
...CINTA JOHANNA...
...Penulis : David Khanz...
...Bagian 30...
...—------- o0o —-------...
"Iya, aku tahu. Khawatirnya yang laen gak kayak kamu, Han," ujar Reychan merasa miris. "Ada banyak umat lain yang menilai agama Islam dari penganutnya. Salah satu contoh saja, banyak tuh statemen-statemen miring yang berasal dari orang-orang Islam itu sendiri yang bilang ; 'Jangan bawa-bawa agama dalam masalah ini!' Lah, 'gimana bisa? Bagi kami, Islam itu udah mengatur semua aspek kehidupan. Mulai dari bangun tidur sampe mau tidur lagi. Semua ada aturan-aturannya. Bahkan ketika tidur sekalipun. Dianjurin begilah-begitulah dan lain sebagainya."
Johanna menatap mata lelaki itu dengan seksama. Dia mencerna semua yang dituturkan oleh Reychan. Termasuk menggarisbawahi perihal ; 'Jangan menilai buruk sebuah agama menurut perilaku negatif penganutnya.' Sebuah kalimat yang terdengar sederhana, tapi mengandung multi makna serta penafsiran. Hal itu pula yang menyebabkan dia ingin jauh lebih dekat dengannya. Bukan tanpa alasan, karena Johanna memiliki segudang pertanyaan tertentu yang belum banyak terjawab hingga saat itu. Apalagi bibit-bibit ketertarikan gadis tersebut pada dunia keislaman. Tidak terkecuali dan bukan tanpa dasar. Itu disebabkan karena ….
"Kita pergi sekarang yuk, Mbak."
Bayangan akan masa lalu Johanna spontan terputus. Tanya gadis itu seketika sambil menatap kemunculan Ravi yang secara tiba-tiba, "Berangkat ke mana, Pak?"
Lelaki itu tersenyum. Ujarnya kemudian, "Kita cari tempat sementara."
"Tempat? Tempat apa?" Hanna bingung.
"Nanti saja saya jelasin sambil jalan," jawab Ravi menimbulkan bibit pertanyaan baru bagi Hanna. "Yuk, berangkat sekarang."
Entahlah, Johanna pun hanya bisa menurut. Mengikuti langkah kaki Ravi yang terlihat mantap, tapi tidak tahu apa yang akan dia lakukan kelak.
Usai bersantap sarapan pagi dan menyelesaikan biaya perawatan Hanna di klinik semalam, Ravi memutari beberapa daerah setempat hingga masuk ke pelosok pinggiran. Agak jauh dari hiruk-pikuk suasana perkotaan. Berbekal informasi yang dia dapat dari salah seorang temannya melalui percakapan ponsel, lelaki itu membawa Johanna ke sebuah rumah kontrakan.
"Buat sementara, Mbak mau 'kan tinggal di sini?" tanyanya begitu tiba di tempat tujuan. "Seenggaknya buat ngehindari Mbak dari papanya Mbak itu."
__ADS_1
"Apa ini gak terlalu berlebihan, Pak?" Hanna masih belum mempercayai apa yang dilakukan oleh lelaki yang baru dia kenal tersebut. "S-saya … gak bis—"
"Ayolah, Mbak. Hanya ini yang bisa saya lakuin buat ngebantu Mbak."
"T-tapi … apa gak ngerepotin Bapak?"
"Insyaa Allah enggak, Mbak. Lillahi ta'ala."
Mereka berdua turun dari dalam kendaraan. Melihat-lihat kondisi dan situasi rumah kontrakan tadi sejenak. Sampai kemudian, seseorang datang menghampiri. "Selamat pagi, Bapak-Ibu," sapanya ramah. Seorang lelaki tua mengenakan peci hitam berwarna kusam.
"Selamat pagi, Pak," balas Ravi seraya menjabat tangan sosok tadi. "Saya Ravi yang tadi ngehubungin Bapak."
"O, iya … he-he … saya baru inget," ujar lelaki tua tersebut. "Mau langsung lihat-lihat kamarnya, Pak?"
"Boleh."
Ravi dan Hanna mengikuti langkah lelaki tua itu. Langsung memeriksa kondisi kamar yang ditunjuk. Hanya sebuah ruangan berukuran 4X4 yang terbagi dua dengan tempat kecil, terpisah dengan sekat pendek berbahan kayu triplek.
