Cinta Johanna

Cinta Johanna
Bagian 50


__ADS_3

...CINTA JOHANNA...


...Oleh : David Khanz...


...Bagian 50...


...—------- o0o —-------...


Hari Ahad ini, Sarah memberitahukan bahwa di rumah akan diadakan pengajian. Biasanya sepekan sekali dia memang rutin dengan aktivitas tersebut bersama kelompoknya. Terkadang dilaksanakan secara bergilir ditiap-tiap rumah anggota mereka.


"Silakan aja," ucap Ravi usai membantu istrinya berbenah-benah rumah. "Aku perlu keluar gak?" Bertanya demikian bukan tanpa alasan, karena yang akan datang adalah khusus perempuan atau ibu-ibu rumah tangga.


"Gak usah. Kamu tetep aja di rumah," jawab Sarah datar. Kemudian dia bergegas menyiapkan menu jamuan berupa makanan kecil serta minuman ringan untuk tamu-tamunya nanti.


Ravi hanya mengangkat alis dan tidak ingin banyak bicara. Walaupun sejujurnya, sejak semalam dia ingin mempertanyakan tentang kejadian petang kemarin. Perihal obrolan melalui telepon yang mengatakan; 'Bilangin sama klien kamu yang lagi ke toilet tuh, kalo emang ada perlu sama laki orang, jangan ngajakin rapat malem-malem. Kasihan istrinya ditinggal sendiri di rumah.'


Apakah Sarah hanya menebak ataukah benar-benar tahu, jika kemarin itu Ravi pergi bersama Johanna?


Mau ditanyakan dan dibahas, khawatir akan mengakibatkan percekcokan kembali. Berhubung saat itu kondisi mereka sedang dalam kondisi adem dan tenteram. Mungkin pengaruh aktivitas semalam? Entahlah, Ravi sendiri masih bingung untuk bisa mengambil sebuah kesimpulan. Padahal rumah tangga mereka sudah cukup lama.


Sejenak sambil menonton televisi, mata lelaki itu mencuri-curi pandang ke arah istrinya. Terlihat, dia masih sibuk menyiapkan segala sesuatu untuk acara pengajiannya. Terbilang cantik dan bertubuh proporsional dengan tinggi badan sekitar 157 sentimeter. Dulu waktu pertama kali diperkenalkan oleh keluarga, Sarah tampak biasa-biasa saja. Tidak ada tanda-tanda atau gelagat bahwa dia menyukai perihal perjodohan tersebut. Bahkan saat bicara pun terkesan seadanya, kaku, datar, serta bawaannya senantiasa serius.


"Kamu gak keberatan dijodohin sama saya, Sar?" tanya Ravi mencoba mengorek isi hati Sarah. Gadis itu menjawab perlahan, "Bagi saya, ini sebuah kehormatan besar yang dikasiin sama orangtua, Rav, buat berbakti dan ngebuktiin ketaatan saya sebagai anak."


"Terus, kamu yakin dengan pilihan Mama dan Papamu itu, saya?"


"Saya pikir, buat urusan perkenalan, sebaiknya kita lanjut aja setelah resmi menikah, Rav," balas Sarah terdengar pasrah. "Saya sendiri gak mau pacaran. Saya inginnya cepet menikah. Itu lebih baik supaya kita terhindar dari dosa zina."


"Apa? Langsung menikah?" Ravi terkejut. "Kita 'kan, belum saling kenal, Sar. Ketemu aja baru sekarang."


Sarah tersenyum, lantas berkata, "Menikah itu ibadah, Rav. Rangkaian ritualnya dilakukan setiap saat. Kita bisa saling mengenal sesuai dengan waktu yang bakal terus berjalan setelahnya. Lebih halal dan tanpa rasa was-was."


"Maksudmu … pacaran dalam pernikahan?" tanya Ravi ingin memahami kejelasannya.


"Itu malah lebih bagus, 'kan? Pastinya akan lebih banyak mendulang pahala kebajikan," jawab Sarah terdengar agamis. "Cita-cita saya dari dulu, pengen banget bisa jadi seorang istri Sholehah. Mengabdikan hidup ini sepenuhnya pada suami."


'Kedengerannya bagus juga nih, perempuan,' membatin laki-laki itu. 'Prospek ke depannya begitu revolusioner. Religius tapi modern. Gak salah ibuku menjodohkanku dengan dia.'


"Sebelumnya kamu punya mantan gak?" tanya Ravi memecah kesunyian di antara mereka.


Sarah menoleh dan langsung menjawab, "Kamu pikir saya ini perempuan apa? Kalo bisa menikah cepet-cepet, kenapa hubungan serius harus diawali dengan perbuatan maksiat?"


Ravi agak terkejut. Buru-buru dia meralat. "Maksud saya barusan, saya takutnya masih ada sangkut paut dengan seseorang yang pernah deket sama kamu, Sar," ujarnya serba salah.


"Saya gak pernah pacaran. Gak dibolehin sama Papa dan Mama," tandas Sarah serius. "Jangan-jangan kamu yang begitu, Rav?"


"Loh, kok jadi saya? Tadi 'kan, cuman nanya. Ya, maaf kalo kamu ngerasa kesinggung."


"Iya, sekarang gantian saya yang nanya kamu," tukas Sarah kembali. "Tibang jawab aja, apa susahnya, sih?"


'Dih, kok ambekan 'gitu, sih?' tanya Ravi bingung. 'Baru aja aku puji, eh … langsung down aja nih, penilaian. Hi-hi.'

__ADS_1


"Ada sih, waktu masih kuliah kemaren," jawab Ravi mencoba mencairkan suasana yang agak memanas. "Tapi gak saya lanjut."


"Kenapa?"


