Cinta Johanna

Cinta Johanna
Bagian 64


__ADS_3

...CINTA JOHANNA...


...Penulis : David Khanz...


...Bagian 64...


...------- o0o -------...


Percakapan antara Johanna dan Bu Tejo terhenti, begitu sesosok remaja muncul di antara mereka.


"Halo, Ilham," sapa Johanna. "Assalamu'alaikum, Adek."


Ilham, anak semata wayang Bu Tejo, sejenak terpaku. Dia berdiri sambil menenteng dua kantong plastik besar di tangan kiri dan kanan, menatap haru pada sosok gadis bermata sipit tersebut.


"Kak Hana?" gumamnya diiringi senyum yang menguar membelah garis pipinya. "Wa'alaikum Salaam, Kak."


Buru-buru dia meletakan dua bungkusan tadi di dekat meja dagangan ibunya, lantas mendekat pada Johanna untuk bersalaman. Binar matanya bercahaya, seakan-akan begitu bahagia yang dirasakan bisa bertemu kembali dengan gadis tersebut.


"Kak Hana ke mana aja? Kenapa menghilang, Kak?" tanya Ilham usai mencium takzim punggung tangan Johanna.


"Kakak ada perlu dulu, Dek. Urusan keluarga," jawab Johanna diiringi senyum manis. "Dek Ilham sehat wal'afiat, 'kan?"


"Alhamdulillah, Kak," jawab Ilham tidak ingin melepas sedetik pun untuk memandangi wajah Johanna. "Ilham ngerasa sangat kehilangan Kakak. Kirain Kak Hanna gak bakalan balik lagi ke sini."


"Ini buktinya, Kakak ke sini lagi, 'kan?" timpal gadis tersebut merasa bahagia sekali karena dirindukan oleh sosok-sosok seperti Bu Tejo dan Ilham.


Lagi-lagi Ilham tersenyum semringah. Hal tersebut membuat ibunya turut merasakan kebahagiaan tersendiri. "Alhamdulillah …." ucap Bu Tejo semakin ceria. "Akhirnya, anak Ibu yang ganteng ini, udah mau tersenyum lagi. Kamu juga pasti kangen ya, sama Neng Hanna, Ham?" tanyanya mencandai Ilham.


Remaja itu tersenyum lebar, lantas menunduk malu. Ada semu merah yang menjalari sekujur wajah. Entah karena cuaca panas atau memang dia merasa kikuk bertemu dengan Johanna.


"Dek Ilham masih mau bantu-bantu Ibu 'kan, selama Kak Hanna tinggal pergi?" Johanna mencoba mengalihkan suasana begitu memerhatikan sikap Ilham.


Jawab kembali remaja laki-laki tersebut, "Insyaa Allah, Kak. Ilham udah mulai terbiasa ngebantu-bantu Ibu, kok. 'Kan, itu semua atas permintaan Kakak."


"Loh, jangan karena Kakak, dong," elak Johanna. "Dek Ilham lakuin itu karena niat Adek sendiri. Barengi dengan rasa ikhlas dan kewajiban berbakti sama orangtua."


Ilham langsung mengangguk. "Iya, Kak. Pokoknya, apapun yang Kakak pinta, Ilham pasti mau nurutin, kok," balasnya tampak bersemangat.

__ADS_1


"Ah, Adek ini bisa aja," seloroh Johanna jadi merasa tidak enak hati pada ibunya, Bu Tejo. "Ngomong-ngomong, Adek udah sholat Dzuhur belom?"


Ilham menggeleng.


"Tuh, 'kaannn? Masa belom, sih?" Johanna pura-pura merengut. "Udah, sholat dulu sana, ya?"


"Iya, Kak," ujar Ilham langsung bergegas masuk ke dalam kamar dan sebentar kemudian keluar kembali sambil membawa kain sarung serta kepala berpeci.


Sejenak anak remaja itu menatap Johanna, tersenyum, lantas segera pergi menuju Musala terdekat.


"Alhamdulillah, Ilham udah baik kembali, Neng," ucap Bu Tejo usai Ilham menjauh dari keberadaan mereka berdua. "Kemaren-kemaren sih, kalo diingetin sholat, dia suka ngambek, Neng. Ada aja alasannya."


"Kok, bisa begitu, Bu?" Johanna terheran-heran.


"Gak tahu, Neng. Tapi kalo sama Nèng Hanna kayak barusan, kok dia langsung nurut, ya?"


"Mungkin reaksi sesaat Ilham aja, Bu. Maklumlah, usia-usia remaja kayak 'gitu, emosinya sering gak stabil," kata Johanna mencoba untuk menerka. "Ilham itu lagi dalam masa transisi. Masih mencari-cari jati dirinya sendiri."


"Oohh … 'gitu, ya?"


"Bisa jadi juga, mungkin … Ilham itu terobsesi buat … punya kakak atau saudara sekandung. Ini sih, kemungkinan saja, ya? Soalnya, Ilham itu 'kan anak tunggal ya, Bu? He-he-he."


"Emang dulu waktu nikah, usia berapa, Bu?" tanya Johanna kepo. Dijawab langsung Bu Tejo seraya mengingat-ingat, "Saya nikah dulu itu waktu umur tiga puluh tahun, Neng. Baru bisa hamil setelah tujuh tahun nikah. Ya, itu … si Ilham. Terus mau punya lagi, nanggung. Ilham masih kecil dan umur saya udah mau kepala empat. Ya, 'gitulah akhirnya … kami lebih milih punya anak satu daripada kudu nanggung resiko gede."


"Oohhh …."


"Idealnya, kalo buat perempuan sih, kalo mau nikah itu … jangan mepet-mepet ke umur kepala tiga. Berabe nanti pas punya anak."


