
...CINTA JOHANNA...
...Oleh : David Khanz...
...Bagian 54...
...—------- o0o —-------...
"Ya, Tuhan …." desah Johanna. "Mama ngira Hanna ini hamil, gara-gara muntah tadi?"
Buru-buru Mama Lilian meraih kembali jemari anaknya. Dia sampai menciuminya beberapa kali. "Maafin Mama, Nak. Mama cuman … Mama cuman … ngerasa khawatir … itu yang terjadi sama kamu saat ini, Nak. M-maafin Mama."
Johanna balas memeluk ibunya dengan erat. Lantas menjawab, "Demi Tuhan, Ma. Hanna gak pernah ngelakuin hal yang Tuhan larang itu."
"Beneran, Nak?"
"Iya, Ma. Demi Tuhan. Hanna masih kayak Hanna yang Mama kenal dari kecil. Hanna masih bisa ngejaga kesucian Hanna."
"Puji Tuhan … syukurlah. Mama lega sekali dengernya, Sayang," ujar Mama Lilian di antara dekapan erat anak perempuannya. "Mama sempet khawatir waktu denger kamu muntah-muntah tadi. Makanya Mama pikir …."
"Karena alasan itu makanya Mama nanyain menstruasi Hanna tadi?" tanya Johanna usai melepaskan pelukannya. Mama Lilian mengangguk. "Ya, ampun … Mama! Kok, bisa sejauh itu sih, mikirnya?"
"Habisnya … Mama perhatiin kamu akhir-akhir ini, sering ngerem di kamar, jarang mau makan bareng, dan tadi … denger kamu muntah, Mama langsung panik," tutur wanita tua tersebut diiringi raut sendu. "Sebenernya kamu ini kenapa sih, Nak? Masih ada yang kamu sembunyiin dari Mama?"
Johanna menggeleng disertai senyuman. Dia sadar, kali itu dia kembali membohongi ibunya. Terutama pada onggokan kain putih yang berada di bawah tumpukan bantal itu.
"Terus kenapa makannya gak diabisin?" tanya Mamalian sembari menunjuk sisa nasi di dalam piring di atas meja. "Kamu udah gak suka masakan Mama?"
"Oh, enggak. Bukan begitu, Ma," jawab Johanna buru-buru. "Hanna cuman lagi ngurangin bahan lemak-lemakkan. Hanna diet. Ya, itu … diet."
Sebenarnya masih ada bahan pertanyaan lain yang ingin diajukan oleh Mama Lilian, tapi untuk saat itu dia rasa sudah cukup. Itu saja terlebih dahulu. Yang terpenting, apa yang dikhawatirkan semula, tidak nyata terjadi.
Namun jauh dari perkiraan Johanna sendiri, ternyata Mama Lilian sedang berpikir tentang hal lain. Tentu saja sesuatu yang berhubungan dengan obrolan tadi dengan anaknya.
Beberapa hari setelah perbincangan di waktu petang tersebut, diam-diam Mama Lilian sering mengawasi aktivitas Johanna sewaktu berada di luar. Terutama saat kuliah. Dari hasil pengamatannya itulah, wanita tua itu mengetahui bahwa sosok lelaki yang dekat dengan Johanna itu adalah Reychan.
'Anak muda itu muslim?' Bertanya-tanya dia begitu –suatu hari– mendapati Reychan memasuki sebuah Mesjid. 'Apa Hanna gak salah pilih? Kenapa harus laki-laki seperti itu yang bikin anakku jatuh hati?'
__ADS_1
Disamping rasa kekhawatiran akan terpengaruh oleh Reychan, Mama Lilian pun masih sempat berpikir lain. 'Siapa tahu saja, justru Johanna-lah yang akan bisa mempengaruhi laki-laki itu, sampai dia mau mengikuti keyakinan kami,' ucapnya sepenuh harap. Namun ketika dikaitkan dengan perilaku Johanna akhir-akhir ini, rasanya justru kontradiktif. 'Hanna sudah gak mau makan masakan yang mengandung daging babi. Sesuatu yang aku tahu, itu memang sangat dilarang oleh penganut agama Islam. Apakah itu berarti ….'
Mama Lilian terdiam. Membeku sejenak. Lantas memejamkan mata diiringi gerakan khas yang sesuai dengan kebiasaan yang dia yakini. Menyentuhkan ujung jari telunjuk pada empat titik; kening, dada kanan-kiri dan tengah. 'Tuhan Yesus, jangan sampai apa yang hamba sangkakan ini terjadi pada Johanna. Hamba mohon, Tuhan. Tetapkanlah dia sebagai pengikut-Mu dan senantiasa menjaga keimanannya.'
"Gila!" rutuk wanita tua tersebut di tengah perjalanan pulang sambil terus berpikir. "Jangan sampai suamiku tahu apa yang Hanna lakuin itu."
Dia sangat ketakutan jika apa yang telah diketahuinya tersebut, bakal terendus oleh suaminya, Jonathan. Dikhawatirkan akan berakibat buruk atau justru lebih fatal —dari yang sekadar diperkirakan— menimpa anak perempuannya kelak. Apalagi laki-laki tua itu adalah seorang aktivis Gereja dan sangat taat terhadap ajaran agama. Ditambah ketidaksukaannya terhadap orang-orang Islam, tentu menjadi sesuatu yang sangat mengerikan apabila sampai mengetahui hal sebenarnya tentang perilaku Johanna.
Maka dari itu, sebisa mungkin Mama Lilian menutup-nutupi apa yang telah dia dapatkan perihal Johanna terhadap suaminya. Tidak terkecuali pada Andrew sekalipun. Termasuk kejadian di kemudian hari ….
