Cinta Johanna

Cinta Johanna
Bagian 38


__ADS_3

...CINTA JOHANNA...


...Oleh : David Khanz...


...Bagian 38...


...—------- o0o —-------...


"Berhenti di sini saja, Mas," ujar Hanna begitu laju kendaraan hampir memasuki sebuah gang. Ravi segera menepikan kemudinya ke kiri. Tanyanya kemudian, "Di sini?"


"Ya, di sini saja."


"Rumahmu yang mana?" tanya kembali laki-laki itu seraya memutar pandangan.


"Di ujung gang sana, Mas," jawab Hanna. Bersiap-siap hendak turun dari dalam kendaraan.


"Yakin kamu gak aku antar sampai rumah?"


Cegah gadis itu buru-buru, "Gak usah, Mas. Cukup sampe di sini saja. Lagian … kayaknya aku juga gak bakalan lama di sini."


"Maksudmu?"


Hanna mendengkus, lantas menjawab, "Aku akan pulang lagi ke kontrakan."


"Gak nginep di rumah Mamamu?"


Lama dia termenung, sampai akhirnya menggeleng perlahan.


"Kenapa?" tanya Ravi kembali terheran-heran. "Seenggaknya nemenin keluargamu yang lagi berduka."


"Ada Tante Chika kok, ikut nginep di rumah," jawab Johanna masih tampak ragu untuk memutuskan. "Aku belum ngerasa nyaman aja, tinggal lagi sama Mama. Tapi gak tahu deh, ke depannya kayak 'gimana."


Ravi manggut-manggut walaupun belum memahami alasan Johanna tidak mau menetap kembali bersama keluarganya. "Ya, sudah. Perlu aku jemput lagi gak buat balik lagi ke kontrakan nanti?" tanyanya kemudian.


Hanna menggeleng. "Gak usah, Mas. Aku naik kendaraan umum saja," katanya sebelum membuka pintu. "Lagian Mas Ravi juga harus buru-buru pulang ke rumah Mas 'kan, entar sore."


Laki-laki itu tersenyum kecut.


"Iya, sih," jawabnya pelan. "Tapi kalo kamu emang perlu aku jemput, gak masalah kok. Insyaa Allah, pasti aku antar. Jam berapa kira-kira?"


"Aku belum tahu."

__ADS_1


"Ya, sudah. Telpon aku saja entar, ya? Aku tunggu, loh."


"Insyaa Allah, Mas."


Kemudian Hanna pun segera membuka pintu, keluar, dan melempar senyum manis begitu Ravi berpamitan hendak kembali ke kantor.


Dengan benak masih diliputi berbagai bahan pikiran, gadis itu melangkah memasuki gang untuk menuju rumahnya. Di sana disambut tatapan dingin Tante Chika yang sedang duduk-duduk di beranda rumah.


"Mana laki-laki itu?" tanya wanita tua tersebut begitu Hanna mendekat. "Dia gak berani ke sini, 'kan?"


"Apaan sih, Tante," ujar gadis itu berniat menghindar. "Lagian Hanna sendiri kok, tadi yang ngelarang Mas Ravi ke mari."


"Kenapa? Takut ketemu sama Tante?" tanya Tante Chika sinis.


"Ah, Tante ini ada-ada saja," kata Johanna seraya masuk ke dalam rumah yang sudah sekian bulan tidak lagi dia jenguk.


"Heh, Johanna! Tante belum beres ngomong sama kamu!" seru Tante Chika sambil menghambur mengikuti langkah keponakannya tersebut. Namun Hanna tidak memedulikannya. Dia hanya ingin segera menemui ibunya, Mama Lilian. "Johanna!"


Sosok yang dimaksud gadis itu tengah berada di kamar, duduk di tepian tempat tidur ditemani adiknya, Andrew.


"Ma …." panggil Hanna seraya mendekat dan duduk di samping ibunya. "Maafin Hanna ya, Ma."


"Kakak ngapain ke sini?" tanya Andrew dengan raut wajah dingin. Terlihat begitu kurang menyukai kehadiran Johanna di sana. "Kenapa gak ngikutin laki-laki tadi saja? Itu yang bikin Kakak seneng-seneng di luar sana, 'kan?"


Mama Lilian menepuk lengan anak lelakinya. "Sudahlah, Ndrew. Mama seneng kok, akhirnya kakakmu pulang." Kemudian wanita tua itu melirik ke samping, memutar badan, dan merangkul Johanna dengan erat. "Selamat datang kembali di rumah, Nak. Makasih ya, kamu udah mau nyempetin ngejenguk Papamu di rumah sakit, ikut ke acara penguburan, dan sekarang mau pulang kembali ke rumah seperti biasa."


"Iya, Ma. Maafin Hanna juga, ya."


Mereka berdua saling berangkulan di bawah tatapan kecut Andrew dan Tante Chika.


"Kamu mau 'kan, tinggal lagi sama Mama di sini?" tanya Mama Lilian lirih. Gadis itu tidak segera menjawab. Dia merasa bingung. "Papamu sekarang udah tiada, Sayang. Kamu bebas ngelakuin apa pun yang menjadi kebiasaan kamu di sini. Termasuk kewajiban agama barumu itu."


"Kak!" seru Tante Chika. "Kakak gak inget pesan Kak Atan?"


