
...CINTA JOHANNA...
...Oleh : David Khanz...
...Bagian 56...
...—------- o0o —-------...
Johanna mengusap lelehan air mata yang mengalir di pipi. Isak sedihnya sesekali terdengar menyeruak di keheningan sepertiga malam. Tunai sudah, empat rakaat dilaksanakan dengan penuh khidmat, menghambakan diri di atas bentangan sajadah berbahan bulu lembut. Lantas memanjatkan sebait doa khusus untuk keluarganya yang masih hidup; Mama Lilian, Tante Chika, dan juga Andrew. 'Ya, Allah Yang Mahakuasa dan Mahapengampun, seandainya ada banyak hal yang ingin Engkau berikan pada hamba, besar sekali harapan itu terkabul dengan penuh keberkahan. Hidayah-Mu bagi kami, terutama untuk keluarga, agar bisa sama-sama menjadi hamba-Mu yang taat. Yaa muqallibalquluub … sesungguhnya hanya Engkau Dzat yang Maha Membolak-balikkan, Tsabbit quluubana alaa diinika … teguhkan hati kami di atas agama-Mu … yaa Rabbi.'
Tetes demi tetes air mata, kembali mengalir menyusuri wajahnya yang putih. Sebait doa yang begitu banyak makna. Memohon keteguhan dan kekuatan iman bagi dirinya, serta harapan agar hati dan pikiran keluarganya dibukakan oleh Allah Subhanahu Wata'ala.
Johanna paham, bahwa mendoakan keluarganya yang masih tertutup hati dan pikirannya oleh kekafiran, adalah boleh. Bahkan dianjurkan. Sebagaimana yang pernah dilakukan Baginda Nabiyallah Ibrahim 'Alaihisalaam atas bapak kandung beliau hingga akhir hayat. Namun setelah orangtuanya wafat, tidak lagi. Berhenti. Karena setelah itu adalah menjadi urusan Sang Khalik.
'Maafin Hanna, Papa,' bisik Johanna lirih di dalam hati. 'Hanna gak mampu mengajak Papa menjadi calon penghuni jannah-nya Allah. Hanna sedih, tapi Hanna gak akan pernah ngelupain jasa-jasa Papa untuk Hanna dan keluarga.'
Masih teringat akan bunyi ayat yang pernah dia baca, yakni QS. At Taubah: 113; "Tidak pantas bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memohonkan ampunan (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, sekalipun orang-orang itu kaum kerabat (nya), setelah jelas bagi mereka, bahwa orang-orang musyrik itu penghuni neraka Jahanam.” Disamping itu ada dalil lain yang tertulis; Imam Al Qurthubi berkata, ”Banyak para ulama yang menyatakan bahwasannya tidak mengapa seorang mendoakan kedua orang tuanya yang kafir dan memintakan ampunan untuk keduanya selama mereka masih hidup. Karena sesungguhnya siapa yang telah meninggal maka terputuslah harapan (untuk menjadi muslim), maka tidak didoakan untuknya. Ibnu Abbas berkata, “Mereka memintakan ampunan bagi orang-orang yang telah wafat lantas turunlah ayat (larangan), maka mereka tidak lagi memintakan ampunan, namun tidak dilarang bagi mereka untuk memintakan ampunan bagi mereka yang masih hidup, hingga mereka mati.’” (dalam Tafsir Al Qurthubi, 8/274).
Tok! Tok! Tok!
"Hanna …."
Gadis itu segera menuntaskan doanya. Dia menoleh ke arah pintu kamar dan segera bergegas membukakan. "Iya, Ma. Ada apa?" tanya Johanna masih dengan kondisi mata sembap, begitu melihat sosok terkasihnya, Mama Lilian.
"Mama pikir, kamu belum bangun, Nak. Sudah mau Subuh," ujar wanita tua itu lembut seraya memerhatikan wajah anak perawannya. "Kamu abis nangis?"
Johanna tersenyum lirih. Kemudian spontan memeluk ibunya dengan erat. "Hanna inget sama Papa, Ma," ujarnya diiringi isal perlahan. "Hanna kangen Papa."
Mama Lilian balas mendekap hangat anaknya. Seulas senyum getir merebak di wajah tua sosok tersebut. "Kita semua juga ngerasain hal yang sama, Sayang," ucapnya dengan suara tercekat. "Doain aja, supaya Papamu tenang bersama Tuhan."
"Iya, Ma," jawab Johanna tanpa ingin menjelaskan perihal batasan doa bagi seorang Islam tadi. Lantas bertanya usai melepaskan pelukannya, "Mama kenapa jam segini udah bangun? Mama masih harus banyak istirahat."
