Cinta Johanna

Cinta Johanna
Bagian 44


__ADS_3

...CINTA JOHANNA...


...Oleh : David Khanz...


...Bagian 44...


...—------- o0o —-------...


"Minumlah dulu, Han," ujar Ravi mempersilakan Johanna untuk segera mencoba minuman yang dia tawarkan. "Tenangin dulu diri kamu. Tarik napas lewat hidung, terus keluarin pelan-pelan melalui mulut. Ulangi beberapa kali sampai kamu merasa tenang. Oke?"


Johanna menuruti apa yang dikatakan oleh Ravi. Beberapa kali gadis tersebut melakukannya, hingga akhirnya merasa jauh lebih santai, lalu mengakhirinya dengan meminum segelas air mineral. "Terima kasih, Mas. Aku ngerasa jauh lebih baik sekarang," ujarnya diiringi senyuman manis, lantas memutar kepala untuk melihat-lihat keadaan sekeliling tempat pertemuan mereka di petang itu. "Bagus juga tempatnya. Fresh dan bikin adem. Kamu sering ke sini ya, Mas?"


"Enggak juga," jawab Ravi. "Cuma pernah aja … dulu … kalo lagi suntuk."


"Sendiri?"


"Sama temen."


"Cewek? Cowok?"


Ravi mengernyit. Memandangi wajah Johanna yang masih terlihat sisa-sisa rasa muramnya. Lalu bertanya perlahan, "Kamu kenapa, Han?"


Jawab Johanna seraya menggeleng dan tampak gugup, "Enggak. Gak apa-apa. Maaf, kalo pertanyaanku barusan terlalu—"


"Maksudku … kamu ada masalah di rumah?"


"Oohhh, itu? Haduh …." Johanna menyeringai malu. Lekas dia mengubah mimiknya agar tidak terlalu tampak gugup di hadapan lelaki tersebut, seraya membenahi untaian rambutnya yang tergerai menutupi sebagian area pipi. "Maaf, kalo waktu Mas Ravi terbuang percuma gara-gara masalahku, Mas."


"Enggaklah. Santai aja," ucap Ravi datar sambil meneguk minumannya sendiri. "Emang ada masalah apa, sih? Tantemu itu, ya?"


Johanna mengangguk.


"Sebenernya, bukan cuman itu, sih," ujar gadis tersebut mulai bertutur. "Aku lagi dilema aja, Mas."


"Dilema kenapa?" tanya Ravi meraba-raba isi benak Johanna. "Denger-denger dari ceritamu dan juga waktu pertama kali ketemu Tantemu tadi, aku memang agak sedikit punya penilaian tersendiri buat Tantemu itu. Eh, maaf ya, Han, aku jadi ngomongin keluargamu."


"Gak apa-apa, Mas. Santai aja," balas Hanna cuek. "Begini … aku ini … duh, mau cerita dari mana dulu, ya?" Dia berpikir sejenak, lantas lanjut berkata. "Begini … di satu sisi, aku ini dituntut harus kembali tinggal sama Mama dan Andrew. Tapi …."


"Tapi apa?"


Johanna mendesah bimbang sampai-sampai menggigiti bibir sendiri. Hal tersebut tidak luput dari perhatian laki-laki di depannya. Tanpa sadar, Ravi membasahi tepian bibir dengan ujung lidah.


"Aku sering ragu buat …." Sekali lagi Hanna menggantungkan kalimat. Mungkin masih ragu atau sedang memilih kalimat yang sesuai untuk diungkapkan. "Begini saja … aku masih ragu … kalo masakan di rumahku gak halal buat aku makan, Mas."


"Terus?"


"Yaaa … makanya jadi kepikiran terus buat tinggal di rumah," jawab Johanna kembali. "Gak cuma itu sih, masalahnya … itu loh, bekas peralatan masak serta makannya juga. Walopun udah dicuci bersih, tapinya 'kan belum tentu halal juga buat dipake lagi. Iya 'kan, Mas?"

