
...CINTA JOHANNA...
...Oleh : David Khanz...
...Bagian 47...
...—------- o0o —-------...
Begitu turun dari angkutan umum, Johanna berjalan tergesa-gesa menyusuri gang. Keadaan sudah mulai sunyi memasuki waktu malam. Kemudian berbelok menuju rumah.
"Dari mana kamu, Han?" tanya Tante Chika sewaktu membukakan pintu. Sorot mata wanita tua itu seakan tengah menyelidik. Jawab gadis tersebut sejenak usai melirik pandangan tantenya, "Habis ketemu temen, Tante."
"Temen? Temen yang mana?" Kelopak sipit Tante Chika kian mengecil. "Gak biasanya kamu kelayaban kayak 'gini. Apalagi di saat Mamamu masih berduka. Emang kamu gak ngerasa kehilangan Papamu, huh?"
Johanna tidak mau menimpali. Dia tidak ingin berdebat. Maka berusaha menghindar dan berniat masuk ke dalam rumah, melewati hadangan tubuh tantenya tersebut. "Hanna mau istirahat dulu, Tan. Maaf," ujarnya pelan. Khawatir suara-suata mereka terdengar oleh Mama Lilian.
"Heh, sebentar! Jangan masuk dulu!" seru wanita tua itu kembali. "Kamu ini gak ada sopan-sopannya sama orangtua. Diajak ngomong malah ngehindar!"
"Bukan begitu, Tante," elak Johanna masih berusaha masuk. "Hanna capek, tapi Hanna mau lihat dulu kondisi Mama."
"Dia sudah tidur!" balas Tante Chika. "Dari tadi dia nanyain kamu terus. Ditelepon gak aktif. Ke mana aja, sih?"
"Hanna 'kan, udah jawab tadi. Hanna ketemu sama temen," tandas gadis itu menjelaskan dan baru menyadari kalau sejak awal berangkat, dia menonaktifkan selulernya.
Sorot mata Tante Johanna kembali menajam. "Sama laki-laki itu, 'kan?" tanyanya penuh selidik dan langsung disambut reaksi kejut oleh keponakannya tersebut. "Kenapa Tante nyangkanya begitu?" Johanna pura-pura tidak paham. Sosok yang dimaksud pastilah Ravi. Siapa lagi?
Spontan gadis itu menyadari bahwa perbincangan mereka kali ini akan lebih mendalam dan panjang.
"Gak begitu sulit buat nebak," ujar Tante Chika diiringi senyum kecut. "Emang kamu habis ketemu dia, 'kan? Siapa namanya, ya? R-ra … ngga! Ah, rasanya bukan. R-ra … Randi? Hhmm … o,iya … Ravi! Ravi! Dia 'kan, huh?"
Johanna tidak menjawab. Percuma saja. Mengiakan juga bakal menambah durasi obrolan. Berbohong, dia tidak terbiasa.
"Di saat-saat berkabung seperti ini, seharusnya kamu lebih berempati sama keluarga sendiri, Hanna. Mamamu. Bukan malah memperdulikan orang lain," ucap Tante Chika lebih lanjut. "Apa karena Papamu itu bukan lagi berasal dari golonganmu? Karena beda agama? Terus nurani kamu berubah jadi batu dan gak lagi peduli sama keluargamu?"
Johanna menggeleng.
"Itu gak bener sama sekali, Tante," tandas Hanna masih berusaha menahan kesabarannya. "Almarhum Papa tetep bagian penting dari keluarga Hanna. Berbeda agama atau enggak, beliau tetep Papanya Hanna. Dan itu sama sekali gak ada hubungannya dengan masalah keyakinan."
"Buktinya kamu sama sekali gak mau ikut prosesi ritual kematian Kak Jonathan."
Johanna mendesah.
__ADS_1
Benar dugaan sebelumnya. Selalu masalah keagamaan yang dibahas oleh tantenya tersebut.
