Cinta Johanna

Cinta Johanna
Bagian 36


__ADS_3

...CINTA JOHANNA...


...Oleh : David Khanz...


...Bagian 36...


...—------- o0o —-------...


"Kamu ini kemana aja sih, Rav?" semprot ibunya Sarah, begitu laki-laki tersebut tiba di rumah mertuanya. "Mama telponin kok, gak diangkat-angkat?"


Ravi menggaruk-garuk kepala dan sesekali memijit-mijit batang hidung, mendapatkan omelan dari orang tua tersebut. Ungkapnya gugup, "Maaf, Mah, seharian kemaren …." Dia berpikir sejenak untuk mencari-cari alasan. " … Ravi sibuk kerja. Terus nyari-nyari HP, eh … gak tahunya kesimpen di dalem dashboard mobil."


Ravi sengaja berbohong untuk menutupi kenyataan bahwa kemarin, seharian penuh, membantu Johanna. Tidak mungkin mengungkapkan dengan jujur dan itu akan berefek panjang kelak. Bukan hanya bagi Mama Mertua, terutama Sarah sendiri.


"Kok, bisa sih?" Mama Sarah mengerutkan kening. "Maksud Mama kemaren nelpon itu mau ngasih kabar ke kamu, kalo Sarah ada di sini. Eh, Mama hubungin terus malah gak nyambung-nyambung."


Jawab Ravi kembali, "Mungkin HP-nya lowbat, Mah. Baru tadi sore sempet di-charge dan langsung nelpon Mama."


Mama Sarah mendecak.


"Kamu ini ada-ada saja alasannya."


"Maafin Ravi, Ma," ujar Ravi sembari membatin, 'maafin juga atas kebohongan menantumu ini, Ma. Aku tahu ini salah, tapi … gak ada cara lain supaya Mama gak terus-terusan nanyain kayak 'gitu. He-he.'


"Padahal dari kemaren loh, Mama itu pengen ngomong sama kamu. Tapinya Sarah ngelarang. Dia bilang, 'Gak usah deh, entar juga kamunya bakalan nelpon sendiri.' Eehh … Mama tunggu-tunggu sampe tadi siang, kok kamu gak nelpon-nelpon juga, ya?"


"Iya, Ma. Maafin Ravi. Soalnya hari ini, sibuk banget di kantor. Makanya begitu habis kerja, langsung ngehubungin Mama dan ke sini."


Kembali Mama Sarah mendecak kesal. Entahlah, apa wanita tua itu percaya atau tidak dengan alasan yang dikemukakan menantunya tersebut atau tidak. Terpenting baginya sekarang, orang yang ditunggu-tunggu sudah menampakkan batang hidungnya di rumah.


"Lagian … kalian ini," imbuh Mama Sarah melanjutkan ucapannya, "dikit-dikit ribut … dikit-dikit ribut. Emang gak ada cara lain supaya kalian bisa akur, apa? Aneh, deh."


Laki-laki itu menunduk dalam-dalam. Dia pikir, Sarah pasti sudah mengadu yang bukan-bukan pada ibunya. Itu salah satu hal yang tidak disukai pada istrinya. Hampir setiap kali terjadi perselisihan, ujung-ujungnya pasti kabur dari rumah. Padahal belum lama setelah ini, Sarah juga pergi begitu saja sambil membawa kendaraan milik mereka satu-satunya.


"Mama paham," ucap Mama Sarah kembali menasihati, "usia pernikahan kalian memang belum lama. Butuh adaptasi dan belajar buat saling memahami satu sama lain. Yaaa dikit-dikit belajarlah. Apalagi Sarah tuh, kalo datang ke sini, pasti Mama tanya-tanya; kamu pergi udah izin belum sama suami, ada apalagi? Kalian ribut lagi? Pokoknya Mama sering bawelin dia. Ujung-ujungnya yaaa Mama suruh balik lagi ke rumah kalian kayak kemaren-kemaren itu, tuh."

__ADS_1


"Iya, Ravi percaya kok, Ma," timpal Ravi turut merasa malu dengan kebiasaan istrinya tersebut. "Maafin Ravi juga, karena sampe saat ini … mungkin Ravi belum bisa ngebahagiain Sarah, Ma. Ravi sendiri masih harus banyak belajar."


Mama Sarah mendengkus. Dia merasa prihatin dengan kondisi rumah tangga anak-menantunya tersebut, tapi sekaligus memaklumi untuk sementara waktu.


"Mama paham kok, Rav," tutur wanita itu mulai bercerita, "mungkin di antara kalian, belum tumbuh rasa cinta atau saling memiliki. Karena pernikahan kalian itu, atas dasar perjodohan."


"Ma …."


"Mama dan mamamu itu, sudah bukan siapa-siapa lagi, Rav." Mata tuanya menatap dalam-dalam pada Ravi. "Persahabatan kami sudah terjalin lama sejak sekolah SMA dulu, terus lanjut kuliah, sampe akhirnya kehilangan jejak setelah masing-masing menikah."


"Mama …."


"Dengerin dulu. Mama pengen cerita!"


"I-iya, Ma. M-maafin Ravi."