"Buat kamar mandi dan lain-lain, ada di pojok ujung sana. Lumayanlah, walopun harus berbagi sama penghuni kontrakan lainnya," tunjuk lelaki tua itu kembali seraya memberitahu hal-hal yang berkenaan dengan fasilitas di tempat tersebut. "Harga sewanya pun gak mahal kok, Pak-Bu. Cuman—"
"Iya, saya tahu. Tadi kita udah bicara banyak tentang itu 'kan, Pak?" Ravi memberi isyarat pada lelaki tua tersebut, melalui gerakan mata. Maksudnya agar dia tidak melanjutkan omongan perihal tadi di depan Johanna. Lantas buru-buru bertanya pada sosok gadis yang berdiri di belakangnya. "Mbak, 'gimana? Buat sementara, Mbak mau 'kan tinggal di sini?"
Johanna tidak langsung menjawab. Tampak keraguan menyelimuti hatinya. Maka tanpa dipinta, sosok lelaki tua tadi pamit keluar untuk memberikan kesempatan buat kedua tamunya.
"S-saya bingung, Pak," jawab Hanna kemudian.
"Loh, bingung kenapa?"
__ADS_1
Johanna mendengkus perlahan. Lantas lanjut menjawab, "Apa ini gak jadi ngerepotin Bapak? S-saya … s-saya …."
"Gak usah dipikirin, Mbak," tukas Ravi. "Saya hanya berniat ngebantu, Mbak. Soal-soal lain, biar saya tanganin sendiri. Pokoknya saya harap, Mbak bisa tenang di sini. Insyaa Allah, semoga Papa Mbak itu gak sampe tahu keberadaan Mbak. Oke?"
"Bukan masalah itu, Pak. T-tapi …."
"Ya, saya tahu. Saya gak bisa maksa Mbak buat tinggal di sini," imbuh Ravi kembali. "Semua terserah Mbak juga. Saya hanya sekedar ingin ngebantu. Lainnya enggak."
Semula Johanna berpikir, tidak mungkin laki-laki itu berkenan begitu saja turun tangan membantu. Pasti ada sesuatu di balik semua kebaikannya. Bukankah ada pepatah yang berbunyi; 'Tidak ada makan siang yang gratis.' Jika tidak begitu, ada harapan tersendiri bagi Ravi kelak. Hal apalagi kalau bukan embel-embel balas budi. Mungkin seperti ….
'Laki-laki Islam itu, isi kepalanya gak pernah jauh dari seputar nafsu birahi, Hanna! Jangan terkecoh dengan penampilan alim maupun kata-kata manis mereka yang suka menjual ayat-ayat agama. Mereka hanya ingin mengambil keuntungan sepihak dengan dalih aturan dari Tuhan. Kamu perhatikan aja sendiri, tokoh-tokoh penting agama mereka hobinya kawin dan kawin. Alasan poligami-lah segala. Jangan-jangan ibadah mereka isinya cuman mesum!'
Kata-kata Tante Chika beberapa waktu lalu masih membekas. Walaupun Hanna tidak mengiakan, tapi sedikit berpengaruh terhadap penilaian gadis tersebut pada Ravi kali ini, khususnya.
'Gak usah disangkal lagi deh, Hanna,' imbuh Tante Chika memanas-manasi. 'Buktinya, orang yang mereka anggap ulama sekalipun, pernah ketahuan ngelakuin chat mesum dengan perempuan lain. Apa itu gak memberi arti, kalo orang-orang Islam itu emang otaknya gak beres? Ha-ha.'
Apakah itu betul? Pikir Hanna kemudian. Bagaimana dengan sosok Ravi sendiri. Dia bukan siapa-siapa. Kenal pun secara kebetulan. Tiba-tiba saja dia sudi membantunya tanpa pamrih. Lantas contoh lain tentang Reychan. Laki-laki agamis yang ternyata bermulut penuh dusta. Dia meninggalkan Hanna begitu saja, setelah gadis tersebut berikrar mengucapkan dua kalimat syahadat.
"Bapak sendiri gak kerja?" tanya Johanna usai menyetujui usulan Ravi untuk tinggal di rumah kontrakan.
Jawab lelaki itu lirih, "Hari ini saya ngajuin izin gak masuk kerja, Mbak. Ada urusan keluarga yang harus saya selesaikan."
"Keluarga? Maksudnya—"
"Istri saya."
Hanna tersentak. Dia sudah menduga sebelumnya kalau Ravi memang sudah menikah. Lantas bayang-bayang akan ucapan Tante Hanna tempo hari kian mendekati kenyataannya. Apakah itu berarti praktek poligami itu akan lakukan pada Hanna sebagai balas budi nanti?
__ADS_1
...BERSAMBUNG...