Cinta Johanna

Cinta Johanna
Bagian 58


__ADS_3

...CINTA JOHANNA...


...Oleh : David Khanz...


...Bagian 58...


...—------- o0o —-------...


Siang hari seusai pulang kuliah, Johanna sengaja mampir terlebih dahulu ke rumah kontrakannya. Sudah beberapa hari sejak ayahnya —Jonathan-– dirawat dulu di rumah sakit hingga meninggal, dia jarang menempati kamar tersebut. Lebih sering tidur di ruang perawatan atau terkadang bermalam di pinggiran bangsal. Sengaja gadis itu menolak tawaran Ravi —tadi pagi— untuk mengantarnya kembali jika diperlukan.


"Yakin kamu gak mau saya jemput lagi entar siang, Han?" tanya laki-laki itu setelah tiba di halaman kampus dan berbincang-bincang sebentar. Hanna menggeleng disertai senyuman dan lantas menjawab, "Sebaiknya gak usah, Mas. Aku bisa jalan sendiri, kok."


"Beneran?" tanya Ravi terdengar sedikit mendesak.


Johanna mengangguk. "Iya, serius," ucapnya kemudian. "Lagian, gak enak kalo Mas Ravi sering-sering izin keluar kantor."


Ravi mendesah. "Oke kalo begitu," ujarnya seraya mengeluarkan beberapa lembar uang dari saku celana, lalu menyodorkannya pada Johanna. " … Buat ongkos nanti siang."


"Jangan, Mas," tolak Johanna merasa tidak enak hati. "Uang yang dari Mas Ravi kemaren-kemaren juga masih ada, kok."


"Gak apa-apa. Ini buat nambah-nambahin aja." Ravi bersikukuh dan kembali menyodorkan lembaran uang tadi. Namun gadis tersebut masih juga ragu-ragu. "Kenapa masih dipikir-pikir? Aku ikhlas kok ngebantumu, Han. Ambillah."


Johanna bingung harus bagaimana. Menerima? Baginya, kebaikan Ravi sudah terlalu banyak. Menolak? Malah khawatir mengecewakan laki-laki itu.


"Oh, kurang banyak, ya?" Ravi bermaksud mencandai gadis tersebut dengan berpura-pura hendak mengambil lagi tambahan uang lain dari sakunya. Spontan Johanna langsung berseru, "Jangan, Mas! Udah cukup! Cukup!"


Namun Ravi tetap berusaha menambahi uang tadi —yang tentu saja— masih dengan niat sama.  "Ih, kenapa sih? Aku cuman niat ngasih doangan, loh!"


"Enggaaakkk … pokoknya jangaannn!" kata Johanna setengah merajuk. "Akunya yang gak mauuu."


"Harus diterima!"


"Enggak!"


"Wajib, ah!"


"Enggak! Enggak! Enggak!" seru Johanna berulang-ulang dan bertingkah seperti bocah cilik. Namun sesaat kemudian, dia langsung menyadari dan kembali mengubah diri senormal mungkin. "Ehem! Maksudku … tetep enggak, Mas," katanya menurunkan volume suara dan bersikap biasam 


Johanna melirik-lirik ke sekitar area halaman kampus. Beberapa orang yang kebetulan lewat di sana, menoleh, memerhatikan mereka berdua.


"Jadi tetep nih, kamu nolak pemberianku?"


"Iyaaa, Mas. Terima kasih," jawab Johanna menegaskan.


"Kenapa, sih?"


"Gak kenapa-kenapa."


"Pasti kenapa-napa, dooonngg?"


"Enggaaakkk."

__ADS_1


"Ada apa-apanya, 'kan?"


"Dih, kenapa sih Mas Ravi ini maksa banget?" tanya Johanna pura-pura kesal.


Ravi mendesah.


"Apa karena sekarang kamu gak bakal tinggal di kontrakan lagi?"


"Enggak. Bukan karena itu. Lagian aku juga belom mutusin mau kembali tinggal di rumah lagi, kok."


"Terus?"


"Yaaa, gak ada terusannya."


Laki-laki itu kembali mendesah. Lantas lanjut berkata, "Asal kamu tahu aja ya, Han, meskipun kamu udah gak mau deket sama aku, tapi aku bakal tetep lanjut ngebantu kamu."


"Ih, maksud Mas apaan, sih? hubungannya apa coba?"


Ravi menatap bola mata Johanna. "Kuliahmu harus sampe selesai, Han," katanya terlihat serius.


"Yaaa … rencananya sih emang begitu," balas gadis tersebut merasa yakin. "Walopun sekarang Papaku udah gak ada."


"Biaya kuliahmu … tetep aku tanggung, Han. Sampai kamu berhasil dan diwisuda."


Kelopak mata Johanna membesar.


"Mas?"


"Aku serius," imbuh kembali laki-laki itu. "Dan mohon maaf, apa yang aku lakuin ini … sama sekali gak ada hubungannya sama … ada atau enggak ada … almarhum Papamu itu."


"Mas?"


Johanna merasa hatinya tidak karuan. Antara senang, heran, bingung, serta syok bercampur menjadi satu. Bukan tanpa alasan, ketiadaan sosok Jonathan sekarang, memang sedikit memengaruhi pikiran gadis itu dalam melanjutkan pendidikan. Belum pula adiknya sendiri, Andrew, yang juga masih sekolah. Tentu mereka membutuhkan biaya besar.


