Cinta Johanna

Cinta Johanna
Bagian 29


__ADS_3

...CINTA JOHANNA...


...Oleh : David Khanz...


...Bagian 29...


...—------- o0o —-------...


"Itulah … kenapa saya memilih pergi dari rumah, Pak," pungkas Johanna mengakhiri cerita pada Ravi. Dia mengambil selembar tisu yang tersedia di atas meja makan, untuk menyeka lelehan air mata. "Saya sama sekali gak dikasih kesempatan buat ngejelasin semua sama Papa. Saya bener-bener bingung … kacau … gak tahu mesti 'gimana lagi."


Lelaki itu menyodorkan segelas minuman ke dekat Hanna. "Minumlah dulu, Mbak," ujarnya seraya menarik napas panjang. Setelah menunggu hingga gadis tersebut menyeruput minumannya, lanjut bertanya. "Jadi karena masalah itu pula, Mbak berencana buat … maaf, bunuh diri kemaren itu?"


Hanna menunduk lesu. Kesedihan tampak sekali mewarnai raut mukanya yang kini terlihat lebih segar, sejak bertemu dengan Ravi sebelumnya.


"Gak tahu, Pak," jawab Hanna kemudian disertai gelengan kepala. "Saya hanya … bingung saja. Sama sekali gak kepikiran buat apa-apa, terkecuali … menginginkan Tuhan segera mencabut nyawa saya."


"Astaghfirullahal'adziim," desah Ravi pelan. "Tapi maafin saya ya, Mbak, kalo sampe saat ini … saya terkesan mencampuri urusan hidup, Mbak. Saya hanya—"


"Gak apa-apa, Pak," tukas Hanna. "Justru saya yang ngerasa telah banyak ngerepotin Bapak."


"Ah, enggak juga," balas Ravi beberapa saat. "Gak tahu kenapa, saya sendiri sempet bingung kemaren-kemaren … kok, gak biasanya saya ngelewatin jalan di jembatan itu. Padahal sebelumnya enggak. Eeuummm, maksud saya … jarang banget, 'gitu. Tapi … yaaa … begitulah, sampe akhirnya saya justru ngelihat Mbak berdiri di atas pembatas jembatan. Saya pikir … Mbak ini … maaf, mau ngelakuin … ya, seperti yang maksud tadi."


"Maafin saya, Pak," ujar Hanna diiringi tangisannya


"Makanya saya berhenti ngedadak buat mastiin dan gak tahunya … Mbak ini malah jatuh pingsan."


"Saya gak ingat, Pak."


"Ya, tentu saja. Mbak 'kan pingsan."


Sambil kembali menyeka air mata, Hanna menimpali, "Kalo gak ada Bapak, saya gak tahu, nasib saya bakal kayak 'gimana."


Buru-buru lelaki itu menyangkal. Ucapnya, "B-bukan … bukan karena itu. Saya hanya ngejalanin apa yang saya pikir kemaren itu, Mbak, dan yakin sekali … ini semua bukan karena faktor kebetulan. Allah yang telah mengatur semua ini. Iya, 'kan?"

__ADS_1


"Terima kasih atas pertolongan Bapak, ya."


"Sama-sama, Mbak," balas Ravi disertai seulas senyum. "Ngomong-ngomong, habis ini … rencana Mbak mau ke mana? Eh, maksud saya … apa yang mau Mbak lakuin?"


Johanna menggeleng.


"Saya hanya pengen menjauh dari Papa saya, Pak," jawabnya bimbang. "S-saya bener-bener takut."


Hati Ravi semakin terenyuh. Dia berpikir-pikir untuk beberapa waktu. Benaknya seketika bercabang, antara pekerjaan, masalah rumah tangga, juga perihal gadis yang baru dia kenal tersebut.


"Sebentar ya, saya mau ke toilet dulu," ucap Ravi kemudian. Diangguki Hanna dengan pandangan kosong dan masih dalam posisi menunduk lesu. Sesaat dia melirik sosok lelaki itu, tampak masih muda dan tidak begitu jauh usianya, pikir Johanna, mengingatkan akan sosok Reychan dulu.


Sejak awal pertemuan mereka dulu di depan toko, terus terang saja, Hanna sudah menaruh hati pada lelaki tersebut. Dia tampak agamis dan memiliki aura positif baginya, terutama seusai keluar dari Mesjid, menunaikan ibadah salat Jumat.


Hati perempuan itu tambah berbunga-bunga saat Reychan mengajaknya makan siang di sana. Berbicara banyak layaknya seorang kawan yang sudah lama saling mengenal. Tidak dipungkiri juga, sesekali Hanna bertanya-tanya perihal agama pada sosok satu tersebut.


