Cinta Johanna

Cinta Johanna
Bagian 19


__ADS_3

...CINTA JOHANNA...


...Penulis : David Khanz...


...Bagian 19...


...------- o0o -------...


"Sudah …." pungkas Mama Lilian seraya menepuk lengan anaknya. "Gak baik ngomong kayak 'gitu. Biarin aja itu jadi rahasia Papamu sendiri. Mama gak mau ikut campur."


"Kalo Mama sendiri?"


"Maksudmu?"


"Pandangan Mama sama orang-orang Islam itu."


Mama Lilian kembali mendengkus. Tidak lantas menjawab, tapi terdiam dengan sorot pandangan menerawang. Seperti tengah berpikir. Kemudian berkata, "Bagi Mama, gak ada alasan buat Mama … untuk membenci seseorang, selama orang itu baik. Mama gak peduli siapapun dia dan berasal darimanapun dia. Bukannya Tuhan kita juga ngajarin tentang kasih sayang dan mengasihi terhadap sesama, Drew? Termasuk orang yang berbeda dengan kita sekalipun."


Andrew menggenggam jemari tangan mamanya. "Kalo 'gitu, Mama gak benci Kak Hanna, 'kan?" tanyanya memastikan.


Mama Lilian menatap mata anak lelaki tersebut dalam-dalam. "Alasan apa Mama harus membenci anak Mama sendiri, Sayang? Termasuk kamu." Dia menarik napas panjang sejenak. "Mama hanya ngerasa kecewa aja sama keputusan Johanna itu. Gak lebih."


"Terus Mama ngedukung Kak Johanna berubah?"


Sebelum menjawab, Mama Lilian menengok terlebih dahulu ke belakang. Memastikan jika suaminya, Jonathan, tidak sedang berada di sekitar mereka. Lantas dirasa kondisi sudah aman, dia pun kembali bertutur, "Cukuplah kakakmu seorang, Drew. Kamu jangan ikut-ikutan ya, Sayang. Mama hanya berharap, apa yang Papa dan Tantemu khawatirin mengenai keputusan Johanna itu, jangan sampe dia berubah menjadi sosok yang menakutkan." Wanita tua itu mengusap wajah anak lelakinya. "Semoga saja kakakmu itu, tetaplah menjadi anak Mama yang baik."


Lilian kerap menyembunyikan kegundahan hatinya. Terlebih atas perlakuan Jonathan akhir-akhir ini. Walaupun begitu, Andrew mengetahui itu. Namun sebagai anak, dia tidak mampu berbuat banyak. Rasa takut akan mengalami hal serupa, terutama yang terjadi pada kakaknya, memaksa anak tersebut lebih memilih diam membisu.


Sekarang sosok yang disegani itu telah tiada. Terkubur dalam-dalam bersama dendam yang tidak pernah berkesudahan terhadap hal paling dia benci.


Usai menuntaskan upacara pemakaman, Mama Lilian bertanya pada Johanna. "Kamu mau kembali pulang 'kan, Sayang?"


Johanna menyeka kelopak matanya yang masih terlihat sembap. "Malam ini Hanna nginep di rumah kok, Ma," ujar gadis itu. "Hanna pengen nemenin Mama."


"Rumah Mama masih rumahmu juga kok, Sayang. Kenapa kamu bilang nginep?"


Timpal Johanna bingung. "M-maksud Hanna … untuk sementara ini Hanna belum bisa mutusin."

__ADS_1


"Terus Kak Hanna tega ninggalin Mama?" Andrew ikut menimpali. "Sekarang Papa udah pergi, Kak. Mama udah gak punya siapa-siapa lagi selain kita berdua; Kakak dan Andrew!"


Hanna bingung untuk menjawab. Sebenarnya bukan itu yang menjadi persoalan utama, akan tetapi ada sesuatu hal yang membuatnya ragu untuk menetap bersama keluarganya.


Tante Chika yang semula memang tidak pernah menyukai perubahan dan keputusan Hanna, dan kebetulan masih berada di sana, ikut angkat bicara. "Ya, pastilah … dia gak bakalan mau balik lagi ke rumah, Kak," ujarnya pada Lilian menyindir keponakannya Tersebut, "soalnya udah keenakan hidup sama laki-laki gak jelas itu tadi. Siapa namanya? Si Raven, ya?"


"Raven? Itu nama orang atau merek rokok sih, Tante?" Andrew bertanya-tanya. "Punya nama kok aneh-aneh aja."


"Mas Ravi," ungkap Hanna membenarkan. "Namanya Mas Ravi."


