Cinta Johanna

Cinta Johanna
Bagian 11


__ADS_3

...CINTA JOHANNA...


...Penulis : David Khanz...


...Bagian 11...


...------- o0o -------...


"Gak apa-apa, Mbak," ujar Hanna memaklumi. "Maaf kalo penampilan saya kayak begini. S-saya …."


"Ayo masuk, Mbak," ajaknya seraya menggaet lengan Hanna. "Saya bantu ambilin mukena di dalem, ya."


"Gak usah. Saya bawa sendiri, kok."


"Tapi itu sudah kotor, Mbak."


"Kotor?"


Spontan gadis tersebut memerhatikan kain mukena putih di tangan. Benar. Ada banyak bercak kotoran menempel di sana. Mungkin cipratan air di jalan sewaktu berlari-lari pergi dari Musala tadi.


"Sebentar, ya. Saya ambilin yang bersih di dalam."


Hanna hanya mengangguk pelan. Senang sekali mendapat sambutan hangat dan diperhatikan seperti itu.


Sambil menunggu, dia segera bergegas menuju tempat wudu khusus perempuan. Tidak begitu sulit dicari karena biasanya area tersebut berada persis di bagian belakang atau samping bangunan, dilengkapi beberapa petunjuk arah berupa papan tulisan.


"Sudah wudhu?" tanya sosok tadi begitu Hanna keluar dari tempat bersuci. Jawab gadis itu, "Sudah, Mbak." Dia pun segera memberikan lembar mukena baru yang tampak bersih dan harum. "Pakai ini," ujar kembali perempuan tersebut. "Dan mukena yang kotor itu … taruh saja dulu di tempat penitipan barang di depan sana itu, ya?"


"Oh, baik. Terima kasih ya, Mbak."


"Sama-sama, Mbak."


Usai pamit sebentar, Hanna bergegas kembali ke arah teras bangunan, tempat biasa rak penitipan barang di sediakan. Kemudian buru-buru memasuki bagian dalam Masjid khusus jamaah perempuan untuk ikut bersama jajaran masbuk.


Begitu melewati ambang pintu, seseorang melambaikan tangan dari kejauhan. Sosok perempuan tadi. Maka gadis itu pun segera mendekat, lantas turut berdiri di sampingnya.


Tidak sampai memakan waktu lama, sekitar tiga menit mereka sudah selesai menunaikan ibadah salat Subuh. Namun ada satu hal yang terrasa aneh –bagi Hanna– pada sosok di samping itu tadi, yaitu dia tidak terlihat melakukan kunut.


"Tinggal di mana Mbak ini?" tanya perempuan itu sambil melipat kain mukena setelah jamaah lain, satu per satu mulai meninggalkan Masjid. "O, iya … maaf, kita belum ngenalin nama kita. He-he."


"He-he. Saya Hanna, Mbak," kata Johanna, tidak ikut melepas balutan mukena ini karena masih di dalam area Masjid.


"Maesaroh," timpal perempuan tersebut seraya mengajak bersalaman. "Panggil saja … May."

__ADS_1


"Ooohhh."


"Ngomong-ngomong … Mbak Hanna ini tinggal di sekitar sini?" tanya kembali Maesaroh terdengar berbasa-basi.


Hanna tersenyum getir. Tidak tahu harus menjawab apa kali itu, terkecuali ….


"Saya lagi dalam perjalanan, Mbak," jawab Hanna terasa berat sekali hendak berungkap.


"Perjalanan? Sama keluarga atau …."


"Sendiri," jawab gadis tersebut pendek.


"Sendiri?" Alis Maesaroh terangkat naik. "Maksudnya … cuma Mbak Hanna seorang doang?"


"Iya, Mbak."


"Oohhh." Maesaroh manggut-manggut disertai bibir membulat. "Terus … Mbak Hanna ini tujuan perjalanannya mau ke mana, Mbak?"


Hanna kembali merasa bingung harus menjawab apa. Menceritakan perihal kisahnya semalam? Ah, rasanya tidak perlu, pikir gadis bermata sipit tersebut. Lagipula, sosok perempuan di dekatnya itu baru saja dia kenal. Belum tentu pula ….


"Kok … diam, Mbak?" Maesaroh sampai memiringkan setengah badan hendak memerhatikan raut wajah Hanna yang tertunduk dalam-dalam. "Maaf, kalo pertanyaan saya barusan–"


"Gak apa-apa, Mbak May," tukas Hanna langsung bereaksi. "S-saya … hanya sedikit … ngantuk, mungkin."


"Iya, Mbak. Semalem agak … kurang tidur."


Mata Maesaroh membesar, lantas berucap, "Wah, kalo 'gitu istirahatlah dulu, Mbak. Jangan maksain diri buat ngelanjutin perjalanan."


