ilmu."


"Ya, 'kan ada yang ngajarin … yaitu kamu barusan, Han. He-he," puji Ravi.


"Tahu, ah!"


"He-he … ngomong-ngomong … kamu kapan pulang dari sana?" tanya Ravi tiba-tiba.


"Maksudnya … dari kontrakan?"


"Iyalah. Darimana lagi, Han?"


"Gak tahu, Mas."


"Loh, kok gak tahu? Emang kamu cuman sebentar di sana?"


Johanna berpikir sejenak. "Ya, tadinya sih cuman pengen ngelihat-lihat kontrakan aja. Habis itu, pulang lagi ke rumah."

__ADS_1


"Ooohhh."


"Ada apa, sih?"


"Gak apa-apa. Kirain ada waktu luang 'gitu buat ketemuan."


"Mas Ravi mau kita ketemuan?"


"Ya, kalo kamu ada waktu aku bilang juga. Kalo enggak, sudahlah. Lagian kamu juga harus banyak-banyak ngumpul sama keluargamu, 'kan?"


"Mas Ravi sendiri 'gimana?"


"Maksudnya?"


"Ngumpul sama istri Mas sendiri."


Terdengar suara di sana decak. Johanna berpikir, mungkin Ravi sedang berpikir lain. Bisa juga tengah merasakan sesuatu yang membuatnya tidak berada di dalam kondisi nyaman.


"Jujur sih, sebenernya … aku males banget pulang, Han," ungkap laki-laki itu terdengar lirih. Johanna bisa merasakan kegundahan yang tengah dialami oleh Ravi melalui ******* suaranya.


"Jangan 'gitu, Mas," kata gadis tersebut mencoba menyadarkan. "Apapun kondisinya, Mas Ravi ini sudah mempunyai keluarga sendiri, tanggung jawab sendiri, bahkan kewajiban sendiri sebagai seorang kepala rumah tangga. Ada istri Mas di rumah yang harus Mas penuhi kebutuhan waktu kebersamaannya."


"Iya, aku tahu dan sadar itu, Han," ucap Ravi. "Tapi kalopun aku pulang juga, situasinya gak selalu seperti apa yang aku harepin."


Johanna tahu, Ravi mungkin sedang bermasalah dengan istrinya, Sarah. Itu pun atas pengakuannya sendiri pagi tadi ketika menjemputnya.


"Terus … Mas bakal selalu lari dari masalah, begitu?" tanya gadis itu seperti tengah menyindir. "Apalagi ini masalah internal keluarga Mas sendiri, loh. Maaf kalo aku mesti bilang begini. Sejujurnya sih, aku sama sekali gak berhak buat ikut masuk ke dalam lingkaran itu. Iya 'kan, Mas?"


"Seenggaknya … aku lagi butuh seseorang buat sharing, Han. Aku sama sekali gak berniat lari dari masalah, tapi … lagi nyari waktu yang tepat buat ngatasin masalah. Aku gak mau ngungkapin atau mutusin sebuah vonis atas suatu perkara dalam kondisi hati lagi emosi. Itu aja. Gak ada yang lain."


"Terus … menurut Mas Ravi, cuman aku seorang yang paling cocok buat diajak sharing itu, Mas?"


"Kamu keberatan?" tanya Ravi dan langsung membuat Johanna tiba-tiba merasa bingung untuk menjawab dengan kata 'ya' atau 'tidak'.


Gadis itu sadar, ada beberapa hal yang mesti dia pertimbangkan. Ini urusan rumah orang lain. Bukan keluarganya pribadi. Di satu sisi, Johanna juga belum pernah memiliki pengalaman berumah tangga, akan tetapi secara teori dia sudah banyak membaca-baca buku seputar kehidupan tersebut, seperti; PERNIKAHAN MENURUT ISLAM, MENJADI ISTRI IDAMAN, serta bahan-bahan bacaan lain yang diperlukan.


Johanna sadar, teori lebih mudah dibandingkan praktek. Namun masalah internal rumah tangga Ravi, setidaknya bisa dijadikan acuan untuk mengambil sebuah pengalaman. Karena ilmu itu terkadang bisa dipelajari melalui panca indera. Yakni; mata dan telinga. Selebihnya adalah hati serta akal pikiran.

__ADS_1


Lantas, atas dasar-dasar itu, maukah Johanna mendengarkan curahan lelaki tersebut?


...BERSAMBUNG...


__ADS_2