
...CINTA JOHANNA...
...Penulis : David Khanz...
...Bagian 16...
...------- o0o -------...
"Tante gak paham maksud kamu."
"Begini …." ujar Hanna berusaha menjelaskan. "Misal, kalo kita ingin makan-makan di luar rumah, tentu hal yang pertama kali dibutuhkan adalah uang. Kita perlu mengeluarkan dana. Biaya transportasi buat menuju tempat yang dimaksud, terus waktu, juga bersiap-siap dengan segala kemungkinan diluar perkiraan. Semacam hujan, panas, macet, capek, dan sebagainya. Belum lagi persiapan menghadapi harga-harga lain yang bakal ditawarkan. Nah, semua itu adalah konsekuensi atau resiko. Kalo gak pengen ngadepin kemungkinan-kemungkinan kayak tadi, kenapa gak milih makan di rumah sendiri saja? Iya, 'kan? Jauh lebih hemat dan leluasa."
Tante Chika mendengkus.
"Nah, diibaratkan gambaran tadi, Hanna juga udah merkirain, pilihan Hanna ini gak bakalan gampang dijalani maupun dilalui. Tentu bakal ngadepin konsekuensi lain, kayak sikap penolakan keluarga. Terutama Papa."
"Ya, terus … kalo emang kamu udah tahu bakal begini, kenapa juga kamu milih jadi orang Is … lam?" Kata terakhir barusan sengaja diucapkan pelan-pelan oleh Tante Chika. "Sekarang kebukti, 'kan? Kamu … terutama Tante sendiri … ikut ngerasain resiko pilihan kamu itu. Coba kalo tetep kayak dulu, kamu gak bakalan ngalamin nasib begini, Han. Kehidupan kamu akan tetep nyaman dan damai di bawah ajaran kasih Tuhan Yesus."
Hanna menggeleng. "Enggak, Tante. Seperti yang udah Hanna bilang tadi, justru kedamaian itu Hanna rasain setelah mutusin memeluk Islam."
"Aneh banget kamu ini, Hanna," keluh ini Tante Hanna tidak mengerti jalan pikiran keponakannya itu.
"Mungkin terlihat aneh," timpal Hanna kembali, "tapi saat dulu masih ngejalanin sebagai umat Kristiani, hati Hanna justru bertolak belakang, Tante. Ada banyak hal yang Hanna rasa, termasuk keyakinan Hanna pada konsep ketuhanan."
"Itu namanya kamu kurang iman, Hanna."
"Justru itu …." imbuh gadis itu kembali, "keyakinan Hanna akan konsep ketuhanan dulu, mengantarkan Hanna buat jauh lebih mengimani Al Masih sebagai sosok hamba-Nya. Bukan sebagai wujud Tuhan."
"Omongan kamu makin ngaco aja, Hanna," omel Tante Hanna kesal. "Padahal … Kak Atan sudah ngasih pendidikan kerohanian yang bagus dan banyak sama kamu. Aneh. Malah kamu gunain buat ngingkarin Tuhan."
"Hanna gak mengingkari Tuhan, Tante. Tapi justru Hanna menemukan ada Tuhan lain yang lebih patut buat Hanna imani, yaitu Allah Subhanahu Wata'ala."
Tante Chika mencibir kesal. Dia terdiam. Itu dia lakukan agar perdebatan mereka berdua tersebut tidak ingin didengar oleh orang lain di sekitar sana. Apalagi topik yang diketengah pun teramat sensitif.
__ADS_1
"Bukan karena pengaruh laki-laki yang kamu cintai itu 'kan, Hanna?" Tiba-tiba Tante Chika mengajukan pertanyaan lain.
"Maksud Tante … Reychan?"
"Hhmmm, siapa lagi?"
"Bagaimana Tante tahu tentang dia?" Hanna bertanya heran.
Seulas senyum kecut tersungging di bibir wanita tua tersebut. "Kak Lili … Mamamu yang cerita."
"Aahhh," desah Hanna. Bukan apa-apa. Tiba-tiba saja gadis itu teringat kembali pada sosok lelaki yang masih dia cintai tersebut, tapi kini menghilang entah ke mana. "Enggak, Tante. Bukan cuman karena dia."
"Tapi kenyataannya … kamu berubah kayak 'gini gara-gara deket sama laki-laki sialan itu, 'kan?"
Hanna menggeleng.
"Enggak, Tante," jawab gadis itu lirih. "Reychan cuma sosok yang ngebantu Hanna buat ngemantapin pilihan Hanna."
