
...CINTA JOHANNA...
...Penulis : David Khanz...
...Bagian 24...
...------- o0o -------...
"Kondisi pasien, sekarang sudah kembali sadar," tutur petugas klinik menjelaskan. "Tapi tampaknya, yang bersangkutan masih sedikit bingung dan masih sulit diajak komunikasi. Kami harap, mungkin dengan kehadiran Bapak sendiri, pasien bisa kembali berinteraksi."
Ravi juga mendadak bingung. Hatinya yang semula sudah tenang, kini kembali dilanda gemuruh tidak bertuan. "Harus ya, Pak?" tanyanya berusaha tetap fokus diri.
"Ya karena Bapak yang membawa pasien ke sini."
"Maksudnya … saya harus nemuin dia? Apa gak langsung saja ke urusan administrasi, misalnya?"
"Nanti sekalian Bapak bicara dengan dokter yang meriksa pasiennya, Pak. Ada beberapa hal yang perlu disampaikan."
"Sekarang?"
"Iya, tentu saja."
"Ooohhh." Ravi mengangguk pelan. Tengkuknya mulai dirasa dingin.
"Serius, sekarang?"
"Iya, Pak. Kalau bukan sekarang, kapan lagi. Kalau bukan kita, siapa lagi," ujar petugas klinik tersebut, mirip menirukan jargon kampanye sebuah partai lima tahun yang lalu. "Mari saya antar ke dalam."
"I-iya, Pak. Mari saya ikuti. Eh?" Lekas Ravi membekap mulutnya sendiri sebelum lepas kontrol. "Jangan kecepetan jalannya, Pak. Kaki saya susah gerak."
"Bapak sakit?" tanya petugas klinik seraya membantu memegangi kedua lengan Ravi.
"Enggak. Saya cuman ngerasa nervous."
"Oohhh."
"Kenapa?"
"Gak kenapa-kenapa, Pak. Saya cuman nanggepin Bapak."
"Ooohhh. Eh?"
Di atas sebuah ranjang, tampak Hanna terduduk lemas dengan pandangan hampa. Dia menoleh begitu Ravi yang diantar oleh seorang petugas medis tadi, mendekat. "Silakan, Pak. Saya permisi kembali kerja, ya."
"Oh, i-iya. S-silakan," balas Ravi semakin gugup begitu dekat di pinggir Hanna. "S-selamat malam … Kakak atau Embak. Eh?" sapanya dengan suara kian terpatah-patah. Dia menunduk, berdiri menyamping. Tidak berani balas menatap sosok gadis tersebut.
"Selamat malam …." balas Johanna pelan. "Maaf, Bapak ini … siapa, ya?"
Ravi pura-pura memutari pandangan ke empat penjuru ruangan. Jantungnya kian berdetak kencang. "Maaf, s-saya yang bawa Kakak atau Embak ini ke sini," jawab lelaki itu masih terlihat gugup.
"Oohhh, saya tahu," balas Hanna seraya mengangguk.
'Kalo udah tahu, ngapain nanya, Non?" tanya Ravi di dalam hati. "Oohhh, syukurlah kalo Kakak atau Embak ini udah tahu. Jadi saya gak perlu ngasih tahu, kayaknya."
__ADS_1
"Terima kasih ya, Pak."
"Sama-sama, Kak atau Mbak."
Walaupun masih merasa lemas, tapi gelitik tawanya serasa mengentak-entak memerhatikan sosok yang baru dilihatnya tersebut. Apalagi sejak masuk tadi, tidak sekalipun dia mau menoleh.
"Panggil saja saya Hanna."
"Baik, Kak … eh, Mbak."
"Hanna."
"Ya, maksud saya barusan … Mbak Hanna."
"Hanna saja. Gak usah pake panggilan lain, Pak."
"Iya, baik."
"Apa?"
"Apanya?" Balik bertanya Ravi seraya memasang telinga baik-baik.
"Nama saya."
"I-iya, Kak Hanna."
"Hanna saja, Pak," tandas Johanna kembali. Bibirnya sampai bergerak-gerak menahan rasa ingin tertawa. Padahal kondisi badan masih lemah tidak berdaya.
"I-iya."
"I-iya. I-itu saya," balas Ravi pelan.
"Saya tahu," timpal kembali Hanna. "Makanya begitu ngelihat Bapak ini masuk, saya pikir … mungkin orang yang dimaksud perawat itu … Bapak."
"I-iya. I-itu memang saya."
"Saya tahu."
"I-iya, saya juga. Eh?"
Gelitik syaraf tawa Hanna lagi-lagi mengentak. Dia merasa, percakapan mereka berdua ini berputar dan berulang-ulang terus. Entah mengapa memerhatikan sosok lelaki tersebut, seperti tengah menyaksikan pertunjukkan badut lawak.
