
...CINTA JOHANNA...
...Oleh : David Khanz...
...Bagian 45...
...—------- o0o —-------...
Kriiinngg! Kriiinngg!
Percakapan mereka terhenti seketika. Agak ragu Ravi hendak mengangkat bunyi panggilan telepon, sampai-sampai Johanna memberinya isyarat agar segera diterima. Kemudian laki-laki itu pun merogoh saku untuk mengambil ponselnya.
"Siapa?" tanya Hanna penasaran melihat raut wajah Ravi berubah.
"Sarah …." gumam laki-laki itu dengan tangan gemetar, tapi tidak juga lekas menerima panggilan tersebut.
"Angkatlah," ujar gadis itu kembali mengingatkan. "Dari istrimu, 'kan?"
"I-iya, tapi …." Ravi masih terlihat ragu-ragu. "A-aku … a-aku …."
"Mungkin ada sesuatu yang penting, Mas," kata Hanna, lantas bersiap-siap untuk berdiri. "Maaf, aku tinggal dulu ke toilet, ya? Kalo sudah, aku nunggu gak jauh dari sini. Permisi."
"Han! Hanna!" panggil Ravi, tapi tidak dihiraukan oleh gadis tersebut. Dia tetap melenggang santai sembari memberi isyarat kembali agar laki-laki itu cepat-cepat mengangkat panggilan tadi. "Aduh, bagaimana ini?" tanyanya serba bingung.
"Kenapa lama banget kamu angkat, Rav?" tanya Sarah langsung tanpa berbasa-basi terlebih dahulu. "Udah mulai males kamu ngomong sama aku?"
"A-apaan sih, Sar? Kamu ini nelpon … uluk salam dulu atau apa, kek? Ini langsung nyerocos aja," gerutu Ravi sembari melihat-lihat ke arah Johanna tadi pergi. "Ada apa, sih?"
Jawab Sarah terdengar ketus, "Kok, malah nanya ada apa? Seharusnya aku yang nanya, kenapa sampe jam segini kamu masih kelayaban di luar! Bisa mikir gak sih, kamu ini, Rav?"
"Yaaa … 'gimana aku bisa ngehubungin kamu, orang dari tadi susah dihubungin," balas Ravi mulai merasa kesal. "Kebiasaan kamu, kalo ada apa-apa suka ngeblokir nomorku. Iya, 'kan?"
"Oh, jadi karena itu alasan kamu mau nyalahin aku?"
"Bukan nyalahin, Sar, aku cuman ngasih alasan doangan, kok."
"Sekarang alasan kamu apa, jam segini belum pulang juga? Lembur kantor?" tanya Sarah terdengar serius. "Ingat ya, jangan kamu pikir aku ini bodoh. Kali ini kamu gak bisa ngebohongin aku. Kantormu udah aku telpon dan hari ini gak ada yang lembur. Bahkan ada yang bilang kalo kamu pergi sama si Fadil. Ke mana dan lagi ngapain sekarang, hah?"
"Siapa yang bilang aku pergi sama si Fadil? Kamu jangan ngada-ngada deh, Sar."
"Ngada-ngada? Sekuriti yang bilang, Rav!" seru Sarah terdengar semakin kesal. "Kamu pikir kalo aku gak tahu, terus bakal berhenti nyari tahu, gitu? Uuhhh, jangan harap deh, Rav. Sekali lagi, aku gak sebodoh yang kamu kira."
Jleb!
Kali ini Ravi merasa mati kutu. Sarah sudah membaui aroma kebohongan yang selama ini kerap dia lakukan. Terlebih, Sarah memang tipe perempuan yang pantang menyerah jika menginginkan sesuatu, sekaligus pintar. Jangan-jangan kebersamaannya dengan Johanna pun sudah dia ketahui? Berpikir-pikir terus sosok lelaki berusia dua puluh tujuh tahun tersebut.
__ADS_1
"Iya … iya … iyaaa!" balas Ravi akhirnya. "Aku emang lagi ada di luar, sama klien. Puas kamu?"