"Maksudmu?"
"Astaga … Hanna!"
"Seperti itulah yang Hanna rasain dulu, Tante," tutur Hanna kembali. "Sebelum dekat sama Reychan, Hanna sudah lama mempelajari Islam. Juga mencoba belajar salat."
"Karena itu pula kamu sering gak mau ikut acara kebaktian sama keluargamu?"
Hanna mengangguk.
"Astaga, Hanna!" seru Tante Chika seraya menggelengkan kepala. "Pantesan aja, Kak Lili pernah cerita dulu, kalo kamu jarang banget mau makan di rumah, ngikutin acara keagamaan, terus sering ngamar sendiri berlama-lama. Itu penyebabnya?"
Jawab Hanna beberapa saat usai terdiam, "Hanna hanya ingin ngelakuin apa yang aturan Islam larang, Tante. Walaupun belum sepenuhnya menjadi orang Islam, tapi Hanna ngeyakini sepenuh hati bahwa itulah yang terbaik dan harus Hanna perbuat. Hanna gak ingin makan di rumah juga karena … masakan Mama masih bercampur dengan bahan-bahan yang gak dibolehin dalam agama Islam buat dimakan."
"Itu cuma alasan yang dibuat-buat kamu saja, Hanna!"
__ADS_1
Balas Hanna setelah mendeham pelan, "Kalo Tante ingin tahu dasar alasan Hanna, cari saja di dalam kitab Perjanjian Lama, surat Imamat ayat 11:7. Di situ jawabannya ada, kok."
Tante Chika tidak membalas. Hingga keheningan pun mengantar mereka berdua menjajaki waktu, melewati petang. Namun yang pasti, sejak itu dialah sosok yang senantiasa bersiap melindungi Hanna dari kemungkinan buruk perilaku Jonathan, atas ketidakberdayaan Lilian menghadapi suaminya, sekaligus sebagai penghubung komunikasi antara ibu dan anak.
Sekarang, sosok garang itu tengah terbujur lemah di atas ranjang pesakitan. Terpejam tapi bukan berarti tertidur. Hanna tahu, papanya bisa mengetahui kehadiran dirinya melalui sentuhan jemari yang nyaris lunglai.
"Hanna …." Mama Lilian menyambut anaknya begitu tiba di ruangan rawat inap. Hambur peluk pun merekatkan keduanya dalam balutan kerinduan. "Papamu, Sayang," ujarnya tersedu sedan.
"Maafin Hanna, Ma," ucap gadis itu seketika berlinang air mata. "Hanna baru tahu dari Tante Chika tadi."
Sosok yang disebut, mendengkus dari belakang mereka. Sementara Andrew sendiri tidak tampak berada di sana.
"Gak apa-apa, Sayang," balas Lilian lembut. "Mama sendiri yang minta tantemu buat ngasih kabar. 'Gimana kabarmu selama ini, Hanna?"
"Alhamdulillah baik, Ma."
"Hhmmm," deham Tante Chika dari belakang. Sorot matanya tidak lekang memerhatikan sosok Hanna. "Andrew mana, Kak?" tanyanya pada Mama Lilian.
"Tadi kusuruh beli makanan," jawab ibunya Hanna usai melepas pelukan. "Sebentar lagi juga … mungkin balik."
"Oohhh."
Belum sempat lanjut meratapi kondisi papanya tadi, tiba-tiba terdengar dering nada ponsel di ruangan tersebut. Sejenak Lilian dan Chika saling berpandangan, mengira itu berasal dari handphone milik salah satu dari mereka. Namun seketika pandangan kedua wanita tua tersebut mengarah pada Hanna.
"Maaf, Mas," ucap Hanna begitu menerima panggilan dan beruluk salam terlebih dahulu. "Hari ini aku gak bisa dateng. Papaku dirawat di rumah sakit."
"Syafakallah buat Papamu, Hanna," pungkas suara di seberang sebelum percakapan mereka ditutup.
"Terima kasih, Mas," balas Hanna kemudian. "Iya. Wa'alaikumussalaam." Kemudian dia mengakhiri obrolan dan menutup kembali telepon. "Mama? Tante?" Bola mata gadis itu bergantian menatap keduanya usai menerima panggilan percakapan tadi.
"Sejak kapan kamu mempunyai handphone, Hanna?" tanya Tante Chika terdengar seperti tengah menahan amarah.
"I-ini … pemberian dari … Mas Ravi," jawab Hanna gelagapan.
__ADS_1
...BERSAMBUNG ...