"Ma, Andrew lihat barusan, Kak Hanna punya buku aneh," tutur Andrew suatu ketika. Mama Lilian langsung merespons dan bertanya, "Buku aneh apaan sih, Ndrew? Kamu nyelinap masuk kamar kakakmu?"
"Enggak kok, Ma!"
"Lah, terus?"
Jawab Andrew kembali, "Barusan Andrew mau pinjem spidol sama Kak Hanna. Terus disuruh sendiri. Eh, gak sengaja … Andrew ngelihat di tengah tumpukan buku-buku kuliah Kak Hanna, ada buku kecil aneh."
"Iya. Buku apa? Dari tadi kok, bilangnya buku aneh … buku aneh … terus?"
Andrew mengingat-ingat, lantas berkata, "Kalo gak salah … judulnya … TUNTUNAN SHALAT 'gitulah."
"Yaaa … aneh aja, Ma," timpal Andrew kembali. "Emang buat apaan Kak Hanna baca buku begituan? Mau belajar solat?"
"Huusss! Sembarangan kamu ini kalo ngomong!" seru ibunya buru-buru menukas. "Yaa … siapa tahu aja bahan buat ngerjain tugas kuliahnya kakakmu, Ndrew."
"Lah, hubungannya apa sama praktek sembahyang kaum berjenggot itu?"
"Huusss!" Mama Lilian mencolek bibir anaknya. "Kakakmu 'kan calon Psikolog. Bisa jadi apa yang dia pelajari itu … berkaitan sama kegiatan Sosiologi dan Antropologi, misalnya. Bisa aja, 'kan?"
"Emang ada hubungannya?" Andrew masih bingung.
"Ya, ada aja 'ngkali," jawab Mama Lilian. "Udah, ah. Jangan tanya-tanya soal begituan. Mama gak paham. Mendingan kamu juga fokus sama pelajaran di sekolah kamu. Tahun depan kamu juga bakal masuk pendidikan kuliah, loh. Siapin dari sekarang, ya?"
Andrew terlihat berpikir. "Kalo Papa sampe tahu, apa itu gak bakal—"
Tukas ibunya dengan cepat, "Makanya kamu jangan ngomong apa-apa soal kakakmu itu sama Papa! Percayain aja deh, Hanna itu cuman lagi banyak belajar. Mama yakin kok, sama kakakmu itu."
__ADS_1
"Tapinya, Ma, Andrew—"
"Udah sana! Mama lagi sibuk masak, nih! Kamu mau bantuin?"
"Dih, ogah! Masa cowok masak?" seloroh Andrew lengkap disertai cekikiknya. "Kak Hanna tuh, aturan yang disuruh."
"Lah, emang apa salahnya kalo anak laki masak? Chef restoran mahal itu juga … kebanyakan kokinya laki-laki, Nak. Papamu juga walopun begitu, paling jago masak loh, dibandingin Mama."
"Ya, enggak aja. Masak 'kan, kerjaannya istri. Bukan kewajiban suami."
"Nah, ini yang kudu dibenerin," tandas Mama Lilian. "Nih, PR buat kamu kalo entar udah punya keluarga sendiri ya, Nak." Wanita itu menghentikan aktivitasnya beberapa saat untuk menjelaskan. "Di dalam rumah tangga itu, gak ada istilah … ini kerjaan istri, itu kerjaan suami. Apapun pekerjaan yang ada di rumah adalah tugas bersama-sama. Nyuci atau masak, gak ada deh diidentikin sama pihak istri atau suami. Selagi ada kesempatan dan waktu luang, kerjainlah bersama-sama. Jangan saling ngandelin."
"Lah, itu Papa jarang-jarang turun ke dapur, Ma."
"Karena Papamu itu 'kan sibuk ama kerjaan dan aktivitasnya juga. Kalo semua Papa yang ngerjain, terus yang nyari duit buat kita makan, siapa? Yang bayar biaya pendidikan kalian berdua, siapa? Buat beli ini-itu, duitnya dari siapa? Papamu, 'kan? Makanya Mama ambil bagian kerjaan rumah yang laen. Kerjasama-lah istilahnya. Tapi walopun begitu, Papamu juga suka bantu-bantu Mama juga, kok."
Di saat keduanya tengah berdiskusi, tiba-tiba Johanna muncul.
"Ma, nanti Hanna bantuin, ya?" ujar gadis tersebut seraya melihat-lihat bahan masakan yang akan disajikan untuk menu makan hari itu.
"Kenapa gak sekarang, Kak?" tanya Andrew iseng.
"Iya, entar. Kakak mau ke air dulu, nih. Tanggung udah mau setengah empat," jawab Johanna tanpa sadar. Lantas buru-buru bergegas ke kamar kecil.
"Setengah empat sore 'gini kok, dibilang tanggung? Emang mau ngapain Kak Hanna?" tanya Andrew bergumam sendiri. Benaknya mendadak dipenuhi berbagai pertanyaan. Sampai kemudian, Johanna pun keluar kembali dari tempatnya tadi. "Kak Hanna habis ngapain?"
"Cuci muka," jawab Hanna pendek.
"Cuci muka … kok, tangan sama kakinya ikutan basah?" Andrew memerhatikan kakaknya dengan saksama. Mama Lilian sendiri hanya melirik-lirik tanpa mau ikut berkomentar.
"Emang apa anehnya?" Balik bertanya Johanna. "Banyak tanya, ah! Jadi cowok kok, cerewet banget kamu!"
Buru-buru gadis itu berlalu dari hadapan mereka. Masuk kembali ke kamar dan mengunci diri
Tidak berapa setelah itu, terdengar kumandang azan Asar dari Musala terdekat.
'Hhmmm ….' deham Andrew seraya menyipitkan mata.
__ADS_1
...BERSAMBUNG...