Cinta Johanna

Cinta Johanna
Bagian 49


__ADS_3

...CINTA JOHANNA...


...Oleh : David Khanz...


...Bagian 32...


...—------- o0o —-------...


"Kenapa? Kaget?" tanya Sarah menyebalkan. "Ya, kalo gak ngerasa, gak usah ngegas juga 'ngkali ngomongnya. Biasa-biasa ajalah. Lagian aku 'kan, cuman nanya doangan."


"Nanya sih nanya, tapi kamu ngomongnya jangan begitu, dong," timpal Ravi kesal. "Seolah-olah aku ini laki-laki apaan, 'gitu."


"Ambekan amat sih, jadi laki. Gak pantes, tahu. Kalo aku sih, perempuan, ya … wajarlah," ujar Sarah seraya bergegas meninggalkan ruangan tersebut.


"Hadeuh!"


Plak!


Untuk kali kedua, laki-laki tersebut menepuk kening sendiri. Lalu mengikuti langkah istrinya ke kamar dan melakukan apa yang mereka rencanakan semula.


Perempuan aneh, pikir Ravi kemudian. Di saat-saat dalam suasana keruh seperti itu pun, dia masih bisa menginginkan dan menikmati pemenuhan hasrat biologisnya. Seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa. Hal itu yang kerap dipertanyakan laki-laki tersebut. Kok, bisa? Sementara baginya, terkadang boro-boro mau; bertemu atau tidur bersama saja rasanya enggan.


"Udah? Puas?" tanya Ravi usai menuntaskan hajat bersama-sama dengan istrinya. Jawab Sarah, "Aku mau tidur. Capek."


"Ya, udah. Tidurlah," timpal Ravi seraya menarik selimut dan memutar tubuh, membelakangi istrinya.


"Dih, tidurnya jangan ngadep ke sana dong, Rav!"


Laki-laki tersebut kembali memutar arah. Mungkin karena masih menyisakan rasa sebal, tidak sadar dia melakukan itu. "Terus?"


"Jangan egois jadi suami," gerutu Sarah. "Aku juga pengen kenyamanan, tahu! Kalo kamu tidurnya ngasih punggung begitu, kok … aku kayak 'habis manis sepah dibuang', sih?"


"Mau dipeluk?"


"Iyalah!" jawab Sarah manja seraya menyandarkan kepalanya di bahu Ravi. "Kamu pikir, perempuan cuman cukup dikasih kepuasan doangan? Ya, enggaklah. Aku juga butuh kenyamanan diri, tahu!"


"Ya, udah. Jangan ngomel terus. Berisik, ah! Udah malem, nih."


"Lagian kamu ini suka bikin kesel aja, sih."


'Loh, bukannya yang sering bikin jengkel itu kamu, Sar?' tanya Ravi di dalam hati. Tidak berani mengungkapkannya secara langsung, karena akan berakibat fatal dan bertambah panjang perdebatan itu. Maka satu-satunya jalan untuk sementara waktu adalah dengan cara diam. Hening. Sunyi. Sampai-sampai beberapa saat berlalu ….


Kkkrrr! Kkkrrr! Kkkrrr!


Giliran Ravi kini yang sulit untuk memejamkan mata. Suara dengkur sosok di sampinya cukup mengganggu.


'Hadeuuhhh! Alamat begadang nih, sampe pagi ….'


Plak!


"Eh, Sarah? Apaan, sih?" Ravi terkejut mendapat tepukan cukup keras di lengannya.


"Disuruh mandi malah bengong terus! Mikirin apaan, sih?" tanya Sarah cemberut.


"Sebentar, Sar. Ini nyawaku belum kumpul semua," jawab Ravi dengan detak jantung masih berdegup kencang. "Lagian kamu ini … eh, kamu kok langsung mau sholat? Gak wudhu lagi, apa?"


Dilihatnya Sarah bersiap-siap hendak menunaikan ibadah salat sunat Tahajud.


"Aku 'kan, belum batal. Ngapain wudhu lagi?" jawab istrinya terheran-heran.

__ADS_1


"Barusan kamu nepuk tanganku."


"Lah, terus?"


