Cinta Johanna

Cinta Johanna
Bagian 65


__ADS_3

...CINTA JOHANNA...


...Penulis : David Khanz...


...Bagian 65...


...------- o0o -------...


Menjelang sore, Ravi tiba di kontrakan Johanna menaiki sepeda motornya. Dengan langkah pasti, lelaki tersebut berjalan hendak mendekati pintu kamar gadis tersebut yang dalam kondisi terbuka lebar. “Assalaamu’alaikum,” ucapnya beruluk salam. Namun tidak dengan posisi menghadap ke arah kamar. Dia berdiri persis di samping ambang pintu membelakangi tembok. Itu penting sebagai salah satu adab dalam bertamu. Tidak boleh langsung berdiri di depan pintu, atau malah melongok dan mengintip keadaan di dalam.


“Wa’alaikumussalaam,” jawab Johanna dari dalam kamar berbarengan dengan suara remaja bernama Ilham.


“Dek, tolongin lihat dulu ke depan. Mungkin itu Mas Ravi,” seru Johanna terdengar jelas hingga ke luar kamar.


“Iya, Kak.”


Tidak berapa lama muncul sesosok wajah remaja laki-laki, melongok dari dalam dengan raut muka tidak bersahabat.


“Ilham?” Ravi menyipitkan mata. ‘Apa yang dia lakukan di dalam bersama Johanna?’ Benak lelaki itu bertanya-tanya heran. “Hanna … eh, maksud saya, Kak Hanna-nya ada, Dek?”


Ilham tidak lekas menjawab. Dia tetap memelototi sosok Ravi. Sampai kemudian malah balik bertanya, “Mau ngapain Bapak ke sini?”


Ravi terperangah. Tidak menyangka akan disambut seperti itu oleh Ilham. Sikap anak remaja tersebut tidak jauh berbeda dengan saat hampir mengalami kecelakaaan tertabrak oleh Ravi beberapa hari sebelumnya.


“Saya ada perlu dengan Kak Hanna,” jawab Ravi tanpa memedulikan raut wajah Ilham yang kecut. “Sebelumnya, saya udah janjian kok sama Kak Hanna-nya.”


“Deekkk ….” panggil Johanna dari dalam. “Suruh Mas Ravi masuk aja ke kamar, Dek!”


“Iya, Kak,” jawab Ilham pelan. Namun hingga beberapa saat, anak laki-laki itu belum juga melaksanakan perintah Johanna. Dia tetap menatap Ravi, masam.


Akhirnya Hanna keluar juga dari dalam. “Ya, Allah … kenapa masih di luar, Mas? Ayo, masuk,” ajak gadis tersebut. Dia sempat bingung dengan nuansa wajah Ilham dan Ravi yang sama-sama memasang raut datar.


“Enggak. Makasih, Han. Aku nunggu di luar aja,” jawab Ravi seraya tersenyum tipis. Seketika Ilham semakin merengut muram. “Lagian ditemenin sama Dek Ilham, kok. Iya gak, Dek?” tanya sengaja memancing reaksi remaja tersebut. Namun tidak sepatah kata pun keluar dari lisannya.


“Dek, kamu ditanya sama Mas Ravi, loh.” Johanna mengingatkan.


“Iya. Ilham denger kok, Kak,” jawab Ilham datar.


Gadis itu tersenyum manis. “Ya, udah kalo begitu,” katanya lekas menengahi suasana yang agak kaku antara kedua laki-laki di depannya tersebut. “Sekarang … Kakak ada perlu dulu sama Mas Ravi. Adek bisa tolong tinggalin Kak Hanna sebentar?”


Ilham melirik pada Ravi, kemudian beralih menatap Johanna. “Iya, Kak,” jawabnya singkat.

__ADS_1


“Oke. Terima kasih ya, atas bantuannya tadi.”


“Iya, Kak,” jawab kembali Ilham. “Kalo Kakak perlu apa-apa, Ilham ada di rumah.”


"Iya. Nanti Kakak panggil kalo perlu lagi bantuan Adek, ya?" ujar Johanna lembut.


Kemudian anak remaja yang baru menginjak usia akil baligh tersebut meninggalkan mereka berdua di depan pintu kontrakan.


"Maaf, Mas. Ilham emang begitu," kata Johanna menyikapi sikap Ilham yang agak lain terhadap Ravi. "Kalo begitu … ayo, masuk aja ke dalam. Aku lagi beres-beres kamar, Mas."


Ravi menggeleng. "Aku menunggu di sini aja. Di luar. Nanti kalo kamu udah selesai, kita langsung cari tempat yang lebih nyaman."


"Loh, memangnya di sini kenapa, Mas?"


"Enggak baik, Han," jawab Ravi. "Jika ada seorang laki-laki dan perempuan yang bukan mahrom berada di dalam satu ruangan, maka pihak ketiganya itu setan."


