
...CINTA JOHANNA...
...Oleh : David Khanz...
...Bagian 33...
...—------- o0o —-------...
Kendaraan mulai melaju meninggalkan area kontrakan. Benak Hanna dipenuhi kecamuk pertanyaan serta perasaan tidak menentu. Pikirnya, apa mungkin seseorang akan benar-benar tulus memberikan pertolongan tanpa ada embel-embel menuntut balas budi? Walaupun dirinya sendiri tidak begitu yakin, akan tetapi ucapan Tante Chika tempo hari tersebut masih begitu jelas terngiang-ngiang. Apalagi kalau bukan tentang Islam dan poligami. Mungkinkah Ravi hanya ingin menolong? Sejauh mereka bertemu selama ini, memang belum ada percakapan yang mengarah pada hal-hal sensitif.
Di tengah kebisuan di antara mereka berdua, tiba-tiba terdengar suara ringtone ponsel berbunyi berulang-ulang. Hanna melirik sejenak, menatap wajah Ravi yang tampak sedikit gugup.
"Kenapa gak diangkat, Pak?" tanya gadis tersebut begitu Ravi menolak panggilan telepon. Jawab laki-laki itu grogi, "Ah, enggak apa-apa. Cuman telepon dari kantor, Mbak. Temen kantor maksud saya."
"Mungkin ada hal yang penting?" Hanna penasaran. Bukan apa-apa, jika benar sebagaimana yang diungkapkan oleh Ravi barusan, lantas mengapa reaksinya seperti itu?
"Enggak kayaknya," jawab Ravi seraya memilih mode silent pada ponselnya. "Biasalah … temen kantor. Kalo ada satu orang aja yang gak hadir, berasa gak rame rasanya tim kerja. He-he."
"Oh, 'gitu?" timpal Hanna pendek. Namun intuisinya berkata itu bukan jawaban jujur. Apalagi teringat pada ucapan laki-laki itu sebelumnya bahwa dia tengah memiliki masalah dengan istrinya. Adakah korelasinya? "Maaf ya, Pak, kalo saya jadi ngerepotin Bapak."
Ravi mengekeh. "Ah, sudahlah, Mbak. Jangan ngomong kayak 'gitu lagi. He-he. Tadi 'kan, sudah saya bilang, gak apa-apa, kok. Saya ikhlas. Saya ridho. Insyaa Allah."
Johanna tersenyum masam.
"Ya, syukurlah kalo begitu," pungkasnya terpaksa. Jujur saja, sebenarnya ingin sekali dia mengetahui perihal kehidupan sosok di sampingnya tersebut. Namun jelas sekali bukan sesuatu yang beradab, jika sampai berani bertanya-tanya demikian. Apalagi mereka bukan siapa-siapa dan baru saja saling mengenal, bukan?
"Kalo boleh tahu, usia Mbak Hanna ini berapa tahun, ya?" tanya Ravi beberapa waktu kemudian, memecah kebuntuan di antara keduanya. "Saya perhatiin … mungkin masih umuran kuliahan. He-he. Maaf loh, saya nanya begini."
Hanna kembali tersenyum kambing. Baru saja dia menahan diri untuk tidak bertanya perihal privasi, malah laki-laki itu yang memulai. Kalau untuk ukuran budaya orang Indonesia, bukankah bertanya masalah umur itu termasuk kategori tidak sopan? Termasuk menanyai tentang agama dan status pernikahan.
"Saya memang masih kuliah, Pak," jawab Johanna perlahan.
"O, iya?" Intonasi Ravi terdengar kaget. "Semester berapa?"
"Baru masuk semester empat, Pak."
"Wah, hebat. Berarti setahun lagi kelar dong, ya?"
Lagi-lagi Hanna tersenyum kecut. "Saya gak tahu, Pak," ujarnya bimbang.
__ADS_1
"Loh … kok, malah gak tahu? Emangnya Mbak Hanna ini enggak…." Suara laki-laki itu mendadak terhenti. Dia menarik napas pendek dan mengembuskannya seketika. "Oh, maaf. S-saya lupa. Maaf."
"Kenapa, Pak?"
"E-enggak. Gak apa-apa," ujar Ravi segera meralat situasi. "Saya turut prihatin sama apa yang terjadi sama Mbak Hanna. Sekaligus, saya juga ngerasa ikut bangga dengan keteguhan hati Mbak."
Gadis itu menunduk sejenak. Usai menarik napas panjang, dia berucap, "Saya gak tahu apa yang harus saya lakuin kedepannya. Kondisi saya sekarang kayak begini, apa yang mau diharapin? Pikiran saya bener-bener buntu."
Ravi melirik sosok gadis tersebut, lantas menimpali sambil fokus mengemudi, "Yang sabar ya, Mbak. Allah ngasih ujian sama hamba-Nya, gak bakalan ngelebihin batas kemampuannya." Mendadak dia sendiri jadi mengingat akan apa yang tengah dihadapi. Masalah rumah tangga dengan Sarah, istrinya. Jika merasa beban hidup jauh lebih berat, ternyata ada yang lebih kompleks di luar sana. Contoh nyata, permasalahan Johanna itu. 'Hhmmm, aku jadi makin tertantang buat ngebantuin Mbak Hanna. Seenggaknya, jangan sampe dia ngerasa nyesel karena udah memilih keyakinannya sebagai seorang mualaf dan mencegah dia buat terpaksa balik lagi ke agamanya semula akibat tekanan hidup.'
"Ya, Insa Allah, Pak," ujar Hanna lirih.
