
...CINTA JOHANNA...
...Penulis : David Khanz...
...Bagian 18...
...------- o0o -------...
"Aku emang sengaja matiin HP-ku, Mas," timpal Hanna dengan suara pelan. Dia ingin menghormati suasana khotbah yang masih berlangsung.
"Jadi karena itu alasannya? Aku paham kok, Hanna," ucap Ravi kembali usai dijelaskan Hanna perihal ketidakaktifan ponselnya selama waktu tersebut. "Aku khawatir, sesuatu telah terjadi sama kamu. Makanya aku cari-cari kabar sampe ke tempat kuliahmu."
"Maafin aku, Mas. Aku gak mau ngerepotin Mas Ravi."
Timpal laki-laki tersebut, "Justru akulah yang seharusnya minta maaf, Hanna. Aku datang di waktu yang gak tepat."
"Gak apa-apa, Mas," ucap Hanna sambil melirik pada sosok mama dan adiknya yang berdiri persis di tepian liang lahat di depan sana. Tidak terkecuali Tante Chika. Wanita itu justru seperti tengah memerhatikan mereka berdua.
"Mas …." panggil gadis itu kemudian.
"Hhmmm?"
"Aku ingin nanya."
"Tanyalah," jawab Ravi.
Sejenak Hanna berpikir, lantas lanjut bertanya, "Bolehkah aku memberikan penghormatan terakhir buat jenazah Papa?"
"Tentu saja. Silakan."
"Tapi …." Hanna melirik kembali pada sosok Tantenya, Chika. "Seseorang memintaku buat nyanyiin lagu-lagu rohani sebelum peti jenazah Papa dimasukkan ke liang kubur."
"Hhmmm?"
__ADS_1
"Tanteku yang minta."
Jawab Ravi, "Yang itu … jelas gak boleh, Han."
"Kenapa?"
Ravi menoleh ke samping kiri-kanannya. "Nanti aku jelasin kalo acara ini udah selesai," ujarnya merasa tidak enak hati berbicara masalah sensitif di tengah acara duka seperti itu. "Kalo sebatas menghadiri acara pemakaman kayak 'gini, aku pikir gak masalah, sih. Itu pun dengan alasan hanya sebatas memberikan penghormatan terakhir buat mendiang papamu. Keluargamu."
"Kalo ngedoain Papa?"
Ravi menarik napas dalam-dalam. Kemudian kembali menjawab, "Ucapin saja kalimat yang baik-baik. Untuk hal lain, biar menjadi urusan Tuhan nanti. Terpenting, kewajiban berbaktimu pada orangtua, sudah kamu tunaikan dengan baik."
"Ehem!"
Seseorang mendeham. Spontan membuat Ravi dan Johanna terdiam. Kemudian gadis itu pun pamit hendak bergabung kembali dengan keluarga.
"Jadi laki-laki itu yang selama ini nolongin kamu, Hanna?" tanya Tante Chika begitu Johanna sudah berada di antara keluarganya. "Kayaknya dia bukan orang baik-baik."
"Bisa-bisanya kalian berdua malah pacaran di saat keluargamu sedang berkabung seperti ini," gerutu Tante Chika kembali. "Jenazah papamu saja belum diuruk. Kok, kamu malah tega-teganya ngundang orang yang sama sekali gak punya kepentingan di sini. Apalagi dia itu orang Is—"
"Mas Ravi datang sendiri, Tante," ungkap Johanna seraya menyeka air mata, sedih.
"Mas Ravi?" tanya ulang Tante Chika dengan mimik sebal. "Bahkan caramu manggil dia saja, seakan-akan di antara kalian sudah terjalin hubungan khusus."
Timpal Johanna kesal, "Mas Ravi cuma temen Hanna, Tante. Gak lebih."
"Sekarang bisa aja kamu bilang begitu. Lama-lama kalian—"
"Ssttt … bisa gak sih, kalian berempati sedikit aja," tukas Mama Lilian mendengar keduanya ribut di tengah-tengah acara. "K-kalian gak lihat kita lagi ngapain, hah? A-aku … keluargaku … lagi berduka, Chika!" Suara Mama Johanna terbata-bata. "Kamu juga Johanna, seharusnya kamu pahami itu! Belum juga papamu dikubur, udah macem-macem."
"Iya, Ma. Maaf." Johanna tertunduk.
"Ya, Tuhan …." desah Mama Lilian kembali tersedu sedan.
