Cinta Johanna

Cinta Johanna
Bagian 12


__ADS_3

...CINTA JOHANNA...


...Penulis : David Khanz...


...Bagian 12...


...------- o0o -------...


Hanna tidak habis pikir, sosok itu baru saja dia kenal, tapi kebaikannya tidak bisa dipandang sebelah mata. Bagaimana mungkin pertolongan itu datang begitu saja dan bertubi-tubi. Sudah tentu jika bukan karena adanya campur tangan Allah, semua tidak akan pernah terwujud.


Begitulah ujung cerita Johanna alias Hanna hingga bisa tiba di rumah Tante Chika sepagi tadi. Namun sejak pertama kali menyambut, tersirat ada sesuatu yang aneh pada raut wajah adik kandung dari Jonathan tersebut. Semula Hanna hanya bisa menduga-duga, mungkinkah papanya sudah terlebih dahulu mengabarkan tentang dia semalam?


Ciiittt!


Sesaat Hanna terpana mendengar bunyi jerit panjang menggerus jejalanan beraspal. Disusul suara teriakan orang-orang mengingatkan hampir secara bersamaan. "Awaasss!"


Tiiittt!


"Hei!"


Hanna menoleh ke arah asal seruan terakhir barusan terdengar. Bersumber dari dalam sebuah kendaraan yang berjarak hampir merapat dan nyaris saja menabraknya. Tidak begitu jelas terlihat, tersembunyi di balik pantulan sinar mentari di bagian kaca depan.


'Tidak!' pikir Hanna beberapa saat. 'Ini tidak boleh terjadi. Sosok samar di belakang kemudi di dalam sana itu, pasti orang-orang suruhan Papa. Aku harus kembali melanjutkan pelarian ini.'


Ke arah mana? Entahlah. Tidak ada tujuan tepat. Namun bisik hati Hanna memberi petunjuk agar balik lagi memasuki gang-gang sempit dan tidak akan mampu dikejar-kejar oleh orang tersebut menggunakan kendaraan apapun.


"Hanna! Hanna!"


Seseorang memanggil-manggil. Namun gadis tersebut tidak ingin memedulikan. Sekali saja berhenti, sudah pasti kejadian selanjutnya akan berkata lain.


"Hanna …."


Suara panggilan itu masih saja terngiang-ngiang dengan jelas. Padahal sudah sekian bulan berlalu. Sampai kemudian, seseorang menepuk kejut pundak gadis tersebut.


"Neng Hanna?"


"Eeummmhhh?"


"Hei, anak gadis kok ngelamun?" seloroh sesosok wanita, berdiri di belakang Hanna, diiringi raut wajah teduh dan ulasan senyum ramah.

__ADS_1


Hanna menoleh kaget. Sejenak kemudian, langsung mengenali sosok tersebut. "Eh, Bu Tejo," timpalnya sembari membalas senyuman wanita itu tadi. "Duh, sampe kaget saya, Bu."


"He-he." Bu Tejo mengekeh geli. "Hari ini Neng Hanna masuk kuliah, 'kan?" tanya wanita bertubuh subur itu seraya ikut duduk-duduk di teras depan kamar kontrakan Hanna. Jawab yang ditanya, "Sebentar lagi, Bu. Masih ada waktu, kok, sambil nungguin jemuran kering."


"Ih, ngapain ditungguin?" imbuh Bu Tejo kembali. Kali ini sambil menepuk lengan putih Hanna. "Kalo mau berangkat mah, ya berangkat saja, Neng. Biar nanti si Ilham yang bantu ngangkatin."


"Terima kasih, Bu," ucap gadis tersebut tersipu. "Gak usah repot-repotlah, Bu. Biar saya tungguin aja sebentar. Lagian jam masuk kuliahnya juga nanti abis Zuhuran."


"Oohhh," sahut Bu Tejo dengan bibir membulat. "Hari ini emang panas banget ya, Neng? Halodo kalo kata orang Sunda mah."


"Halodo itu apa, Bu?"


"Kemarau, Neng. Usum panas."


"Nah, itu … usum apa pula?"


Bu Tejo mengakak keras, lantas menjawab penuh gurau, "Usum itu musim, Neng."


"Oohhh." Kini giliran Hanna yang membulatkan bibir. "Ada-ada aja Ibu ini. Tapi … eh, Bu Tejo ini orang Sunda atau Jawa sih sebenernya?"


"Setengah Sunda, setengah Jawa, Neng," jawab kembali ibunya Ilham itu. "Bapak saya Jawa, ibu dari Sunda. Lahir di Kuningan, gede di Cirebon. Sekarang mumara malah di Jakarta. Makanya kalo ngomong begini, suka kecampur sama logat Betawi. Hi-hi."


