Cinta Johanna

Cinta Johanna
Bagian 53


__ADS_3

...CINTA JOHANNA...


...Oleh : David Khanz...


...Bagian 53...


...—------- o0o —-------...


"Hanna! Buka pintunya, Hanna!" seru Mama Lilian panik seraya menggedor-gedor daun pintu kamar anaknya. "Cepetan buka pintunya, Hanna!"


Andrew dan Papa Jonathan yang mendengar ribut-ribut suara Mama Lilian, segera berhamburan turut mendekat.


"Ada apa ini, Ma?" tanya laki-laki tua itu sempat terpaku melihat istrinya tampak dilanda cemas. Mama Lilian menoleh dan langsung menjawab, "Hanna muntah-muntah, Pa!"


"Muntah-muntah?" Papa Jonathan merengut heran. "Kenapa dia? Ada apa dengan anak itu?"


"Mana Mama tahu, Pa!" timpal Mama Lilian kian panik, lantas kembali menggedor-gedor pintu kamar Johanna. "Hanna! Buka pintunya! Cepetan, Nak!"


"Han! Buka pintu, Han!" Ayahnya ikut memanggil-manggil.


Jika kedua orangtuanya tampak cemas, tidak begitu dengan Andrew. Benak anak muda itu justru sedang sibuk berpikir. 'Hhmmm ….' membatin dia di dalam hati.


Tidak berapa lama pintu kamar terbuka. Johanna muncul dan tampak terbengong-bengong memerhatikan wajah ayah-ibunya. "Ada apa, Ma-Pa?" tanyanya polos.


"Kok, malah nanya ada apa?" semprot Mama Lilian terheran-heran. "Kamu tuh, yang kenapa!"


"Kamu muntah-muntah, Hanna?" tanya Papa Jonathan seraya berdebar-debar mengusap dada. Sebagai orang tua, dia mulai berpikiran aneh-aneh memerhatikan gelagat anak perawannya tersebut.


"Cuman muntah, Pa-Ma. Bukan muntah-muntah," jawab Johanna kembali.


"Sama aja!" timpal Mama Lilian masih terlihat panik.


"Beda, dong," tandas gadis itu tidak mau mengalah. "Kalo muntah, cukup sekali. Kalo muntah-muntah, itu pastinya berulang-ulang. Emang kenapa, sih?"


Jonathan dan Lilian saling berpandangan satu sama lain.


"Ini anak …." ujar ibunya kini berubah kesal. "Orangtua lagi cemas begini, jawabnya malah muter-muter."


Tiba-tiba Andrew ikut menyahut, "Tahu tuh, Kak Hanna. Pasti muntah gara-gara makan sop daging babi tadi, ya? Hi-hi!"


Johanna melotot ke arah adiknya. "Apaan sih kamu, Andrew? Ikut campur aja. Ditanya juga enggak!" balas dia mendadak merasa jengkel dengan sikap adiknya yang cengagas-cengenges.


Papa Jonathan melirik anak lakinya, lantas beralih menatap mata Johanna. "Beneran karena itu, Han?"


Gadis tersebut tidak langsung menjawab. Dia masih berdiri menghalangi di ambang pintu kamar dan sempat menoleh ke dalam sesaat. "Gak tahu, Pa. Tiba-tiba aja … lambung Hanna kayak mual 'gitu abis makan barusan."


"Mual?" Laki-laki tua itu mencolek lengan istrinya. Mama Lilian langsung paham apa maksud oleh suaminya itu. "Kamu mag?"


"Gak tahu, Pa," jawab Hanna seraya menggelengkan kepala.

__ADS_1


"Mens kamu lancar 'kan, Han?" Mama Lilian turut bertanya. Diangguki oleh Johanna. "Puji Tuhan … syukurlah."


"Lah, hubungannya mag sama mens apaan, Ma-Pa?" Sekonyong-konyong Andrew ikut bertanya dari belakang mereka berdua.


"Dih, si Andrew … nanya apaan, sih?" sela Johanna masih meraba-raba maksud dari pertanyaan ketiga sosok di depannya tersebut.


"Ya, wajarlah nanya kalo gak tahu! Weeee!" tangkis Andrew sembari menjulurkan lidah, mengejek kakaknya.


"Lagian kamu nanyain urusan perempuan! Man-men man-men … emang kamu kepengen mens juga?"


"Idih, najis!" Andrew bergidik.


"Huusss! Kalian ini kenapa, sih?" Mama Lilian segera melerai. Lantas segera meminta izin pada Hanna untuk masuk kamarnya, usai mendapat kode khusus dari Papa Jonathan yang kedua. "Mama pengen ngomong sama kamu di kamar. Bisa gak, Nak?"


"Mau ngomong apa, Ma?" tanya Johanna keheranan.


Mama Lilian melirik suaminya sejenak dan laki-laki tua itu pun langsung bereaksi. Dia menarik lengan Andrew agar segera menjauh dari sana.


"Ngobrolnya di dalem kamarmu, ya? Boleh?" desak Mama Lilian kembali. Terdengar lembut, tapi terkesan tegas.


Sesaat Johanna ragu. Dia menoleh sesaat ke belakang atau tepatnya ke dalam kamarnya. "Tapi ada bekas muntahan Hanna, Ma," katanya malu. "Mama gak jijik?"


Mama Lilian tersenyum manis. Katanya bijak, "Kamu itu dirawat dari semenjak di dalem kandungan sampe segede sekarang ini, masa Mama jijik sama bekas muntahan anak sendiri?"


