
...CINTA JOHANNA...
...Oleh : David Khanz...
...Bagian 70...
...—------- o0o —-------...
"Mamaku punya penyakit jantung, Han," ungkap Ravi kembali usai meminum habis isi gelas dihadapannya. "Aku takut, jika sampai kondisi rumah tangga kami ini diketahui oleh Mama, sakitnya akan semakin parah."
Timpal Johanna lirih, "Iya, aku itu. Mas Ravi pernah cerita tentang itu sebelumnya. Aku paham banget."
Kemudian Ravi kembali memeriksa ponselnya untuk memastikan apakah Sarah masih memblokir nomornya? Namun keadaan tersebut masih juga seperti tadi; tanda centang tunggal berwarna abu-abu. Kesal, tentu saja. Sampai-sampai laki-laki itu tidak sadar mendecak beberapa kali.
"Kenapa, Mas? Mbak Sarah lagi?" tanya Johanna penasaran memperhatikan tingkah Ravi. "Dari tadi aku lihat, kamu kayak lagi gelisah begitu."
Laki-laki itu menggaruk-garuk kepala. Lalu menjawab risau, "Gak tahulah, Han. Aku sendiri lagi bingung."
"Bingung kenapa lagi?" Kedua alis gadis itu langsung saling bertaut, heran. Mendadak dia jadi serba ingin tahu tentang masalah yang tengah dihadapi oleh temannya tersebut.
Ravi tidak langsung menjawab seperti sebelumnya. Pandangannya kembali berputar, menyapu keempat sudut ruangan tempat makan tersebut, seperti sedang mencari-cari sesuatu atau juga seseorang.
"Kayaknya … aku ngerasa ada seseorang yang selalu mematai-matai kita di sini, Han," kata Ravi akhirnya. Johanna terperanjat dan spontan ikut-ikutan memutari pandang ke semua penjuru tempat. "Sudah dua kali, Sarah sepertinya tahu keberadaanku di sini."
"Dua kali?" Johanna bertanya-tanya keheranan. "Kapan?"
Jawab laki-laki tersebut, "Beberapa hari yang lalu, sewaktu sama kamu itu loh, Han. Terus sama hari ini juga. Dia mengirim pesan tersirat, seolah-olah tahu banget kondisi kita di sini."
"Kok, bisa?" Mata sipit gadis itu kian menipis. Nyaris hanya berupa garis melintang di depan matanya. "Bagaimana bisa tahu, ya? Mungkin cuman nebak atau 'gimanalah, Mas."
"Tadinya aku pikir juga begitu. Tapi … masa sampai dua kali bener terus, sih?" ungkap Ravi bingung. "Belom sempet ditanyain sama Sarahnya langsung dan waktu di rumah juga kayak cuek 'gitulah." Dia menggaruk-garuk kepala lagi. "Nah, tadi juga dia begitu. Mau kutelpon, tapi nomorku diblokir."
"Kok, diblokir?" Johanna makin bingung dengan perilaku istrinya Ravi tersebut. Jawab Lelaki itu, "Emang begitu kebiasaannya, Han. Sarah itu kalo lagi marahan, suka langsung ngeblokir nomorku. Makanya, kalo ada apa-apa suka susah dihubungin."
'Ya, Allah … ribet amat ya menghadapi sikap istrinya Mas Ravi itu. Jadi gak habis pikir aku,' gumam Johanna miris. 'Pantas saja, bagaimana mungkin bisa nyaman kalo buat komunikasi saja susah begitu. Kasihan banget Mas Ravi ….'
Kemudian timbul di dalam pikiran Johanna, jika Islam itu melarang untuk berpacaran, lantas bagaimana bisa menyelami sifat dan karakter masing-masing pihak? Jika hanya dengan mengandalkan jalan ta'aruf, lantas bagaimana bisa mengenali calon pasangan kelak?
Memperhatikan kehidupan rumah tangga Ravi yang tanpa dilandasi rasa cinta, sampai kapan mereka akan bertahan dengan keegoan masing-masing. Kurangnya saling memahami satu dengan lainnya, akan terus-terusan menimbulkan konflik demi konflik. Sesuatu yang kecil bisa menjadi besar. Hal sepele bakal berubah berat. Seperti apakah sosok Sarah itu sebenarnya? Pikir Johanna penasaran.
"Secara dasar-dasar ilmu agama, Sarah juga pernah mengenyam pendidikan pesantren," ungkap Ravi sewaktu ditanya Johanna. "Jadi … dia itu enggak kurang-kurang amat. Ibadah rajin, ngaji oke, dan dari segi pakaian pun kerap menurup aurat. Sarah termasuk kategori perempuan religius. Cuman … ya, itu tadi … penerapan keilmuan dalam kehidupan sehari-hari kayaknya nol besar."
