
...CINTA JOHANNA...
...Penulis : David Khanz...
...Bagian 74...
...------- o0o -------...
Sementara itu Johanna yang baru tiba di rumah, langsung disambut oleh Andrew adiknya. Anak lelaki itu mesem-mesem begitu melihat kakak satu-satunya tersebut masuk menguak pintu secara perlahan-lahan.
"Dari mana, Kak? Abis pacaran, ya?" tanya Andrew usil.
Johanna tidak menjawab. Gadis itu hanya melirik sesaat, melihat adik laki-lakinya tersebut sedang asyik menonton televisi.
Mendengar suara Andrew baru saja, tiba-tiba muncul Tante Chika dari arah dapur. Wanita tua itu langsung menatap keponakan perempuannya yang belum sempat masuk ke dalam kamar.
"Dari mana saja, Han? Jam segini kok, baru pulang?" tanya Tante Chika pedas.
Baru saja Johanna hendak menjawab, Andrew keburu menyela. "Biasa, Tante. Abis ketemuanlah sama cowoknya. Iya 'kan, Kak?" tanya anak laki-laki tersebut seraya mengekeh ditahan.
"Andrew, apaan sih kamu ini? Ngomong kok, gak pake dipikir dulu," seru Johanna kesal.
Adiknya itu malah tambah mengakak, geli, melihat ekspresi wajah kakaknya tergambar raut risau akan pertanyaan dari Tante Chika tadi.
"Bener kamu abis ketemuan sama laki-laki yang namanya ... Ravi ... o, iya ... namanya Ravi, 'kan?" imbuh kembali Tante Chika bertanya. "Kok, gak bilang-bilang dulu sama Mamamu sih, Han? Dari tadi Lilian nanyain kamu terus, loh!"
Johanna menunduk lesu. Kemudian menimpali ucapan tantenya tersebut. "Iya, Tante. Maaf, Hanna lupa," katanya pelan.
"Lupa atau emang sengaja?" cecar Tante Chika dengan raut wajah dingin. "Minimal, kamu itu kalo mau kemana-mana, bilang dulu kek. Minta izin sama orangtua. Di agama kamu yang sekarang itu emang gak diajarin sopan santun? Ya, pastinya enggaklah. Orang agama gak jelas 'gitu."
"Tante ....," ujar Johanna menimpali. "Keburukan atau kekurangan yang Hanna lakuin, tolong jangan disangkutpautin sama agama dong, Tante. Hanna juga belum mampu sepenuhnya jadi muslimah yang baik dan taat. Hanna masih harus banyak belajar."
Balas kembali Tante Chika sengit, "Lagian buat apa sih, kamu belajar agama baru, Hanna? 'Kan, udah jelas, kamu itu sejak kecil sudah banyak belajar di sekolah Minggu. Apa itu gak cukup buat nguatin keimanan kamu sama agama yang lama?" Wanita itu mendengkus gusar. "Gak kasihan apa sama Papa kamu yang sudah meninggal, dia mimpiin kamu kelak jadi pelayan Tuhan, Hanna. Bukan malah justru jadi mengingkari Tuhan kita."
Johanna menarik napas dalam-dalam. Dia belum ingin berdebat dengan Tante Chika. Ini bukan waktu yang tepat, pikir gadis tersebut.
"Maaf, Tante. Hanna mau nemuin Mama dulu," kata Johanna seraya mengayunkan langkah hendak meninggalkan sosok Tante Chika dan Andrew.
"Heh, jawab dulu kata-kata Tante barusan, Hanna," seru Tante Chika seraya mencekal lengan keponakan perempuannya tersebut. "Gak sopan banget sih kamu, diajak ngobrol sama orang tua kok, malah ngeloyor begini."
"Lepasin, Tante. Hanna mau ngelihat kondisi Mama dulu," elak Johanna sembari menepiskan tangan Tante Chika atas lengannya. "Nanti kalo ada waktu luang, Hanna akan menjawab apa pun yang ingin Tante tanyain sama Hanna."
__ADS_1
Andrew hanya melirik-lirik ke arah kakak dan tantenya, lantas kembali menatap cuek ke arah layar televisi.
"Nanti? Nanti kapan? Kamu selalu saja mencari-cari alasan buat ngehindar dari Tante. Mau sampai kapan, hah?" tanya wanita tua itu terdengar geram. "Emang kamu gak bakalan bisa ngejawab semua pertanyaan Tante tentang agama barumu itu, 'kan? Kamu gak berani debat sama Tante. Betul begitu, ya?"
Johanna balik menatap tajam mata Tante Chika. Dadanya sampai kembang-kempis menahan gejolak amarah yang dia tahan sejak awal percakapan tadi.
"Agama itu bukan buat bahan perdebatan, Tante, tapi untuk diamalkan atau dilaksanakan oleh tiap-tiap umatnya," ujar Johanna tegas. "Kalo Tante ingin bertanya tentang Islam, Insyaa Allah ... Hanna akan berusaha menjawab sesuai dengan kadar keilmuan yang Hanna miliki saat ini. Tapi kalo Tante bermaksud membanding-bandingkan antara satu agama dengan agama yang lain, apalagi dengan maksud mencari pembenaran sendiri ... itu gak akan pernah bisa, Tante. Maaf, karena dasar atau sumber yang diambil masing-masing pihak pun berbeda. Gak bakal nemuin titik temunya."
Tante Chika tersenyum kecut. Lantas menimpali, "Berarti sumber kamu yang baru itu gak bisa ngalahin sumber agama kamu yang sebelumnya, ya? Hi-hi-hi. Ya, iyalah ... orang kitab sucimu itu---"
"Cukup, Tante. Hanna gak ingin memperpanjang perdebatan ini," tukas Johanna seraya buru-buru melanjutkan langkahnya menuju kamar ibunya, Mama Lilian.