"Aku tahu itu. Tapi sepanjang gak ngapa-ngapain, 'kan boleh-boleh aja, Mas. Lagian pintunya juga dibuka lebar, biar gak ada yang menyangka apa-apa."


Ravi kembali menggeleng pelan. "Tetap saja, pandangan orang lain akan berbeda, Han," ucapnya bersikukuh, "akan jauh lebih baik, kita keluar sekalian nyari makan. Yuk? Mau, ya?" Laki-laki itu melihat-lihat ke arah kontrakan Bu Tejo. Hanya untuk memastikan jika tidak ada seseorang yang —mungkin— memperhatikan mereka dari sana. "Satu yang mesti aku ingatkan, kalo gak salah … aku pernah ngebahas ini sama kamu, Han. Kamu masih ingat itu gak?"


Johanna mengangguk, lantas menjawab, "Ya, aku ingat. Perihal …." Dia melongok sebentar ke arah kamar kontrakan Bu Tejo. Kemudian melanjutkan ucapan dengan suara memelan, "Ilham, 'kan?"


"B-baik … memang sebaiknya kita ngobrol di tempat lain saja ya, Mas," ucap Johanna merasa agak tidak nyaman kini. "Sebentar, aku mau siap-siap dulu."


"Oke. Aku tunggu di luar saja."


"Iya, Mas."


Gadis itu pun segera masuk kembali ke dalam kamar. Sementara Ravi sendirian menunggui di teras. Bertepatan dengan itu, seorang wanita tua bertubuh tambun datang menghampiri.


"Pak Ravi, ya?"


Ravi menoleh.


"Eh, Ibu …."


"Waduuhhh, kapan dateng? Kok, saya gak tahu, ya?"


"He-he, baru aja, Bu. Sekalian mau jemput Hanna."


Sosok yang ternyata Bu Tejo itu, mengernyit. "Ngejemput? Loh, memangnya Neng Hanna mau ke mana lagi? Pulang? Gak tinggal di kontrakan lagi?"

__ADS_1


"Saya gak tahu, Bu. Saya cuman janjian mau ketemuan aja sore ini," jawab Ravi merasa agak tidak nyaman dengan tatapan wanita tua tersebut.


"Laaahhh, piye Iki? Wong jarang ketemu, tapi sekalinya ketemu malah di luar. Kenapa gak sekalian aja sama-sama nginep di sini sama Neng Hanna, Pak?" usul Bu Tejo.


"Hahhh?" Ravi melongo kaget.


"Maksud saya … biar nanti Neng Hanna tidurnya saya temenin, terus Bapak nginep di rumah saya ditemenin sama Ilham anak saya."


"Ooohh … itu maksudnya," desah Ravi langsung paham dan sempat berpikir macam-macam. "Gak ah, Bu. Terima kasih."


Bu Tejo tersenyum-senyum sendiri sembari menatap sosok di depannya. "Kenapa buru-buru amat sih, Pak. Apa gak sekalian makan malem dulu. Barusan saya beres masak, loh."


"Terima kasih, Bu. Mungkin lain kali saja," jawab Ravi terpaksa harus banyak menunduk dan melihat-lihat ke arah lain. "Saya lagi nungguin Hanna, kok."


"O, iya … Neng Hanna-nya ada di dalem, 'kan?"


"Ada. Di kamar, Bu."


"Terus … kenapa Pak Ravi malah di sini? Gak sekalian masuk saja 'gitu?"


"Masuk ke mana, Bu?"


"Kamar Neng Hanna atuh, Pak. Hi-hi-hi."


"Waduh … enggak,lah Bu. Cukup saya nungguin di sini saja. Lagian 'kan, itu gak boleh. Kami bukan—"


Tukas Bu Tejo bermaksud bercanda, "Makanya, cepetan dihalalin, Pak. Saya rasa, Pak Ravi sama Neng Hanna itu … cocok loh, Pak."


"Hah?"


"Iya, cocok banget. Satunya cantik dan Pak Ravi ini juga ganteng banget. Mirip artis-artis Hindustan itu loh, Pak. Siapa ya, namanya … oohh, itu … Park See Hung," ucap Bu Tejo berapi-api.


Ravi hampir saja tertawa, tapi buru-buru dia tahan. Namun di saat itu, tiba-tiba terdengar suara gaduh dari dalam kamar Johanna.


Prakkk!


"Haannn!"


"Neennggg! Ada apa di dalam?" tanya Bu Tejo terkejut, lantas terburu-buru masuk ke dalam kamar kontrakan gadis tersebut. Sementara Ravi tetap memilih berada di luar dan menunggu hingga salah satu dari dua perempuan itu memberitahu apa yang terjadi di sana.


...BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2