
...CINTA JOHANNA...
...Penulis : David Khanz...
...Bagian 14...
...------- o0o -------...
Sesaat gadis itu masih terbengong-bengong bingung. 'Kenapa Mas Ravi sampe kepikiran buat mesen ojek buatku? Padahal aku 'kan–'
"Permisi. Mohon maaf. Ini dengan Mbak Hanna, ya?" Sosok laki-laki di atas motor tadi mendekat. Hanna langsung mengiakan. "Maaf, Mbak. Barusan saya dipinta Pak Ravi buat nganter Mbak Hanna."
"Iya, saya tahu, Bang," balas gadis itu masih diliputi rasa bingung. "Tapi … kok, Mas Ravi bisa sampai nyuruh Abang ini …."
"Tadi pagi Pak Ravi nyamperin saya, Mbak. Katanya, nanti siang … eh, maksud saya … siang ini diminta nganterin Mbak Hanna ke kampus," tandas tukang ojek itu kembali.
"Oh … begitu, ya?"
"Iya, Mbak."
"Ya, sudah," pungkas Hanna akhirnya. "Kita berangkat sekarang, deh."
"Siap, Mbak."
Tidak lupa sebelum berangkat, Hanna menemui Bu Tejo terlebih dahulu. Wanita tambun itu tengah ada di dalam rumah menonton televisi.
"Iya, Neng, tenang aja," sahut ibunya Ilham tersebut menimpali. "Sebentar lagi juga, Ilham pulang, kok. Nanti dia yang ngurus jemuran-jemuran itu."
"Terima kasih ya, Bu."
"Iya, Neng. Hati-hati di jalan, ya."
Perjalanan Hanna menuju kampusnya, tidak memakan waktu lama. Kurang dari setengah jam, mereka sudah tiba di tempat tujuan dengan selamat.
"Gak usah, Mbak," ujar tukang ojek menolak sodoran uang bayar jasa dari Hanna. "Pak Ravi udah ngebayar duluan buat sebulan penuh."
"Hah? Apa? Serius?" Kembali Hanna melongo kaget.
"Iya, Mbak," jawab tukang ojek itu. "Pokoknya tugas saya cuman nganterin Mbak ini sampe ke kampus."
Bahkan hingga sosok pengojek itu berlalu, Hanna masih berdiri terpaku beberapa waktu. Tidak menyangka, Ravi semakin besar perhatiannya kini.
"Entar kita obrolin lagi deh ya, Han," ucap laki-laki tersebut saat dihubungi kembali melalui pesawat telepon. "Sekarang aku masih ada di jam kerja, nih. Gak enak sama yang lain kalo kelihatan aku telponan terus. Oke?"
"Kapan?" tanya Hanna antusias.
Ravi tidak langsung menjawab. Ada jeda waktu terdiam sejenak di antara mereka. Itu berarti laki-laki tersebut sedang berpikir.
__ADS_1
"Pulang kuliah, aku jemput kamu, ya?"
"Hari ini?" tanya Hanna sekadar mencari kepastian. Biasalah, karakter perempuan memang seperti itu. Satu jawaban terkadang belumlah cukup untuk bisa dijadikan landasan memercayai.
"Iyalah, Han? Emangnya kamu mau nunggu sampe besok? Ha-ha! Ups … duh, kelepasan ketawa, nih. Aku dipelototin atasanku."
"Syukurin!" ejek Hanna ikut terkikik-kikik. "Ya, sudah. Aku tunggu entar sore, ya?"
"Insyaa Allah."
"Eh, sekalian!"
"Apalagi, sih?"
"Jawab pertanyaanku yang tadi pagi, Mas."
"Tentang apa, ya?"
"Dih, pelupa!"
"Sebentar … aku ingat-ingat dulu," ujar Ravi sejenak. Lantas lanjut berkata usai berpikir sesaat, "Ooohhh iya! Soal orang Arab non-muslim bisa ngerti Al Qur'an itu!"
"Nah, itu ingat."
"O, iya … kebetulan, aku juga dapet buku-buku bagus buat kamu baca."
"Buku tentang Islam, dong."
"Hhmmm, pasti nanti aku baca sampai habis, Mas. Supaya aku ada temen buat debat agama sama kamu."