"Kenapa, Han?" tanya Reychan kala itu. "Kamu mau belajar tentang Islam? He-he."


Reychan terkekeh-kekeh.


"Enggak juga, ah," timpal lelaki itu santai. "Biasa aja kayak orang-orang kebanyakan."


"Tapi beneran, loh. Aku baru nemuin cowok muslim dan muda kayak kamu, masih mau ngejalanin ibadah."


"Ah, masa? Kamunya aja 'ngkali yang kurang banyak tahu, Han. Banyak juga kok, orang-orang muda lainnya yang taat. Aku sendiri cuman ngejalanin kewajibanku sama Tuhan. Ya, kalo enggak, makin nambah dosa aku. Ha-ha."


Imbuh kembali Hanna dengan nada santai, "Ya, mungkin juga 'ngkali, ya. Tapi selama yang aku tahu, sejak SMA dulu, ada banyak temen yang beragama Islam, tapi mereka jarang aku lihat ngejalanin kewajibannya. Ya solat, ya puasa. Gak tahu, deh. Kayaknya agama cuman stempel doangan."


"Justru karena itulah, aku juga sering ngerasa miris. Buat pergaulan di kota-kota besar kayak 'gini, pendidikan agama bagi anak-anak muda, kok … kayak kurang 'gitulah. Bahkan ada banyak temenku juga yang udah gede kayak 'gini, tapi masih belom lancar ngaji."


"Ngaji?"


"Maksudnya … baca Al Quran."

__ADS_1


"Ooohhh, 'gitu?"


"Kalo ngaji aja belom lancar, 'gimana dengan dasar-dasar ilmu keagamaan mereka? Iya, 'kan?"


"Berarti ilmu agama kamu udah banyak dong, Rey?" tanya Hanna mencoba menyelidik. Jawab pemuda itu, "Ya, enggak juga, sih. Tapi seenggaknya kalo cuman buat bekel hidup diri sendiri, cukuplah. Paling enggak, paham nentuin mana yang boleh dan mana yang gak boleh menurut aturan agamaku."


"Oohh!" Johanna manggut-manggut, tapi dengan raut tampak sedikit mengganjal.


"Kenapa? Kamu kayak ada sesuatu yang pengen diomongin, Han?"


"Enggak, sih," jawab gadis tersebut pendek. "Cuman … aku kadang sering mikir … tapi maaf nih, ya."


"Omongin aja. Bebas aku, sih."


Usai berpikir sejenak, Johanna melanjutkan ucapan. "Apa semua orang-orang Islam itu begitu, ya? Maksudku … secara kuantitas mereka banyak, tapi … kalo secara kualitas … kok, kayak gak acuh 'gitu, Rey. Bahkan kayak … maaf, nih … kayak orang gak beragama."


Kali ini raut wajah Reychan sedikit berubah. Muram tidak seperti biasanya.


"Nah, itu dia yang aku bilang miris tadi, Han," ujar Reychan kembali. "Jadi … aku pikir … seolah-olah mereka itu kayak lagi mempermaluin agamanya sendiri. Ngerendahin agama sendiri. Sampe-sampe … ya, kayak yang kamu bilang barusan, terbukti 'kan, jadi timbul stigma negatif."


"Aku gak bermaksud begitu loh, Rey."


"Aku paham," tukas Reychan. "Pastinya kamu gak subyektif, 'kan?"


"Ya, enggaklah. Jangankan di kamu, orang di kalangan aku aja banyak, kok."


"Iya, maka dari itu … yang aku khawatirin, akan ada orang yang menilai suatu agama dari perilaku umatnya sendiri. Itu jelas salah."


"Aku enggak," elak Johanna menegaskan. "Aku berusaha obyektif, kok."


"Iya, aku tahu. Khawatirnya yang laen gak kayak kamu, Han," ujar Reychan merasa miris. "Ada banyak umat lain yang menilai agama Islam dari penganutnya. Salah satu contoh saja, banyak tuh statemen-statemen miring yang berasal dari orang-orang Islam itu sendiri yang bilang ; 'Jangan bawa-bawa agama dalam masalah ini!' Lah, 'gimana bisa? Bagi kami, Islam itu udah mengatur semua aspek kehidupan. Mulai dari bangun tidur sampe mau tidur lagi. Semua ada aturan-aturannya. Bahkan ketika tidur sekalipun. Dianjurin begilah-begitulah dan lain sebagainya."


...BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2