"Ya, mungkin gak berjodoh aja 'ngkali?"


"Kamu atau dia yang mutusin?"


"Emang itu penting, ya?" tanya Ravi penasaran.


Sarah mendengkus. Jawabnya, "Penting gak penting juga, sih. Tapi yang pertama kali bilang putus, pasti punya alasan tersendiri."


"Berpengaruh, ya?"


"Iyalah," jawab Sarah kembali, sengit. "Kamu yang mutusin?"


Ravi mengangguk.


"Alasannya?" tanya Sarah ingin tahu.


"Gak cocok."


"Gak cocok 'gimana?"


"Ya, gak cocok buat dijadiin istri."


"Terus, kalo ngerasa gak cocok, kenapa dipacarin?"


"Berarti kalo misalkan udah berumah tangga dan kamu ngerasa gak cocok sama istrimu, bakal langsung kamu cerein. Begitu?"


Ravi melirik sosok di depannya sejenak. "Kalo udah nikah, ya beda soal lagi, Sar. Masa mau langsung dicerein begitu aja? Ya, kudu dipikir-pikir dulu-lah baik enggaknya. Sidang perceraian aja ada masa mediasi, yaitu waktu yang diberikan pihak penggugat dan tergugat yang ditengahi oleh pihak mediator atau penghubung. Eh, kenapa jadi ngomongin ini, sih? Jadi takut saya."


"Baguslah kalo kamu udah tahu banyak, Rav," ucap Sarah seraya mendeham. "Seenggaknya, kalo ada apa-apa di antara kita nanti, kamu harus lebih dewasa dalam berpikir."


"Kalo masalah kedewasaan sih, gak cuman pihak suami, dong. Istri juga harus."


"Tapi suami 'kan sebagai pihak imam rumah tangga."


"Ya, kalo ma'mumnya susah diatur, imamnya bakalan pusing sendiri."


"Kok, jadi nyalahin saya?"


"Siapa yang nyalahin kamu, Sar? Dih!"


"Tadi kamu bilang ma'mumnya susah di atur. Berarti kamu nyudutin calon istri, dong?"


"Ya, gak 'gitu juga 'ngkali konsepnya, Sarah. Kamu ini baperan banget, sih. Heran, deh."


"Kenapa emang kalo saya baperan? Kamu gak jadi nikahin saya?"


"Eh … eh … kenapa jadi nyasar ke situ, ya? Kita 'kan lagi ngomongin masalah … masalah apa ya, tadi? Duh, kok … ngedadak nge-blank, sih?" Ravi mengetuk-ngetuk batok kepalanya. "Masalah apa sih, Sar?"

__ADS_1


"Taaau!" jawab Sarah ketus.


Di saat itulah muncul kedua sosok orangtua mereka; ibunya Sarah dan ibunya Ravi.


"Hhmmm, 'gimana? Kalian udah ngobrol, 'kan? Udah saling kenalan, 'kan? Pasti pada cocok, dong!" tanya mereka berdua seraya memerhatikan raut wajah anak masing-masing.


"Cocok aja sih, Mah. Namanya juga cewek ama cowok," jawab Sarah langsung mengubah raut wajah yang tadi muram menjadi kembali ceria. "Iya gak, Rav? Eh, Mas Ravi … maksudnya."


"Iya, cocok. Beneran cocok, Sar. Eh, Dek Sarah!" Ikut menjawab Ravi usai menerima isyarat berupa kedipan dari Sarah. "Barusan aja abis ngobrol. Seru banget. Langsung nyambung. Iya gak, Deeekkk?"


"Iya, Maaasss!"


Kedua anak muda itu saling melotot galak sesaat, kemudian sama-sama tersenyum ceria begitu mata ibu-ibu mereka melirik janggal.


"Kalian ini pada ngapain, sih? Kok, pada aneh begitu?" tanya ibunya Sarah terheran-heran dan langsung diamini oleh ibunya Ravi. "Iya, beneran loh, Bu. Pada aneh, nih."


"Kami lagi bercanda, Bu-Ma," jawab Ravi mendahului Sarah. "Soalnya Sarah … eh, Dek Sarah … orangnya lucu banget. Humoris. Pasti kalo entar udah nikah, bawaannya pengen ketawa terus. He-he-he."


Sarah merengut.


Ibunya Sarah menoleh pada anaknya dan bertanya, "Sejak kapan kamu suka ngelawak, Sar? Yang ada juga, kamu itu manja banget sama Mama."


Jawab Sarah, "Oohh … itu? Kebawa suasana ama Mas Ravi, Ma. Hi-hi. Iya gak, Maassshhh?"


"Ho'oh," jawab Ravi pendek dengan posisi mulut membulat mirip 'tungir' ayam.


"Ada-ada saja kalian ini, ah!" sahut Ibunya Sarah dan ibunya Ravi.


Sebulan kemudian, mereka pun dinikahkan. Lengkap dengan acara resepsi megah selama seharian penuh.


Bisik salah seorang teman Ravi yang hadir saat itu, "Bini elu cakep, Bro."


"Makasih."


Imbuh temennya kembali, "Cuman agak bongkok udang."


"Lah, emang kenapa?" tanya Ravi heran.


"Biasanya … nganunya doyan, Bro. Ha-ha-ha!"


"Sialan lu! Biasa aja."


"Eh, serius. Buktinya, tuh … si Agul temen kita. Dia juga bongkok udang. Tahu apa sekarang? Bodi bininya si Agul yang dulu semok, sekarang ampe kurus kering begitu, Bro, kudu ngelayanin terus keinginan lakinya. Ha-ha-ha!"


"Ha-ha-ha!"


"Ha-ha-ha!"


Tawa mereka berdua langsung berhenti begitu tatap mata Sarah mengarah galak.


...BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2