Mama Lilian tersenyum kembali. Sangat manis dan begitu menyejukkan hati.
"Gak sengaja Mama kebangun barusan. Terus nyariin anak perempuan Mama udah gak ada di kamar," ujar sosok tersebut. "Kamu mau siap-siap solat Subuh, 'kan?"
Johanna mengangguk.
"Iya, Ma."
"Syukurlah," balas Mama Lilian kembali. "Mama khawatir kamu bangun kesiangan dan gak sampe ngelaksanain solat, Nak. Nanti Tuhanmu marah sama Tuhannya Mama. 'Gimana, coba?"
Johanna hampir saja tergelak.
"Ah, Mama bisa aja."
"Ya, udah. Mama mau ke dapur dulu, ya? Nyiapin buat sarapan kamu sama Andrew."
"Biar Hanna yang ngerjainnya aja entar abis sholat Subuh, Ma."
__ADS_1
Mama Lilian tersenyum. Lantas dia berkata, "Gak usah. Kamu tenang-tenang aja, deh." Ibunya menarik napas sejenak. "Hari ini kamu masuk kuliah pagi, 'kan?"
Johanna mengangguk. "Iya, Ma."
Setelah itu, Mama Lilian pun bergegas ke dapur. Johanna menatap sosok ibunya dengan pandangan takjub.
'Mama sama sekali gak pernah mendebat aku, perihal kepindahan agamaku itu,' gumamnya semringah. 'Semoga ini sebagai langkah awal yang baik buat Mama dan segera mendapatkan hidayah dari Allah.' Sebentar kemudian, ingatan gadis itu pun kembali terbayang-bayang akan sosok Jonathan. 'Seandainya Papa dulu begitu juga, mungkin ….'
"Ehem!"
Tiba-tiba terdengar suara seseorang mendeham dan cukup mengejutkan Hanna yang masih berdiri di ambang pintu kamar.
"Tante? Astaghfirullahal'adziim … bikin kaget Hanna aja!" seru Johanna begitu mendapati sosok Tante Chika sudah berada persis di dekatnya. "Tante ngapain di sini?"
Sorot mata wanita tua itu menatap tajam menguliti sekujur tubuh Johanna yang terbakut kain mukena.
"Kamu sendiri ngapain di situ?" balas Tante Chika terdengar sinis. "Bikin Tante kaget aja. Kirain ada pocong di rumah ini."
Johanna tertegun beberapa saat. Bukan tanpa makna tantenya bicara seperti itu. Mungkin karena mukena yang tengah dia kenakan, sehingga refleks mulut Tante Chika gatal untuk menyindir.
"Ini namanya mukena, Tante," tandas gadis tersebut dengan sabar.
"Tapi mirip sama pocong, Han," ujar Tante Chika kembali kecut. "Apa gak ada mode lain yang bercorak batik kek, daster kek, atau yang ada gambar si Elsa Frozen."
Johanna menahan gelitik tawanya.
Tante Chika mencibir. Lalu kembali berimbuh, "Tapi jadi serem, Han. Kayak hantu-hantu yang ada di film-film itu. Apa, ya? O,iya … kuntilanak."
"Tadi katanya mirip pocong?" Hanna mencandai.
"Ya, mirip dua-duanya."
"Ya, baguslah. Jadi kayak kuntilanak dan pocong jadi mualaf dong, ya? Alhamdulillah … sebangsa hantu pun mau masuk Islam."
Wanita tua itu mendengkus kesal. Maksud hati berniat mengejek, malah dia sendiri yang kini jadi merasa sebal.
"Hhmmm, jangan-jangan … orang Islam itu kalo nanti udah mati, bakalan jadi hantu ya, Han? Serem banget."
"Maksud Tante?"
"Ya, pocong 'kan bentukannya orang Islam yang mau dikubur. Masa segitu aja kamu gak ngerti, sih?"
'Hhmmm, pagi-pagi kok, udah ngajak debat aja nih, Tante Chika?' Bertanya-tanya Johanna. 'Tapi ada bagusnya, sih. Secara gak langsung, justru tanteku ini lagi pengen belajar tentang Islam. Tapi masih kehalang sama gengsi kayaknya. He-he.'
"Begini, Tanteku yang baik hati …." Johanna mulai bertutur. "Pocong, kuntilanak, genderuwo, dan sebangsa hantu-hantu lainnya, mereka itu adalah makhluk gak kasat mata dari jenis jin. Mereka bisa berubah-ubah menjadi bentuk makhluk hidup apapun, terkecuali menyerupai fisik Rasulullah."
