Cinta Johanna

Cinta Johanna
Bagian 40


__ADS_3

...CINTA JOHANNA...


...Oleh : David Khanz...


...Bagian 40...


...—------- o0o —-------...


"Astaghfirullahal'adziim …." gumam Ravi terkejut luar biasa. Dia mengelus dada sejenak, lantas buru-buru meminggirkan kendaraan dan keluar. "Dek, kamu gak apa-apa?" tanyanya seraya memburu seorang remaja yang terpincang-pincang menepi ke trotoar jalan.


Beberapa orang datang menghampiri, kemudian bergerombol di sana membantu.


"Kenapa, Pak? Ketabrak, ya?" tanya seseorang di antara mereka seraya memerhatikan raut wajah Ravi yang masih terlihat syok. Jawab suami Sarah tersebut, "Gak tahu, Pak. Tadi anak itu nyebrang jalan begitu aja."


Laki-laki itu mendekati sosok remaja tadi. "Kita berobat ke dokter ya, Dek," ajaknya, tapi mendadak terdiam, tertegun, begitu mengenali wajah yang tertabrak tadi. "Ilham? Kamu Ilham, 'kan?"


Sosok remaja yang ternyata –memang– ternyata bernama Ilham itu melirik. "Pak Ravi?"


"Ya, Allah!" seru Ravi tambah kaget. "Ayo, ikut saya berobat yuk, Dek," ujarnya sambil menyorongkan tangan hendak membantu Ilham berdiri. Namun remaja laki-laki itu menepis dan berucap, "Gak usah, Pak. Ilham gak kenapa-napa, kok."


"Tapi kakimu …."


"Cuman lecet dikit doangan, Pak," ujar Ilham kembali, menolak uluran tangan Ravi yang hendak membantu.


"Bapak kenal sama anak ini?" tanya seseorang di sana pada Ravi.


"Iya, saya kenal," jawab suaminya Sarah tersebut. "Dia anaknya tetangga kontrakan teman saya."


"Oohhh. Ya, udah. Bawa berobat aja, Pak. Kasihan, tuh."


"Iya, ini juga lagi ngebujuk anaknya, Pak," balas Ravi. Kemudian kembali mencoba berbicara lagi pada Ilham. "Berobat sekarang ya, Dek. Sekalian, nanti saya anterin juga sampe ke rumah. 'Gimana?"


"Gak usah, Pak. Ilham bisa pulang sendiri!" ucap Ilham seraya bergegas pergi dari sana dengan langkah terseok-seok.


"Ilham, tunggu!"


"Saya bilang juga, saya bisa pulang sendiri!" sentak remaja tersebut cukup keras dan mengejutkan semua orang, termasuk Ravi sendiri.


"Astaghfirullah!" seru Ravi terkaget-kaget. 'Ilham kenapa, ya? Kok, malah marah-marah sama aku?'


Laki-laki itu terbengong-bengong di tempatnya berdiri. Menatap kepergian Ilham dengan perasaan tidak menentu.


'Ada apa dengan anak itu?'


"Ada apa, Pak?" tanya seseorang yang masih berada di dekat Ravi. Jawab laki-laki itu masih kebingungan, "Saya sendiri gak tahu. Tapi … ya, sudahlah, nanti saya datengin aja ke rumahnya."


Di saat bersamaan, ponselnya tiba-tiba berdering nyaring. Dia segera merogoh kantong, mengambil gawai, lantas memerhatikan layar. Tertera nomor dan nama seseorang yang sudah sangat dikenal. 'Ada apa si Fadil nelepon aku, ya? Dicariin Bos, 'gitu?'


"Halo, assalamualaikum. Ada apa lu, Dil?"


Terdengar suara dari seberang telepon. "Barusan bini elu nelpon kantor. Dia nanyain elu, Rav."


"Nanyain gua? Ngapain nanyain gua?"

__ADS_1


Jawab suara Fadil, "Mana gua tahu? Posisi elu sekarang di mana?"


