
...CINTA JOHANNA...
...Oleh : David Khanz...
...Bagian 43...
...—------- o0o —-------...
Sepeninggal Tante Chika dan Andrew, Johanna membantu ibunya –Mama Lilian– merangsek ke atas kasur untuk beristirahat. Gadis itu menyelimuti tubuh wanita tua tersebut penuh kasih sayang.
"Mama tidur dulu aja, ya? Jangan terlalu banyak pikiran," ucap Hanna seraya mengecup kening sosok yang paling dia sayang itu. Mama Lilian mengangguk pelan. Namun spontan dia menahan gerak tubuh anaknya begitu hendak berlalu dari sana seraya berkata, "Han, kalo kamu laper, kamu beli aja makanan di luar, ya?" Lantas segera merogoh saku dan memberikan selembar uang.
"Gak usah, Ma," tolak Johanna halus. "Hanna masih punya sedikit persediaan uang, kok."
Mama Lilian mengernyit heran, lalu bertanya, "Dari mana kamu punya uang, Nak?"
Gadis itu tersenyum.
"Ada-lah," jawab Johanna pelan. "Hanna juga punya kerjaan sampingan selama ini, Ma," imbuhnya sambil mengingat-ingat pekerjaan yang kerap dia lakukan selama ini, yakni menjadi buruh cuci di sekitar kompleks kontrakan tempatnya menetap.
"Kerjaan?" Kulit kening Mama Lilian kian mengerut hebat. "Kerja apa kamu selama ini, Han? Kamu gak berbuat macem-macem 'kan, selama gak tinggal di sini?"
"Insyaa Allah … halal, Ma," jawab Johanna kembali menegaskan. "Mama gak usah khawatir. Hanna bisa jaga diri, kok. Hanna bakal tetep menjadi anak yang Mama kenal selama ini."
"Syukurlah," desah Mama Lilian merasa lega. "Mama percaya sama kamu, Nak."
"Terima kasih, Ma."
Namun sekian detik kemudian, wanita tua itu bertanya kembali, "Tapi … mengenai laki-laki yang—"
"Mas Ravi?"
"Ya, dia. Mama sampe lupa namanya," ucap Mama Lilian tampak getir. "Kamu dan Ravi itu …."
Sengaja ibunya tersebut tidak melanjutkan kalimat tadi. Dari raut mukanya seperti tengah memendam sebuah pertanyaan besar. Mungkin karena khawatir Johanna akan tersinggung.
Jawab anak gadis Lilian tersebut, "Kami hanya berteman kok, Ma. Gak lebih dari itu." Tatapannya naik ke atas langit-langit. Seperti sedang mengenang sebuah bayangan yang tersimpan di benak. "Disamping Mama sendiri, Mas Ravi juga ikut membantu Hanna selama ini. Termasuk nyediain tempat tinggal atau kontrakan. Alhamdulillah, Hanna bisa bertahan hidup, karena atas uluran tangan dia."
Sorot mata Mama Lilian menajam. Kelopak mata sipitnya kian menipis dan nyaris hanya memperlihatkan segaris lurus. "Yakin kalian hanya bertemen?" tanyanya lebih lanjut.
"Maksud Mama?" Hanna balik menatap ibunya. Agak terkejut gadis tersebut mendapat pertanyaan semacam itu.
Sebelum membalas, Mama Lilian menarik napas panjang. "Mama ini sudah tua, Han," ucapnya perlahan, "seenggaknya, Mama juga sudah banyak pengalaman mengenai sifat-sifat lelaki, termasuk almarhum Papamu sendiri." Dia menggenggam jemari tangan anaknya. "Sebagai perempuan dewasa, pastinya kamu juga punya pemikiran sendiri, 'kan?"
Johanna menunduk sesaat, lantas membalas ucapan ibunya barusan. "Hanna paham apa yang Mama maksud itu dan Hanna juga mengerti kok, posisi Hanna sendiri," katanya penuh kehati-hatian. "Mas Ravi itu sudah berkeluarga, punya istri, dan Hanna juga sadar … 'gimana Hanna mesti nempatin diri."
"Nah, itu yang Mama maksud, Han," ujar Mama Lilian. "Apalagi dia sudah punya istri, seperti yang kamu omongin barusan."
"Iya, Hanna paham."
