
...CINTA JOHANNA...
...Oleh : David Khanz...
...Bagian 66...
...—------- o0o —-------...
"Ada apa, Neng?" tanya Bu Tejo tergopoh-gopoh masuk ke dalam kamar Johanna.
"Gak ada apa-apa, Bu," jawab gadis tersebut seraya tersenyum-senyum begitu Bu Tejo muncul dari balik pintu.
"Lah, gak ada apa-apa, tapi kok tadi saya denger ada suara apa-apa, Neng," ujar wanita tua bertubuh tambun itu. "Saya kira Eneng jatuh atau apalah. Hi-hi-hi."
Balas Johanna kembali, "Enggak, Bu. Tadi saya cuman kaget aja. Pengen ketawa 'gitu. Hi-hi."
"Emang kenapa?"
"Tadi denger obrolan Ibu sama Mas Ravi," kata Johanna menjelaskan. "Apa tadi … artis dari Hindustan … siapa namanya?"
"Park See Hung."
"Ha-ha-ha!"
Bu Tejo melongo. "Laaahhh, malah makin kenceng ketawanya Eneng ini. Hi-hi."
"Lucu aja, Bu. Hi-hi."
"Saya pikir ada apa."
"Hi-hi-hi."
Johanna lekas menuntaskan riasannya di wajah. Lantas bergegas memasukkan beberapa helai pakaian ke dalam sebuah tas kecil yang tergeletak di atas kasur lantai.
"Neng Hanna gak nginep di sini, Neng?" tanya Bu Tejo sembari membantu gadis itu berbenah.
"Kayaknya enggak dulu deh, Bu," jawab Johanna. "Soalnya gak mungkin juga 'kan ninggalin Mama saya di rumah dalam kondisi masih berkabung."
"Iya juga, sih," sahut Bu Tejo. "Terus … sama Pak Ravi sekarang mau ke mana?"
Gadis itu menarik napas sejenak. Sudah diduga, tetangga kamarnya ini pasti akan bertanya-tanya kepo, seperti biasa.
"Kami ada sedikit kepentingan, Bu. Sekalian, nanti pulangnya bareng sama Mas Ravi."
"Loh, memangnya gak langsung pulang? Mampir-mampir dulu 'gitu?"
"Yaaa … seperti itulah, Bu. He-he," ujar Johanna buru-buru membereskan bawaannya untuk menghindari pertanyaan berkelanjutan dari Bu Tejo. "O, iya … Ilham mana, Bu?"
"Ada," jawab Bu Tejo. "Sebentar saya panggilin, ya?"
Johanna melirik. Menatap Bu Tejo yang bergegas keluar dari kamar. Kesempatan itu dia pergunakan untuk segera menyusul meninggalkan ruang kontrakan tersebut.
"Sudah siap, Han?" tanya Ravi di luar.
"Sebentar, aku pamit dulu sama Dek Ilham."
Sesaat raut wajah laki-laki itu berubah kecut mendengar nama anaknya Bu Tejo disebutkan. 'Kenapa mesti pamitan segala sih, sama anak itu?' gumam Ravi di dalam hati. 'Kayaknya tuh anak gak bener-bener nganggap Hanna selayaknya seorang kakak, deh. Ketahuan banget dari cara dia melihat Hanna.'
__ADS_1
Tidak berapa lama sosok remaja itu muncul menghampiri Johanna dan Ravi. Lantas disambut gadis itu dengan senyuman ramah. "Dek, Kakak mau pergi dulu, ya?"
"Pergi ke mana, Kak?" tanyanya seraya melirik sejenak ke arah Ravi.
"Kak Hanna mau pulang dulu," jawab Johanna.
"Gak balik lagi, Kak?"
Ditanya seperti itu, Johanna menoleh sebentar pada Ravi, lalu menjawab, "Mungkin buat sementara, Kak Hanna tinggal dulu di rumah Kakak."
"Kenapa, Kak?"
"Yaaa … ada sesuatu hal yang harus Kak Hanna lakuin di rumah."
"Berapa lama, Kak?"
Gadis itu mendengkus.
'Haduh, gak anak gak ibunya, keduanya sama-sama suka kepo. Hi-hi.'
Jawab kembali Johanna lembut, "Kakak sendiri belum bisa mastiin, Dek. Soalnya, ini urusan keluarga Kak Hanna sendiri."
Ilham tampak berpikir beberapa saat, hingga akhirnya berkata, "Kalo Ilham kangen, boleh gak sekali-kali main ke rumah Kak Hanna?"
"Emang Ilham tahu rumahnya Kakak?" tanya Johanna tergelitik untuk tertawa.
"Nanti bakal Ilham cari sendiri," jawab Ilham polos.
"Tentu saja boleh, Dek."
"Kak Hanna punya nomer HP, 'kan?"
'Wah, ini anak sudah mulai lancang, deh,' gumam Ravi memperhatikan sikap Ilham pada Johanna. 'Berani-beraninya dia pake minta nope segala. Hhmmm.'
Johanna mencatatkan nomor selulernya pada secarik kertas, lalu memberikan pada Ilham. "Kalo ada apa-apa, Adek bisa ngehubungin nomer Kakak ini, ya?"
Remaja laki-laki itu tampak senang sekali. Dia sampai mengajak salaman dan mencium tangan Johanna. "Terima kasih, Kak. Nanti, Ilham pake HP-nya Ibu."
"Iya, Dek. Terserah, deh," ucap Johanna seraya mengelus kepala anak laki-laki tersebut. "Sekarang … Kakak mau pergi dulu sama Pak Ravi. Ayo, salamin dulu Pak Ravi-nya."
