
...CINTA JOHANNA...
...Penulis : David Khanz...
...Bagian 22...
...------- o0o -------...
Timbul di dalam pikiran gadis itu, sepahit inikah perjalanan hidupnya dalam mempertahankan sebuah pilihan akhir. Menjadi sosok berbeda di antara lingkungan keluarga sendiri dan otomatis menjadi pihak paling dibenci di sana. Sampai kemudian guratan nasib berkata lain kini, terlempar secara paksa untuk mengarungi lautan luas tidak berkepastian. Layaknya ayunan langkah tidak bermata.
Apakah mungkin, lalu lalang roda-roda raksasa kendaraan berat di bawah sana itu mampu membantunya segera menghadap sang Rabb? Sekaligus membawa keimanan gadis tersebut yang baru tumbuh rapuh.
Hanna menatap perih dari atas trotoar jembatan, ke arah bawah kemilau lampu-lampu penerang jalan. Seakan tengah mengerlip genit menjulur rayu, mengajak jiwa-jiwa hampa untuk menjejak kaki melalui lorong setani.
'Ayo … ikuti kata hatimu, Anak Manusia. Semua cerita manusia sudah digariskan sejak roh suci terpendam di alam kandungan. Kalaupun kauharus memilih sendiri jalan kematianmu, patutkah Tuhan mempermasalahkan takdir yang telah Dia tetapkan itu? Tidak. Apapun yang kauingini, sejatinya itulah sebaik-baiknya cara untuk mempersingkat kisah ini.'
'Ayo … lakukanlah. Cukup sekali, Anak Manusia. Rasanya sama-sama menyakitkan sebagaimana halnya nyawamu akan diambil oleh-Nya kelak. Jika nanti pun serupa, mengapa tidak kaulalui saja sekarang? Bukankah rohanimu sekarang layaknya bayi yang masih suci? Ambillah atas dasar kekhilafan semata. Itu tidak akan mengurangi ketidakberdosaanmu kini.'
Hanna tersurut setengah langkah. Dia menggeleng beberapa kali dengan kelopak berkaca-kaca.
'Tidak!' jerit gadis itu seraya memejamkan mata galau. 'Ini jelas bukan perbuatan baik dan benar. Ini bukan jalan keluarnya. Ini bukan yang Tuhan inginkan. Ini hanya sebatas kerikil di antara lautan pasir. Bukan ini yang Tuhan maksud aku harus lebih mendekatkan diri. Ini jelas sesat 'kan, Tuhan?!'
Hanna meringis pusing seraya memegangi kepala. Kepalanya mendadak serasa berputar-putar menguning.
"Aaahhhh!" jerit Hanna melengking bersamaan dengan deru sebuah kendaraan yang tiba-tiba melintas di sana.
Ciiittt!
Derit ban beradu mesra mencengkeram dataran aspal. Disusul bantingan roda depan berputar spontan mengarah ke sisi kiri trotoar.
__ADS_1
"Tahaannn!" seru seseorang begitu keluar dari badan sebuah kendaraan minibus berjenis X-Pander. "Jangan lakuin itu! Tahaannn!"
Hanna menoleh sejenak, menatap sosok asing datang mendekat. Setengah berlari sambil mengangkat tangan seperti hendak menggapainya. Namun berat di kepala itu malah kian mengujam, menyakitkan.
"Awaasss!"
Mendadak kesadaran Hanna seolah kian menipis. Dia sudah tidak sanggup lagi menopang kedua kaki untuk tetap terpaku berdiri. Kemudian tanpa daya, secepat itu pula kehilangan keseimbangan dan terhuyung ke arah pembatas jembatan.
"Jangaaann!"
Sedetik saja terlambat menggapai lengan gadis tersebut, kisah pun akan berubah alur. Dengan cepat sosok tadi menarik tubuh Hanna ke arah bahu jalan, lantas mencekal kuat kedua bahunya agar tidak terjatuh ke atas aspal.
"Astaghfirullahal'adziim …."
Lekas dia melepas tubuh Johanna, membaringkannya perlahan di sana. Entah kaget atau bingung, buru-buru bangkit, menepiskan kedua tangan yang sempat bersentuhan tadi, kemudian berputar-putar sejenak dengan jemari terkembang.
Kepalanya menoleh ke arah kiri-kanan atau tepatnya pada kedua ujung jalanan di pengujung senja. Hanya ada dia dan dia di sana. Berdua. Siapa lagi kalau bukan dirinya bersama gadis itu.
