
...CINTA JOHANNA...
...Penulis : David Khanz...
...Bagian 23...
...------- o0o -------...
Dia melirik pada salah seorang pengunjung yang ada di ruangan tersebut, setelah para petugas medis membawa Hanna ke dalam ruangan bertuliskan 'IGD'.
"Rokok?" tanya pengunjung tadi begitu dipintai olehnya. "Ini area klinik, Pak. Gak boleh ngerokok."
'O, iya … aku baru nyadar,' gumam sosok lelaki itu lantas menepuk sendiri jidatnya.
Plak!
'Lagian … bukannya aku juga bukan seorang perokok. Kenapa pula harus merokok?' imbuhnya kembali bergumam sendiri di dalam hati. 'Halah, kegilaan macam apalagi ini? Bisa gak sih, aku fokus dan bersikap normal?'
Plak!
"Aw! Sakiiittt …." keluhnya karena tepukan yang kedua barusan, tidak sadar, jauh lebih keras dari pertama tadi.
"Gak usah nyakitin diri sendiri, Pak, kalo emang gak kuat pengen ngerokok," ucap pengunjung yang dipintai rokok barusan. Mengira yang bersangkutan sedang marah-marah. "Bapak bisa ke tempat parkiran di depan sana atau duduk di warung kopi. Gak jauh dari sini, kok."
Sosok lelaki yang masih misterius ini melirik. "Saya gak ngerokok," ujarnya kini terlihat mulai tenang dan mampu mengontrol diri.
"Iya, saya tahu. Sekarang … Bapak emang gak boleh ngerokok di sini."
"Maksudnya, saya bukan perokok, Pak."
Pengunjung tadi sontak melongo. Selorohnya, "Loh, terus … tadi … ngapain minta rokok sama saya?"
"Tadi cuma lagi panik aja, Pak. Gak tahu kenapa, kadang saya sering bertindak bodoh kalo lagi begitu tadi."
Srek! Srek! Srek!
Dia menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal seraya mesem-mesem kecut. Jengah juga terasa kini. "Lagian … rokok itu gak baik buat kesehatan, Pak. Terutama buat kesehatan badan maupun perekonomian."
"Hhmmm, saya tahu."
"Ah, maaf. Lupain aja," ujarnya, kemudian mendesah galau. "Kok, saya jadi ngelantur 'gini, ya?"
Sosok pengunjung itu tersenyum-senyum dikulum. "Tenang aja, Pak. Hal-hal seperti ini emang biasa terjadi sama pasangan muda."
__ADS_1
"Hhmmm … maksudnya?" Dia mengernyit.
"Mungkin istri Bapak gak boleh kecapekan."
"Istri?"
"Siapa tahu lagi mabok."
"Istri saya gak pernah minum alkohol."
"Bukan … bukan itu maksudnya. He-he. Dia lagi hamil muda, Pak. Kemungkinan aja, sih."
"Hamil? Ah, perasaan … Sarah gak pernah ngomong kalo dia lagi hamil," gumam lelaki itu tanpa sadar seraya berpikir keras.
"Oohhh … namanya Sarah?"
"Bapak kenal istri saya?"
"Enggak. Cuman sempet lihat aja tadi sewaktu dibawa ke ruang IGD."
"Dia?" tanyanya sambil menunjuk ruangan yang dimaksud.
"Lah, iya. Yang tadi itu … istri Bapak, 'kan?"
Plak!
"Dia bukan istri saya, Pak."
"Loh, bukan ya? Terus siapa?"
"D-dia … d-dia …."
Tukas sosok pengunjung itu kemudian, "Sudahlah. Gak apa-apa, Pak. Santai aja. Saya paham, kok. Dalam berumah tangga, sebagai lelaki, kadang kita gak pernah cukup dengan satu perempuan. Maksud saya … istri. Ya, istri. Perlu ada sedikit partai tambahan, biar kehidupan ini lebih berwarna. He-he. Iya, 'kan?"
Kening lelaki itu tambah berkerut bingung.
"B-bukan begitu. M-maksud s-saya … ah, lupain saja. Rasanya obrolan ini gak begitu penting. Maaf. Saya permisi mau ngadem dulu di depan ya, Pak?"
"Silakan. He-he."
Sosok laki-laki itu bergegas keluar ruangan. Bermaksud memarkirkan kendaraan di tempat semestinya, agar tidak mengganggu jika nanti ada ambulans datang. Sebentar-sebentar memerhatikan jam tangan, kemudian berdecak. Lantas tidak berapa lama, kembali ke dalam ruangan tunggu IGD.
