Cinta Johanna

Cinta Johanna
Bagian 55


__ADS_3

...CINTA JOHANNA...


...Oleh : David Khanz...


...Bagian 55...


...—------- o0o —-------...


Sejak itu, diam-diam Andrew selalu memerhatikan aktivitas Johanna selama mereka berada di rumah. Tidak jarang, anak laki-laki tersebut sengaja menyempatkan diri terbangun sebelum waktu Subuh tiba, hanya untuk mengawasi gerak-gerik kakaknya. Ketimbang tidur di kamar sendiri, dia lebih sering menggelar kasur di ruang keluarga. Tujuannya tentu saja ingin memastikan bahwa pada waktu menjelang fajar itulah, target yang diincar keluar dari kamar dan pergi ke kamar belakang.


"Orang Islam itu kalo mau sholat, wajib wudhu dulu, Ndrew," tutur salah seorang teman di lingkungan tempat tinggalnya, sewaktu ditanyai. "Wudhu itu … membasuh muka, tangan, kaki, rambut, kuping, hidung, dan berkumur-kumur yang diawali ama niat."


"Emang kudu selalu 'gitu, ya?" tanya Andrew seraya manggut-manggut.


"Ya, iyalah!"


Namun suatu waktu, sosok yang diawasi tidak kunjung berperilaku mencurigakan. Ditunggu hingga lima kali dalam sehari, Johanna cuek tidak melakukan apa-apa. Bahkan Maghrib pun anteng nonton televisi bersama ibunya, Mama Lilian.


'Aneh, kok udah lebih dari lima hari, Kak Hanna gak pernah bolak-balik ke kamar mandi lagi, ya? 'Kan, biasanya juga begitu tiap kali kalo denger ajan.' Bertanya-tanya terus anak muda tersebut, hingga kemudian mendapat jawaban dari teman yang sama di lain waktu. "Ooohh, khusus kalo buat cewek … biasanya suka dapet dispensasi, Ndrew!"


"Dispensasi? Dispensers 'ngkali maksud lu?" seru Andrew kaget. "Gila lu! Masa wudu pake air galon?"


"Siapa yang bilang dispensers? Dih!" gerutu temannya. Lantas lanjut berkata, "Dispensasi gua bilang juga. Dispensasi itu artinya keringanan. Khusus buat cewek yang udah dapet mens atau datang bulan."


"Ooohhh. Terus … terus?"


"Kayak tukang parkir minimarket aja lu, terus-terus 'mulu?"


"Udah! Jelasin aja! Gak usah ngebacot macem-macem lu!"


"Iya … iyaaa! Dengerin gua, yak?" ucap temannya Andrew kembali. "Nah, kalo lagi mens itu … cewek boleh gak sholat alias libur dulu, kira-kira … biasanya sih, selama semingguan-lah."


"Ooohh, 'gitu?" Andrew manggut-manggut. 'Kok, pas bener ya, sama kondisi kakak gua kemaren?'


"Emang kenapa sih, lu tanya-tanya begituan? Mau jadi mualaf lu? Atau … jangan-jangan kakak elu itu, ya?"

__ADS_1


"Enak aja lu! Ya, enggaklah!"


Tidak cukup cuma bertanya-tanya, diam-diam Andrew pun menyelidiki sendiri. Tanpa sepengetahuan Papa Jonathan dan Mama Lilian, dia menyelinap ke kamar Johanna di saat kakaknya itu sedang tidak berada di rumah. Hasilnya, anak laki-laki tersebut menemukan beberapa buku bacaan tentang Islam. Disimpan tersembunyi di antara tumpukan buku-buku lain.


'Astaga!" seru Andrew terkaget-kaget. 'Apa mungkin Kak Hanna emang udah pindah jadi Islam? Ini gawat! Bahaya sekali! Gak boleh dibiarin! Papa harus tahu! Harus!'


'Eh, tapi … kalo Kak Hanna bikin alesan kayak yang pernah Mama bilang kemarin, apa Papa masih bisa percaya?' Berpikirlah kemudian anak laki-laki tersebut. 'Gua harus bisa ngebuktiinnya langsung! Harus! Biar Papa dan Mama percaya! He-he!'


Sementara itu, Johanna yang belum begitu lama ditinggal menghilang oleh Reychan, pikirannya tengah kacau. Dia lengah hingga lalai menyembunyikan apa yang seharusnya dia hindari selama ini dari keluarga. Terutama Andrew. Tidak hanya buku-buku bacaan tentang dunia Islam, bahkan kain mukena pun berhasil ditemukan oleh adiknya tersebut. Maka semakin yakinlah dia bahwa Johanna memang benar-benar telah menjadi seorang muslimah.


Maka, tanpa menimbulkan kecurigaan dari seisi anggota rumah, selama beberapa hari Andrew mencari-cari kesempatan untuk memergoki kakaknya. Hingga suatu waktu di petang itu, peristiwa yang tidak diharapkan pun terjadi. Dia berhasil memperdaya kelengahan Johanna ….


“Ma! Pa! Ke sini cepat! Lihat itu Kak Hanna, Ma-Pa!”


