Cinta Johanna

Cinta Johanna
Bagian 51


__ADS_3

...CINTA JOHANNA...


...Oleh : David Khanz...


...Bagian 51...


...—------- o0o —-------...


"Heh, malah ngelamun lagi!"


"Apaan?" tanya Ravi terkejut dari bayangannya saat pertama kenal dengan Sarah dulu.


"Itu ada yang uluk salam di depan, kok malah kamu cuekin, sih?" bisik Sarah seraya menunjuk ke arah depan rumah.


"Siapa?" Ravi masih bingung.


"Pake nanya siapa, lagi." Mata Sarah melotot galak. "Temen-temen pengajianku-lah. Dih, gak bisa diandelin amat sih jadi laki," gerutu perempuan itu seraya bergegas ke depan, menyambut tamu-tamunya.


Sebentar kemudian terdengar suara-suara obrolan mereka di beranda rumah. Hingga akhirnya, Sarah mempersilakan tamu-tamunya untuk segera masuk.


"Sendiri aja, Umi Sarah?" tanya salah seorang dari mereka. Jawab Sarah, "Ada … berdua sama misua (suami), kok."


"Oohhh, syukurlah. Alhamdulillah. Hari libur ditemenin misua, ya."


"Iya, Umi Fatma," jawab Sarah. "Sebentar, ya. Ana tinggal dulu ke belakang. Mau ngambil air sama jamuannya, Umi-umi."


Jawab mereka, "Aahhh, gak usah repot-repot, Umi Sarah."


Timpal yang lain, "Iya, nih Umi Sarah ini. Tapi kalo ada, sih … keluarin aja semua yang ada, Umi."


"Ih, Umi Dewi ini … ada-ada saja."


"Hi-hi, afwan … cuma bercanda saja, kok."


"He-he-he!"


Sarah hendak masuk kembali ke dapur, tapi berhenti sejenak begitu akan melewati Ravi yang tengah main ponsel.


"Heh, bantuin aku bawain makanan ke depan, dong. Malah maen HP lagi, ah! Aku 'kan repot kalo ngerjain sendiri," pinta Sarah memelas.


"Iya … iya!" ujar Ravi langsung bangkit.


"Tapi jangan pake kolor 'gitu, Rav. Malu sama temen-temenku."


"Ya, terus kudu pake apa? Sarung ama baju Koko?" tanya laki-laki tersebut bingung.


"Ya, seenggaknya jangan celana pendek begitu kenapa sih, Rav. Dengkulmu itu aurat, tahu!" seru Sarah kesal. "Ganti sana pake celana panjang."


"Ribet amat di rumah sendiri," gerutu Ravi tanpa sadar. "Kenapa gak ngomong dari tadi, sih?"


Sarah mendelik sebal. Kemudian bergegas kembali ke dapur. Sengaja berlama-lama di sana untuk menunggu sampai Ravi selesai mengenakan celana panjang dan menghampirinya.


"Ayo, aku bantu bawain," kata Ravi begitu muncul.


Sarah menoleh dan langsung meneliti balutan celana panjang yang dikenakan suaminya. "Dih, kok pake celana ngetat begitu sih, Raavvv?" Lagi-lagi dia mengomel disertai mata membelalak garang.

__ADS_1


"Emang kenapa?" tanya Ravi seraya memerhatikan celananya sendiri depan dan belakang.


"Emang kenapa … emang kenapa," balas Sarah kian kesal. "Punya pikiran gak, sih? Di depan itu ada ibu-ibu semua, loh. Kamu malah pake celana ngetat begini. 'Burung'-mu itu kelihatan menonjol, Ravi! Sadar gak, sih?"


"Ya, 'kan mereka niatnya mau ngaji. Ngapain mesti lihat-lihat 'burung'-ku segala? Makanya biasakan, 'tundukkan pandangan' … begitu kata agama juga."


"Halah, ngomongin agama tapi kamu sendiri masih gak ngerti tata krama!" semprot Sarah seraya bergegas mengambilkan kain sarung di dalam bak mesin cuci yang belum sempat dikerjakan. "Pake, nih!"


"Itu 'kan kotor, Sar."


"Pake aja buat sementara! Daripada kamu bikin aku malu sama temen-temen pengajianku!"


"Tapi—"


"Cepetan pake, ah! Banyak protes lagi!"


'Ribet amat, sih!' gerutu Ravi di dalam hati. Namun buru-buru dia mengenakan kain sarung yang disodorkan oleh istrinya. "Udah, nih. Aku bantu bawain apa?"


"Gelas minuman nih, bawa ke depan sana!" jawab Sarah grasak-grusuk.


"Oke!"


"Eh, tapi aku yang jalan duluan!"


"Emang kenapa?"


"Entar pas mereka nengok, langsung ngelihat kamu lagi, ah!"


"Dih, cemburu ya?"


"Cemburu? Preettt! Ngapain pake cemburu-cemburuan segala? Biasa aja 'ngkali!" seru Sarah, tapi berusaha menghindari beradu tatap mata dengan suaminya. Jujur, ada benarnya juga kata Ravi barusan. "Ayo, ah. Ikutin aku!"


"Dih!"


"Apa?"


"Au, ah!"


Keduanya berjalan beriringan menuju ruang depan dengan tangan masing-masing membawa makanan serta minuman.


