Cinta Johanna

Cinta Johanna
Bagian 15


__ADS_3

...CINTA JOHANNA...


...Penulis : David Khanz...


...Bagian 15...


...------- o0o -------...


"Jangan, Kak! Aku mohon, jangan!"


"Minggir!"


"Kak Atan! Kaakkk!"


"Minggir gua bilang juga!"


"Enggak!" sanggah Tante Chika tidak mau menyerah. "Aku gak mau Kakak nyakitin keluarga Kakak lagi!"


Kelopak mata Jonathan kian membesar merah. Rahangnya sampai bergerak-gerak gemeretak menahan luapan emosi. "Elu pengen gua hajar kayak si Lili?" tanyanya geram.


"Apa?!"


Hanna terperanjat mendengar percakapan papa dan tantenya barusan. Terutama yang terakhir itu.


"Papa nyakitin Mama?" tanya gadis tersebut seraya mendekati Jonathan. "Beneran Papa udah nyakitin Mama?"


"Apa peduli lu, Anak sialan!" seru laki-laki itu seraya bersiap-siap hendak meraih bagian leher anak perempuannya. "Ini semua gara-gara elu juga, 'kan? Hah?! Nyesel gua punya anak kayak elu, Johanna! Kalo tahu bakalan begini, elu udah lebih dulu gua bunuh sejak dalam rahim Mama elu, tahu! Ngarti lu, hah?! Bangsat!"


"Jangan, Kak!" teriak Tante Chika sambil menepiskan lengan Jonathan yang sudah hampir mencengkeram kerah anaknya, Johanna.


"Minggir gua bilang juga, Chika!" bentak laki-laki itu murka, berusaha menyingkirkan tubuh adiknya untuk segera menggapai raga anaknya.


"Enggak!" timpal Tante Chika tidak mau menyerah. "Aku gak akan ngebiarin Kakak nyakitin anak Kakak sendiri!"


"Keras kepala!"


Plak!

__ADS_1


Sebuah tamparan keras mendarat telak di pipi adiknya. Disusul kembali dengan hantaman demi hantaman mengenai wajah, bahu, serta lengan Tante Chika.


Buk! Buk! Buk!


"Aahhh!" jerit wanita itu seketika. Terhuyung beberapa langkah ke belakang dengan balutan rasa sakit yang tiada terkira.


"Tante!" teriak Hanna melengking keras. Dia menghambur hendak menggapai tubuh tantenya agar tidak tersungkur.


Seketika suasana pun berubah riuh. Orang-orang sekitar yang tadinya tidak acuh dengan kejadian tersebut, serta merta beramai-ramai menenangkan Jonathan. "Kalo mau ribut jangan di sini, Bos!" sahut seseorang seraya menahan gerak papanya Johanna, kala hendak melakukan kekerasan lanjutan terhadap anak gadisnya itu.


"Tenang, Koh. Anda jangan maen kasar sama perempuan," ujar yang lain turut melerai.


"Minggir elu semua! Ini urusan keluarga gua!" sahut Jonathan semakin murka.


"Iya ini emang urusan keluarga elu, tapi jangan begini caranya, Koh!" balas yang lain tidak mau kalah. "Beresin aja di rumah elu! Jangan di sini!"


"Lepasin gua! Lepasin gua!" Jonathan meronta-ronta hendak menghajar Hanna. "Biar gua bunuh sekalian anak sialan itu!" Namun semakin keras dia berusaha melepaskan diri, orang-orang kian banyak berdatangan untuk menahan dan mendorong laki-laki tersebut agar menjauh.


Johanna sendiri terguguk pilu memeluk erat Tante Chika, dibantu beberapa sosok teman kuliah gadis tersebut seraya menenangkan. Seseorang mengulurkan selembar tisu untuk mengelap kucuran darah segar dari lobang hidung wanita tua itu.


"Laporin aja ke polisi, biar laki-laki itu ditangkap!"


"Bener! Ini udah termasuk penganiayaan!"


"J-jangan … j-jangan, Nak," ujar Tante Chika sambil meringis-ringis kesakitan. "Biar kami beresin masalah kami ini secara kekeluargaan. Jangan bawa-bawa polisi."


"Maafin Hanna, Tante," ucap Johanna masih memeluk erat tantenya disertai tangisan pilu. "Ini semua salah Hanna, sampe-sampe Tante diperlakuin kayak 'gini sama Papa."


"Gak apa-apa, Hanna," timpal Tante Chika terpatah-patah. "Tante rela nerima perlakuan ini dari Papamu, asalkan kamu gak diapa-apain sama Kak Atan. Cukup … cukup … jangan sampe ada lagi yang disakitin. Cukup Tante dan Kak Lili aja yang—"


"Mama?" Spontan Hanna melepaskan pelukannya. Gadis itu menatap mata Tante Chika. Memandangi bilur merah bekas hantaman Jonathan tadi di pipi putih tuanya. "Apa yang terjadi sama Mama, Tante?"