"Maaf, Tante. Ini udah malem. Hanna gak mau ngebahas tentang itu," ujar Hanna, lantas mencoba menerobos hadangan tubuh Tante Chika. Namun wanita tua itu tetap menahannya masuk. "Hanna mau ngelihat Mama dulu."
"Jawab kata-kata Tante barusan, Hanna!" seru Tante Chika memaksa. "Segitu piciknyakah ajaran agama barumu itu? Sampe-sampe hal begituan saja dibates-batesin! Padahal Papamu itu adalah orang yang paling berjasa buat hidupmu!"
"Lakum diinukum waliyadiin."
"Maksudmu apa, sih?" tanya Tante Chika geram. Baginya, jika mendengar kalimat-kalimat khas yang berbau keislaman, rasa benci itu kian meledak-ledak.
Usai menarik napas dalam-dalam, Johanna menjawab, "Kalo sudah menyangkut urusan akidah, Hanna punya batasannya tersendiri, Tante."
"Akidah?"
"Iya, Tante. Akidah itu semacam … dasar atau pokok sebuah keyakinan. Dimana urusan penting antar suatu agama dengan agama yang lain, gak boleh dicampur-campur. Karena masing-masing pihak berpijak pada pedoman agamanya masing-masing."
"Itu 'kan cuman karanganmu aja," ujar Tante Chika seraya mencibir. "Bisa aja kayak omongan ustadz-ustadz yang poligami itu. Berdalih buat ngelegalin perselingkuhan atas dasar perintah agama mereka. Ujung-ujungnya malah zina juga."
'Itu lagi yang dibahas ….' keluh gadis tersebut kesal. Urusan kebencian pribadi disangkutpautkan dengan intervensi aturan agama yang tidak dia anut, pikirnya.
"Bukan Hanna yang bicara, Tante, tapi itu menurut agama yang Hanna yakini sekarang," kata Johanna menjelaskan. "Lagian, kenapa sih Tante ini suka banget ngebahas Islam dari sudut poligaminya? Dunia Islam itu gak sesempit yang Tante kita, loh."
"Emang begitu kenyataannya," timpal Tante Chika ketus. "Mau kamu sangkal juga, bukti-bukti yang ada emang begitu, 'kan?"
"Tante masih keingetan sama Om Steven?" tanya Johanna mencoba menelisik.
Wanita tua itu langsung bereaksi. Spontan dia menoleh disertai pandangan geram. "Urusannya apa sama dia?" tanyanya ketus. "Kamu jangan coba-coba ngebahas si Brengsek itu lagi, ya? Rugi. Gak ada untungnya."
Hanna tersenyum tipis. Lantas lanjut bertanya tanpa memedulikan ucapan tantenya barusan, "Itu 'kan, yang bikin Tante berpikir aneh-aneh tentang agama yang Hanna yakini selama ini? Karena Tante masih kecewa sama Om Steven. Iya, 'kan?"
"Gak ada hubungannya sama dia!"
"Tentu masih ada hubungannya, dong. Makanya, Tante selalu berpikir negatif tentang Islam dari sudut poligaminya," ujar Johanna mulai menemukan celah untuk membalas. "Lagian, poligami itu enggak hanya ada di dalam Islam loh, Tante. Jauh sebelum Islam lahir di jazirah Arab, poligami juga sudah ada dan banyak dilakuin oleh penganut agama-agama lain. Terutama oleh para pembesar-pembesar suatu negeri pada masanya."
"Sok tahu kamu!"
"Islam hanya melengkapi dan mengatur aturan masalah poligami biar lebih terarah dan teratur. Tujuannya tentu saja buat melindungi dan menjamin hak pihak-pihak bersangkutan serta anak keturunan kelak."
"Terus aja ngarang kamu!"
"Walaupun poligami itu sesuatu yang diperbolehkan bagi kaum Islam laki-laki, tapi poligami bukanlah sebuah kewajiban yang mutlak. Ada aturan-aturannya tersendiri dan itu pun gak gampang, Tante," tandas Johanna kembali. "Satu lagi … poligami itu bukan zina, tapi pernikahan suci yang dilakuin oleh laki-laki yang masih beristri. Sifatnya pun berhukum halal."
