Cinta Johanna

Cinta Johanna
Bagian 32


__ADS_3

...CINTA JOHANNA...


...Oleh : David Khanz...


...Bagian 32...


...—------- o0o —-------...


Hari itu, Ravi memutuskan untuk tidak masuk kantor. Rasa lelah yang mendera, usai semalaman menjagai Johanna serta kecamuk pikiran tentang permasalahan rumah tangganya dengan Sarah, benar-benar menguras hampir separuh tenaga yang tersisa. Setelah memohon izin dari atasan di tempat pekerjaan dan sepulang mencarikan Hanna rumah kontrakan, laki-laki itu berniat pulang ke rumah, ingin memastikan kondisi istrinya saat itu.


'Hhmmm, jadi ribet begini, 'kan?' membatin Ravi selagi mengemudikan kendaraannya. 'Coba dari semalem, aku ngalah buat ngontek Sarah. Pasti kejadiannya gak bakalan kayak 'gini.'


'Eh, tapi ….' imbuhnya kembali berpikir. 'Kalo justru semalem aku pulang, urusan Mbak Hanna pasti gak bakalan bisa kelar. Kasihan banget dia. Baru aja jadi mualaf, ujiannya udah segitu berat.'


Kemudian laki-laki tersebut tersenyum-senyum sendiri. Didahului dengkus panjang, lantas berucap kembali, 'Alhamdulillah … seenggaknya hari ini aku udah ngebantu dia, walopun belom sepenuhnya. Insyaa Allah, kapan-kapan aku bakal balik lagi nengokin dia.'


Hampir satu setengah jam perjalanan, menjelang tiba waktu Duhur, Ravi tiba di tempat tujuan. Sejenak dia memerhatikan sekeliling beranda rumahnya begitu kendaraan terparkir masuk ke garasi. Tampak lengang dan lampu-lampu di luar masih dalam kondisi terang menyala. 'Ke mana Sarah, ya? Kayaknya sepi banget nih rumah.'


Dengan menggunakan kunci serep, dia membuka pintu depan rumah dan celingukan melihat-lihat situasi di dalam. Benar-benar sepi sekali. Bahkan beberapa lampu pun dibiarkan menyala sebagaimana di luar tadi.


Melongok ke ruang tengah, terdapat pecahan gelas kaca berserakan di lantai. Ravi ingat, kemarin dia yang melakukannya di saat gejolak emosi sudah tidak tertahankan lagi menghadapi sikap istrinya.


Kamar tidur kosong, begitu juga dapur, ruangan kecil, serta taman mini di belakang yang biasa digunakan untuk bersantai. Spontan dia menyadari bahwa Sarah memang sedang tidak berada di sana. Sejak kapan? Entahlah, mungkin selepas Ravi berangkat kerja kemarin pagi.


'Hhmmm, sialan! Perempuan itu pasti kabur lagi ke rumah orangtuanya!' oceh laki-laki berusia 27 tahunan tersebut dengan hati gusar. 'Selalu saja begitu tiap kali ada masalah! Pulang … pulang … dan pulang tanpa izin sedikitpun sama aku. Istri macam apa itu, berani kabur-kaburan ninggalin rumah. Apa dia gak pernah sadar, selangkah kaki keluar dari rumah tanpa ridho dari suami, itulah adalah dosa besar!'


Dengan langkah lunglai, Ravi kembali ke ruangan dapur. Melihat-lihat peralatan bekas memasak dan makan masih menumpuk kotor di dalam bak sink. Hal yang sama pun terjadi pada mesin cuci pakaian.


"Fiiuuhhh …."


Ravi mengentakkan napas berat seraya menggelengkan kepala. Kemudian merogoh saku untuk mengambil ponsel, berniat menghubungi Sarah, istrinya. Namun usai dicoba beberapa kali, selalu gagal tersambung. "Kebiasaan! Kalo lagi ada masalah, selalu saja ngeblokir nomorku!" geram laki-laki itu kesal. "Apa maunya, coba? Kalo begini 'kan, yang repot … aku juga, dia juga! Ck!"


Sesaat dia berpikir, apakah sebaiknya menghubungi pihak mertua saja? Paling tidak, untuk memastikan kalau Sarah memang ada di sana. Namun mendadak timbul rasa ragu. 'Ah, kenapa juga aku harus menghubungi mereka? Kalo emang Mama dan Papa Mertua paham aturan agama, pastinya mereka bakalan ngasih kabar sama aku, kalo Sarah ada di sana.'


"Ck!"


Ravi mendecak kesal. Dihubungi atau tidak … dihubungi atau tidak … dihubungi atau tidak … dihubungi? Tidak? Ya? Jangan?


"Aahhh!" pekik laki-laki itu kian mendongkol sendiri. "What the **** is this?"

__ADS_1


Akhirnya dia lebih memilih untuk tidak menghubungi siapa pun. Lantas menggeletakkan ponselnya di dekat sink dan ….


Prak!