Tante Chika tidak langsung menjawab. Dia menatap kakaknya, Jonathan, yang sedang dipaksa pergi oleh orang-orang sekitar dari tempat tersebut.


"Kita cari tempat yang nyaman dulu untuk bicara, Hanna," ujar wanita tua itu kemudian. Sebelum menarik diri dari kerumunan, tidak lupa dia berucap terima kasih kepada teman-teman keponakannya yang menawari mereka sedikit bantuan.


"Tapi luka-luka Tante itu …."

__ADS_1


"Gak usah peduliin Tante," tukas Tante Chika seraya menyeret Hanna dari sana. "Kita cari tampat yang aman dulu. Tante khawatir, Papamu itu akan balik lagi nyariin kamu, Hanna."


Akhirnya diputuskan, untuk sementara, mereka berdua menerima tawaran salah seorang teman kuliah Hanna, yakni ikut pergi ke sebuah tempat kos-kosan. Di sana Tante Chika dan keponakannya tersebut bersembunyi.


Waktu sudah hampir menjelang Magrib, Hanna meminta izin pada temannya untuk bersiap-siap melaksanakan ibadah salat. Melaksanakan kewajiban serta —sekalian— mengadukan peristiwa menyakitkan tadi pada Sang Khalik.


Selama Hanna mengerjakan ritual keagamaannya tersebut, mata Tante Chika tidak putus memerhatikan apa yang dilakukan oleh keponakannya itu. Raut wajah miris dan kecewa, tampak tergambar samar dari tatapan kosong wanita tua itu.


"Kamu masih yakin dengan pilihanmu itu, Hanna?" tanya Tante Chika kemudian usai menunggu Hanna selesai mengerjakan ibadah salat. "Sama sekali gak kepikir buat kembali ke agama sebelumnya?"


Hanna menggeleng yakin.


"Hanna sudah menemukan apa yang Hanna cari-cari selama ini, Tante," jawab Hanna setelah sejenak berpikir. "Walaupun kondisinya telah berubah seperti yang kita rasakan sekarang ini, tapi Hanna ngerasa jauh lebih nyaman dan damai."


"Aneh …." desah Tante Chika pelan sambil melihat-lihat situasi sekitar. Khawatir jika teman Hanna, penghuni kontrakan yang mereka diami saat itu, turut mendengar apa yang sedang dibicarakan. "Bagaimana mungkin dengan kejadian-kejadian seperti tadi, kamu justru ngerasa setenang begini?"


Hanna tersenyum hambar.


"Hanna cuma berpikir, ini salah satu ujian yang harus Hanna hadapi, Tante," ujar gadis tersebut lirih. "Hanna yakin, perlahan-lahan akan berubah baik. Semua hal butuh proses. Termasuk apa yang lagi kita alami ini."


"Itu bukan jawaban, Hanna," tandas Tante Chika. "Kamu cuma lagi ngehibur diri kamu sendiri, 'kan?"


"Enggak, Tante," balas Hanna kembali disertai senyuman getir. "Ini adalah sebuah konsekuensi. Bukan hanya sebatas pilihan Hanna yang satu ini, tapi bisa mencakup segala hal. Termasuk kalo Tante menginginkan yang lain."


"Tante gak pernah punya keinginan kayak kamu," pungkas Tante Chika mengelak. "Jadi orang Islam? Enggaklah. Buat apa?"


Tukas Hanna lembut, "Bukan … bukan itu maksud Hanna, Tante."


"Terus?"


"Di luar konteks apa yang Hanna pilih ini, setiap keinginan pasti memiliki konsekuensi dan resikonya tersendiri."


"Tante gak paham maksud kamu."


"Begini …." ujar Hanna berusaha menjelaskan. "Misal, kalo kita ingin makan-makan di luar rumah, tentu hal yang pertama kali dibutuhkan adalah uang. Kita perlu mengeluarkan dana. Biaya transportasi buat menuju tempat yang dimaksud, terus waktu, juga bersiap-siap dengan segala kemungkinan diluar perkiraan. Semacam hujan, panas, macet, capek, dan sebagainya. Belum lagi persiapan menghadapi harga-harga lain yang bakal ditawarkan. Nah, semua itu adalah konsekuensi atau resiko. Kalo gak pengen ngadepin kemungkinan-kemungkinan kayak tadi, kenapa gak milih makan di rumah sendiri saja? Iya, 'kan? Jauh lebih hemat dan leluasa."


...BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2