"Kulit kita bersentuhan, Sar. Emang kamu gak ngerasa?"


"Tahu, kok," jawab Sarah kembali. "Terus, kenapa?"


"Lah, kok malah nanya kenapa? Ya, batal wudhu kamu itu, Sar!"


"Aturan dari mana?" timpal perempuan tersebut. "Kita 'kan, udah jadi suami-istri. Udah jadi muhrim."


"Mahrom. Bukan muhrim."


"Apa bedanya? Dih!"


"Ya, beda-lah, Sar," jawab Ravi mulai mencium aroma bakal terjadi perpanjangan obrolan. "Muhrim itu … orang yang lagi ngelaksanain ibadah haji dan memakai pakaian ihrom. Kalo mahrom itu … adalah golongan orang-orang yang haram atau gak boleh dinikahin. Misal, ibu kandung, nenek, saudara sekandung atau sesusuan, bibi, dan lain-lain."


"Aku tahu!"


"Kalo tahu ngapain nanya!"


"Maksudnya golongan yang gak boleh dinikahi kata kamu barusan."


"Terus kamu mahrom aku bukan?"


Sejenak Sarah berpikir, kemudian menjawab, "Ya, mahrom dong."


Timpal Ravi, "Bukanlah. Kamu itu bukan mahrom aku, makanya boleh dinikahin. Status kita itu jadi halal. Bukan mahrom."


"Lah, terus hubungannya sama batal wudhu, apaan? Bukannya kita udah jadi pasangan halal?"


"Lah, 'kan ada haditsnya. Sewaktu—"


"Iya, tahu. Waktu Rasulullah mau pergi ke Mesjid, beliau mencium kening Siti Aisyah, istri beliau. Itu salah satu hadits rujukan yang dipake buat hukum fiqih. Selain Imam Syafe'i, madzhab lainnya emang menghukumi bahwa persentuhan kulit antara suami-istri itu enggak ngebatalin wudhu, asalkan enggak disertai nafsu. Terus, kamu selama ini ngambil rujukan madzhab siapa?"


"Imam Syafe'i-lah."


"Terus kenapa ngambil aturan dari madzhab lain?"


Jawab Sarah penuh keyakinan, "Begini, Rav … dengerin, ya." Dia mendekati suaminya, "kata Murabbi-ku, kita itu gak boleh fanatik pada satu madzhab. Sepanjang masih berdasarkan pada hukum Islam, yaitu Al Qur'an dan Al Hadits, kita juga boleh kok ngambil rujukan sama Imam-Imam lain selain Imam Syafe'i."


"Wah, aturan dari mana itu?"


"Bukan aturan, tapi anjuran. Soalnya hasil pemikiran mereka (Imam-Imam tersebut) juga, 'kan ngambil penafsirannya dari Al Qur'an dan Al Hadits. Jadi kalo mau ngikut madzhab, ikuti semuanya. Jangan fanatik buta."


Ravi menggeleng-gelengkan kepala.


"Ini bukan masalah fanatik atau enggaknya, tapi kalo semua madzhab mau diikutin, entar kita-kita bakal nyari enaknya doangan. Terus yang bakal jadi pegangan, Imam yang mana?"


"Ya, terserah. Pokoknya jangan fanatik buta-lah."


"Begini ya, Sar," ungkap Ravi kian mengetahui bagaimana keilmuan istrinya tersebut. "Menurutku, yang dimaksud dengan istilah 'fanatik buta' pada madzhab tertentu itu … adalah pada saat kita menghadapi situasi urgensi."


"Misalnya?"


"Contohnya begini … kita, nih … yang muslim di Indonesia, mayoritas 'kan memegang madzhab Imam Syafe'i. Terus … batal wudhu nih, 'kan? Nah, misal … ketika lagi ihram ibadah haji sama pasangan suami-istri … suami harus ngejaga istri. Pegangan tangan … misalkan nih, ya. 'Kan, bisa ngebatalin wudhu, tuh. Pada saat darurat kayak 'gitu, gak mungkin dong, kudu bolak-balik ngambil wudhu gara-gara bersentuhan tangan tadi. Makanya, dianjurkan … khusus pada saat itu saja … boleh mengambil pendapat Imam Hanafi, sebagaimana yang kebanyakan dianut oleh penduduk Mekah sana. Menurut Imam Hanafi … bersentuhan kulit antara suami-istri itu gak ngebatalin wudhu. Asalkan gak disertai nafsu birahi."