Mama Lilian dan Johanna spontan menoleh.


"Sudahlah, Chika," ujar Mama Lilian lembut. "Johanna itu anakku juga dan aku berhak ngelindungi dia. Sepanjang itu tujuannya untuk kebaikan, gak ada salahnya, 'kan?"


"Tapi dia udah berbeda sama kita, Kak!" pungkas Tante Chika kembali geram.


Mama Lilian tersenyum. "Gak ada yang berbeda di sini, Chika. Baik Johanna maupun Andrew, mereka tetap anak-anakku."

__ADS_1


"Masalahnya bukan 'gitu, Kak. Tapi—"


"Agama maksudmu?" tukas Mama Lilian kembali. "Agama itu cuma salah satu cara buat mempercayai Tuhan saja, Chika. Yang menjadi berbeda itu hanya di pikiran kita. Kenyataannya, mungkin Tuhan yang Hanna yakini itu adalah Tuhan yang kita imani. Sama-sama Tuhan yang sama. Hanya berbeda secara ritual penyembahannya saja."


"Sudah, Ma. Gak usah ngomongin masalah itu," ucap Johanna lembut. Hati kecilnya sangat mengingkari apa yang dikatakan oleh ibunya barusan. Namun di saat bersamaan, tidak mungkin harus mendebat sendiri. Apalagi suasana keluarganya tengah berkabung. "Kalo emang Hanna gak diingini tinggal lagi di sini, Hanna rela, kok. Hanna bisa nerima."


"Enggak, Sayang," timpal Mama Lilian. "Kamu harus tinggal di sini sama Mama, dan juga adikmu, Andrew. Iya 'kan, Ndrew?"


Yang ditanya tidak menjawab. Mata anak laki-laki muda itu malah melirik sekilas pada tantenya, Tante Chika.


"Sudah tentu dia gak bakalan mau lagi tinggal di sini, Kak," sindir Tante Chika masih dengan nada ketus. "Dia 'kan, sudah keenakan kumpul kebo sama laki-laki itu."


"Cukup, Chika! Sebaiknya kamu gak usah lagi nyampurin urusan keluargaku!" sentak Mama Lilian geram mendengar ucapan adik mendiang suaminya tersebut. "Kalo kamu masih membenci mantan suamimu dulu, gak lantas harus benci juga sama anak-anakku, dong! Cukuplah itu antara kamu dengan si Steven itu! Paham kamu?"


"Ma, sudah, Ma. Inget kesehatan Mama," ujar Andrew dan Johanna melihat ibunya tersentak amarah. "Mama harus banyak-banyak istirahat."


Timpal Mama Lilian, "Mama hanya gak suka anak Mama disangka macem-macem sama Tante kalian, Anak-anak."


"Iya, Ma. Yang penting 'kan, Hanna gak seperti yang disangkain sama Tante," balas Johanna sedih melihat kondisi ibunya kini.


"Tapi bener 'kan, kamu gak ngapa-ngapain sama laki-laki itu, Han?" tanya Mama Lilian jadi ikut tersulut perasaannya. Johanna menjawab, "Wallahi, Ma. Demi Allah. Hanna masih kayak Hanna yang dulu. Anak Mama yang selalu menjaga sikap dan kehormatan diri. Percaya, deh."


Wanita tua itu tersenyum lembut begitu mendengar penuturan anak gadisnya. "Syukurlah, Mama seneng. Mama percaya sama kamu, Nak."


"Insyaa Allah, Ma. Apa yang Mama dan Papa didik sama Hanna selama ini, sangat berguna buat kehidupan Hanna," tutur gadis itu meyakinkan. "Hanna gak bakalan ngecewain Mama dan almarhum Papa. Insyaa Allah."


Sementara bagi Chika, mendengarkan obrolan antara anak dan ibu tadi, justru makin membesar keraguannya. 'Bener apa yang diomongin sama Kak Atan, Kak Lilian emang gak bisa diandalkan buat mempengaruhi si Johanna buat kembali ke ajaran agama sebelumnya. Dia malah ngedukung anaknya itu. Huh, semakin sulit aku ngajak dia masuk kembali ke dalam panggilan kasih Kristus.'


'Apa mungkin dengan cara lain, aku bisa ngerubah keyakinannya secara perlahan-lahan?' Benak Tante Chika bertanya-tanya sendiri. 'Mungkin dengen mencekoki si Johanna dengan hal-hal yang dilarang oleh agamanya. Makanan, misalnya? Ah, kenapa gak aku coba saja?'


Tiba-tiba, Chika berkata pada Lilian, "Kak, aku mau masak, ya? Mungkin anak-anak lapar?"


Jawab Lilian, "Terserah kamu aja, Chika. Aku mau istirahat dulu. Tiduran. Maaf, ya."


"Ya, sudah, gak apa-apa," balas Chika disertai gurat senyumnya pada Andrew tanpa sepengetahuan Johanna tentunya. "Kakak istirahat dulu aja. Tenangin pikiran dan banyak-banyak doain Kak Atan."


"Iya, Dik. Makasih."


Kemudian Chika bergegas ke dapur dan mempersiapkan bahan masakan yang akan segera dia hidangkan untuk keluarga kakaknya tersebut. Matanya langsung tertuju pada setumpuk daging merah begitu membuka pintu kulkas, disertai senyuman penuh makna.


...BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2