Sejenak, Ilham tampak enggan untuk bersalaman dengan Ravi. Namun karena permintaan dari Johanna, dia terpaksa melakukannya. Itu pun tidak sebagaimana yang dia lakukan tadi pada gadis tersebut.
'Anak gak tahu sopan santun!' gerutu Ravi mengomel-ngomel sendiri. 'Tadi dia pake cium tangan sama Hanna, sedangkan sama gue enggak. Ada masalah apa ini anak, ya? Kenapa dia kayak gak suka 'gitu sama gue?'
"Buuu … saya berangkat dulu, yaaa!" seru Johanna ke arah kamar kontrakan Bu Tejo.
Sesaat kemudian, wanita tua bertubuh tambun itu muncul. "O, iya, Neng. Hati-hati di jalan, ya."
"Iya, Bu. Insyaa Allah."
"Pak Ravi, titip Neng Hanna, ya? Awas, jangan ngebut di jalan."
Balas Ravi, "Iya, Bu. Doain aja. He-he."
Saat Johanna berpamitan, Ilham terlihat cemberut. Anak itu menatap Ravi dengan pandangan aneh. Bahkan tidak menyahut ketika laki-laki itu berpamitan.
"Dek Ilham, kami berangkat dulu, ya. Daahhh … assalamu'alaikum," ujar Ravi dari atas motornya.
__ADS_1
Ilham terdiam.
"Wa'alaikum salaam …." Yang menjawab malah ibunya, Bu Tejo. Kemudian setelah keduanya pergi, wanita itu bertanya pada anaknya, "Heh, Ilham! Kalo ada yang uluk salam itu dijawab, Nak. Dosa loh kalo enggak dibalas."
"Tahu," kata Ilham masih dengan raut wajah masam. "Barusan 'kan udah Ibu jawab. Makanya gugurlah kewajiban."
"Tapi gak 'gitu juga 'ngkali, Nak. Masa cuman sama Pak Ravi doang yang gak mau kamu balas?"
Ilham tidak menimpali. Dia lekas meninggalkan ibunya terbengong-bengong sendiri di beranda kamar kontrakan.
Sementara itu Johanna dan Ravi masih di perjalanan menuju sebuah tempat yang biasa mereka pergunakan untuk bertemu dan berbincang-bincang. Tidak sampai satu jam, keduanya sudah tiba.
"Mau pesan apa, Han?" tanya Ravi begitu menempati sebuah bangku kosong di dalam ruangan ber-AC, "atau sekalian makan saja?"
"Terserah Mas Ravi saja," jawab Johanna agak sungkan. Merasa agak tidak nyaman karena sudah berulangkali merepotkan lelaki tersebut.
"Oke, sebentar aku pesenin dulu, ya?"
Gadis itu mengangguk pelan.
Ravi bergegas memesan makanan dan minuman, meninggalkan Johanna duduk sendirian di bangkunya dengan perasaan tidak menentu.
Tidak jauh dari tempat mereka, gadis itu secara tidak sengaja beradu tatap dengan salah seorang pengunjung lain. Laki-laki muda. Mungkin usianya tidak seberapa jauh dengan dirinya. Dia menatap sejenak, lalu melempar senyum seraya menganggukkan kepala. Mau tidak mau Johanna pun membalas ramah.
'Siapa, ya?' tanyanya di dalam hati. 'Rasanya dari sejak aku masuk tadi, dia sering banget ngelihat ke arah sini.'
Johanna pun berpura-pura mengeluarkan ponsel, memainkannya sebentar, walaupun tidak ada yang dia lakukan dengan gadget-nya tersebut. Kemudian melirik ke arah lelaki tadi dan sempat memergokinya tengah memperhatikan dari kejauhan.
'Dia sering curi-curi pandang ke arah sini,' gumam gadis tersebut. Lalu menengok ke belakang, siapa tahu ada sosok lain yang sedang laki-laki itu perhatikan. Namun, tidak ada orang lain di sudut itu, terkecuali Johanna seorang.
"Maaf ya, Han, agak lama," ujar Ravi tiba-tiba muncul membuyarkan perhatian Johanna.
"Iya, Mas. Gak apa-apa, kok. Lagian aku juga gak laper-laper amat."
Ravi tersenyum. Menatap Johanna beberapa saat. Sehingga membuat gadis itu tersipu-sipu.
"Apaan sih, Mas? Kok, ngelihatnya begitu?" tanya Johanna langsung salah tingkah.
"Enggak," jawab Ravi masih dengan sisa senyumannya tadi. "Aku ngerasa seneng aja kalo ketemu sama kamu, Han."
"Masa, sih? Emangnya kalo sama istri kamu enggak ngerasa seneng 'gitu?" Johanna sengaja memancing.
Raut wajah Ravi seketika berubah. Datar.
"Maaf, Mas. Aku gak bermaksud—"
"Gak apa-apa. Biasa aja, Han," tukas laki-laki seraya membetulkan posisi duduknya. "Aku hanya gak lagi kepengen ngomongin Sarah."
"Ooohhh," desah Johanna. "Karena masalah tadi pagi?"
"Kurang lebih seperti itulah."
Gadis itu manggut-manggut. Kemudian diam-diam melirik ke arah sosok lelaki yang tadi berada tidak jauh dari tempat mereka berdua. Namun kali ini sudah tidak ada.
'Ke mana, ya? Apa dia sudah keluar?' Johanna bertanya-tanya sendiri sembari memutari pandangan ke empat sudut tempat. Namun sosok yang dimaksud memang sudah tidak ada di sana.
"Nyari siapa, Han?"
__ADS_1
"Eh, Mas! Bikin kaget saja. Astaghfirullahal'adziim …."
...BERSAMBUNG...