'Ah, kenapa Sarah gak nelpon aku, sih? Minimal ngirim pesan, 'gitu. Nanyain aku lagi ada di mana kek, pulang jam berapa kek, atau lembur kerja lagi atau apalah. Ini malah cuek banget,' batinnya risau. 'Apa dia masih marah sama aku, ya? Hadeuh, rumah tangga macam apa yang sedang aku jalani ini? Dikit-dikit ribut … dikit-dikit ribut. Kapan harmonisnya?'
__ADS_1
Dia segera merogoh saku celana. Mengeluarkan ponselnya, lantas membuka aplikasi percakapan instan. Memilih sebuah nama yang sudah begitu dikenal, terus mengetik beberapa kata, membaca kembali sejenak, kemudian menghapus lagi hingga tidak tersisa.
'Ah, apa mungkin kalo kukirim pesan ini dia akan membalas? Paling-paling cuma di-read doangan.'
Srek! Srek! Srek!
Dia menggaruk kepala.
'Ditelpon … ah, entar kayak yang udah-udah. Gak mau ngangkat. Hhmmm, jangan-jangan … nomorku malah dia blokir? Wah, keterlaluan! Tapi … sebentar aku coba. Centang dua atau tunggal, ya?'
Dia mengetik satu hurup 'P' di layar, berpikir sejenak sebelum menekan tombol KIRIM, kemudian lagi-lagi menghapusnya kembali.
'Hhmmm, tapi … apa untungnya kalo aku yang pertama ngehubungi dia? Entar besar kepala lagi dia.'
Otaknya berputar-putar antara mengiakan dan menidakkan.
Kemudian mengetik ulang hurup tunggal 'P' di layar untuk memastikan kalau posisi nomor yang hendak dihubungi tersebut dalam keadaan hidup. Timbul lagi rasa ragu.
"Aaahhhh!" Dia mendesah kesal, sampai-sampai sosok lelaki pengunjung yang tadi dipintai rokok, menoleh sekilas.
'Nama orang itu pasti berinisial 'R', deh. Berani main dengan perempuan lain di belakang istrinya sendiri. Bener-bener meresahkan, para pemilik nama berawalan 'R' itu. Untung nama anak lanangku berinisial 'S', yaitu … Sambiloto!'
Sesaat pandangan mereka beradu. Lantas saling melempar senyum basa-basi disertai anggukan kepala, dan lekas mengalihkannya ke arah lain.
'Dia ….' gumam lelaki berusia sekitar 27 tahun tersebut begitu memandang pintu ruangan IGD. 'Kalo aku tinggal sekarang, 'gimana dengan kondisi perempuan tadi itu? Aku yang membawanya ke sini dan sudah tentu aku juga yang harus bertanggung jawab.'
Niat semula hendak mengirim pesan kode 'P' pada nomor istrinya, tiba-tiba dia batalkan. Berbarengan dengan munculnya seorang petugas klinik dari dalam ruangan IGD, celingukan mencari-cari seseorang.
"Maaf …." ujar petugas tersebut begitu mendapati sosok yang dicari. " … Dengan Bapak …."
"Saya Ravi, Pak," jawab lelaki tadi memperkenalkan diri. Langsung disambut raut kejut seseorang yang sedang terduduk di deretan kursi tunggu.
'Yes! Tebakanku benar! Orang itu mempunyai inisial 'R' juga,' ujar sosok satu itu dengan bias senyuman masam. 'Kupikir namanya Raj Singh. Laki-laki yang berpotensi mengidap penyakit 'Raja Singa' karena sering berganti-ganti colokan USB port! Sialan!'
Kata petugas klinik itu kembali, "Bapak yang tadi bawa istrinya pingsan, ya?"
Jawab laki-laki bernama panggilan Ravi itu dengan cepat, "Betul, tapi dia bukan istri saya, Pak." Matanya melirik sesaat pada sosok pengunjung tadi dan direspons yang bersangkutan dengan menggerakkan kedua lengan terbuka. Maknanya kurang lebih berbunyi; 'Itu urusan Anda, saya tidak mau ikut campur'.
"Oohhh, begitu?" timpal petugas medis itu terheran-heran. "Tapi bener Bapak Ravi ini 'kan yang membawanya ke sini?"
"Ya, bener. Kenapa, Pak? Ada apa?" tanya Ravi mulai berdetak kencang jantungnya.
...BERSAMBUNG...
__ADS_1