"Deket, sih," kata Ravi seraya memutar kepala untuk mengetahui tempat keberadaannya sendiri. "Bentar lagi juga gua nyampe kantor lagi."


"Buruan balik kantor lagi, deh."


"Emang kenapa?"


"Sepuluh menit lagi dia mau nelepon lagi," ujar Fadil terdengar panik. "Gua tadi bilang, elu lagi ada di belakang."


'Aneh, kenapa dia gak nelpon aku langsung aja, sih?' bertanya-tanya Ravi di dalam hati. 'Ada apalagi, sih?'


"Oke, Dil. Gua langsung ke kantor deh, sekarang juga."


Laki-laki itu segera masuk kembali ke dalam kendaraannya dan memacu secepat mungkin agar bisa tiba di kantor dalam jangka waktu kurang dari sepuluh menit.


'Apa aku telpon aja sekarang, ya?" Bertanya kembali Ravi. 'Tapi kalo sampe dia tahu aku lagi ada di luar, entar dia nanya-nanya hal laen, lagi. Inilah-itulah. Macem-macem dan selalu berusaha nyari-nyari kesalahanku. Kayaknya emang tiap hari dia pengen ngajakin ribut. Sialan!'


Beruntunglah, tidak sampai sepuluh menit, Ravi sudah kembali berada di dalam ruangan kerjanya. Sengaja dia duduk-duduk sambil menunggu telepon kantor berbunyi.


Tidak berapa lama, yang ditunggu pun kunjung tiba.


"Darimana aja kamu seharian ini?" tanya Sarah usai berbasa-basi sebentar. Jawab Ravi agak gugup, "Ya, kerjalah. Di kantor. Emangnya kudu di mana lagi, Sar?" Rasa kesal pada istrinya, terus terang saja, masih tersisa hingga saat itu. "Kamu sendiri ngapain sih, nanya-nanya aku kayak 'gitu? Kalopun kamu mau nelpon, kenapa gak langsung ke HP-ku aja, sih?"


"Kenapa? Kamu keberatan kalo aku nelpon ke nomor kantormu?" Balik bertanya Sarah. Nadanya masih terdengar sama dengan kondisi pagi tadi.


'Hadeuh, salah lagi gua!' gerutu laki-laki itu di dalam hati.


"Enggak. Gak salah," jawab Ravi memelankan suara. Khawatir terdengar oleh rekan-rekan kerjanya yang lain. "Ada apa? Kamu mau aku jemput entar pulang ngantor?"


"Kan, udah aku jawab, aku ada di kantor, Sarah."


"Bohong."


"Kok, bohong?"


"Iyalah, aku tahu kamu bohong."


"Enggak."


"Kamu bohong, Ravi."


Ravi menggigit bibirnya. Geram. Namun hati kecil laki-laki tersebut memang mengakui bahwa dia telah berbohong pada Sarah. Masalahnya sekarang, mengapa tiba-tiba perempuan itu menelepon dan mendesak dia dengan pertanyaan seperti itu? Aneh, 'kan? Apakah itu berarti ….


"Terus mau kamu sekarang apa, Sar?" tanya Ravi akhirnya. "Kamu masih mau ngelanjutin perselisihan kita tadi pagi? Begitu, hhmmm? Mau ngebahas lagi masalah mobil itu?"


Untuk beberapa saat, tidak terdengar jawaban dari Sarah. Sampai-sampai Ravi berulang-ulang mengucap kata 'halo'.


"Beneran kamu masih gak mau jujur sama aku?" tanya perempuan itu akhirnya.


Ravi berpikir-pikir, apa mungkin Sarah tahu tadi dia pergi kemana. Ikut melayat ke acara penguburan ayahnya Johanna, mungkin. Kalaupun iya, dia tahu dari mana? Jika jujur pun, sudah tentu masalah akan semakin memanjang. Bahkan bisa berlanjut nanti setibanya di rumah. Namun hati kecilnya tetap berbisik bahwa Sarah –mungkin– sudah mengetahui. Entah bagaimana caranya.