"Hanna!" panggil Tante Chika sebelum keponakannya tersebut benar-benar memasuki kamar mantan istri dari kakaknya, almarhum Jonathan. Johanna menoleh. "Kalo kamu lapar, Tante sudah bantu nyiapin tuh, di meja makan."
Gadis bermata sipit itu tersenyum. "Terima kasih, Tante," ujarnya.
Johanna tahu, Tante Chika bersikap kritis seperti tadi bukanlah karena didasari oleh kebencian terhadapnya. Jauh di lubuk hati wanita tersebut, tersimpan rasa cinta dan sayang sebagaimana terhadap anak sendiri.
Itulah makanya Johanna tidak ingin terlalu ambil pusing jika sudah berdebat hebat dengan tantenya tersebut. Seperti tadi maupun sebelum-sebelumnya.
Lilian menyambut kemunculan putrinya dengan senyuman dan pelukan hangat di atas tempat tidur.
"Mama ngekhawatirin kamu, Hanna," ucap wanita itu lembut. "Dari mana saja? Kok, gak ngabarin Mama kalo kamu pulangnya bakal telat begini, Sayang?"
"Sendiri?" tanya ibunya.
Johanna tahu, itu hanya sekadar pertanyaan basa-basi. Karena Lilian pastinya sudah tahu bersama siapa anaknya tersebut pergi.
"Enggak, Ma," jawab Johanna kembali seraya menggeleng. "Ditemeni sama Mas Ravi," ungkap gadis itu jujur.
"Oohhh," balas Lilian singkat.
"Tapi ... tadi Hanna dan Ravi juga sempet mampir-mampir dulu buat makan-makan," imbuh Johanna malu-malu. "Gak apa-apa 'kan, Ma?"
Lilian tersenyum, lantas menjawab, "Tentu saja gak apa-apa dong, Sayang."
"Serius?" tanya Johanna ingin memastikan.
Wanita tua tersebut mengangguk dan lanjut berkata, "Mama percaya kok, sama kamu, Han. Sekarang kamu sudah dewasa dan Mama percaya kalo kamu pasti sudah bisa jaga diri."
Johanna langsung memeluk kembali ibunya.
__ADS_1
"Makasih ya, Ma," ucap gadis itu merasa senang. "Mas Ravi itu baik, kok. Dia banyak ngajarin Hanna tentang agama. Selama ini, kami hanya berteman saja kok, Ma."
"Iya, Mama sih percaya saja sama kamu, Han," balas Lilian hangat. "Sepanjang pergaulan kamu dengan siapapun dan membawa kebaikan, Mama sih gak keberatan, Sayang. Hanya saja ...."
Johanna melepaskan pelukannya, lalu bertanya, "Kenapa, Ma?"
Lilian menatap putrinya denga saksama.
"Kalo kemana-mana, tolong kabari Mama ya, Sayang. Biar Mama gak ngerasa khawatir kayak tadi," ucap wanita tua tersebut diiringi senyuman manis. "Sekarang, Mama ini cuma punya kamu dan Andrew. Mama gak ingin terjadi apa-apa sama anak-anak Mama."
"Iya, Ma. Hanna minta maaf," ujar Johanna seraya menggenggam jemari tangan ibunya, lalu menciumi sedemikian rupa. "Hanna janji, Hanna akan selalu menjaga diri demi Mama."
Senyum Lilian tambah melebar. Dia pun berbuat hal yang sama. Yakni menciumi kedua tangan putrinya sebagai ungkapan rasa sayang.
"O, iya ... mengenai Tantemu itu," imbuh wanita tua tersebut, "kamu jangan terlalu serius nanggepin dia ya, Sayang. Mama juga sebenarnya gak suka dengan sikapnya itu sama kamu. Tapi ... Mama pun masih ngebutuhin dia buat bantu-bantu di sini. Jadi Mama harap, baik-baik saja menanggapi omongannya Chika itu ya, Han."
Johanna tersenyum tipis. Ujarnya kemudian, "Tenang saja, Ma. Hanna sudah paham, kok."
"O, iya ... kamu masih laper gak?" tanya Lilian tiba-tiba. Dijawab Johanna dengan gelengan kepala. "Soalnya yang masak tadi Chika. Mama gak tahu apa yang dia masak. Tapi kalo kamu ragu, sebaiknya kamu beli makanan---"
"Gak usah, Ma," tolak Johanna buru-buru. "Johanna masih kenyang, kok."
"Ya, sudah. Istirahat dulu saja, gih. Besok kamu masuk kuliah, loh."
"Iya, Ma," balas Johanna seraya menghambur peluk ibunya untuk kali ketiga. "Hanna mau ke kamar dulu, ya."
"Iya, Sayang," balas Lilian lembut.
Kemudian Johanna pun bergegas keluar dari kamar ibunya dan bermaksud untuk memasuk ruangan tidur sendiri. Di ruang tengah, tampak Andrew masih terpaku sendirian di depan televisi.
"Heh, tidur! Besok kamu sekolah, loh!" seru Johanna mengingatkan.
Andrew menoleh cuek.
"Iya, Kak. Bentar lagi," jawab anak laki-laki tersebut cuek. "Tanggung nih, filmnya lagi seru-serunya."
Tidak ada sosok Tante Chika di sana. Entah ke mana, bertanya-tanya benak gadis tersebut. Lantas lanjut memasuki kamar sendiri dan mulai membaringkan badan di atas ranjangnya.
Sebentar dia menatap langit-langit kamar yang putih berseri, lalu tersenyum-senyum sendiri sembari membayangkan seseorang di pelupuk mata.
"Mas Ravi ...." bisik Johanna perlahan.
__ADS_1
...BERSAMBUNG...