__ADS_1
Gadis itu mendengarkan dengan saksama curahan hati laki-laki tersebut.
...—---- o0o —----...
"Kunci surga bagi seorang istri itu ada di tangan suami, Sar," ucap Ravi suatu ketika. "Sebagaimana letak surga seorang anak, ada di telapak kaki ibunya. Artinya, ridha seorang suami itu mutlak diperlukan untuk menyempurnakan nilai-nilai ibadah seorang istri. Misalkan, istri hendak menjalankan puasa sunnah, jika suaminya enggak ngehendaki, maka sia-sialah ibadah yang dilakukan istri tersebut."
Timpal Sarah tidak mau kalah, "Urusan ibadah itu hablumminallah, Vi. Antara seorang hamba dengan Rabb-nya. Lagian kenapa juga urusan ibadah saja dipersulit? Terkecuali istri ngelakuin maksiat, barulah di situ peranan suami diperlukan."
"Bukan mempersulit," balas Ravi kemudian. "Seenggaknya, sebagai seorang istri … gak ada salahnya memberitahu suami dulu. Contoh, 'Mas, aku besok mau puasa. Mumpung kamu libur kerja. Jadi buat besok, aku mau konsen dulu ibadah. Gantian kamu yang ngurus-ngurus rumah. Boleh gak, Mas?' Ini misalkan loh, ya? Maknanya, mungkin saja suami ingin bermesraan dengan istri seharian, selagi ada di rumah. Butuh pemenuhan kebutuhan biologis. Ya, kalo istrinya puasa, suami terpaksa harus nganggur, dong?"
"Lagiaannn … urusan begituan 'kan ada waktunya. Bisa malem kek atau sehabis istri ngejalanin puasa," kata Sarah kembali. "Bukan malah siang-siang minta dilayanin terus."
"Loh, itu 'kan sekadar contoh. Siapa tahu aja kayak begitu, 'kan? Buat urusan lainnya, bisa dibicarakan lebih lanjut," ucap Ravi menegaskan. "Lagipula, laki-laki itu kalo lagi ngehendaki istrinya terkadang gak kenal waktu. Bisa kapan saja. Makanya untuk menjaga hal-hal kayak 'gitu, sebaiknya istri bilang-bilang dulu. Khawatirnya suami lagi ngerencanain sesuatu."
Sarah mendelik, "Kenapa harus pihak istri terus yang dituntut dan dipintai pengertian? Sekali-kali suami juga harus dong, Rav. Mentang-mentang kepala rumah tangga, terus segala sesuatu harus menurut suami. Begitu? Terus hak istri sendiri bagaimana?"
"Hak apalagi, Sar? Selama ini aku gak banyak nuntut apa-apa sama kamu," elak Ravi mulai kesal. "Malah aku sih, ngebebasin apapun yang kamu lakuin, silakan kerjain. Asalkan positif. Gak lebih, kok. Lagian kenapa juga harus ngerembet ke masalah lain? Aku 'kan lagi ngebahas tentang ridha suami tadi."
"Terus pernah juga gak kamu nanya sama aku selama ini, aku ridha gak ngerjain urusan rumah tangga? Ridha gak turut nyari duit?" Emosi Sarah mulai membuncah.
"Barusan 'kan udah aku bilang, terserah. Yang penting positif," timpal Ravi mengulang kembali. "Aku cuman kepengen, komunikasi kita itu sehat. Apa-apa harusnya bilang sama aku. Termasuk urusan kamu ngaji kemana-mana."
"Emang perlu? Aku 'kan pergi keluar juga buat ikutan pengajian kumpulan jamaahku. Bukan nongkrong atau ngegibah. Ini ngaji loh, Rav!"
"Terus tanggungjawabku sendiri emang gampang?"
"Ya, ampun Saraahhh! Tetep fokus deh di satu topik. Jangan ngelebar kemana-mana. Kebiasaan, deh!"
"Kamu juga kebiasaan suka nyalah-nyalahin aku!"
"Nyalahin apa?" Hati Ravi semakin kesal. "Aku cuman nunjukkin … ini loh kekeliruan kamu. Aku bantu ngebenerin. Ngebimbing. 'Kan, emang udah tugas dan tanggungjawabku, dong? Masa istri salah mau dibiarin aja? Kalo dosa, aku juga ikut nanggung, Saraahhh! Kenapa sih susah banget kamu diingetin? Astaghfirullah …."