"Emang bagusnya umur berapa, Bu?"


"Yaaa, kalo denger anjuran sih, idealnya buat perempuan itu sekitar umur dua puluhan, terus kalo laki-laki … dua lima tahunan. Jadi enaknya, pas kitanya udah mau tua, anak udah pada gede. Syukur-syukur udah punya cucu. Hi-hi-hi."


"He-he-he."


"Lah, coba saya … umur udah segini tua, anak masih SMP. Boro-boro punya cucu. Masih lama. Hi-hi."


"Tapi 'kan nikah itu bukan cuman masalah keturunan doang, Bu. Kesiapan mental kita juga perlu dimatengin. Iya kalo masih muda udah siap dari segi finansial, lah kalo belum? Mau dikasih apa kelak keluarga. Apalagi biaya hidup sama biaya pendidikan anak-anak zaman sekarang, gak sedikit. Mahal-mahal lagi."

__ADS_1


"Itu dia masalahnya. Orang lebih mikir ke masalah ukuran biaya. Bukan kualitas. Banyak orang tua lebih menekankan pendidikan cuman pada segi formal, tapi gak banyak yang mikir kalo pendidikan yang paling utama buat anak itu adalah justru dari keluarganya sendiri."


Johanna tercengang. Ada benarnya juga apa dikatakan oleh Bu Tejo itu, pikirnya. Zaman sekarang memang seperti itu. Menitipkan pendidikan anak pada sebuah lembaga agar diharapkan si anak akan menjadi lebih baik, akan tetapi banyak pula orang tua yang mengenyampingkan kewajiban mendidik terhadap putra-putrinya. Terutama dari kalangan perempuan yang notabennya sebagai sosok yang paling banyak bersama-sama sang buah hati, ketimbang pihak laki-laki.


Tiba-tiba Johanan teringat pada ungkapan Reychan dulu; "Istri itu adalah madrasah atau sekolahnya bagi anak-anak selama berada di rumah. Sementara suami juga merupakan sosok pembimbing bagi anak-istrinya. Jika seorang suami berhasil mendidik istrinya, Insyaa Allah … istri pun akan sukses membimbing anak-anak mereka."


Jadi semua unsur dan pihak di dalam sebuah rumah tangga sistemnya seperti rantai makanan.


"Seorang laki-laki, didaulat menjadi imam atau pemimpin bagi keluarganya, dia dituntut untuk lebih banyak mencari ilmu. Jika seorang istri mempunyai lebih banyak peranan dan komposisi ketimbang suami, akan rentan memicu konflik internal rumah tangga."


"Misal, ketika istri melakukan kesalahan, tapi suami enggak mampu membantu meluruskan. Maka kesalahan demi kesalahan yang dilakukan tanpa adanya pelurusan tadi, lama kelamaan akan berubah menjadi pembenaran. Akhirnya, menjadi kebiasaan atau budaya yang sudah tidak lagi dianggap sebagai suatu kesalahan."


"Contoh kesalahan yang dibudayakan adalah masalah aurat rambut perempuan. Sebagian mengganggap dosa dan memilih untuk taat pada aturan agama. Lantas berhijab. Namun sisanya, sadar itu adalah sebuah kesalahan akan tetapi enggak dibarengi dengan tindak perubahan diri. Awalnya menganggap enteng akan dosa, lalu lama-lama malah sudah terbiasa dan menganggap hal itu bukanlah lagi sebuah dosa. Akhirnya gak juga berhijab. Berbuat dosa, tapi gak merasa berdosa."


Hijab? Jilbab?


Johanna mengusap rambutnya yang tergerai lurus hingga hampir menyentuh bagian punggung.


'Ya, Allah … berarti selama ini aku—'


"Begitu, Neng, kalo menurut saya," pungkas Bu Tejo sembari menepuk lengan Johanna.


"Hah? Apa ya, Bu?" tanya gadis itu terperanjat.


"Loh, saya barusan ngomong panjang lebar, Neng Hanna gak dengerin?"


"Saya denger kok, Bu, tapi pikiran saya malah kemana-mana. Maafin saya, Bu."


Bu Tejo tersenyum-senyum sendiri. Lantas bertanya menggoda, "Hhmmm, pasti Neng Hanna lagi mikirin buat nikah muda, ya?"


"Ah, Ibu ini ada-ada aja," ujar Johanna malu-malu.


Timpal Bu Tejo dengan cepat, "Makanya, begitu ada kesempatan buat nikah, jangan lagi ditunda-tunda, Neng. Alasan karena karir-lah, kerja-lah, nikmatin masa muda-lah, nyari pengalaman-lah, dan lain-lain." Wanita tua bertubuh tambun itu menarik napas sejenak. "Karir, kerja, dan pengalaman yang sebenernya buat perempuan itu justru adanya setelah nikah, menikah."


'Menikah?' pikir Johanna kembali melamun. 'Bahkan untuk kuliah sekarang saja, aku masih dibantu oleh Mas Ravi. Tidak tahu jika sampai melepas diri dari budinya, apakah Mama mampu mengantarku sampai selesai menjalani masa pendidikan ini? Sementara masih ada Andrew yang nanti akan sama-sama membutuhkan biaya pula.'


'Tidak tahu … akan dengan cara apa aku membayar kebaikan Mas Ravi kelak?'

__ADS_1


Hingga gadis itu pamit hendak memeriksa kamar kontrakan, benaknya masih pula digayuti pikiran senada. Tentang rasa yang timbul perlahan-lahan dan secara diam-diam akan sosok lelaki tersebut. Padahal sudah jelas, dia bukanlah pria single. Bagaimana kelak jika istri Ravi tahu bahwa selama ini suaminya seringkali bersama perempuan lain, yakni Johanna.


...BERSAMBUNG...


__ADS_2