
...CINTA JOHANNA...
...Penulis : David Khanz...
...Bagian 60...
...—------- o0o —-------...
Berulangkali Johanna bergumam di dalam hati. Dia tidak habis pikir tentang apa yang dibicarakan oleh Ghea. Begitu blak-blakan dan tanpa ragu berbicara tentang retorika agama. Bahkan seolah-olah begitu bangga dengan kondisi keberagaman keluarganya.
Setahu Johanna, Ghea menganut agama Islam. Namun selama kenal, belum pernah sekalipun dia melihat temannya tersebut melakukan aktivitas keagamaannya. Bahkan nyaris tidak pernah tertampak sebagai pemeluk keyakinannya sendiri.
Sampai kemudian, Ghea menegaskan tanpa dipinta sedikitpun, "Secara administratif, gua ngikut agama yang dianut sama nyokap. KTP gua Islam. Sementara bokap gua nonis. Tapi di rumah gua gak ada simbol-simbol agama keduanya dan juga gak pernah ada praktek ibadah apapun, kecuali … hari raya keagamaan masing-masing. Toleransi tingkat tinggi, pokoknya. Hi-hi-hi. Hebat ya keluarga gua, Han?" tanyanya bangga. "Itulah makanya, gua mendingan gak milih ngikut siapa-siapa."
"Kenapa?" Balik bertanya Johanna karena penasaran.
"Yaaa … elu pikir aja," tandas Ghea kembali. "Kalo gua ikut agama bokap, gak enak sama nyokap. Sebaliknya, kalo milih jadi penganut agama nyokap, 'gimana sama perasaan bokap gua? Iya, 'kan? Ya, udah. Mendingan gua netral. Lagian gua pikir, bokap-nyokap gua itu … pada gak paham sama agama mereka sendiri. Hi-hi-hi."
'Astaghfirullahal'adziim!'
__ADS_1
"Bener 'kan, apa yang gua bilang tadi? Tanpa agama, hidup ini jadi leluasa. Gak terkekang sama aturan inilah … itulah. Sama kayak elu tadi, gak boleh makan inilah … itulah. Ah, ribet! Padahal Tuhan udah nyiptain semua, buat kita nikmatin. Sepuas-puasnya selagi hidup. Beres, 'kan? Toh, tanpa Tuhan juga, kita bisa jadi diri sendiri. Hidup enak, ekonomi terjamin, dan yang paling penting … gua gak kayak orang-orang sok religius, tapi hatinya busuk."
Johanna enggan menimpali. Bukan waktu yang tepat untuk berbicara dengan topik seberat itu. Apalagi pembahasannya cukup sensitif. Pikir gadis bermata sipit tersebut, mungkin Ghea belum dipertemukan dengan momen dimana dia sedang membutuhkan kehadiran Tuhan. Namun yang pasti, dari obrolan itu dia jadi teringat pada percakapannya dengan Reychan terdahulu.
"Untuk mendirikan sebuah bangunan, salah satu hal pertama dan yang terpenting itu adalah harus memiliki pondasi yang kuat," terang Reychan kala itu. "Sebab, begitu tatanan bangunan itu mulai didirikan, semakin lama pondasi itu akan memikul beban yang berat. Sedikit demi sedikit dan akan terus begitu sepanjang masa." Johanna mencerna semua yang diucapkan oleh kekasihnya tersebut. "Begitu pula dengan biduk rumah tangga. Cinta hanya pemanis, tapi landasan utama yang harus dipersiapkan adalah keimanan. Keyakinan diri bahwa jalinan hubungan pernikahan itu bukan untuk sehari-dua hari, sebulan, maupun tahun demi tahun. Tapi untuk hitungan seumur hidup. Di sanalah, modal dan bekal ilmu agama itu sangat diperlukan. Gunanya, adalah untuk menciptakan kestabilan ritme keluarga dan juga buat mempersiapkan generasi yang lebih terarah."
Masih menurut Reychan, "Memiliki pasangan seiman saja belum menjamin itu semua, tapi juga harus sama-sama saling memahami hak serta kewajiban masing-masing, sesuai dengan apa yang sudah dituliskan melalui firman-firman Tuhan, yaitu Allah Subhanahu Wata'ala. Baik yang tertulis langsung di dalam Al Qur'an maupun melalui penjelasan Al Hadits."
Imbuh laki-laki tersebut usai mereguk minuman air mineralnya, "Bayangkan, jika pedoman keagamaan masing-masing pasangan berbeda, mana mungkin mampu menyatukan dua perbedaan keyakinan di bawah satu atap bernama rumah tangga. Salah satu pihak, pasti bakal menginginkan anak keturunan mereka berpijak pada keyakinannya. Kalopun enggak, maka pihak generasi penerus tadi gak akan mendapat arahan serta bimbingan yang benar, karena pondasi awal mereka saja berbeda tatanan. Iya, 'kan?"
"Terus hubungannya dengan kita apa, Rey?" tanya Johanna. Sebenarnya dia sudah memahami ungkapan laki-laki tersebut, tapi ingin mendapat kejelasan yang lebih terarah dan jujur.