Tanya kembali Sarah penuh selidik, "Klien? Klien yang mana? Sejak kapan kamu punya klien?"
"Ya, ada-lah. Namanya juga kerjaan," jawab Ravi terpaksa berbohong.
"Kerjaan apa?" Suara Sarah makin meninggi. "Kamu pikir, kamu ini siapa sih, Rav? Haduh, kebangetan deh. Sejak kapan staf biasa ketemu klien di luar jam kerja, hah? Biasanya juga itu langsung urusan atasan kamu. Bukan kamunya."
"Lah, emang aku disuruh atasanku, kok."
Terdengar dengkus di seberang sana. Mungkin Sarah tengah menahan tawa atau apa.
"Perlu aku tanyain sekarang juga sama atasanmu? Biar kamu gak punya lagi alasan lain."
Seru Ravi spontanitas, "Buat apaan, sih? Duh, jangan aneh-aneh deh, Sar."
"Aneh-aneh apaan? Aku juga kerja, Rav. Sama kayak kamu dan aku paham banget lingkungan dunia kerja kantoran. Dipikirnya aku ini bodoh, apa?"
"Ya, bedalah antara kerjaanmu sama kondisi kantorku," kilah Ravi tidak mau kalah. "Lagian kenapa sih, kamu ini mau intervensi masalah kerjaanku? Aku aja cuek masalah kerjaanmu. Please, deh!"
"Ha-ha-ha! Ravi … Ravi, ternyata kamu ini masih amatiran, ya?"
"Gak usah ngejelek-jelekin aku, deh."
"Umur udah mau kepala tiga, tapi kelakuan belum juga bisa dewasa."
"Ha-ha-ha! Sedih banget aku dijodohin sama laki-laki kayak kamu, Rav."
"Kamu nyesel? Ya, udah kalo ngerasa gak mau lagi sama aku, tinggal minta …." Bibir Ravi sontak terhenti bicara. Otaknya keburu tersadar. Dia tidak boleh mengatakan kata yang satu itu. Disengaja atau tidak, hukumnya akan tetap sama.
"Kenapa, Rav? Gak berani, 'kan?" Terdengar tawa kecil Sarah di ujung sana. "Ayo, ucapin aja, Rav. Aku sih, gak apa-apa, kok. Hi-hi. Kamu pasti udah tahu 'kan, konsekuensinya bakal kayak apa?"
"Gak usah mancing-mancing deh, Sar!" ujar Ravi seraya meneguk liurnya untuk membasahi lorong tenggorokan yang mendadak kering dan sakit. "Camkan ya, biar 'gimanapun keadaan rumah tangga kita, aku gak bakalan mau ngambil keputusan yang satu itu. Bodo amat mau kayak 'gimana juga. Yang penting jangan sampe bikin kecewa orangtua-orangtua kita. Ingat itu, Sar!"
"Ha-ha-ha! Lemah sekali kamu, Rav. Kasihan. Hi-hi!"
"Sekarang kamu mau apa? Gak ngarepin aku pulang, 'kan? Ya, udah … aku bisa tidur dimana aja."
"Looohhh, katanya harta benda rumah tangga itu milik bersama, masa aku ngelarang kamu buat pulang ke rumah sendiri, sih? Duuhhh, baru tadi pagi ada yang bilang begitu sama aku, tapi kok … malah sendiri juga yang lupa, ya?" Nada dan gaya bicara Sarah semakin menjadi-jadi. Seakan-akan perempuan itu memang sengaja memancing amarah suaminya. "Yaaa … terserah juga, sih. 'Kan, laki-laki itu bebas. Mau pergi kapan pun juga bisa tanpa izin. Beda dong, sama aku. Tibang mau jalan ke depan aja, mesti bilang-bilang sama suami. Hi-hi. Duh, nasib … nasib …."
"Kamu makin ngelantur aja, Sar," timpal Ravi enek. "Kebiasaan, kalo ngomong … fokus ama satu topik, deh. Gak usah bawa-bawa bahan laen. Gak bakalan kelar ngomong sama kamu."