"Ya, Allah!" pekik Ravi terkejut. "HP gua!" Pesawat teleponnya terjatuh dari atas tempat pencucian. Buru-buru memungut kembali dan segera meneliti dengan saksama. 'Ah, sialan! Layarnya retak!'


Makin geram kini dia rasakan. Sudah kesal dengan masalah keluarga, kini benda berharganya pun turut rusak parah.


'Astaghfirullahal'adziim … ada-ada aja deh, ah!'


Plak!


Ravi menepuk jidat sendiri. Kesal.


Sejenak dia merenung dan mengatur napas untuk sekadar menenangkan diri. Lantas perlahan-lahan memerhatikan layar ponselnya yang telah retak tadi, lanjut bergumam, "Apa aku hubungi saja Mbak … ah, sialan! Aku gak punya nomornya." Keningnya berkerut hebat. "Hhmmm, mungkin sekarang dia gak punya HP. Bisa saja. Mungkin. Tapi pastinya sih, iya."


Laki-laki itu berjalan mondar-mandir sesaat sambil berpikir-pikir.


'Apa aku kembali saja ke kontrakan Mbak Hanna? Mumpung hari ini lagi gak kerja,' celotehnya di dalam hati. 'Sekalian … menuhin janjiku tadi buat ….'


"Ah, aku ke sana aja lagi, ah!" gumam Ravi akhirnya. "Biarin aja urusan Sarah belakangan. Toh, ini kemauan dia sendiri kabur-kaburan dari rumah. Siapa suruh. Iya, 'kan?" Dia tersenyum-senyum sendiri. "Hhmmm, kalo aku bujuk buat pulang atau ngejemput ke rumah Mama-Papah Mertua, bakalan jadi kebiasaan. Biarin aja dia belajar mikir sendiri!"


Aneh ….


"Bapak?" seru Hanna begitu laki-laki tersebut datang kembali ke tempat kontrakannya. "Ada apa Bapak balik lagi ke sini? Ada yang ketinggalan, Pak?"


Ravi cengagas-cengenges.


"Enggak …." ujar lelaki itu sambil menggaruk-garuk kepala. "Saya cuman pengen menuhin janji saya tadi."


"Janji apa?" tanya Hanna seraya mengernyit heran.


"Yaaa … yang tadi, Mbak," jawab Ravi kembali mesem-mesem. "Saya mau ngajak Mbak ke luar."


"Ke mana?"


"Kita jalan-jalan ke luar. Sekalian … beli beberapa barang buat kebutuhan Mbak di sini."


Sesaat gadis tersebut berpikir. Dia ragu dan sedikit merasa tidak enak hati. Jujur saja, bukan tidak senang bisa mendapat bantuan dan pertolongan di saat kondisinya seperti itu. Namun kebaikan yang sudah diterima dari Ravi sejak awal mereka bertemu sebelumnya, membuat Hanna khawatir menjadi beban. Apalagi diketahui lelaki itu telah beristri.

__ADS_1


"Duh, 'gimana ya? S-saya …."


"Ayolah, Mbak. Mumpung hari ini saya lagi izin gak ngantor," tukas Ravi agak mendesak.


"Iya, saya paham, Pak. Tapi—"


"Seenggaknya … bantu saya buat menuhin janji," pungkas lelaki tersebut kembali. "Bukannya janji itu utang? Hayoo … he-he."


Hanna menunduk dalam-dalam.


"Saya bingung, Pak."


"Kenapa bingung?"


"Udah terlalu banyak kebaikan dari Bapak yang saya terima. S-saya … jadi bingung."


"Loh, kenapa malah jadi bingung, Mbak? He-he," timpal Ravi berusaha meyakinkan Johanna. "Udahlah … ayo, kita kita keluar sebentar. Insyaa Allah, sebelum Maghrib nanti, kita sudah kembali ke sini."


"Bukan itu masalahnya, Pak." Hanna berusaha untuk menolak secara halus.


"Sudahlah," desak lelaki itu. "Gak usah terlalu banyak mikir. Saya ikhlas kok, ngebantu. Insyaa Allah, Mbak."


"Tapi …."


"Yuk, Mbak. Mau, ya?"


"S-saya …."


"Ya, udah. Ayo, kita berangkat," ujar Ravi sambil menarik lengan Hanna, menuntunnya untuk segera memasuki kendaraan.


Kali ini Johanna terpaksa menurut.


Sebelum berangkat, Ravi menutup terlebih dahulu pintu kontrakan. Kemudian bergegas melajukan kendaraan meninggalkan tempat tersebut.


Tanpa disadari, sejak awal Ravi datang tadi, sesosok perempuan bertubuh tambun mengintip dan menguping percakapan mereka.


'Hhmmm, sudah kuduga. Mereka emang pasangan selingkuh,' gumamnya berpikir-pikir. 'Emang dunia udah semakin tua. Perzinahan sudah mulai terang-terangan dilakuin. Rasa malu gak lagi dimiliki. Nau'dzubillah, ih!'


...BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2