"Astaghfirullahal'adziim …." desah Johanna seraya menyeka air mata. Dia tersedu sedan sendiri jika teringat akan kejadian tersebut. Seumur hidup, baru kali itu merasakan bagaimana murka seorang ayah terhadap anak perempuannya. Tidak ada belas kasih yang mengiringi entakkan suara membahana Jonathan. Seketika, nada-nada kebencianlah yang membuncah dahsyat di sepanjang helaan napas.


Johanna merasa dirinya seolah-olah tidak pernah diharapkan terlahir oleh orang terkasih itu. Diinjak-injak sedemikan rupa laksana seonggok bangkai najis. Terhina bagaikan setumpuk sampah busuk tiada guna. Bahkan kehidupannya pun nyaris dihilangkan. Sedemikian bencinyakah sosok seorang ayah pada waktu itu?


Masih pula teringat di akhir-akhir hayat seorang Jonathan hendak mengembuskan sisa-sisa napas penghabisan, Johanna berusaha menyadarkan dan menuntun ayahnya untuk mengucap dua kalimat syahadat. Namun laki-laki tua tetap menolak dan balik menatap penuh kemurkaan.


"Ikutilah apa yang Hanna ucapin, Pa," bisik Johanna di dekat daun telinga ayahnya. "Insyaa Allah, nanti kita akan kembali berkumpul bersama-sama di hadapan Allah. Jannah menanti kita, Pa."


"Ucapin, Pa. Ash hadu alla ilaa ha illaah … ayo, Pa, ucapin."


"Aarrgghhh …."


"Wa ash hadu anna muhammadarrasuulullah …."


"Aarrgghhh …."


Dalam kondisi tidak berdaya, terlihat jemari tangan Jonathan bergerak-gerak lemah hendak mencengkeram. Mungkin ingin mengepal, lalu melayangkan tinju keras ke muka anak perempuannya tersebut.


Berulangkali Johanna mencoba dan berusaha menuntun lisan ayahnya untuk mengucap dua kalimat tauhid itu, sepanjang itu pula hanya erangan menyeramkan yang keluar dari mulut Jonathan. Hingga akhirnya, sosok Tante Chika dan Mama Lilian muncul memergoki.


"Astaga, Johanna! Apa yang kamu lakuin sama Kak Atan?" seru adik kandung Jonathan tersebut, langsung memburu dan menjauhkan Johanna dari sisi kakaknya.

__ADS_1


"Aarrgghhh …."


Mata laki-laki tua itu melotot ke arah anak perempuannya. Johanna langsung menghambur —ketakutan— memeluk Mama Lilian.


"Kurang ajar kamu Hanna!" sentak Tante Chika begitu memahami arti tatapan Jonathan terhadap Johanna barusan. "Kamu pasti sudah ngelakuin hal yang gak pantas sama Kak Atan, 'kan?"


"Tenanglah, Chika," ujar Mama Lilian berusaha menyadarkan amarah adik iparnya tersebut. Dia sendiri hampir tidak dapat membendung linangan air mata begitu melihat kondisi suaminya.


"Tapi Hanna udah berbuat kurang ajar, Kak!" tuding Tante Chika seraya menunjuk wajah keponakannya. "Kamu keterlaluan, Hanna! Kamu keterlaluan!"


Lengan Tante Chika berayun dan siap-siap melayang menghantam pipi Johanna. Namun dengan cekatan Mama Lilian segera menahan dan menepis keras.


"Cukup, Chika! Hentikan!" bentak ibunya Johanna menggidikkan.


"Tapi Hanna—"


"Cukup aku bilang juga! Hentikan!" tukas Mama Lilian kembali dengan pekik suara nyaring menulikan gendang telinga. "Kalo elu kamu nyakitin anakku, aku yang bakal ngebales sama kamu, Chika!"


"Aaahhh!" jerit Tante Chika kesal.


"Astaga! Ada apa ini?" Sosok Andrew baru hadir di ruangan perawatan begitu mendengar keributan yang terjadi. "Mama! Tante! Kak Hanna!"


"Diam kamu, Andrew! Kamu gak tahu apa yang dilakuin kakakmu sama Kak Atan tadi!" teriak Tante Chika histeris.


Namun tampaknya Andrew tidak ingin peduli dengan apa yang dikatakan oleh Tante Chika. Pandangan anak laki-laki itu justru mengarah pada sosok ayahnya, Jonathan.


"Papa! Papaaa!" seru Andrew seraya menghambur ke samping ranjang pesakitan.


Sosok Jonathan sudah terdiam. Tidak bergerak sama sekali. Kedua belah matanya membelalak ke atas disertai bukaan besar mulutnya. Tidak ada tanda-tanda kehidupan begitu nadi tubuh tua tersebut disentuh. Tiada seorangpun menyadari kondisi sebelumnya karena sosok-sosok di sana tengah asyik berpesta murka.


"Papaaa!"


"Papaaa!"


"Kak Ataannn!"

__ADS_1


"Papaaa!"


...BERSAMBUNG...


__ADS_2