__ADS_1
"Tapi tetep aja kalo gak diizinin sama istrinya, itu akan bermakna selingkuh. Zina."
"Bukan zina, Tante, sepanjang pernikahannya itu dilakukan sesuai dengan aturan-aturan yang berlaku. Terutama dari segi hukum agama." Dengan sabar Hanna masih berusaha menjelaskan. "Makanya Hanna bilang juga … poligami itu gak gampang, karena gak boleh dilakuin secara sembunyi-sembunyi. Semua pihak yang terkait, minimal harus tahu. Terutama dari pihak istri sebelumnya. Walopun tanpa izin dari istri, pernikahan poligami masih tetep halal secara agama, tapi bakal sulit mendapatkan pengesahan secara adminstrasi dan hukum negara."
Tante Chika melirik masam. "Kamu ini ngomongin soal poligami, seolah-olah kamu udah kawin aja. Jangan-jangan … kamu emang udah—"
"Hanna banyak belajar dan membaca buku-buku tentang dunia Islam, Tante."
"Buku khayalan …."
"Bukan buku khayalan, Tante, tapi buku-buku yang ditulis oleh tokoh-tokoh yang memiliki keilmuan agama yang tinggi. Bukan orang sembarangan pula."
"Alasan …." gerutu Tante Chika tidak mau mengalah. "Makin ngerasa pinter ya kamu sekarang, huh? Ngerasa punya banyak ilmu, terus dipake buat ngelawan Tante."
"Hanna cuman ngebantu ngejelasin aja, Tante. Itu pun sebatas apa yang Hanna pahami. Kalo enggak tahu, ya … masa Hanna ngarang-ngarang, sih? Atau Tante mau ikut ngebaca buku-buku yang Hanna baca itu? Ada banyak, kok. Bahasannya menarik loh, Tante," ujar Johanna semakin mendapat angin segar untuk meredam serangan dari Tante Chika. "Entar Hanna bawain deh, di kontrakan—"
"Huh!"
Tiba-tiba Tante Chika beranjak dari tempatnya berdiri sejak tadi. Dia meninggalkan Hanna dengan raut masam.
"Subhanallah …." desah gadis tersebut memandangi sosok tantenya. "Semoga Allah memberikan hidayah-Nya untuk keluargaku; Tante Chika, Mama, dan juga Andrew."
Kemudian Hanna turut beranjak masuk ke dalam rumah. Usai memastikan pintu dalam keadaan terkunci, dia bergegas melihat-lihat Mama Lilian di kamar.
"Kamu sudah pulang, Han?" ucap sosok di atas pembaringan itu begitu Hanna mendekat. "Dari mana saja, Sayang?"
"Mama belum tidur?" tanya Hanna seraya merangsek duduk di samping ibunya. Jawab Mama Lilian lirih, "Mama nungguin kamu, Han. Mama khawatir kamu gak mau lagi pulang ke rumah ini."
"Ya, Allah … Mama," ucap gadis tersebut dan langsung memeluk ibunya.
"Tidurlah sama Mama ya, Sayang. Mama pengen ditemenin kamu."
"I-iya, Ma. Hanna temenin," balas Johanna tersentuh. "Tapi Hanna mau ngambil air wudhu dulu sebelum tidur."
"Kamu belum sholat?"
Hanna menggeleng.
"Ya, sudah. Sholatnya di kamar Mama saja, ya," pinta Mama Lilian kembali. Lantas melirik ke atas meja rias dan dinding kamar. "Itu … patung Bunda Maria sama salibnya dimasukin saja ke dalam laci meja. Biar kamu gak ngerasa keganggu sholatnya."
"Masyaa Allah, Mama!"
__ADS_1
Kembali Johanna memeluk tubuh ibunya lebih erat.
...BERSAMBUNG...