Mama Sarah menarik napas dalam-dalam untuk beberapa saat, lantas lanjut bertutur, "Suatu ketika, kami bertemu lagi secara tidak sengaja dan itu sungguh membuat Mama dan mamamu teramat seneng, Rav."


"I-iya, Ma."


"Ravi juga sudah denger dari Mama Ravi tentang itu, Ma."


"Syukurlah, jadi Mama gak perlu panjang lebar lagi buat nyeritain semuanya, 'kan?" tanya Mama Sarah seraya kembali mendengkus gusar. "Kami, Mama-Papanya Sarah dan kedua orangtuamu, berharap besar sama pernikahan kalian ini, bisa langgeng sampe akhir hayat, Rav. Jangan sampe … nau'dzubillah, deh … pokoknya. Jangan sampe terjadi hal-hal yang gak diharepin."


Ravi menunduk semakin dalam. Dia paham dengan maksud dan tujuan Mama Mertua itu, tapi hati kecilnya berbisik; 'Lantas bagaimana mereka semua bisa mengerti dengan perasaan anak-anak mereka, Ravi dan Sarah, yang menjalani pernikahan tersebut?'


Menginjak waktu lebih dari setahun terlewati, baik Ravi maupun Sarah, seperti tengah berada di dalam sebuah tempat terasing. Berdua dengan seseorang yang belum pernah mereka cintai satu sama lain. Terkecuali berusaha bersabar dan terus belajar memaklumi dengan kadar rasa seadanya bahwa mereka adalah pasangan suami-istri.


"Temui Sarah dan ajak pulang kembali, Rav," pinta Mama Mertua dengan suara parau tertekan. "Semakin lama dia di sini, semakin merasa berdosa kami membiarkan kondisi rumah tangga kalian seperti ini."


'Aku juga memang berniat buat ngajak Sarah pulang, Ma, tapi dia memblokir nomor selulerku. Bagaimana mungkin bisa ngehubungin dia. Nelpon Mama cuma bikin aku tambah malu saja,' bisik hati Ravi membatin. Dia tidak berani mengungkapkan hal sebenarnya tentang itu. Bisa-bisa malah disalahkan lagi oleh Sarah. Padahal, justru istrinya sendiri yang sering mengadu pada kedua orangtuanya.


"Iya, Ma," timpal laki-laki itu kemudian. "Ravi emang bermaksud mau ngejemput Sarah, tapi … Mama keburu nelpon Ravi."


"Hhmmm," deham mertuanya, tidak ingin lebih lanjut menanggapi. Sebagai orang tua berpengalaman, wanita tua tersebut sudah bisa menduga jalan pikiran menantunya itu. "Mamamu tahu tentang ini?" Ravi menggeleng, karena memang belum pernah sekalipun bercerita tentang kondisi rumah tangga dia. "Syukurlah. Mama harap sih, jangan. Kasihan Welas. Dia itu punya penyakit jantung dan gak boleh mengetahui hal-hal beginian, Rav."

__ADS_1


"Ravi paham, Ma."


"Ya, sudah. Sana, temui Sarah di kamarnya."


"I-iya, Ma."


Laki-laki itu menurut. Dengan langkah gontai dan ragu, dia memasuki kamar Sarah perlahan-lahan. Istrinya memang ada di sana, tengah berbaring menelungkup di atas kasur. Entah tertidur atau memang sengaja ingin menghindari kemunculan Ravi di sana.


"Kamu pasti bohong lagi 'kan, sama Mamaku?" tanya Sarah begitu didekati suaminya. Ternyata diam-diam perempuan itu mendengarkan obrolan Ravi dengan ibunya tadi. "Kamu emang sengaja gak mau nerima telpon dari Mama, 'kan?"


Ravi mendengkus kesal, kemudian menjawab pelan, "Sudahlah, Sar. Ngapain sih, hal-hal beginian masih kamu juga permasalahin, hhmm? Kalo kamu nguping, pasti kamu denger apa kata Mamamu tadi, 'kan? Bisa gak sih, berpikir sedikit dewasa 'gitu supaya hubungan kita ini gak kayak 'gini terus?"


Tiba-tiba Sarah bangkit, duduk menjauh sambil menatap kesal pada Ravi.


"Kamu minta aku bersikap dewasa? Kamu sendiri 'gimana? Enak banget kamu nuntut itu sama aku, sementara kelakuan kamu sendiri kayak bocah," ungkap Sarah galak.


"Ssttt … jangan keras-keras, Sar," bisik Ravi khawatir. "Nanti Mamamu denger omongan kamu."


"Aku gak peduli," timpal Sarah makin merasa sebal melihat suaminya. "Mama emang udah tahu permasalahanku sama kamu selama ini. Apalagi yang mau diumpetin? Pura-pura bahagia, 'gitu?"


"I-iya. Tapi nanti kita omongin di rumah kita aja, Sar. Jangan di sini. Please. Aku malu," pinta Ravi memohon. "Seenggaknya kalo di rumah sendiri, kamu bebas mau berteriak sekeras apa pun. Aku gak peduli."


"Emang kamu gak pernah peduliin aku."


"Duh, suaramu, Sar. Tolong dijaga."


"Aku pengen pisah sama kamu, Rav!"


"Ya, Allah … Sarah."


"Aku pengen kamu cerein aku!"


"Astaghfirullah, Sarah!"


...BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2