
...CINTA JOHANNA...
...Oleh : David Khanz...
...Bagian 35...
...—------- o0o —-------...
Hubungan pertemanan antara Ravi dan Johanna kian terikat dekat. Bantuan demi bantuan senantiasa laki-laki itu singsingkan tanpa pamrih, bahkan seperti menjelma menjadi sosok pengganti Jonathan bagi gadis tersebut.
"Anggap saja aku ini bagian dari keluargamu sendiri," ungkap Ravi beberapa waktu kemudian. "Terserah, mau kamu anggap aku ini sebagai Kakak, Abang, Mas, atau … apalah. Asalkan jangan panggil 'Bapak'. Kesannya kok, aku kayak ngerasa lebih tua aja 'gitu. Ha-ha."
Hanna tersipu. Sambil merapikan barang-barang perlengkapan kamar, gadis itu berkata, "B-bapak … eh, uummhh … Mas aja 'ngkali, ya?"
"Itu lebih nyaman kedengerannya. Apalagi aku masih ada darah Jawa-nya. He-he."
"O, iya … Mas Ravi …." gumam Hanna dengan sisa senyum tergurat di wajah mulusnya. "Bagi saya …."
"Aku!"
"Hah?"
"Kata 'saya' itu agak formal, Dek."
"Masa, sih?"
"Iyalah. Aku-kamu aja kenapa, sih? Lebih akrab, tahu. Hi-hi."
"Duh, iya 'ngkali, ya?"
"Ya, iyalah."
"Oh, 'gitu? Tapi—"
"Sudahlah, jangan kaku-kaku amat, Dek Hanna," ujar Ravi semakin menjadi-jadi. "Santai aja."
"Lah, yang kaku kemaren-kemaren malah Mas Ravi. Bukan saya … eh, aku."
"Eh, iya juga, ya? Ha-ha."
"Dih, Mas ini."
Keakraban pun mulai kian terjalin. Canda dan tawa senantiasa menghiasi percakapan serta pertemuan-pertemuan mereka selanjutnya.
"Tadi mau ngomong apa, Dek Han?" tanya Ravi teringat akan ucapan Johanna beberapa saat lalu yang belum tuntas.
"Yang mana, ya?" Hanna mengingat-ingat.
"Loh, yang tadi itu."
"Yang mana, sih?"
"Dih, masih muda udah pikun."
"Ih, Mas Ravi ini!" rengek gadis itu. "Yang mana … eh, ooohhh … yang tadi itu. Hi-hi. Baru inget sekarang saya … eh, aku "
"Idih!"
Laki-laki itu mencibir.
Hanna kembali berkata usai menuntaskan pekerjaannya. Ujar gadis tersebut kemudian, "Begini … bagiku, Mas Ravi ini udah aku anggap sebagai guru sendiri, loh."
__ADS_1
"Guru?"
"Iya. Guru pembimbing."
"Hhmmm."
Imbuh Johanna kembali, "Jujur sih, ada banyak pelajaran dan pembelajaran penting yang aku dapetin selama kenal sama Mas Ravi."
"O, iya?"
"Serius," jawab gadis itu disertai sorot mata tajam. "Terutama dalam masalah agama."
"Subhanallah."
"Aku gak tahu kalo seandainya gak ketemu sama Mas Ravi, nasibku akan seperti apa sampe saat ini," ungkap Johanna lirih. "Mungkin udah berakhir sia-sia di jembatan sana itu."
"Huss … gak boleh ngomong kayak 'gitu. Pamali."
"Emang kenyataannya begitu, 'kan?"
"Iya juga sih, tapi gak mesti begitu juga 'ngkali ngomongnya, Dek," ucap Ravi, mendadak hatinya terenyuh. "Udah aku bilang sebelumnya, 'kan semua ini atas kuasa Allah. Emang udah kudunya begitu."
"Iya, aku percaya itu," balas Hanna yakin. "Hakikatnya emang kayak begitu. Tapi secara syariat, Mas Ravi yang menjadi sosok yang Allah percayai buat nyelamatin hidupku."
"Udah, ah. Jangan ngomong kayak 'gitu. Takutnya entar malah jatuh riya' akunya, Dek."
Johanna menatap dalam-dalam mata lelaki tersebut. Kemudian berujar, "Terserah … tapi bagiku, Mas Ravi ini salah satu orang yang paling berjasa dalam hidupku."
"Enggak, ah. Jangan lupain juga kedua orangtuamu, Dek."
"Aku bilang juga 'kan, 'salah satu'-nya, Mas," tandas gadis tersebut menjelaskan. "Aku gak bakalan ngelupain keluarga, terutama Papa dan Mama. Walopun … yaaa … mereka sekarang udah gak nganggep aku sebagai anak."
"Sabar ya, Dek," tukas Ravi miris. "Mereka hanya lagi emosi aja. Semarah-marahnya orangtua, tetep aja di dalam hati mereka selalu ngerinduin anaknya. Ya, kamu ini."
"Kewajiban berbakti bagi seorang anak terhadap orangtua itu sampe akhir hayat, loh. Walopun … maaf nih ya, mereka gak seakidah lagi sama kamu, Dek."
"Maksudnya?"
Lelaki itu menarik napas terlebih dahulu, lantas lanjut berkata, "Sebagai anak, kamu tetep wajib mematuhi perintah orangtua, sepanjang … perintahnya itu tidak untuk berbuat mungkar dan menyekutukan Allah."
"Contohnya?" tanya Hanna antusias mendengarkan petuah Ravi.