Hanna mengulas senyum getir.


"Makasih atas perhatiannya, Mbak May."


Sejenak kami saling terdiam. Maesaroh sendiri terlihat sudah bersiap-siap pergi. Sampai akhirnya dia pun kembali mengajukan pertanyaan. "Mbak Hanna ini … bawa kendaraan?"


Spontan Hanna menggeleng pelan. Padahal tidak seharus hal tersebut dilakukan. Itu sama saja akan memancing Maesaroh untuk bertanya lebih lanjut. Mungkin.


Terbukti ….


"Loh, terus … perjalanan yang Mbak lakuin ini … naik kendaraan umum atau …."


Ggrruuukkk! Ggrruuukkk!


Ya, Tuhan!

__ADS_1


Perut Hanna tiba-tiba berbunyi disertai lilitan rasa perih mengaduk-aduk seisinya. Ada apa ini? Masuk anginkah? Yang lebih memalukan, agaknya Maesaroh turut mendengar jeritan usus-usus gadis tersebut tadi.


"Mbak Hanna?"


Hanna menoleh perlahan, lantas melemparkan sedikit senyum tipis.


"Mbak sakit?" Untuk yang kesekian kali, perempuan tersebut bertanya-tanya. "Mata Mbak Hanna pun kelihatan sembab. Mbak lagi sakit?"


Hanna tetap menggeleng pilu. Namun tidak kuasa lagi menahan rasa perih itu, hingga tidak sadar meringis-ringis.


"Ya, Allah … Mbak," seru Maesaroh diiringi usapan lembut di lengan Hanna. "S-sebentar … saya punya sedikit perbekalan makanan di mobil saya. Sebentar ya, Mbak."


'Ah, memalukan sekali. Mengapa ujungnya harus seperti ini, sih?' membatin gadis tersebut.


Maesaroh, perempuan yang baru dikenal Hanna Subuh itu, bergegas keluar Masjid. Tampak sekali langkahnya begitu terburu-buru. Sementara Hanna sendiri mengikutinya beberapa saat kemudian, usai mengembalikan mukena pinjaman tadi. Beberapa orang yang masih itikaf di sana, sempat tertangkap mata melirik-lirik ke arah Hanna dengan sorot mata aneh.


"Mbak," panggil Maesaroh saat Hanna hendak menuju rak penitipan.


"Eh, Mbak May."


Dia mendekat sambil membawa bungkusan yang tergantung di tangannya. "Maaf, ini … ada sedikit bekal makanan buat Mbak Hanna."


'Duh … ya, Allah. Baik sekali perempuan yang satu ini.'


Walaupun merasa sedikit malu, tapi Hanna tidak kuasa untuk menolak pemberiannya.


Mereka pun lantas duduk-duduk berdua di emperan teras Masjid, seraya menikmati sarapan roti rasa-isi.


"Mohon maaf, Mbak Hanna," ucap Maesaroh membuka kembali percakapan, "sebenarnya … Mbak ini mau ke mana, ya? Soalnya … duh, mohon maaf banget, nih … saya perhatiin dari tadi … kayaknya Mbak Hanna ini lagi kebingungan. Eh, apa ini cuman perasaan saya saja, ya? He-he."


Hanna tidak langsung menjawab, akan tetapi memberi isyarat terlebih dahulu pada Maesaroh, bahwa dia hendak minum.


"Saya bermaksud pergi ke rumah Tante saya, Mbak," ungkap Hanna akhirnya usai menghabiskan seperempat isi air minum dalam kemasan botol kecil. Niat semula dia dari semalam memang berencana ke sana.


"Di mana?" tanya Maesaroh lagi dan lagi. Terdengar begitu antusias untuk mengorek lebih dalam tentang orang yang baru saja dia kenal tersebut. Kelihatannya seperti itu. "Saya tahu daerah itu, Mbak. Tapi … itu 'kan lumayan jauh dari sini," ucapnya kembali setelah Hanna menyebutkan sebuah alamat. "Mbak gak bawa kendaraan, 'kan?"


Gadis itu menggeleng pelan.


"Ya, sudah," pungkas Maesaroh akhirnya, "kalo 'gitu … saya antar Mbak Hanna sampe daerah itu. Kebetulan arah tujuan saya juga lewat sana. 'Gimana, Mbak?"


Hanna tidak habis pikir, sosok itu baru saja dia kenal, tapi kebaikannya tidak bisa dipandang sebelah mata. Bagaimana mungkin pertolongan itu datang begitu saja dan bertubi-tubi. Sudah tentu jika bukan karena adanya campur tangan Allah, semua tidak akan pernah terwujud.


...BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2