Lanjut wanita tua itu berkata, "Semakin banyak kamu merasa berhutang budi pada seseorang, semakin besar kemungkinan kamu mengingkari diri untuk tidak membalasnya dengan yang lebih tinggi pada orang itu. Seperti kata Mama tadi, apalagi dia itu … laki-laki, Nak."
Johanna mengangguk. Dia sendiri malah bingung kini. Kedekatannya dengan Ravi selama ini, sulit sekali baginya untuk tidak menilai jujur bahwa bibit-bibit rasa kenyamanan itu telah lama bersemi. Benar apa yang dikatakan ibunya, tidak memungkiri jika hal tersebut –lama kelamaan– akan berubah menjadi ….
Tok! Tok! Tok!
__ADS_1
Tante Chika tiba-tiba muncul di ambang pintu kamar.
"Kak Lili mau makan dulu?" tanya adik kandung almarhum Jonathan tersebut. "Aku udah nyiapin tuh, di meja."
Mama Lilian menoleh. "Gak dulu deh, Dek," jawabnya lesu. "Aku lagi gak nafsu makan. Aku cuman pengen istirahat. Tidur."
"Ya, udah. Entar, aku siapin lagi deh, kalo Kakak mau makan. Kalo perlu dianter ke kamar, ya?" kata Tante Chika kembali.
"Iya. Makasih, Dek," balas Mama Lilian lesu.
"Kamu Hanna … makan, yuk," ajak Tante Chika beralih pada keponakannya, Johanna. "Bareng sama Tante dan Andrew."
Sejenak Hanna tampak ragu. Di saat itulah, uang yang masih tergenggam di tangan ibunya tadi, kembali disodorkan. "Ambillah, Nak," bisik Mama Lilian, berusaha menyembunyikan aksinya tersebut dari pandangan Tante Chika.
Sesaat gadis itu malah kebingungan sendiri, sampai akhirnya dia melihat isyarat dari Mama Lilian, berupa gerak kedipan tertentu.
Hanna mengangguk paham.
"Han, ayo makan," ucap Tante Chika kembali. "Kamu denger 'kan, suara Tante?"
Johanna menoleh, lantas berucap, "Makasih, Tante. Hanna pengen nemenin Mama dulu sampe Mama tidur."
"Tapi kamu mau makan, 'kan?"
"Insyaa Allah, Tante," jawab Johanna dan langsung disambut reaksi tidak senang dari raut wajah Tante Chika. "Tante duluan aja sama Andrew, ya?"
Ekspresi adik kandung ayahnya itu masih tetap sama begitu bergegas meninggalkan mereka berdua di kamar.
Ucap Mama Lilian setelah sosok Tante Chika tidak lagi berada di sana, "Kalo kamu lapar, beli makanan di luar aja ya, Nak."
"Mama …."
"Masalah bukan begitu, Ma. Tapi …."
Mama Lilian menggenggam jemeri anaknya.
"Entar … Mama siapin sendiri dapur sama peralatannya yang baru. Khusus buat kamu, Han," ucap wanita tua tersebut lemah lembut. "Atau … Mama gak usah lagi masak makanan yang gak boleh kamu makan?"
"Gak usah, Ma. Hanna bisa ngurus sendiri, kok."
"Dengerin Mama, Han, sedikit banyaknya … Mama tahu kok, hal-hal yang berkaitan sama aturan agamamu sekarang," kata Mama Lilian meyakinkan. "Mama hanya kepengen … kamu kembali tinggal sama Mama di rumah ini. Mama pengen kita semua berkumpul lagi kayak sebelumnya. Gak usah tinggal terpisah kayak 'gini, ya?"
"Maa …." Johanna tidak kuasa menahan linangan air mata.
Imbuh kembali ibunya lirih, "Sekarang Mama hanya punya kamu dan Andrew. Itu yang bikin Mama selama ini kuat ngadepin sikap almarhum Papa kalian. Mama sayang kalian."
"Mama."
Kali ini Johanna langsung memeluk ibunya. Tersedu sedan di dalam dekapan hangat disertai derai air mata yang tidak mampu lagi dibendung.
"Kamu mau 'kan, kembali tinggal sama Mama, Nak?" tanya Mama Lilian lirih.