"Duuhhh, maaf ya agak lama," kata Sarah ramah sekali. "Barusan nyiapin jamuannya dulu sama misua-ku, nih."


Serentak ibu-ibu yang ada di sana menengok. Memerhatikan dan fokus menatap wajah Ravi yang ikut muncul membawakan minuman.


"Masyaa Allah … ini misua Umi Sarah?" tanya salah seorang dari mereka.


"Iya, Umi Fatma," jawab Sarah sedikit bangga karena semua yang hadir tampak terkagum-kagum melihat ke arah suaminya.


"Masyaa Allah … ganteng banget!" puji ibu-ibu yang bernama Fatma tadi.


"Iya, bener. Ganteng banget, Umi."


"Alhamdulillah, beruntung banget Umi Sarah dapet misua seganteng dan sebaik ini. Mau bantu-bantu istri bawain minuman pula."


"Iya, bener. Alhamdulillah."

__ADS_1


Sarah tersipu-sipu, tapi berbangga hati karena puja-puji.. Niat dia telah terlaksana kini, memperlihatkan suaminya pada teman-teman pengajiannya. Lain hal dengan apa yang dirasakan oleh Ravi, laki-laki itu justru risi dan langsung kikuk berada di sana.


"A-assalaamu'alaikuumm … eh, duh!" Ravi memberi salam tangan dari kejauhan. "S-saya langsung … p-permisi ke b-belakang ya, Ibu-ibu. Duh!"


"Abi mau ke mana?" tanya Sarah lembut.


Sejenak Ravi terbengong-bengong. 'Abi? Siapa Abi? Di sini cowoknya cuman ada gua!'


"Abi mau nerusin nyuci pakean?" tanya Sarah kembali seraya mengedip-ngedipkan kelopak mata.


'Hah? Kok, jadi nyuci pakean? Tadi si Sarah gak nyuruh apa-apa.'


Seketika Ravi langsung paham. Jawabnya gugup, "I-iya … a-aku mau nyuci dulu."


"Masyaa Allah … baik banget misua-nya. Mau bantu-bantu kerjaan istri!" Serentak jamaah ibu-ibu itu memuji kembali.


"Eh, Umi Sarah. Misua-nya antum punya adik gak? Mau dijodohin nih, sama anak perawan ana, tuh. Hi-hi."


"Aahhh, Umi Salwa ini ada-ada aja!" ujar Sarah semakin berbunga-bunga. "Ayo, ah … kita mulai pengajiannya."


"Eh, kemaren sampe mana, ya?"


"Iqra enam, Umi."


"O, iya … itu. Yuk, dilanjut."


Ravi melenggang ke ruang tengah dengan gerak bibir seperti tengah menggerutu tanpa suara. Membatin dia begitu duduk-duduk santai, 'Abi? Hhmmm, preettt!'


'Kalo ama temen-temen sepengajiannya sih, ramah banget. Eh, giliran ngomong ama laki sendiri, gak pernah ada lembut-lembutnya tuh si Sarah! Sebel!'


Dia lanjut menonton televisi, tapi mendadak benaknya teringat pada sosok Johanna.


'Hanna lagi ngapain, ya?' tanyanya usai beberapa saat melamun. Kemudian dia mengintip ke arah ruang depan untuk memeriksa istrinya, setelah itu diam-diam merogoh kantong celana. Mengeluarkan ponsel dan mulai berselancar mencari-cari nama kontak Hanna. Setelah menemukan apa yang dikehendaki, dia memilih dan mulai memasuki aplikasi percakapan instan.


[Assalamualaikum]


Terkirim langsung pada sebuah akun kontak bertuliskan nama TUKANG FOTOKOPI KANTOR di atas layar.


Centang dua, tapi masih berwarna ambigu alias abu-abu.


'Duh, lama banget sih gak dibaca, Han,' gerutu Ravi sendirian. Lantas kembali melongok ke arah ruang depan. Masih aman. Sarah ada di sana bersama ibu-ibu. 'Kirain suka ngaji apaan. Eh, ternyata masih nguprek di Juz 'Amma. Pantesan tiap kali abis ngaji gak pernah berubah. Ngajinya begituan!'


Deeerttt!


Ravi merasakan getaran di tangan. Ada pemberitahuan mode getar dari ponselnya.


'Ah, pasti balasan dari Hanna! Alham ….' Dia tidak tuntas mengucap syukur, karena yang tertera di layar bukan notifikasi pesan instan dari Johanna, melainkan sebuah SMS dari nomor tidak dikenal. Berbunyi; 'Selamat! Anda mendapatkan hadiah sebesar Rp. 75juta onlineshop Khopee. PIN Anda adalah … bla … bla … bla.'


"Sialan! Malah SMS tukang tipu!" gerutu Ravi kesal. Dia sampai mendecak beberapa kali. Namun bayangannya tetap teringat pada sosok gadis mualaf itu.


'Kok, aku jadi kangen sama Hanna, ya? Aneh … apakah ini wajar? Kemaren-kemaren gak ada perasaan ini. Tapi sekarang … kok, aku kayak lagi …."


Deeerttt!


Pemberitahuan lagi. Namun setelah dilihat, ternyata SMS iklan dari pihak operator seluler.

__ADS_1


"Hadeuh!"


...BERSAMBUNG...


__ADS_2