"Seharusnya sebelum ngebenerin aku, introspeksi dulu diri kamu, Raaavvv! Maunya akuuu terus yang pengen berubah? Kamu sendiri 'gimana?"
"Emang salahnya aku apaan, Sar?"
"Pake nanya lagi salahmu apa? Nah, ini nih yang sering bikin aku kesel. Kamu paling bisa berkelit."
"Iya, salah aku apa. Coba tunjukkin, Sarah!"
"Hargai aku sebagai istrimu!"
__ADS_1
"Loh, sejak awal nikah juga aku sudah berusaha ngehargain kamu. Kurangnya di mana? Dulu, aku pernah ngomong sama kamu, apapun permasalahan yang terjadi di antara kita, kebiasaan salaman, peluk, dan cium pipi harus tetap berjalan. Dimanapun adanya. Terutama saat pamitan hendak kerja. Kamu gak mau. Alasannya apa? Kamu bilang Riya."
"Emang riya, 'kan?"
"Loh, masalah riya atau bukan sih, tergantung niat," ungkap Ravi semakin pusing dibuatnya. "Aku bukan mau pamer, Sarah. Aku cuma kepengen dengan kebiasaan semacam itu, hubungan kita akan tetep harmonis. Selalu ada sentuhan fisik, walaupun kita sedang bermasalah. Kalaupun ada yang menilai riya, ya itu terserah mereka. Yang penting kita enggak dan seenggak kita udah turut ngasih contoh positif. Begini nih seharusnya pasutri itu. 'Kan, begitu?"
Sarah mendelik dengan raut wajah masam. "Emang sih, kamu itu paling pinter kalo cuman teori doang! Semua orang juga bisa kalo cuman ngomong!"
Balas Ravi, "Loh, siapa yang cuman ngomong doang? Buktinya aku ngajak sama kamu. Ayo, lakuin. 'Gitu. Kamunya aja yang negative thinking terus. Capek, deh!"
"Capek?" Sarah melotot. "Kamu bilang capek? Gak bahagia 'gitu nikahin aku?"
"Ya, ampun … Saraahhh! Maksudku—"
"Ya, udah kalo kamu ngerasa capek," pungkas Sarah akhirnya, "kita pisah aja. Tapi resikonya kamu tanggung sendiri! Terutama Mama kamu, tuh!"
"Sarah!" sentak Ravi sudah tidak dapat menahan emosinya.
Perempuan itu bergegas ke kamar. Meninggalkan Ravi yang terengah-engah sendiri menahan emosi.
BRAK!
Pintu kamar dibanting dengan keras.
"Astaghfirullah!"
...—---- o0o —----...
"Subhanallah …." desah Johanna miris mendengar penuturan Ravi. Tidak terasa, gadis itu pun ikut menyesak. Timbul perasaan empati terhadap permasalahan rumah tangga laki-laki tersebut. 'Tapi … jujur sih, aku juga gak ingin terlalu depan hadir di antara mereka berdua. Aku baru mendengar dari satu pihak saja. Sementara belum pernah mengetahui hal sebenarnya menurut versi Mbak Sarah sendiri.'
Imbuh gadis tersebut kemudian, "Terus rencana kamu sekarang bagaimana? Mau tetap pulang, 'kan?"
Ravi mengangguk. Jawabnya, "Tentu saja. Apapun yang terjadi, aku harus tetap pulang. Soal bagaimana nanti, mau gak mau aku mesti ngadepin Sarah. Biar bagaimanapun juga, dia adalah istriku yang harus kujaga."
Johanna manggut-manggut. Dalam urusan tanggungjawab dan prinsip, lelaki ini bisa diandalkan. Begitu menurut gadis tersebut. Dari situ pula, diam-diam dia menaruh simpati serta semakin mengagumi.
"Sebentar, aku mau ke toilet dulu ya, Han," kata Ravi. Johanna mengiakan. "Silakan, Mas. Aku tunggu di sini," jawab gadis itu.
Johanna menatap pilu sosok laki-laki yang sudah banyak menolongnya tersebut. Sebagai calon sarjana dengan jurusan ilmu psikologi, ada banyak pelajaran yang bisa diambil terkait permasalahan rumah tangga mereka berdua. Terutama belajar tentang karakter kaum Adam.
"Eh …." Pandangan Johanna tiba-tiba terbentur pada sesosok yang kebetulan lewat. Hanya sekilas. 'Itu tadi … bukannya laki-laki yang ngelihatin aku? Apa aku salah lihat? Kok, bisa muncul lagi? Bukannya tadi udah pergi?'
__ADS_1
Diliputi rasa penasaran, Johanna bergegas mengejar arah kemana sosok yang dimaksud menghilang.
...BERSAMBUNG...