Cinta Johanna

Cinta Johanna
Bagian 39


__ADS_3

...CINTA JOHANNA...


...Oleh : David Khanz...


...Bagian 39...


...—------- o0o —-------...


Sementara itu Ravi, setelah mengantar Johanna kembali ke rumahnya, benaknya tiba-tiba saja teringat terus pada sosok gadis mualaf tersebut. Baru beberapa bulan ini mereka saling mengenal dan sering bertemu, melahirkan kenyamanan tersendiri di hati laki-laki tersebut. Entahlah, apa karena Sarah kerap membantahnya? Hampir selalu terjadi perselisihan yang terkadang dari hal sepele, tapi menimbulkan masalah besar. Contoh yang terjadi sewaktu pagi tadi.


"Hari ini aku yang bawa mobil, ya? Aku ada rapat penting di tempat kerjaan pagi ini," kata Sarah sembari menyiapkan menu sarapan.


"Terus aku berangkat pake angkutan umum, dong?" tanya Ravi mulai membaui gejala-gejala tidak beres pada sikap istrinya tersebut.


Jawab Sarah, "Terserah kamu, Rav." Dia cuek berbicara, tanpa menatap Ravi, sambil terus melakukan aktivitasnya. "Kamu bisa pesen angkutan online kek atau apa kek. Pokoknya aku yang pake itu mobil hari ini."


Laki-laki itu berpikir sejenak, lantas berkata, "Kenapa gak bareng-bareng aja, Sar? Aku nganterin kamu dulu ke kantormu, abis itu baru aku berangkat ke kantorku bawa mobilnya."


"Emang sempet?"


"Ya, makanya kita berangkatnya pagi-pagi banget."


"Sekarang?" tanya Sarah seraya melirik jam dinding yang baru menunjukkan hampir pukul enam.


"Ya, sekaranglah. Biar entar aku gak kejebak macet sehabis nganterin kamu."


"Hhmmm, gila," gumam Sarah diikuti gelengan kepalanya.


"Kok, gila? Apanya yang gila?" Alis laki-laki itu terangkat tinggi. Merasa heran. Jawab istrinya dingin, "Ya, gila aja. Masa kudu berangkat sepagi ini, sih? Jadwal masuk kerjaku 'kan, jam delapan. Perjalanan dari sini puj paling sekitar sejam."


"Emang apa salahnya?"


"Ya, kamu pikir aja," timpal Sarah dengan nada ketus. "Kalo kita berangkat sekarang, terus aku nyampe di kantor jam tujuh. Ngapain coba nunggu sejam di tempat kerjaan? Mana belum tentu di sana udah ada siapa-siapa. Kamu tega ninggalin aku sendirian di sana? Pikir, deh!"


Ravi mendengkus.


"Kenapa? Kamu gak suka sama rencanaku?" tanya istrinya kembali. Kali ini sempat melirik sejenak pada suaminya.


Ujar Ravi mencoba menjelaskan, "Bukan begitu, Sar. Maksudku tadi, kalo aku nganter kamu ke kantor, dari sana masih ada waktu buat aku berangkat ke tempat kerjaanku. Begitu loh, Sarah."


"Iya, aku paham," timpal Sarah tidak mau kalah. "Apa kamu gak mikir juga, sekarang aja aku masih sibuk nyiapin sarapan. Belum waktunya makan, terus kudu ngelakuin ini-itu. Kamu pikir gampang apa jadi perempuan?"

__ADS_1


"Ya, 'kan sarapannya bisa kita bekel, Sar," ujar Ravi masih berusaha membuat istrinya paham. "Kamu bisa makan di kantor kek, sambil nungguin jam masuk kerja. Iya, 'kan?"


"Aaahhh, ribet amat!"


"Ya, enggak ribetlah," lawan Ravi mulai kesal. "Yang repot itu cara mikir kamu, Sar."


Perempuan itu membalik badan, menatap tajam suaminya. "Jadi kamu nyalahin aku?"


"Astaghfirullah, Sarah," desah Ravi bingung. "Aku sama sekali gak nyalahin kamu. Cuma ngasih saran. Ngerti dikit apa susahnya, sih?"


"Kamu tuh, yang susah ngertiin aku!" tuding Sarah ketus. "Apa susahnya sih, sekali-sekali ngalah, 'gitu. Selama ini 'kan, kebanyakan kamu yang make itu mobil. Aku sendiri, malah lebih sering naek taksi."


"Ya, 'kan karena jarak tempat kerjaku lebih jauh dari tempat kerjaanmu, Sar. Butuh waktu lebih lama."


"Halah, cuma alasanmu saja. Biar kamu bisa bebas pulang malem, 'kan?"


"Loh, kok ngomongnya 'gitu sih, Sar?" tanya Ravi makin tidak memahami jalan pikiran istrinya itu. "Aku 'kan, selama ini jujur … kalo pulang malem, itu karena aku lagi ada lemburan di kantor. Tiap kali kamu minta bukti, selalu kita komunikasiin pake video call. Masih belum cukup kamu nuduh-nuduh aku, hhmm?"


Sarah mendengkus.


Imbuh Ravi kembali, "Lagian ya, Sar, aku itu sering banget ngajak kamu bareng-bareng berangkat kerja. Biar kita bisa bersama-sama selalu. Gak cuma ketemunya pas pulang ke rumah aja. Masih sama-sama capek."


"Ya, iyalah. Aku juga capek, Rav. Aku juga 'kan, kerja. Emangnya cuman kamu doangan yang nyari duit?"