"Insyaa Allah. Qadarullah. Semua yang kita jalani ini adalah atas kehendak Allah. Apa pun yang terjadi, gak bakalan ada yang luput dari yang sudah digariskan oleh-Nya. Termasuk masalah saya, masalah Mbak Hanna, atau juga … pertemuan kita ini. Iya gak, Mbak?"
Johanna mengangguk. "Benar sekali, Pak," jawabnya mulai merasa lega kini. Bisik hatinya mengatakan; sangat bersyukur sekali karena Allah telah menjawab doa-doa dia melalui kehadiran seorang Ravi.
Lantas timbul kembali pertanyaan, mengapa harus berupa laki-laki itu? Bukan sosok atau cara yang lain. Ah, terkadang sebagai manusia, jarang sekali kita mampu memahami maksud dan tujuan dari Tuhan. Terkecuali bersyukur dan tetap meyakini bahwa Dia adalah sebaik-baiknya zat yang Mahamendengar. Kalau saja kini belum bisa menemukan jawaban, mungkin seiring waktu berjalan bisa menjumpai kisi-kisinya kelak. Asalkan tetap dilandasi keyakinan serta keimanan.
Hari itu, ternyata Ravi mengajak Johanna berbelanja. Membeli berbagai keperluan peralatan hidup selama gadis tersebut tinggal di kontrakan. Kasur yang memadai, kompor, alat-alat masak dan makan, bahkan sebuah alat komunikasi berupa handphone. "J-jangan, Pak," cegah Hanna begitu laki-laki tersebut menawarinya sebuah ponsel baru. "Ini sama sekali gak saya butuhin."
"Loh, Mbak justru bakalan butuh ini. Ambillah. Buat keperluan komunikasi Mbak," desak Ravi.
"E-enggak, Pak," ucap Hanna kembali berusaha untuk menolak. "Yang tadi aja sudah lebih dari cukup, kok. Soal HP … gak usahlah."
Johanna menggeleng. "Saya takut … nanti Papah saya tahu keberadaan saya," balasnya dengan riak kekhawatiran tergambar bias di wajah.
"Ya, jangan dikasih tahulah, Mbak," kata Ravi seraya menahan tawa. "Seenggaknya buat alat komunikasi kita."
"Kita?"
"Iya. Saya dan Mbak."
Jleb!
Seketika gadis itu mulai berpikir bahwa perkenalan mereka tersebut akan kian memanjang. Tidak akan cukup sampai di situ. Benarkah?
"Apa ini gak berlebihan, Pak?" tanya Hanna masih digayuti rasa ragu.
"Insyaa Allah … enggak. Percayalah, saya hanya ingin membantu Mbak Hanna. 'Gimana? Oke gak?" kata Ravi seraya menyerahkan dus handphone ke tangan Hanna, lantas membayar segera pada seorang petugas konter. "Sebelum pulang, kita makan-makan dulu, ya? Siang tadi saya belum sempet ngisi perut. He-he."
__ADS_1
"Loh, bukannya Bapak tadi pulang ke rumah? Emang gak dimasakin sama istrinya, Pak?" celetuk Hanna tidak sadar dan langsung mengubah warna wajah Ravi menjadi sedikit muram. "Istri saya gak ada di rumah sejak kemaren," jawabnya lirih.
"Loh, kok bisa 'gitu?"
"Gak tahulah, Mbak. Mungkin dia pulang ke rumah orangtuanya."
"Mungkin? Kok, mungkin sih?" tanya ulang gadis tersebut. "Jadi sampe saat ini Bapak sendiri belum tahu dimana keberadaan istri Bapak itu?" Jiwa keingintahuan Hanna sontak terpancing.
Ravi menggeleng.
"Nomor saya diblokir sama istri. Jadi saya sama sekali gak bisa ngehubungin dia," ucap laki-laki tersebut malah ikut tidak sadar jadi mencurahkan isi hati. "Yang ada, malah mertua yang berusaha nelpon saya tadi."
"Tadi? Waktu di mobil itu tadi?"
Jleb!
Mata laki-laki itu spontan membulat besar disertai mulut menganga lebar.
"Eh, maaf. Saya gak bermaksud—"
Tukas Ravi dengan cepat, "Iya, Mbak. Tadi saya bohong sama Embak." Akhirnya dia mengakui. "Yang tadi nelpon saya itu bukan dari temen kantor, tapi mertua saya sendiri."
"Astaga!"
"Astaghfirullah, Mbak. Bukan kata yang barusan."
"Eh, iya. Maksud saya juga 'gitu. Astaghfirullahal'adziim …." ralat Hanna buru-buru. "Duh, maafin saya, Pak. Saya gak bermaksud buat mengorek-ngorek masalah internal keluarga Bapak."
Ravi mendengkus.
"Gak apa-apa," timpalnya merasa sudah terlanjur berungkap. "Saya emang lagi butuh temen buat curhat. Untuk saat ini, mungkin cuma Mbak Hanna sosok yang paling tepat."
"Tapi kalo untuk urusan rumah tangga, saya sendiri masih buta, Pak. Soalnya … saya 'kan, belum menikah."
"O, iya? Mbak Hanna masih single?"
Johanna mengangguk pelan.
Sontak riak wajah laki-laki itu berubah kembali dari muram tadi menjadi sedikit semringah.
__ADS_1
Ada apa ini? Apa yang laki-laki itu pikirkan sekarang? Yang pasti, dia merasa bahwa perkenalannya dengan Johanna benar-benar seperti sesuatu yang teramat istimewa. Mengapa? Entahlah, keinginannya untuk mengungkapkan kegundahan hati pada sosok perempuan muda tersebut kian membesar.
...BERSAMBUNG...