__ADS_1


"Iya juga, sih. Aku paham maksud kamu."


"Soalnya setahuku … buat ngilangin najis bekas air liur anjing aja, perlu dilakuin beberapa tahapan sampe tujuh kali bilasan air dan satu kali dicampur sama galian tanah sedalam batas siku. Iya, 'kan? Apalagi soal masakan daging yang haram. Sudah pasti bekas minyak atau lemaknya itu loh, yang bikin aku gak mau ikut makan hasil masakan orangtuaku."


Timpal Ravi, "Yaaa … 'gimana, ya? Apa yang kamu omongin itu, ada benernya juga, sih. Aku paham banget. Tapi … apa gak ada solusi lain, Han?"


"Misal?"


Ravi berpikir beberapa waktu, kemudian manggut-manggut paham. "Kamu udah ngomong sama Mamamu belom? Terus, dari pihak keluargamu sendiri 'gimana? Terutama Mamamu itu, Han."


Johanna teringat pada percakapan mereka berdua sebelumnya. "Kayaknya Mamaku sih, udah ngerti. Gak perlu aku omongin juga, Mama udah paham."


"Maksudnya?"


"Tadi siang, Mama nawarin aku buat bikin dapur sendiri."


"Nah, itu bagus. Mamamu udah paham, tuh."


Imbuh Hanna berungkap, "Iya, sih. Bahkan … Mama sendiri bilang, mau masak yang halal-halal aja selama aku tinggal di rumah."


"Terus … masalahnya udah clear, 'kan? Apalagi yang kamu sangsiin?" Ravi turut merasa senang. "Dan aku pikir … Mama kamu jauh lebih bisa nerima kamu yang sekarang, ketimbang … maaf, almarhum Papamu dulu."


Johanna mendengkus gusar.


"Ya, kayaknya … Mama emang gak terlalu mau ambil pusing sama keputusanku dari awal," ungkap gadis tersebut. "Tapi sekarang … gak begitu sama Tante Chika."


"Hhmmm."


"Maksudmu?"


Johanna menatap bola mata laki-laki tersebut, lalu berucap, "Dia selalu berusaha menghalang-halangi aktivitas keagamaanku, Mas, dan kayaknya berharap … mungkin, ya … aku kembali lagi sama agamaku dulu. Nau'dzubillahimindzalik."


"Astaghfirullahal'adziim."


"Satu lagi …."


"Apa itu?" tanya Ravi penasaran.


"Adikku Andrew."


"Kenapa dengan dia?"


Johanna memalingkan muka dan menggeleng perlahan. "Aku gak tahu pasti, tapi … kayaknya … berada di bawah pengaruh Tante Chika. Aahhh, pokoknya aku bingung banget, Mas. Makanya aku buru-buru nelpon Mas Ravi tadi, karena … ya, itu tadi … aku ngerasa … Tante dan Andrew lagi ngerencanain sesuatu, deh."


"Apa?"


"Ya, mana aku tahu!" jawab Johanna dengan raut wajah merengut kesal. "Aku bingung, Mas. Sebenernya pengen tinggal di kontrakan, tapi … aku juga kepengen deket sama Mama. Aku pengen berbakti sama orangtua."

__ADS_1


Ravi manggut-manggut. Sedikit paham kini lelaki tersebut akan permasalahan yang tengah dihadapi oleh Johanna.


"Menurut Mas Ravi, 'gimana?" tanya gadis itu tiba-tiba. "Aku harus 'gimana, dong? Aku bingung, Mas."


Bingung? Ya, Ravi sendiri juga dalam posisi serupa. Menghadapi permasalahan keluarganya sendiri, terutama Sarah. Bahkan karena itu, dia merasa malas untuk pulang ke rumah.


"Maaf, Mas," kata Johanna memecah kebisuan sesaat di antara mereka.