Sesaat gadis tersebut merasa ragu dan berpikir. Namun demi menyenangkan hati ibunya, dia menjawab, "Insyaa Allah, Ma. Insyaa Allah."
Beberapa waktu kemudian, Mama Lilian pun tertidur. Masih dalam posisi berdekapan dengan anaknya. Lalu secara perlahan-lahan, Johanna melepaskan diri, beranjak menuruni tempat tidur.
__ADS_1
"Makan dulu, Han," seru Tante Chika begitu gadis tersebut keluar dari kamar. "Tante udah siapin buat kamu di meja, tuh."
Johanna bingung harus menjawab bagaimana. Dia ingin menolak, tapi tidak tahu harus berkata apa.
"Makasih, Tante," ucap Hanna akhirnya. "Hanna belum laper."
"Belom laper atau gak mau makan di sini?" tanya Tante Chika dengan suara agak meninggi disertai sorot mata membelalak.
"Bener, Tante. Hanna belum laper."
Timpal Tante Chika dengan nada sinis, "Pasti karena agama kamu itu yang ngelarang, 'kan? Cuman perkara makan saja jadi masalah."
"Hanna gak bermaksud begitu, Tante."
"Kamu pikir Tante gak tahu, hah?" semprot wanita tua itu keras. "Dasar agama intoleran! Agama gak bener! Banyak aturan yang nyusahin hidup!"
"Tante!"
Ingin rasanya Johanna melawan dan menjelaskan, tapi teringat pada sosok ibunya yang sedang tidur di kamar.
"Udahlah, Tante," ujar Andrew yang tiba-tiba muncul di antara mereka. "Kak Hanna emang udah beda sekarang. Gak mau lagi bergaul dan akur sama kita-kita yang bukan dari sesama golongannya."
"Emang!" timpal Tante Chika.
"Maksud Kak Hanna bukan begitu, Ndrew, tapi—"
"Gak usah ngelak, Kak," tukas Andrew. "Bagi Kakak, kami-kami ini udah dianggap najis, 'kan? Sama kayak Kakak nganggep babi ama anjing."
"Andrew, jaga omongan kamu ya, Dek! Kakak sama sekali gak beranggapan begitu! Kakak sekarang ama Kakak yang dulu masih tetep sama. Gak pernah Kakak ngebeda-bedain hanya karena Kakak udah berubah keyakinan. Kita semua sama-sama makhluk Allah."
Andrew dan Tante Chika mencibir.
"Udah mulai ceramah dia," ujar mereka disertai senyuman mengejek. "Baru juga segitu, lagaknya udah kayak Ustadz yang sering teriak 'kafir-kafir' itu. Ha-ha!"
Johanna berusaha untuk tetap bersabar. Dia menggeleng-geleng seraya mengelus dada. Prihatin. Tidak ingin lanjut berbicara di kala hati mulai dilanda emosi. Lantas memutuskan diri untuk menghindar dan menelepon Ravi.
Rasa kejut itu bertambah begitu panggilannya diangkat. Terdengar suara Ravi marah-marah di ujung telepon sana. "Apa lagi sih, Sarah? Kamu belum puas—"
Buru-buru Johanna menukas. "Mas, ini aku!"
"Hah? Hanna?"
"Iya, ini aku!" jawab gadis tersebut. "Mas Ravi udah di rumah, ya?"
"Belum. Aku masih ada di luar. Kenapa? Ada apa, Han?"
"Aku bisa minta tolong gak, Mas?" pinta Johanna seraya melihat-lihat sekeliling ruangan. Khawatir ada Tante Chika dan Andrew di sana. "Aku pengen keluar sebentar, buat ngehindarin keluargaku."
"Memangnya ada apa sama keluargamu, Han? Ada yang nyakitin kamu?" tanya Ravi terdengar khawatir. "Oke, aku segera ke sana sekarang. Tunggu, ya?"
"Iya, Mas."
Tanpa disadari oleh Hanna, ada dua orang yang ikut menguping di sana. Kemudian salah satunya berkata, "Kamu tahu 'kan, apa yang Tante pikir sekarang, Ndrew?"
"Andrew paham, Tante."
__ADS_1
Kemudian keduanya tersenyum-senyum penuh makna dan berjinjit menjauh dari ruangan dimana Johanna saat itu tengah bersiap-siap.
...BERSAMBUNG...