Reychan menatap mata Johanna diiringis senyum tipis menawan. Ujarnya lembut, "Allah gak melarang kita jatuh cinta, tapi Allah juga memberikan kita pilihan. Terserah mau ngambil yang mana, asalkan mampu mempertanggungjawabkan kelak di yaumil akhir atau hari dimana kita suatu saat nanti dibangkitkan kembali dari kematian."
"Aku bersyukur atas perbedaan kita ini, tapi untuk lebih dari itu, aku lebih mencintai Rabb-ku, Tuhanku, Han. Kamu paham, 'kan? Maaf ya, Han. Aku …."
Johanna tertunduk lesu. Dia sudah mengira, jawaban apa yang akan diucapkan oleh lelaki tersebut.
"Terus … kalo emang kamu gak berharap lebih, kenapa hubungan ini harus terjalin, Rey?" tanya gadis itu lirih. "Seenggaknya, kita gak harus pernah menaruh sesuatu yang kita yakini gak bakalan terjadi."
__ADS_1
Namun Johanna sendiri tidak bisa menyalahkan laki-laki tersebut, karena sejak awal dia memang tidak pernah memberi harapan pasti. Gadis itulah yang menaruh impian terlalu tinggi dengan embel-embel niat semula, yakni ingin mendekati Tuhan baru yang dia yakini melalui sosok Reychan.
Jadi benar adanya, pikir Johanna akhirnya, mungkin setiap ajaran agama tidak akan pernah memperbolehkan hamba-Nya menikah dengan umat Tuhan lain. Karena sosok di depannya saat itu, sudah memberikan bukti nyata bahwa ….
"Heh! Kok, malah ngelamun?" seru Ghea mengejutkan Johanna. "Elu gak dengerin apa yang gua omongin dari tadi?"
"Aku denger kok, Eya," sahut Johanna pelan. Namun arah matanya justru terpaku pada sosok-sosok berhijab di dekat mereka. Tentu saja Ghea pun spontan mengikuti kemana pandang temannya tertuju. Tanyanya kemudian, "Kenapa? Elu mau gabung sama ukhti-ukhti itu? Hi-hi-hi. Emang udah ngerasa cocok hanya dengan bermodalkan status elu yang mualaf itu?"
"Ih, ngomong apaan sih lu, Eya? Sembarangan!" sungut Johanna langsung cemberut. "Gua cuman mikir, bersyukur banget mereka terlahir sebagai seorang muslim, dari keluarga muslim, baik, berjilbab, dan sekarang … tinggal ngelanjutin apa yang mereka dapetin sebelumnya dari orangtua mereka."
"Belum tentu!" tangkis Ghea pesimis. "Pakean kayak mereka begitu, gak ngejamin kalo mereka jauh lebih baik dari kita. Banyak kok, yang berjilbab, tapi kelakuannya lebih dari seorang *****. Hi-hi-hi. Jangan-jangan mereka juga aslinya tukang mesum."
"Hus, gak boleh 'gitu, Non!" kritik Johanna sebal. "Walopun misal mereka kayak yang elu tuduhin barusan, tapi seenggaknya mereka udah selangkah lebih baik dari kita. Nutup aurat, karena sadar akan perintah Tuhan. Daripada kita?" Mendadak hatinya jadi sebal dengan sikap temannya yang satu itu.
Timbul seketika dalam benak Johanna, mungkinkah sebaiknya dia pun menutup aurat secara syar'i seperti mereka? Bagaimana nanti tanggapan teman-teman serta keluarganya sendiri? Terutama Tante Chika. Akan semakin bencikah wanita tua tersebut kelak? Namun bukankah menutup aurat itu wajib, apapun kondisi serta klasifikasi akhlak seseorang?
'Subhanallah ….' desah Johanna. 'Aku harus mengubah segalanya agar lebih baik. Cepat atau lambat, aku kini telah menjadi seorang muslimah. Kewajiban demi kewajiban itu mulai mengikatku, semenjak diri ini berikrar melalui dua kalimat syahadat; Ashhaduallaa ilaaha illallah, wa ashhaduanna muhammadarrasuulullah. Jika memang lingkungan yang membuatku bertahan dalam kejahiliahan, maka sudah sepatutnya kutinggalkan semua demi menggapai ridho Allah.'
Termasuk memutuskan pertemanan dengan Ghea? Ah, mengapa pula harus meninggalkannya? Pikir Johanna. Bukankah seharus dia merangkul sosok itu untuk berubah menjadi lebih baik? Islam tidak melarang umatnya untuk bersosialisasi, karena agama ini adalah rahmatan lil'aalamiin, yakni yang kehadirannya di tengah kehidupan masyarakat mampu mewujudkan kedamaian dan kasih sayang bagi manusia maupun alam semesta. Sebagaimana yang termaktub dalam firman Allah, Surat Al- Anbiya’ ayat 107; “Dan tiadalah kami mengutus kamu (Muhammad), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam”.
__ADS_1
Sangat jelas di dalam ayat tersebut ditegaskan bahwa ajaran Islam yang dipahami secara benar akan mendatangkan rahmat untuk semua orang, baik Islam maupun non muslim, bahkan untuk seluruh alam. Islam tidak membenarkan ada diskriminasi karena perbedaan agama, suku, ras, dan bangsa. Maka untuk itu tidak boleh dijadikan alasan untuk saling berpecah belah.
...BERSAMBUNG...