"Misal … maaf nih ya, nyuruh kamu kembali lagi pada keyakinan beragama kamu sebelumnya. Atau … bisa juga, minta kamu ikut ngerayain acara-acara keagamaan mereka. Pokoknya sesuatu yang berhubungan sama akidah aja, itu gak wajib kamu patuhi."
"Termasuk ngucapin selamat natal?"
"O, iya. Menurutku begitu."
"Kenapa?"
Kembali laki-laki itu menarik napas. Kemudian lanjut bertutur, "Karena … jika kita ngucapin ucapan kayak 'gitu, maknanya … sama aja dengan mengakui kepercayaan yang ada di dalam agama mereka. Itu jatuhnya menjadi hukum musrik."
"Musrik?"
"Iya. Musrik. Artinya menyekutukan atau menduakan Allah."
"Aku paham sekarang."
"Sebab … satu-satunya dosa terbesar yang Allah gak bakalan ampuni, yaitu dosa musrik. Lain-lainnya … mungkin bisa melalui taubatan nasuha, tapi enggak sama dosa musrik atau syirik."
"Tapi bukannya Allah Mahamenganpuni, Mas?"
__ADS_1
"Betul, Dek. Tapi kalo emang itu udah ketentuan-Nya, kita gak perlu protes. Cukup dengan mematuhi, mengimani atau meyakini."
"Terus … tadi apa itu, taubat … taubat apa tadi, Mas?"
"Taubatan nasuha?"
"Iya, itu. Artinya apa, Mas?"
"Taubatan nasuha atau taubat nasuha adalah semurni-murninya permohonan pengampunan pada Allah. Tingkat paling tinggi dalam usaha untuk memohon ampunan kepada Sang Pencipta atas dosa-dosa besar yang telah dilakukan oleh hamba-Nya. Buat lebih jelasnya, coba nanti buka Al Qur'an surah At-Tahrim ayat 8 dan surah At-Taubah ayat 74. Di situ ada kok penjelasannya mengenai taubat."
"Aku belum bisa baca Al Qur'an, Mas," ungkap Hanna lirih.
"O, iya … aku baru inget, nanti aku bawain Al Qur'an yang ada terjemahan sama tafsirannya, ya. Sekalian … juga buku Iqra' buat kamu belajar membaca tulisan Arab."
Mata Johanna melirik ke atas, seperti tengah mengingat-ingat sesuatu. "Dulu sih, pernah … mau diajarin baca Al Qur'an," ucapnya. Tanya Ravi dengan cepat, "Dulu? Sama siapa?" Jawab gadis tersebut kemudian, "Iya, dulu. Belum lama juga, sih. Seseorang ngejanjiin aku buat ngebimbing aku belajar baca Al Qur'an."
"Siapa?"
"Reychan."
"Reychan? Cowok?"
"Iyalah. Masa nama cewek Reychan?" Hanna tersenyum geli.
"Enggak. Maksudku … Reychan itu siapa? Temen kamu?" Tiba-tiba Ravi jadi penasaran.
Gadis itu menunduk. "Iya, temen," jawabnya lirih.
"Temen atau 'temen', nih?" goda Ravi sembari menyelidik.
"Temen," jawab kembali Hanna perlahan.
"Serius? Cuman temen?"
Johanna mengangkat wajah dan menatap lekat mata lelaki di depannya. "Mas Ravi ini kenapa, sih?"
"Gak apa-apa. Cuman nanya doang."
Sebenarnya Hanna ingin balik mencandai lelaki tersebut, tapi hati kecilnya berbisik untuk tidak melakukannya. Tetap bertahan dan menyadari bahwa sosok terdekatnya itu bukanlah siapa-siapa bagi dia, saat itu. Mungkin jika mau sedikit genit, bisa saja bertanya; 'Mas Ravi cemburu, ya?'
Hanna bertekad, jalinan pertemanan mereka itu jangan sampai dicampuri dengan perasaan-perasaan lain. Cukup hanya sebagai seseorang yang berlandaskan pada hubungan 'kakak-adik'. Lagipula, Ravi sudah memiliki keluarga atau istri.
Terlepas dari delik masalah internal keluarga yang sedang dialami oleh Ravi, Johanna tidak ingin berusaha mengetahui lebih jauh. Karena tanpa ditanya pun, laki-laki itu kerap mengungkapkannya secara bias.
Lantas timbul pikiran lain, bagaimana Ravi bisa mengatasi permasalahannya sendiri jika waktunya malah lebih sering dihabiskan bersama Hanna.
"Kemarin aku jemput istriku di rumah orangtuanya," ungkap Ravi sebelumnya. "Awalnya sih, dia bersikukuh buat gak ikut pulang sama aku. Tapi atas saran dan desakan dari Mama dan Papa Mertua, akhirnya dia mau ikut juga. Tapinya lagi …."
"Kenapa, Mas?"
Ravi menarik napas dalam-dalam seperti tengah menahan beban perasaan. Lantas lanjut menjawab, "Belum ada perubahan besar yang aku perhatiin dari dia. Sarah masih kayak perempuan asing bagiku."
"Namanya Sarah …."
"Iya, istriku namanya Sarah. Kenapa? Kamu kenal, Dek?"
"Ya, enggaklah," jawab Johanna. "Kenal dari mana? Denger namanya aja baru sekarang."
"He-he … aku cuman bercanda kok, Dek. Kenapa? Kamu cemburu?"
"Hah?!"
__ADS_1
Dari tadi dia menahan diri untuk tidak mengucap kata itu. Malah kini lelaki itulah yang telah memulainya. Seketika, Hanna pun langsung merengut sebal.
...BERSAMBUNG...