Cinta Johanna

Cinta Johanna
Bagian 6


__ADS_3

...CINTA JOHANNA...


...Penulis : David Khanz...


...Bagian 6...


...------- o0o -------...


Pagi ini seusai menyantap habis menu sarapan tadi, Hanna bergegas menuntaskan aktivitas hariannya seperti biasa, yakni mencucikan beberapa potong pakaian milik tetangga kontrakan sebelah. Untuk sementara hanya itu yang bisa dilakukan demi mencari dan mendapatkan uang tambahan, guna memenuhi sebagian kebutuhan hidup sehari-hari. Hasilnya memang tidak terlalu besar, akan tetapi masih lebih baik ketimbang harus terus berharap bantuan dari Ravi atau pemberian ibunya Ilham, seperti tadi.


Bersyukur sekali selama menjalani alur kehidupan yang baru ini, sosok Hanna dikelilingi oleh orang-orang baik. Mereka dengan penuh rasa sukacita mengulurkan berbagai bantuan, mulai dari makanan, pakaian, hingga keuangan. Tentu saja dari semua pihak yang terlibat, Ravi-lah yang memegang peranan tertinggi untuknya sejauh ini. Entah karena faktor kebetulan atau bukan, tapi gadis tersebut meyakini bahwa apa pun yang telah dan/atau akan terjadi, semua sudah menjadi ketetapan dari Yang Mahakuasa. Termasuk dengan kisah awal itu bermula ....


Menjelang malam waktu itu, Hanna memutuskan diri untuk pergi dari rumah, usai mendapatkan murka besar dari papa tercintanya. Setelah beberapa lama –berusaha— menyembunyikan jati diri yang baru dari keluarga, akhirnya di suatu pengujung pekan, Andrew —adik lelaki Hanna— memergoki gadis tersebut tengah melaksanakan ibadah salat Isya.


“Ma! Pa!” Terdengar suara Andrew memanggil-manggil kedua orangtuanya dari dalam kamar Hanna. “Ke sini cepat!”


Sontak jantung gadis itui berdebar keras dan mulai membayangkan apa yang akan terjadi sesaat lagi. Namun dia masih tetap berusaha mempertahankan ritualnya hingga tuntas menuju rakaat keempat nanti.


“Ada apa, Ndrew?” tanya mama dan papanya berbarengan. Langkah-langkah mereka terdengar begitu cepat, mengentak setiap pijakan pada lantai keramik di ruangan tengah.


“Lihat itu Kak Hanna, Ma-Pa!” seru Andrew keras sekali, menggema memenuhi ruang kamar.


“Astaga! Hanna?!” teriak sang Mama panik dan langsung memburu diikuti oleh suaminya. “Apa yang kamu lakuin ini, Hanna?”


“Hanna!” Suara sang Papa ikut mengentak seisi dada, tapi Hanna masih tetap fokus menjalankan ibadah salat. Saat itu hanya bisa pasrah dan menunggu apa selanjutnya yang akan terjadi kelak. “Kamu lagi salat? Sembahyang macam apa yang sedang kamu kerjain ini, Hanna?” Lelaki tua tersebut menarik kain mukena anak perempuannya dengan kasar hingga hampir saja menyebabkan gadis tersebut limbung, terjerembab jatuh.

__ADS_1


“Jangan, Pa! Tahan dulu!” seru Mama Hanna berusaha mencegah tindakan suaminya.


“Ini gak bisa dibiarkan, Ma! Ini sudah keterlaluan!”


“Aku mohon, Pa, biarkan Hanna menyelesaikannya terlebih dulu.”


“Tapi anak kita ini lagi ngelakuin cara sembahyangnya orang Is—“


“Iya, Pa, aku juga tahu,” tukas Mama Hanna dengan cepat dan masih berusaha menghalang-halangi maksud suaminya hendak menarik-narik kembali kain mukena Hanna. “Kita tunggu sampai Hanna selesai ngelakuinnya. Aku mohon, Pa. Aku mohon.”


Di tengah perdebatan kedua orangtua tersebut, Hanna tetap tidak bergeming dari serangkaian ritual sakralnya. Dengan tubuh bergetar hebat dan isak yang mulai menghiasi pelafalan bacaan salat, perlahan-lahan akhirnya dia bisa menuntaskan salat Isya.


“Ma ... Pa ....” panggil Hanna lirih penuh ketakutan seraya menoleh ke arah mama dan papanya.


“Kamu!” seru lelaki tua tadi, menatap Hanna dengan segenap kemarahan yang ada, seraya menudingkan telunjuk. “Apa yang sudah kamu lakuin, Hanna?”