Suasana pun mendadak hening. Keduanya terdiam seperti kehabisan bahan untuk diperbincangkan. Terlebih bagi Ravi sendiri. Jika tidak ditanya terlebih dahulu, tidak pula kunjung menampakkan tanda-tanda bahwa laki-laki tersebut akan berbicara. Dia tetap berdiri menyamping, tertunduk, dan terkadang mau menoleh. Itu pun ke arah berlawanan.
"Maaf, Pak …." ujar Hanna memecah kebuntuan. Dijawab spontan Ravi sambil memainkan ponsel di tangan, "I-iya, Mbak? Ada yang bisa saya bantu?"
"Bapak ngelihat bungkusan kecil punya saya?" Hanna melihat-lihat ke sisi ranjang. Namun yang dicari memang tidak ada di sana.
"B-bungkusan kecil?" Ravi mencoba mengingat-ingat. "Bungkusan apa, ya?"
"Itu … bungkusan plastik. Gak terlalu besar."
"Enggak, Mbak."
__ADS_1
"Ya, Allah …." desah Hanna risau.
Seketika Ravi terkesiap. Dia mendengar gadis yang baru dikenalnya itu menyebutkan sebuah nama. Allah.
"Isinya apa, Mbak?" tanya laki-laki itu mencoba mencari tahu. Jawab Hanna, "Ada sedikit pakaian dan mukena."
"Mukena?"
"Iya. Mukena buat sholat."
"Iya, saya tahu kalo mukena itu buat sholat. Maksudnya …."
"Kenapa? Bapak menyimpannya?"
"Bukan begitu maksud saya, tapi …."
"Apa?" tanya Johanna heran. "Bapak ngumpetin sesuatu dari saya?"
"Eehhh … bukan itu juga maksud saya, Mbak."
"Terus?" Tiba-tiba Hanna menaruh rasa curiga. Apa mungkin sosok laki-laki itu memang tengah menyembunyikan sesuatu darinya? Bisa iya, bisa pula tidak. "Dari tadi saya perhatiin, Bapak gak mau melihat ke arah saya? Kenapa, Pak?"
Ravi menggeleng. "M-maaf … saya emang begini orangnya, Mbak."
"Maksud Bapak?" Kening gadis itu sampai berlipat-lipat berpikir. Menaruh berbagai prasangka terhadap sosok yang satu itu. Benar-benar aneh, pikirnya.
Ravi mencoba melirik sedikit. Melihat wajah Hanna dengan sudut matanya. Tidak begitu jelas, pikir laki-laki tersebut, terkecuali mengetahui kalau sosok perempuan yang telah ditolongnya itu berkulit putih.
Ungkap Ravi akhirnya, "Maaf … saya orangnya gampang gugup kalo dekat-deket sama … perempuan yang … baru saya kenal, Mbak."
"Hhmmm?'" deham Hanna. Entah kaget atau merasa aneh. Namun sejujurnya, seumur-umur baru bertemu dengan laki-laki berkarakter unik seperti itu. "O, iya … saya belum tahu nama Bapak."
"Saya Ravi," jawab lelaki itu pendek.
"Oohhh."
"Kenapa, Mbak?"
"Enggak."
"Oohhh." Malah giliran Hanna yang membulatkan bibir.
"He'eh."
Kemudian suasana pun kembali sunyi. Baik Ravi maupun Hanna tidak lagi berbicara satu sama lain. Benar-benar kaku layaknya sepasang pengantin yang baru dinikahkan atas dasar perjodohan. Walaupun hati laki-laki itu sudah mulai tenang kembali, tapi dia bingung hendak mulai dari kata apa untuk mengawali kembali perbincangan. Sesekali dia memberanikan diri melirik, mencuri-curi pandang, ke arah Johanna.
"Ehem!" deham gadis tersebut memergoki ulah Ravi.
"Eh, maaf."
Hanna tersenyum geli. Berangsur-angsur dia merasa tubuhnya mulai pulih kembali. "Bapak pulang kerja, ya?" tanya gadis itu sekadar menghilangkan kekakuan. Diangguki Ravi pelan. "Apa gak ditungguin keluarga, Pak?" Lanjutnya bertanya.
Kali ini Ravi tidak menjawab. Hanya terdengar dengkusnya sekali seraya menunduk dalam-dalam.
__ADS_1
"Saya gak ingin berlama-lama di sini, Pak," imbuh kembali Hanna begitu pertanyaannya tadi tidak diacuhkan. "Lagian, saya sendiri bingung … saya gak punya apa-apa. 'Gimana harus saya bayar biaya pengobatan ini."
...BERSAMBUNG...