Akhirnya Johanna mempersilakan ibunya masuk. "Tapi … sambil Hanna bersihin dulu ya, Ma?"


Mama Lilian mengangguk.


Mata tua wanita tersebut menyapu kondisi kamar. Masih tertata rapi seperti biasa sebagaimana umumnya kamar anak perempuan. Namun satu hal yang menjadi ganjalan di hati, ada satu benda yang tidak dia lihat dari sebelumnya. Itu tersimpan di dalam benak untuk sementara dan akan jadi bahan pertanyaan lebih lanjut.


"Mama mau ngomong apa lagi, Ma?" tanya Johanna begitu selesai membersihkan lantai. Gadis itu duduk berdampingan bersama ibunya sambil mengelapi tangan menggunakan kertas tisu. "Hanna udah beres ngebersihin bekas muntahan Hanna tadi."


Mama Lilian menoleh ke samping, menatap wajah anak perempuannya dalam-dalam. Usai menarik napas, lantas dia berkata lembut, "Sejak kecil, Mama dan Papa selalu mengajarkanmu untuk selalu berbuat dan berkata jujur, Nak." Johanna mendengarkan dengan saksama. "Kami berikan pendidikan yang cukup, budi pekerti, juga tatanan kerohanian. Gak cuma sama kamu, sama Andrew juga begitu."


Wanita tua itu menjeda sejenak, meraih jemari tangan Johanna dan menggenggamnya lembut.


"Mama sadar, kamu sekarang udah gede, Nak. Ruang lingkup pergaulanmu jauh lebih luas dan bebas di luar sana. Mama dan Papa gak mungkin bisa mengawasimu sepanjang waktu. Suatu masa, pasti ada lengahnya."


Mama Lilian menarik napas sebentar.


"Ada kalanya, apa yang kita harepin enggak selalu semuanya bisa didapetin. Begitu juga dengan Mama dan Papa," tutur ibunya Johanna semakin mengerucutkan topik perbincangan mereka. "Tapi seenggaknya, dasar-dasar yang sudah diberikan sewaktu kamu kecil, itu akan menjadikanmu pedoman buat langkah hidup, sekarang … saat kamu atau Andrew sudah makin tumbuh dewasa."


Johanna melirik ke arah ibunya, lantas bertanya, "Terima kasih atas apa yang sudah Mama dan Papa kasihin buat Hanna selama ini. Hanna merasa beruntung punya orangtua kayak Mama dan Papa. Tapi … sebenarnya, apa yang pengen Mama tanyain sama Hanna, Ma? Apa ini ada hubungannya dengan masalah tadi?"


Mama Lilian tersenyum manis. "Secara gak langsung, iya," jawabnya lembut. "Pertanyaan Mama cuma satu, Nak."


"Apa itu, Ma?"


Tanya wanita tua itu berhati-hatil, "Apa kamu lagi punya masalah yang gak boleh Mama tahu, Nak?"

__ADS_1


Johanna sempat bingung. Namun kemudian dia menggeleng ragu.


"Bener?"


Gadis itu mengangguk pelan, tapi terlihat sedikit bimbang.


"Ada temen spesial yang kamu punyai?"


"Maksud Mama?" Johanna menatap mata ibunya.


"Kamu ini sudah dewasa, Han. Kamu pasti sudah paham apa yang Mama maksud barusan, 'kan?


Tanya Johanna dengan suara bergetar, "Cowok?"


"Siapa laki-laki itu, Nak?"


"Pacar?"


Mama Lilian mengangguk pelan disertai kedipan sayu matanya. Namun Johanna malah menggeleng. "Hubungan kami belum begitu jelas, Ma," jawabnya lirih.


"Kenapa?" tanya kembali ibunya perlahan-lahan. "Tapi dia laki-laki yang baik, 'kan?"


Johanna mengangguk. Jawabnya, "Baik. Malah terlalu baik buat Hanna. Tapi …."


"Tapi apa?"


Pandangan Johanna beralih ke arah jendela. Seakan dia tidak ingin isi hatinya terbaca oleh sosok di samping tersebut. Sampai kemudian berucap pelan, "Dia bukan berasal dari golongan kita, Ma."


"Maksudmu … dia …."


"Dia bukan orang seperti kita."


"M-mama masih belom paham, Nak."


Tandas Johanna menjelaskan, "Dia bukan dari kalangan etnis minoritas seperti kita."


Mama Lilian menarik napas lega. "Terus, masalahnya apa? Kalo buat Mama pribadi, gak masalah siapa pun dia. Yang penting dia baik dan cocok buatmu, Nak. Satu lagi … seiman dengan kita. Itu aja sudah cukup."


Jleb!


Hati gadis itu tersentak. Kalimat terakhir ibunya barusan langsung mengentak seisi dada. Dia tidak menjawab. Terdiam sambil menatap suasana gelap di luar jendela kamarnya.


"Sudah seberapa lama kalian saling mengenal?" tanya Mama Lilian kembali begitu tidak mendapatkan respons apapun dari anaknya. "Dan sudah seberapa jauh kalian berhubungan selama ini, hhmm?"


Johanna sontak memutar kepala, menatap ibunya. "M-maksud Mama … kami …."


"Kamu gak lagi hamil 'kan, Han?"


Pertanyaan ibunya kali ini sungguh di luar dugaan. Walaupun merasa sangat terkejut, tapi Johanna berusaha untuk tetap tenang.

__ADS_1


...BERSAMBUNG...


__ADS_2