"Allahuakbar! A-apa dia masih hidup?" tanyanya panik, tapi tidak tahu apa yang mesti diperbuat. Memeriksa jantungnya, berarti harus mendekatkan diri ke arah area dada. "Ah, enggak!" Dia menggeleng ketakutan. Terus merasakan denyut nadi di tangan? Dengan begitu harus menyentuh kulit gadis itu secara langsung. "Ya, Allah … b-bagaimana ini? A-apakah … a-apakah … ah, enggak! Jelas aku harus segera membawa perempuan ini ke dalam mobil. Menjauh, menghindari seseorang yang melintas di sini dan berpikir … a-aku telah berlaku gak senonoh terhadapnya!"
Sejenak dia menarik napas dalam-dalam. Mulai berjongkok perlahan persis di samping geletak tubuh Hanna. Kemudian memejamkan mata, menahan gerak paru-paru, dan menyorongkan kedua tangan hendak mengambil posisi membopong. Bersamaan dengan itu, detak jantung pun serentak berdegup kencang dibarengi bibir bergetar dalam katupan serapat-rapatnya.
Duk!
Suara sesuatu terantuk keras.
"Aduh!"
Dia lupa membukakan pintu kendaraan terlebih dahulu, hingga kepala gadis itu terbentur bodi mobil. Terpaksa kini mengangkat satu kakinya, menjejak pijakan di sisi bawah untuk menopang beban panggul Hanna agar tangannya leluasa mengait handle pengunci pintu depan. Kemudian kembali ke posisi awal begitu terkuak dan didorong menggunakan pinggang.
__ADS_1
Duk!
"Allahuakbar! Sakit banget!" keluh sosok itu. Kali ini kepalanya yang bersapa nyata dengan bagian kap kendaraan. Lantas bergegas menutup kembali pintu mobil begitu posisi Hanna sudah terduduk nyaman. "T-tenanglah … t-tenanglah … a-aku hanya bermaksud menolong. Iya, a-aku sama sekali gak pernah ngelakuin apa-apa pada perempuan itu," gumamnya sambil berjalan memutar menuju bagian kemudi.
Keringat dingin tampak membanjiri hampir sekujur wajah, ketiak, juga dada dan punggung. Walaupun kini sudah berada persis di belakang setir, dia tidak langsung menjejak pedal gas. Namun menarik-ulur napas untuk menenangkan diri.
"Ya, Allah … bismillaah …."
Perlahan dia putar kunci starter, menghidupkan mesin, lantas mulai melajukan kendaraan perlahan. Meninggalkan area jembatan tersebut tepat menjelang azan Magrib berkumandang.
...------- o0o -------...
Hampir seperempat jam sosok itu berjalan mondar-mandir di depan ruangan IGD. Raut mukanya tampak cemas. Sesekali dia melirik dan melongok ke arah pintu kaca di depannya, lalu beralih menatap sejenak layar ponsel di dalam genggaman, dan terakhir berdecak sendiri. Entah merasa kesal, bosan, ataukah mengkhawatirkan sesuatu? Yang pasti sejak ketibaannya di klinik itu, buru-buru memanggil petugas medis dan membukakan pintu depan kendaraan.
"T-tolong saya! T-tolong saya!" serunya berulang-ulang panik seraya menarik-narik lengan salah seorang petugas terdekat.
"Kenapa, Pak? Ada apa?" tanya petugas tersebut. Kemudian memutar kepala ke arah yang ditunjuk oleh sosok tadi.
"D-dia … d-dia …." Tergagap dia berkata-kata, tapi tidak pernah sampai usai.
"Baik," ucap petugas tersebut. Lantas sigap memberi perintah pada rekannya untuk membawakan kereta dorong untuk memindahkan Hanna yang masih terduduk di bangku depan kendaraan, dalam kondisi belum sadarkan diri. "Bapak tenang dulu, biar kami yang tangani sebaik-baiknya."
"I-iya … m-memang … s-seharusnya begitu!" ungkap kembali sosok lelaki yang membawa Hanna dari jembatan tadi. Masih tampak muda, berusia sekitar 27 tahunan. "S-saya cuman … eh, d-dia saya bawa ke sini dalam keadaan seperti itu."
"Iya, Bapak tenang saja. Kami akan mencoba membawanya ke dalam untuk dilakukan pemeriksaan," balas kembali salah seorang petugas medis tadi.
"I-iya … m-memang … s-seharusnya begitu!" Lagi-lagi kalimat itu yang dia ucapkan. Terlihat gugup dan gemetaran, bingung harus berbuat apa lagi. 'Ya, Allah … kenapa aku selalu begini, tiap kali habis berhadapan dengan perempuan yang baru kukenal? Ah!' Ingin dia mengumpat atau berteriak sekencang mungkin, untuk mengurangi rasa gugup. Namun otaknya ternyata masih mampu diajak waras. 'Merokok? Ah, sepertinya ide bagus. Itu yang sering dilakuin kawan-kawan kerjaku kalo lagi dihinggapi serangan stres.'
...BERSAMBUNG ...
__ADS_1