Bicara tentang orangtua, mendadak gadis itu teringat pada mama dan papanya. Sudah beberapa bulan berlalu tidak pernah lagi bersua dengan mereka. Rasa rindu itu pun seketika menyeruak pilu. Walaupun Jonathan masih enggan menemuinya, tapi sebagai anak, Hanna yakin sekali bahwa di balik kemarahan dia, tersimpan keinginan untuk bisa kembali berkumpul.


Papanya Hanna tersebut memang memiliki peringai keras dan tegas. Namun semurka-murkanya seorang bapak terhadap anak, tetap senantiasa terselip rasa sayang yang begitu besar. Tidak terkecuali untuk Feng Lian alias Liliana, sang ibu. Tentulah sosok terakhir tersebut yang paling besar.


"Neng Hanna?" Bu Tejo menatap sosok gadis di sampingnya. "Eneng kok malah ngelamun?"


Buru-buru Hanna bereaksi. Dia menoleh dan tersenyum lirih. "Gak, Bu. Saya cuman keingetan orangtua," timpalnya dengan raut terlihat murung.


"Oohhh …." Wanita bertubuh tambun itu manggut-manggut. "Maafin saya ya, Neng. Mungkin karena saya–"


"Ah, enggak kok, Bu."


Mendadak suasana berubah hening untuk beberapa saat. Hingga kemudian, Bu Tejo kembali membuka suara. Tanyanya, "Tadi pagi … Nak Ravi datang lagi ya, Neng?"


Hanna tersenyum hambar.


"Iya, Bu," jawab gadis tersebut singkat.

__ADS_1


"Oohhh," timpal Bu Tejo. "Tadi pagi Ilham cerita sama saya."


"Ooohhh, masa sih?"


"Iya, Neng," balas ibunya Ilham kembali. "Sebenernya … Nak Ravi itu temen Eneng atau pac–"


Kalimat Bu Tejo terputus begitu ada seseorang datang memanggil-manggil.


"Buuu … beli!"


Spontan wanita itu beranjak dari tempat duduknya. "Sebentar ya, Neng. Ada yang ke warung dulu," ucapnya terburu-buru.


Hanna pikir inilah saatnya untuk bisa segera menjauh, untuk menghindari diri, dari sosok tetangganya yang suka kepo tersebut. Cepat-cepat dia pun ikut bangkit dan bergegas masuk ke dalam kamar.


"Fiiuuhhh …." Hanna membanting napas usai menutup pintu.


Paling enggan –memang– membahas perihal Ravi dengan Bu Tejo, begitu yang dipikir Hanna, karena wanita bertubuh gemuk dan pendek itu sering bertanya-tanya. Baik perihal pribadi maupun ….


"Neng Hanna!" Terdengar Bu Tejo memanggil dari luar. Sahut Hanna beralasan begitu nongol kembali di ambang pintu kamar, "Saya mau siap-siap berangkat kuliah, Bu. Maaf, ya."


"Oohhh, ya sudah," pungkas Bu Tejo langsung pamit undur. "Saya juga mau balik lagi jagain warung deh, ya."


"Iya, Bu "


Hanna menarik napas lega. Rasanya berdosa sekali telah membohongi wanita tersebut. Walaupun begitu, sejujurnya Bu Tejo itu baik. Dia sering mengirim makanan, memberi pekerjaan, dan terkadang sering datang melongok hanya untuk memastikan kondisi Hanna. Itu terjadi usai dulu mengetahui sedikit tentang ….


"Apa? Neng ini muslim, toh?" tanya Bu Tejo terperangah. "Gak nyangka banget saya, Neng."


"Saya mualaf, Bu," ungkap Hanna sambil membenahi kamar kontrakan yang baru saja dia tempati. Sejenak gadis tersebut melirik pada sosok Ravi yang juga tengah sibuk membantu mengeluarkan barang-barang dari dalam kendaraan.


"Oohhh, mualaf," ucap Bu Tejo seraya manggut-manggut. "Syukurlah, saya ikut seneng dengernya, Neng."


"Terima kasih, Bu," balas Hanna dengan senyum hambar menggurat di wajahnya yang putih bersih.


"Soalnya … jarang-jarang loh ada … eemmhhh, orang kayak Neng ini yang beragama Islam."


Gadis itu melirik sekejap. "Masa, sih?" tanyanya heran, tapi tidak lantas menanggapinya secara serius. "Maksud Ibu … orang kayak saya yang 'gimana, ya?" Sekadar ingin memenuhi keingintahuan.


...BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2