Menerima kebaikan dan bantuan bertubi-tubi dari sosok seperti Ravi, Johanna pikir, memang sebuah berkah tersendiri. Paling tidak, untuk masalah kelanjutan pendidikannya tadi, sudah tersedia jalan keluarnya. Namun laki-laki itu sudah berkeluarga, memiliki seorang istri, sementara Hanna sendiri ….


"Kayaknya kita harus bicara banyak tentang ini, Mas," ujar Johanna akhirnya setelah beberapa saat berpikir, disambut respons ceria oleh sosok di dekatnya tersebut. "Oh, tentu. Emang harus. Kapan, Hhmmm?" tanya Ravi antusias.


Johanna menggeleng pelan. Baginya, waktu luang memang banyak dan bisa diusahakan. Namun bagaimana dengan Ravi? Apakah sesuatu yang dibenarkan jika sering menemuinya dengan mengorbankan kebersamaan keluarga laki-laki itu? Sebagai seorang perempuan, Hanna sadar walaupun belum berpengalaman menikah.


"Nanti sore sepulang aku ngantor, 'gimana?" tanya Ravi dengan raut wajah terlihat ceria. Sangat berbeda dengan saat tadi berangkat di awal perjalanan. Apakah karena kehadiran seorang Johanna?


"Istri Mas Ravi?" Johanna berusaha mengingatkan. Maksudnya agar jangan sampai melupakan waktu untuk keluarganya.


Seketika raut wajah Ravi kembali berubah kecut. Entah mengapa. Jawab laki-laki tersebut kemudian, "Buat sementara, aku butuh seseorang yang bisa aku ajak bicara."


"Buat sementara?" Johanna menggaris bawahi kalimat yang diucapkan Ravi barusan dan langsung dibalas oleh dia. "Maksudku … di saat sekarang, kondisi hatiku lagi gak nyaman begini, Han."


"Mas lagi bermasalah dengan istri Mas?" tanya Johanna seperti mendapatkan peluang tepat untuk mempertanyakan itu sejak tadi pagi.


"Menurutmu … apa aku terlihat seperti seorang laki-laki yang sedang berbahagia?"

__ADS_1


Sebuah pertanyaan cengeng dan tersirat butuh perhatian khusus dari seseorang yang dia pilih. Bukan asal tunjuk. Melainkan atas sebuah landasan kepercayaan serta tingkatan rasa yang lebih luhur. Ini masalah hati.


'Ya, Allah ….' gumam Johanna terenyuh. 'Masalah apalagi yang sedang dihadapi Mas Ravi dengan istrinya itu? Rasanya … kok, sering banget aku denger mereka bertengkar? Terus … mengapa justru aku yang menjadi—'


Teettt! Teettt! Teettt!


Suara bel masuk kelas berbunyi.


"Nanti aja kita obrolin, Han," ujar Ravi sebelum menyalakan mesin motornya. "Aku berangkat dulu, ya."


"Tapi … gara-gara aku, Mas Ravi jadi terlambat kerja, Mas."


"Aku gak peduli," timpal laki-laki itu cuek. "Karena apapun yang kuhasilkan selama ini, gak pernah ada artinya bagi istriku. Terkecuali … buatmu, Han."


'Hah? Maksudnya?' 


"Aku berangkat dulu ya, Han. Assalamualaikum!"


Balas Johanna, "Iya, wa'alaikumussalaam. Hati-hati, Mas. Jangan ngebut, ya?"


Senyum semringah langsung menyeruak membelah pipi laki-laki itu begitu mendengar ucapan terakhir Johanna barusan. "Terima kasih, Han," ucapnya, kemudian bergegas pergi meninggalkan halaman kampus. Meninggalkan sosok gadis tersebut yang hanya bisa berdiri mematung sambil berpikir-pikir aneh.


Ada rasa empati yang perlahan tumbuh di sanubari, —mendengar— begitu lirih suara Ravi saat bertutur mengenai dirinya tadi. Lantas seberapa berhargakah sosok Johanna dibanding istri Ravi sendiri? Itu sebagaimana kalimat misterius dia, yang masih terngiang-ngiang, terus menjalari lorong-lorong benak seorang Johanna.


"Haannn! Masuk, yuk!" Seseorang memanggil Johanna dari kejauhan. "Waktunya jam kelas, Han! Asdos-nya udah dateng, tuh!"


'Ghea?' 


Johanna menoleh dan buru-buru menghampir. "O, iya … gua ngelamun, Sis. Sorry."


Sosok perempuan bernama Ghea tadi kembali berkata, "Siapa tadi? Om elu, ya? Eh, tapi … kemudaan, sih. Jangan-jangan pacar elu, ya?"


"Dih, apaan sih?"


"Hi-hi-hi." Ghea mengikik. "Naahhh, 'gitu dong! Move on dari si Reychan, langsung nyari gacoan. Beuuhh, mantep. Cogan lagi. Ha-ha-ha!"


"Apaan sih, ih?" Kulit wajah Johanna mendadak terasa panas. Bersemu merah disertai senyum malu-malu.


"Astaga, Hanna! Elu lagi alergi kulit?"


"Emang kenapa?" tanya Johanna was-was sembari berjalan ke arah kelas.


Ghea memerhatikan wajah Johanna. "Pipi elu merah, Han."


"Masa, sih?"


"Iya. Semerah sambel cilok, Han!" Sebentar kemudian, tawa Ghea kembali pecah. "Ciieee … lagi jatuh cinta, ya? Ciieee … ciieee!"


"Dih, Ghea!"


"Ciieee …."

__ADS_1


"Gheaaa! Iiihhh!"


BERSAMBUNG


__ADS_2