"Duuhhh, ada yang nasehatin aku," seloroh Sarah kembali. "Tapi yang nasehatinnya juga … banyak bohongnya. Hi-hi."
"Bohong apaan lagi, sih? Dari tadi kamu nuduh-nuduh terus sama aku!"
__ADS_1
"Terserah, deh," pungkas Sarah akhirnya. "Bilangin sama klien kamu yang lagi ke toilet tuh, kalo emang ada perlu sama laki orang, jangan ngajakin rapat malem-malem. Kasihan istrinya ditinggal sendiri di rumah."
'Apa? Sarah tahu tentang ….' Ravi melihat-lihat ke sekeliling tempat. Tidak ada sosok yang mencurigakan. Lantas, bagaimana istrinya bisa mengetahui kalau tadi Johanna pergi ke toilet? Apakah hanya tebakan dia belaka? Sepertinya tidak mungkin.
"Sarah? Sar! Sar!" panggil laki-laki tersebut melalui sepiker ponselnya.
Sudah ditutup oleh Sarah. Bahkan dicoba dihubungi kembali, malah gagal. Perempuan itu telah memblokir nomor Ravi. "Sialan! Perempuan aneh!" rutuknya sendirian dan tanpa sadar suaranya telah memancing beberapa pengunjung tempat itu menoleh aneh.
'Bagaimana Sarah bisa tahu, ya?' pikir Ravi kembali sambil memijit-mijit kening. Pusing. 'Apa mungkin … dia … kebetulan lagi ada di sekitar tempat sini dan melihatku berdua dengan Hanna?'
'Berulang-ulang dia ngedesak aku buat jujur. Seakan-akan dia tahu, kalo aku emang ngebohongin dia!'
"Mas …."
Ravi terperanjat dan spontan menjawab, "Sarah? Eh, kamu …." Sosok yang ada di hadapannya bukan Sarah, melainkan Johanna. "Hanna? Maaf, aku pikir barusan istriku."
Perlahan Johanna duduk kembali berhadapan.
"Mas Ravi mau pulang?" tanya gadis tersebut seraya memandangi raut wajah Ravi yang kusut. "Aku juga mau pulang sekarang, kok."
"Pulang?" Ravi berhenti memijat keningnya. "Pulang ke mana? Rumah Mamamu atau ke kontrakan?"
"Untuk malam ini, aku mutusin buat pulang ke rumah saja. Soalnya, aku juga harus nemenin Mama," jawab Johanna lirih. "Gak tahu buat ke depannya. Mungkin aku bakalan kembali ke kontrakan, kalo situasi di sana tetep gak kondusif."
"Aku antar, ya?"
"Gak usah, Mas," timpal kembali Johanna. "Aku pulang sendiri aja."
"Tapi …."
Johanna menatap mata laki-laki itu, lantas berkata, "Tadi istri Mas Ravi nelpon, 'kan? Mungkin dia lagi ngekhawatirin kamu, Mas. Pulanglah. Kasihan dia."
'Aahhh, tahu apa sih kamu tentang istriku, Han?' tanya Ravi di dalam hati. 'Kamu gak tahu, kalo sekarang justru aku lagi pengen ngehindarin dia. Aku pengen tetep sama kamu, Hanna.'
"Mas, kok malah bengong?"
Ravi terperanjat. "Eh, iya! A-aku … a-aku …."
"Ya, sudah kalo begitu. Aku pulang duluan, ya? Makasih Mas udah nyempetin waktunya buat nemenin aku."
'Hanna, jangan pergi dulu, Han! Aku masih deket sama kamu!' jerit kembali laki-laki tersebut, tapi hanya berani sebatas bisikan hati.
Tanda-tanda apakah ini? Kalau saja mau jujur, ingin rasanya Ravi mengejar Hanna dan mengajaknya bermalam bersama di rumah kontrakan untuk semalam itu saja.
'Astaghfirullahal'adziim!'
__ADS_1
...BERSAMBUNG...