"Wah, mulai ada yang ceramah nih, pagi-pagi," ejek Tante Chika, tapi posisinya masih tetap berdiri terpaku di tempatnya semula. Bagi Hanna, itu pertanda bahwa sosok tersebut masih ingin mendengar kelanjutan penuturannya barusan. Kalau tidak, buat apa di sana?
"Sebenarnya maksud dari makhluk jin menakuti-nakuti manusia dengan wujud mereka kayak 'gitu, adalah buat ngelemahin keimanan manusia. Supaya para manusia lebih takut sama golongan mereka ketimbang takut sama Allah."
__ADS_1
"Aduh, kuping Tante gatel," seloroh Tante Chika sambil mengorek-ngorek lobang telinganya.
"Kenapa pula ada bentuk pocong? Karena pocong itu identik sama salah satu prosesi mayat yang akan dikuburkan secara Islam," tutur Johanna tanpa memedulikan ulah tantenya tadi. "Dari sini, jelas bisa diambil kesimpulan bahwa apa yang dilakukan oleh bangsa jin itu adalah untuk memberikan gambaran buruk terhadap Islam. Contoh kecilnya yang kayak Tante bilang tadi, orang Islam kalo meninggal bakalan jadi pocong. Yaaa sebenernya itu adalah salah satu fitnah terbesar bagi agama Islam. Gak bakalan mungkin, manusia jadi jin atau jin bisa menjadi manusia. Keduanya diciptakan dari zat yang berbeda."
"Kuping Tante jadi tambah gatel, nih."
"Teruuusss, dari penampakan-penampakan menyeramkan yang sering dibicarakan oleh orang-orang tentang jin selama ini, itu sebenernya adalah ulah makhluk jin dari golongan kafir."
"Hah? Jin kafir? Emang ada?"
"Ada-lah, Tante. Jin kafir itu tugasnya tentu aja buat ngerusak imannya orang-orang Islam."
"Ha-ha-ha! Jin 'kan masih keluarganya makhluk setan, mana mungkin ada ada setan muslim? Ha-ha!"
"Lah, jin dan syetan itu beda jenisnya, Tante. Walopun sama-sama dibilang makhluk gaib."
"Aneh-aneh aja ajaran agama kamu itu, Hanna." Kembali Tante Hanna mengikik. "Jin kafir … jin Islam. Ada setan kafir … berarti ada juga setan muslim. Ha-ha. Pantesan orang-orangnya pada gak waras."
"Berarti ada juga dong syetan Kris … eh, enggak. Astaghfirullah, kok aku jadi ikut ngolok-ngolok antar agama, ya? Astaghfirullahal'adziim …." Buru-buru Johanna menyadari kekhilafannya.
Untunglah, bertepatan dengan itu, gema suara azan Subuh mulai berkumandang dari kejauhan. Cepat-cepat Johanna berpamitan dan meminta izin untuk masuk kembali ke dalam kamar.
Tok! Tok! Tok!
"Heh, Chika! Tante belom beres ngomong, loh!" seru wanita tua itu merasa senang karena merasa telah berhasil memperdaya keponakannya sendiri. "Halah, cemen. Ilmu belom seberapa, mau ngadu sama Tante. Hi-hi!"
"Chikaaa …." panggil Mama Lilian dari arah dapur. "Pagi-pagi kok, udah berisik, sih?"
"Hanna itu belagu, Kak," ucap Tante Chika begitu menghampiri kakak iparnya di dapur. "Baru tahu dikit aja, sikapnya udah kayak orang-orang sombong. Ya, sebelas-duabelas sama orang-orang Is—"
Tukas Mama Lilian mengancam, "Kamu kalo masih suka gangguin anakku, mendingan pulang deh, sana ke rumah kamu, Chik! Percuma aja tinggal di sini juga, bikin keributan terus."
"Eh, iya. Maaf, Kak."
"Kamu gak ngehargain aku? Bekas istri dari kakakmu sendiri?"
"M-maaf, Kak. M-maaf."
"Gak nyadar atau 'gimana, sih? Aku ini masih berduka. Kamu bikin keributan terus di rumahku! Gak ngerti amat jadi orang, ya?"
"I-iya, Kakak. Maaf … aku cuman bercanda doangan, kok."
"Astaghfirullah … pusing banget aku, Dek!" keluh Mama Lilian tanpa sadar dan langsung disambut reaksi kaget oleh adik iparnya.
"Haaahhh?! Kakak? Barusan …."
"Apaan, sih? Gua pusing, ah! Diem lu!" sentak Mama Lilian pura-pura galak.
...BERSAMBUNG...
__ADS_1