__ADS_1
Andrew ikut menimpali dari sisi lain mamanya, "Biarin aja, Ma. Mereka emang gak pernah peduli sama Papa. Apalagi Kak Hanna, semenjak dia jadi beda kayak 'gitu."
"Ssttt … s-sudahlah, Sayang," ujar Mama Lilian sambil terisak pilu. "Kita fokus aja doain Papa, ya." Dia segera merengkuh anak bungsunya. Walau seperti apapun sikap Jonathan semasa hidup, bagi wanita tersebut, dia tetaplah seorang suami dan papa bagi diri serta kedua anaknya, Johanna juga Andrew.
Di mata Lilian, Jonathan hanya melakukan kewajibannya sebagai seorang kepala keluarga. Terlepas kekhilafan yang pernah diperbuat, itu semata karena dirinya yang belum bisa sepenuhnya menjadi istri baik serta ibu teladan bagi anak-anak.
Jauh sebelum Johanna diketahui telah berpindah keyakinan (agama), sikap Jonathan terbilang biasa-biasa saja. Belum pernah sekalipun memperlakukan Lilian juga kedua anaknya dengan keras. Hal tersebut jauh berbanding terbalik usai semuanya berubah, sejak anak sulung perempuan mereka demikian.
"Ini semua gara-gara kamu gak becus mendidik Johanna!" bentak Jonathan kala itu. Dia berkacak pinggang dengan sorot mata memerah menahan amarah. "Bahkan gak pernah tahu kalo dia sudah menjadi bagian dari orang-orang brengsek itu!"
"Aku memang bener-bener gak tahu, Pa," balas Lilian ketakutan.
"Apanya yang kamu gak tahu, hah?" tanya Jonathan kembali dengan suara menggelegar. "Seharusnya sudah sejak awal dia jarang mau ikut acara kebaktian, itu kamu curiga sama dia! Terus kerjaan kamu selama ini apa saja, hah? Ngebiarin aja, 'gitu? Apa semua harus aku juga yang ngurusin anak-anak?"
"Pa …."
"Aku ini capek, Ma!" tukas laki-laki itu tidak memberi kesempatan istrinya menimpali. "Seharian aku nyari duit buat kalian! Demi pendidikan anak-anak! Sekarang apa hasilnya? Percuma! Malah kamu biarin Johanna bergaul dengan laki-laki yang gak jelas! Sekarang kebukti 'kan, apa jadinya?"
"Johanna jadi seperti itu bukan karena laki-laki itu, Pa. Dia sendiri yang bilang sama aku," ungkap Lilian mencoba menjelaskan. "Itu karena kesalahan kita juga. Kita yang kurang memberinya pendidikan kerohanian, Pa."
"Apanya yang kurang?" balas Jonathan tidak mau kalah. "Dari kecil sampe kuliah sekarang, dia selalu dimasukkan ke sekolah khusus. Belum lagi tambahan sekolah Minggu. Kamunya aja yang kurang merhatiin dia!"
Percekcokan tersebut tidak kunjung usai. Walaupun Lilian sudah berusaha menjelaskan sebisa mungkin, tapi Jonathan tidak ingin mengerti. Tidak jarang dari keributan demi keributan seperti itu, berakhir dengan tindak kekerasan. Laki-laki tua itu merasa telah gagal dalam mendidik anak. Terlebih permasalahan yang ada pun, justru sesuatu hal paling dia benci selama ini.
"Papamu memang sudah lama menginginkan Johanna dan kamu aktif di gereja, Drew," ungkap Lilian suatu ketika pada anak laki-lakinya, Andrew. "Papa pengen kalian mengabdi sepenuhnya, menjadi pelayan hamba Tuhan Yesus. Itulah makanya, mengetahui Johanna seperti itu, Papamu murka."
"Apa bukan karena Papa benci sama orang-orang Islam, Ma?" tanya Andrew polos. Mama Lilian mendengkus, lantas menjawab, "Soal itu … gak usah dibicarakan lagilah, Drew. Mama gak mau ngebahasnya."
"Kenapa, Ma?" tanya kembali anak laki-laki tersebut. "Kelihatannya Papa emang kayak 'gitu, 'kan? Buktinya … Papa sama sekali gak pernah mau bergaul sama tetangga kita yang muslim."
"Sudah …." pungkas Mama Lilian seraya menepuk lengan anaknya. "Gak baik ngomong kayak 'gitu. Biarin aja itu jadi rahasia Papamu sendiri. Mama gak mau ikut campur."
...BERSAMBUNG ...
__ADS_1