"Eh, ya? Kenapa, Han?" Laki-laki itu terperangah.


Agak ragu Hanna hendak berkata. Namun dia mendadak teringat pada percakapan awal sewaktu meneleponnya tadi. Ditambah raut Ravi yang terlihat sedikit kurang ceria saat itu. "Maaf, kalo aku ikut ngebebani pikiran Mas Ravi," ujarnya lirih.


"Aahhh, gak apa-apa, Han," jawab Ravi gelagapan. "A-aku baik-baik aja, kok."


Getar suara yang terdengar, belum meyakinkan hati gadis itu kalau sosok di depannya tersebut dalam keadaan baik.


"Mas Ravi sendiri … lagi ada masalah, ya? Eh, maaf … kalo pertanyaanku ini lancang. Mas gak usah jawab kalo—"


"Ya, aku memang lagi ada masalah dengan … istriku," tukas Ravi langsung terbuka. Entah mengapa, sekarang dia menjadi lebih mudah berungkap pada Johanna. "Biasalah … masalah rumah tangga."


"Oh, 'gitu? Maafin aku ya, Mas."


"Maaf kenapa? Kamu gak ada—"


"Seharusnya aku gak ngehubungin Mas Ravi tadi. Apalagi … ini masalah internal keluargaku sendiri."


"Eh, hei … hei … Hanna yang baik hati," ucap Ravi mencoba menghangatkan suasana kembali. "Kita adalah temen. Kamu harus ingat itu. Sejak awal, aku emang … eh, maksudnya … duh, apa ya? Tadi aku mau ngomong apa, sih? Lupa, nih." Dia berusaha mengingat-ingat, sampai kemudian lanjut berkata, "O, iya … berbakti sama orangtua. Mama kamu, 'kan?"


Johanna mengangguk.


"Mau dengerin menurut versiku?"


Hanna kembali mengangguk.


Ravi menarik napas sejenak, kemudian berimbuh kembali, "Menurutku … gak ada larangan dalam Islam untuk berbakti kepada orangtua, walaupun kamu dan Mamamu berbeda agama. Justru agama sangat … sangat … menganjurkan dan mewajibkan. Patuhi permintaan dan perintah Mamamu, sepanjang bukan untuk berbuat kemungkaran atau melanggar perintah Allah Subhanahu Wata'ala. Itu yang terpenting."


"Termasuk membantu perayaan keagamaan Mama?"


"Ya, membantu mempersiapkan aktivitas keagamaan Mamamu, tapi enggak sampai ikut terjun secara bersama-sama melakukan rutinitas maupun ritual keagamaannya. Paham gak?" tanya Ravi, tapi respons Hanna masih terlihat ambigu. "Begini … begini … begini … contoh nih ya, Mamamu mau ke Gereja, terus minta diantar sama kamu. Nah, kamu wajib mematuhi permintaan Mamamu itu, yakni … nganterin Mamamu sampe tiba di Gereja dengan selamat. Udah, sampe di situ. Gak usah ikut masuk dan sama-sama ngelaksanain ibadah di Gereja segala. Jadi, biarpun kamu masih memiliki kewajiban terhadap Mamamu, tetep … ada batasan-batasannya tersendiri dalam memaknai kata 'berbakti' tadi. Paham gak?"


Johanna mengangguk.


"Intinya, jika suatu aktivitas atau kegiatan sudah memasuki ranah perbedaan aturan di dalam sebuah agama, di situlah … di perbatasan itulah langkah kita harus segera berhenti. Karena sudah masuk ke dalam hukum 'lakum diinukum waliyadiin'. Untukmu agamamu, untukku agamaku."


"Aku paham banget, Mas. Terima kasih."


Kriiinngg! Kriiinngg!

__ADS_1


Ravi merogoh saku untuk mengambil ponselnya. "Sarah …." gumam laki-laki itu dengan tangan gemetar.


...BERSAMBUNG...


__ADS_2