Sarah menoleh dengan tatapan dingin. Ucapnya datar, "Nah, itu kamu sadar. Lagian itu mobil dibeli juga atas namaku, ya. Bukan pake nama kamu."


"Iya, aku tahu, tapi yang bayar cicilannya 'kan dari gajiku, Sar."


"Oohhh … jadi karena itu, kamu jadi ngerasa bisa make itu mobil sesuka kamu? Bebas make gara-gara kamu yang bayarin. Begitu?"


"Astaghfirullah, Sarah. Susah ya, ngomong sama kamu. Perasaan … aku salah melulu, deh."


"Makanya banyakin nyadar, Rav. Jangan ego terus yang dikedepanin! Jadi laki-laki itu peka dikit kenapa, sih?"


"Aku nyadar, kok."


"Lah, itu buktinya … kamu keras kepala!"


"Yang mana?"


"Pake nanya lagi, yang mana? Itu tuh tandanya kamu gak peka!"

__ADS_1


"Iya, aku tanya, keegoisan aku itu yang mana, Saraaahhh?" Nada suara Ravi mulai meninggi karena rasa kesal yang sulit terbendung.


Jawab Sarah, "Kamu gak mau ngalah pake mobil, Ravi! Segitu aja susah banget sih, ngerti sama omongan kamu sendiri!"


"Bukan susah ngerti, tapi aku nyoba ngasih saran biar kita sama-sama enak, sama-sama gak ada yang dirugiin! Begitu maksudku, Saraaahhh!"


"Oohhh … jadi kalo aku yang make, kamu ngerasa dirugiin. Begitu, ya? Ravi … Ravi … sekarang aku makin tahu isi hati laki-laki yang selama ini aku anggap sebagai suamiku! Ck … ck … ck … gak nyangka banget!"


"Astaghfirullahal'adziim!" seru Ravi seraya —tidak sadar— menendang daun pintu.


Brak!


"Ya, Tuhan!" pekik Sarah ketakutan. Sampai-sampai tubuhnya gemetar. Dia menatap sosok suaminya yang melengos meninggalkannya di dapur. Namun tidak berapa lama kemudian, Ravi kembali sambil melemparkan kunci kendaraan beserta dompet surat-suratnya.


"Ini! Urus sama kamu sendiri!" sentak laki-laki tersebut penuh emosi. "Lagian dari awal juga aku gak pernah berharap beli itu mobil! Kamu sendiri 'kan, yang minta?"


"Ravi …."


"Kamu pikir tanpa punya mobil itu aku bakalan ngerasa miskin, 'gitu?" imbuh Ravi kembali disertai napas kembang kempis. "Kamu salah, Sarah! Dari dulu, aku udah terbiasa hidup apa adanya!"


"Mama …." ucap Sarah lirih memanggil ibunya karena merasa ketakutan.


Belum cukup bicara tadi, laki-laki tersebut masih menambahkan kata-katanya. "Ingat ya, Sar. Berulangkali aku ngomong sama kamu. Di dalam rumah tangga, gak ada istilah … ini hartamu, itu hartaku. Semua yang ada dan kita miliki sekarang ini adalah harta kita bersama. Apa pun dan bagaimanapun proses pembeliannya. Mau atas namamu, mau aku yang bayarin … sama aja. Semua milik kita berdua. Dan ingat … ini yang kedua kali kamu ngomong kayak 'gitu. Sekali lagi kamu ngebahas yang kayak tadi, jual aja mobil itu! Percuma, sama sekali gak berguna buat kenyamanan kita!"


"Mama …."


"Silakan … mulai sekarang kamu bawa, kamu urus, dan kamu bayar sendiri itu mobil! Aku gak mau peduli lagi!"


Setelah itu Ravi kembali beranjak ke ruang tengah. Duduk sendiri sambil memegangi kepalanya yang terasa pusing. 'Ya, Allah … kehidupan rumah tangga macam apa yang sedang kami jalani ini? Dosa apa yang pernah kuperbuat dulu? Aku sama sekali gak ngerti sama sikap istriku itu … ya, Tuhan!'


Kemudian dia masuk ke kamar untuk mengambil handphone. Bermaksud memesan transportasi online sebagai sarana berangkatnya kerja pagi itu. Namun setelah ditunggu sekian waktu dan pesanan tiba, malah Sarah yang menyerobot menggunakannya. "Aku pergi kerja dulu. Silakan kamu aja yang bawa itu mobil," ujar perempuan tersebut buru-buru keluar rumah.


"Sarah, tunggu!" panggil Ravi yang hampir bersiap-siap dengan setelan rapinya. Namun Sarah tidak mau menghiraukan. Dia tetap melangkah dan cepat-cepat masuk ke dalam kendaraan yang dipesan suaminya tadi.


Ravi mendengkus kesal. Lantas segera kembali ke dalam rumah, mencari-cari kunci serta surat-surat kendaraan yang tadi dia lempar di dapur. Namun ternyata tergeletak di atas meja makan, persis di samping sepiring nasi goreng yang tampak masih utuh.


"Ya, Allah …." desah lelaki itu tiba-tiba merasa menyesali akan sikapnya pada Sarah tadi. Pikir Ravi, bahkan di saat marah pun Sarah masih sempat menyiapkan sarapan untuknya.


Ciittt!


"Aahhh!" teriak Ravi sambil menginjak pedal rem kendaraan dalam-dalam. Ingatannya akan kejadian tadi pagi, mengurangi konsentrasi dia dalam berkemudi.

__ADS_1


...BERSAMBUNG...


__ADS_2