Kening Sarah berkerut.

__ADS_1


"Cuman pada waktu itu doang, dibolehin ngambil pendapat madzhab Imam Hanafi," tandas Ravi kembali. "Nah, itulah yang dimaksud dengan istilah 'jangan fanatik buta' tadi. Tapi sepanjang belum memasuki ranah darurat, kita kudu tetep di bawah madzhab yang diikuti sebelumnya. Terserah … kamu mau ngambil pendapat Imam Hanafi, ya ikutin beliau terus. Jangan sekali-kali … hari ini milih Imam A, besok Imam B, lusa Imam C. Itu namanya gak punya pendirian, walaupun kesemua Imam-Imam tadi diakui keilmuannya oleh dunia Islam."


"Terus kalo begitu, kamu ngeraguin bunyi hadits tadi, dong?"


"Tentang Rasulullah nyium kening Siti Aisyah?"


"Iyalah. Apalagi?"


"Lah, aku gak ngeraguin, kok. Aku cuman ngikutin pendapatnya Imam Syafe'i. Dari keilmuan beliau, pastinya udah ditelaah terlebih dahulu isi dari hadits tadi."


"Lah, gak ngeraguin, tapi cuman ngikut-ngikut satu pendapat doangan. 'Gimana, sih?"


"Terus kamu sendiri selama ini apa gak cuman ngikut doangan juga? Sama aja, 'kan? Apalagi menafsirkan kalimat 'fanatik buta' itu dari sekelas guru pembimbing kelompok ngajimu."


"Kok, jadi nyalahin Murabbi-ku, sih?"


"Yang nyalahin itu siapa, Sar? Orang kamu sendiri yang tadi nuduh aku ngeraguin bunyi hadits."


"Ah, susah emang ngomong sama kamu."


"Ya, aku juga 'kan punya hak buat ngejawab. Itu pun sebatas pengetahuanku saja."


"Pinter ngeles kamu."


Timpal Ravi kembali, "Bukan bermaksud ngeles. Tapi … menurutku, sewaktu Rasulullah mencium kening Siti Aisyah, apakah yang dicium itu langsung mengenai kulit istrinya atau terhalang kain hijabnya. Sepengetahuan kita, 'kan istri-istri Rasulullah itu pasti berhijab semua. Iya, 'kan? Bener gak?"


"Au, ah!"


"Gak mungkin dong, model hijabnya istri-istri Rasulullah itu kayak jilbab anak-anak sekolah zaman sekarang," pungkas Ravi merasa di atas angin kini. "Kepala dibalut kain jilbab, tapi poninya ditonjolkan atau rambut sekitar dahi masih kelihatan. Nah, masih menurutku … pastilah hijabnya Siti Aisyah itu selalu syar'i. Terjulur sampe nyaris menutupi alis. I-ini cuman sebatas pemikiranku, ya? Bukan bermaksud ngelakuin pembenaran."


"Au, ah!"


"Ngomong-ngomong … wudhu kamu tadi, ngambil pendapat Imam yang mana nih, Sar?"


"Madzhab Imam Syafe'i-lah. Kenapa, sih?"


"Terus … kenapa pembatalannya justru ngambil dari madzhab Imam Hanafi?"


"Emang masalah buat kamu?"


"Iyalah, sangat bermasalah."


"Kok?"


Sambil tersenyum, Ravi menjawab, "Karena laki-laki yang kamu sentuh tadi, punya nafsu birahi, Sar. Aku masih menginginkan yang semalem sebelum aku mandi besar."


"Kamu …."


"Masih mau nerusin sholat atau berwudhu lagi?"


"Dih, kamu … eh, astaghfirullahal'adziim! Bau apa ini?"


Mereka berdua mengendus-endus sejenak.


"Air gosong!"


"Astaghfirullah!"


...BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2