"Ya, itu tuh namanya," sahut kembali Tante Chika. "Tadi malah ikut dateng dia ke pemakaman, Kak Lili."


"Aku tahu kok, Chika," balas Mama Lilian.


"Orang gak jelas! Beda agama kok malah ikutan acara kita. Maunya apa, coba?" Lagi-lagi Tante Chika ikut berbicara dengan nada sinis.


"Tante?" Hanna menukas. "Maksud Tante apa, sih?"


"Sudahlah," lerai Mama Lilian buru-buru menengahi. "Kita masih dalam suasana berkabung. Apa kalian gak mau sedikit pun ngerhargai Papa Atan, hah?"


"Tahu tuh Kak Hanna," timpal Andrew.


"Loh, kok malah Tante yang disalahin?" sahut Tante Chika membela diri. "Semua 'kan gara-gara kamu dan lelaki itu, Hanna! Coba kalo kamu gak begini, Kak Atan mungkin masih hidup."


"Kenapa malah jadi salah Hanna?!" Gadis itu semakin merasa sebal dengan sikap tantenya tersebut.


"Yaiyalah! Coba kalo kamu gak sampe—"


"Sudah! Sudah! Sudah!" jerit Mama Lilian diiringi tangisnya. "Bisa gak sih kalian ngertiin perasaanku? Mamahmu! Kakakmu!" serunya pada Johanna dan Chika. "Belum kering kuburan Papa Jonathan kalian lihat! Kalian seenaknya ngeributin hal yang gak penting di sini! Kalian sudah pada gila apa?"


Semua mendadak terdiam.


Andrew langsung mengajak Mama Lilian meninggalkan area pekuburan, dengan cara memapahnya berjalan menyusuri celah-celah bangunan makam.


"Kamu gak ikut Mamamu pulang, Hanna?" tanya Tante Hanna melihat keponakannya itu masih berdiri terpaku di sana. "Atau kamu sengaja mau ketemuan lagi dengan lelaki itu?"


Bukan tanpa sebab wanita tua itu bertanya demikian, karena tidak jauh dari sana, sosok Ravi tampak sedang berdiri menunggu di luar kompleks pemakaman.

__ADS_1


"Hanna nanti nyusul, Tante," jawab Johanna. "Hanna pasti pulang, kok."


Terdengar decak kesal dari mulut wanita tua tersebut. Ujarnya kemudian sebelum menyusul Mama Lilian dan Andrew, "Terserah kamu aja, deh. Tapi asal kamu tahu, urusan kita berdua belum selesai, Hanna. Kamu harus ingat itu."


Kening Johanna berkerut hebat.


"Tante?" desah gadis itu bingung. "Ada apa sih, sebenarnya dengan Tante? Gak biasanya Tante bersikap kayak 'gini sama Hanna."


Diawali senyuman kecut, Tante Hanna menjawab, "Nanti juga kamu bakal tahu, Johanna."


"Astaghfirullahal'adziim."


"Huh!" Tante Hanna sontak mencibir begitu mendengar Hanna melafalkan kalimat terakhir tersebut.


'Ya, Allah … Tante ….' membatin gadis itu seraya mengusap dada.


Di luar kompleks pemakaman, Mama Lilian dan Andrew sempat berpapasan dengan sosok Ravi. Tanpa dipinta, lelaki itu segera mendekat.


"Ibunya Hanna?" tanya Ravi seraya mengajak salaman dan langsung diangguki Lilian. "Saya Ravi, temennya Johanna."


"Oh, ada apa?" Wanita tua itu bertanya dingin.


"Saya turut berduka cita atas meninggalnya suami Ibu."


"Oh, terima kasih."


Lanjut Ravi berkata, "Mohon maaf, jika saya turut hadir di acara pemakaman ini. Itu pun saya telat menerima kabar duka perihal ayahnya Johanna."


"Gak apa-apa," balas Lilian datar. "Makasih ya, udah mau dateng."


"Iya, Bu."


"Tapi maaf … kami harus segera pulang sekarang."


"O, iya. Silakan, Bu. Mohon maaf kalo saya sudah mengganggu waktu Ibu."


"Gak apa-apa, Nak Ravi. Kami permisi dulu, ya."

__ADS_1


"Iya, Bu," timpal Ravi seraya membungkukkan badan teruntuk Mama Lilian dan Andrew. Hal serupa pun dia lakukan pada Tante Chika, akan tetapi tidak sedikit pun direspons baik oleh wanita tua tersebut. Dengan raut masam, dia segera memasuki kendaraan yang sama bertiga dengan kakak ipar serta keponakan lelakinya.


...BERSAMBUNG ...


__ADS_2