"Apa yang harus aku akuin, Sar? 'Kan, sudah aku jawab, aku kerja seharian ini di kantor," jawab Ravi akhirnya memutuskan untuk tetap lanjut berbohong. "Emang maunya kamu, aku ngaku ngelayan 'gitu kemana-kemana. Begitu? Jangan aneh-aneh deh, Sar. Cobalah realistis sedikit aja."

__ADS_1


"Kamu yang sukanya bikin yang aneh-aneh," timpal Sarah terdengar kesal. "Terserah, kalo kamu masih tetep gak mau jujur. Aku juga bisa berbuat lebih dari yang kamu lakuin."


"Hei … hei … hei … kamu ngancam aku?"


"Terserah penilaian kamu!"


"Kok, 'gitu sih?" tanya Ravi pura-pura bingung. "Mau kamu sebenarnya apa sih, Sar? Kamu mau kita terus-terusan rib—"


Klik!


Terdengar nada suara percakapan ditutup.


"Sialan!" gerutu Ravi tidak sadar dan membuat beberapa rekan kerjanya serempak menoleh ke arahnya. "Ups, sorry. Gak ada apa-apa. Maaf."


Beberapa di antara mereka menggeleng-gelengkan kepala memerhatikan sikap laki-laki tersebut. Hanya Fadil seorang yang mendekat, usai melihat Ravi menutup gagang telepon tadi.


"Kenapa, Rav? Bini lu lagi, ya?" tanyanya seraya menepuk-nepuk bahu rekannya itu.


Ravi mendesah gusar, lantas berujar, "Lu tahu sendiri 'kan, tadi siapa yang nelpon nanyain gua?"


"Ribut lagi?" tanya kembali Fadil.


"Biasalah …." jawab Ravi masih terlihat kesal.


"Mau curhat lagi ama gua? Biar hati elu ngerasa plong."


Ravi melirik rekannya itu. Melemparinya senyum kecut dan kembali menjawab, "Gua rasa, lama-lama elu juga bakalan bosen ngedengerin curhatan gua, Dil. Masalahnya gak pernah jauh dari yang udah gua ceritain."


Balas Fadil santai, "Gak masalah. Gua bakalan tetep dengerin omongan elu."


"Sekarang?"


"Kalo elu mau."


"Gila!" semprot Ravi berseloroh. "Masih jam kerja begini, masa gua ngilang lagi, sih? 'Kan, baru tadi gua minta izin keluar sama Bos."


"Kalo 'gitu selepas kerja. Gua masih sohib elu, Rav. Gua siap dengerin apapun curhatan elu."


"Kok, elu jadi kepo masalah gua, sih?"


"Ha-ha," gelak Fadil tanpa sadar dan kembali mengundang perhatian seisi ruangan kerja. Buru-buru dia menghentikan tawanya. "Gua banyak belajar tentang kehidupan rumah tangga dari elu, Rav. Gua juga banyak belajar tentang karakter-karakter perempuan dari bini elu. Itu penting buat gua nanti kalo mau married."


"Sialan! Gua dijadiin bahan observasi!"


"Ha-ha … eh, ups!" Buru-buru Fadil menutup mulutnya. "Makanya sampe sekarang gua masih belom berani kawin."


"Nikah, Dil. Bukan kawin."


"Ya, itu maksud gua," ralat Fadil secepatnya. "Apalagi kalo sampe gua nikah atas dasar perjodohan dari orang tua. Kayak rumah tangga elu itu, tuh."


"Sialan!"


"Lah, emang bener, 'kan?"

__ADS_1


Ravi mendengkus gusar. Memang benar juga apa yang dikatakan oleh Fadil barusan, pikir suami Sarah tersebut, pernikahan yang dilandasi oleh hubungan perjodohan itu bisa bersifat gambling. Mau bahagia ya syukur, tidak pun paling-paling bakalan awet-hancur seperti dirinya.


...BERSAMBUNG...


__ADS_2