Tukas Papa Hanna dengan cepat sambil mendekati anak perempuan satu-satunya tersebut, “Sejak kapan kamu beralih menjadi seperti ini, hah?!”


“Sabar, Pa. Kita bisa bicarakan dengan baik-baik, ‘kan?” timpal Mama Hanna ikut menengahi. Sementara Andrew hanya memerhatikan dari ambang pintu kamar dengan sorot mata diliputi rasa kejut. Seakan masih belum bisa memercayai terhadap apa yang baru saja dia saksikan tersebut.


Mata tua lelaki itu malah balas mendelik, memelototi istrinya penuh kemarahan. Bentaknya kemudian, “Apa lagi yang harus dibicarakan dengan cara baik-baik, Ma? Lihat kelakuan anak perempuan kita itu! Dia sudah berani melawan kita dan juga mengkhianati Tuhan kita! Itu yang kamu maksud baik itu, hah?”


“Iya, sabar dulu, Pa,” ujar istrinya masih berusaha menenangkan. “Kita tanyain dulu Hanna-nya. Siapa tahu apa dia lakuin itu, enggak sesuai sama apa yang kita pikirin.” Dia mengelus-elus lengan suaminya dengan lembut. “Bukankah Tuhan kita juga mengajarkan untuk berbelas kasih terhadap sesama? Apalagi ini ... sama anak sendiri. Masih ingat ‘kan, surat Matius ayat 5:7 yang dibahas Bapak Pendeta minggu kemaren, Pa?”


Lelaki itu menarik napas panjang, lantas perlahan-lahan belalak kedua matanya pun meredup sayu. “Terus apa yang akan Mama lakuin sekarang sama dia? Jelas-jelas anak kita itu sudah menyimpang dari ajaran agama Tuhan kita. Tuhan Yesus! Lihat ... apa yang dia lakuin tadi! Itu cara sembahyang orang-orang Islam, ‘kan?”

__ADS_1


Mama Hanna menoleh ke arah dimana anak perempuannya duduk bersimpuh di atas sajadah, masih mengenakan setelan mukena berwarna serba putih. “Biar aku yang bicara sama dia, Pa,” kata wanita tua tersebut pelan dan bernada lirih. “Papa dan juga ... kamu, Ndrew,” imbuhnya kembali pada anak kedua, Andrew, yang berdiri mematung di ambang pintu kamar, “tunggu saja di ruang tengah, ya.”


Mata laki-laki tua itu kembali mendelik garang ke arah Hanna. Usai mendengkus keras, dia berbalik badan ke luar kamar, diikuti oleh Andrew. “Haleluya ... semoga Tuhan Yesus mengampuni kami,” gumamnya terdengar sedih.


Sepeninggal suami dan anak lelaki keduanya, wanita tua tersebut menutup daun pintu kamar perlahan-lahan. Kemudian mendekati sosok Hanna yang masih juga duduk bersimpuh di atas sajadah. Terdengar isak kecil dari gadis tersebut begitu dihampiri.


“Johanna ....” panggil Mama Hanna lembut. Dia menyentuh pundak anak perempuannya, lanjut mengelus-elus perlahan. “Beneran kamu sudah—“


“Maaa ....” Tiba-tiba Hanna berbalik dan memeluk mamanya sambil menangis tersedu-sedu. “Maafin Hanna, Ma.”


Wanita tua itu balas mendekap erat tubuh anak gadisnya penuh kasih sayang, lantas berucap lembut, “Tenangkan dulu dirimu, Nak.” Dia mengusap-usap kepala Hanna yang terbungkus mukena. “Bicaralah dengan jujur sama Mama sekarang. Benarkah kamu sudah berganti keyakinan, Nak?”


Hanna tidak lantas menjawab hingga isak tangisnya mulai mereda. Dengan penuh kesabaran, ditunggui oleh sang Mama tanpa disertai paksaan sedikit pun untuk segera berungkap.


Ujar gadis tersebut beberapa saat kemudian, “Ma ....”


“Hhmmm?”


“H-hanna ... H-hanna ....”


“Bicaralah, Nak.”


“Hiks ....” Hanna terisak kembali. “H-hanna ... berbuat salah ya, Ma?”


“Salah? Menurutmu?” tanya wanita tua itu memancing. Jujur saja, jauh di lubuk hatinya, dia pun merasakan kekecewaan yang begitu besar terhadap Hanna. Apa yang dilihat sebelumnya tadi, sudah mencukupi keyakinan diri bahwa anak perempuan tersebut memang sudah berubah. Namun sebagai sosok seorang ibu, jiwa kasih sayangnya melebihi apa pun.

__ADS_1


...BERSAMBUNG...


__ADS_2