"Huusss! Agama itu bukan buat diperdebatin, Dek Hanna, tapi buat diamalin alias dipraktekin dalam kehidupan sehari-hari kita. Begitu, Adek."
"Iya, Pak Ustadz! Siap!"
"He-he."
"Hi-hi."
Raut tawa Hanna tiba-tiba menghilang. Lekas dia memutus percakapan dengan Ravi. Mata gadis itu tertuju pada satu arah, dimana di sana tengah berdiri sesosok wanita. Sama-sama sedang memandangi dirinya dengan tatapan pilu.
"Tante Chika?"
Hanna segera menghambur, mendekati sosok tersebut.
"A-ada apa, Tante?" tanya gadis itu seraya memandangi tantenya tersebut. "Tante terlihat—"
"Hanna," tukas Tante Chika terdengar lirih. "Papamu, Sayang."
__ADS_1
"P-apah?" Hanna mulai membayangkan ada sesuatu yang sedang terjadi pada keluarganya. Namun entah apa itu. "Ada apa dengan Papa, Tante? Mama dan Andrew baik-baik saja, 'kan?"
Mata wanita tua itu berkaca-kaca.
"Tante hanya bisa menemuimu di sini," tutur Tante Chika mulai bercerita. "Tante gak tahu harus ke mana mencari-carimu dari semalam, Hanna."
Hanna segera merengkuh jemari Tante Chika ke dada, lantas berucap memohon, "Katakan, Tante! Katakan! Ada apa ini? Apa yang sudah Papa lakuin sama Mama? Papa nyakitin Mama?"
"Enggak, Hanna. Bukan itu," jawab Tante Chika parau disertai gelengan kepala.
"Terus?"
Gadis itu makin dibuat penasaran.
Sejenak wanita tua itu menyeka linangan air mata. Lantas lanjut kembali menjawab sambil terisak. "Papamu dari semalam di rawat di rumah sakit," ujarnya lirih. "Kak Atan mendadak jatuh pingsan. Dia gak sadarkan diri semalaman. Sampe akhirnya tadi pagi baru sadar dan dia … d-dia …."
"Papa kenapa, Tante? Papa kenapa?" tanya Hanna tidak sabar. Nyaris saja dia berteriak kesal karena ucapan tantenya itu lambat terpatah-patah.
Jawab Tante Chika pilu, "Kak Atan menyebut-nyebur nama kamu, Hanna."
"Astaghfirullah!"
"Sepertinya … dia ingin sekali ketemu sama kamu, Hanna!" pungkas wanita tua itu menegaskan. "Pergilah dan temui Papamu segera. Tante takut … ini akan menjadi permintaan Kak Atan untuk yang terakhir kali. Tante mohon sama kamu, Hanna."
Johanna melepaskan rengkuhannya. Dia mundur selangkah seraya membuang pandangan dari tatapan tantenya.
Jelas sekali gadis itu terkejut dan merasa sedih sekali mendengar kondisi Jonathan, papanya, dalam keadaan sakit sebagaimana yang diceritakan oleh Tante Chika barusan. Namun terbayang beberapa waktu sebelumnya, tentang kejadian yang teramat menyakitkannya dulu.
Tante Chika-lah yang kontan merasakan puncak kemarahan seorang Jonathan terhadap Hanna, lalu. Dia rela menjadi tameng hidup untuk menyelamatkan keponakannya tersebut dari amukan dan pukulan yang bertubi-tubi. Bahkan gurat lebam di pundak adik kandung papanya itu, masih membekas abadi menghiasi perih hingga kini.
"Jangan, Kak! Jangan sakitin Johanna! Aku mohon!" jerit Tante Chika kala itu.
Johanna yang baru keluar dari dalam ruangan kampus sore hari itu, sontak terkaget-kaget mendapati Jonathan sudah berdiri bercekak pinggang disertai sorot mata penuh kebencian. Sekelompok mahasiswa lain yang kebetulan lewat di sekitar tempat tersebut, tidak berani untuk mencoba melerai atau ikut campur usai diancam-ancam. "Jangan coba-coba mencampuri urusan keluarga gua! Ini urusan gua sama dia, anak gua! Paham kalian?!" sentak laki-laki tua berkulit putih kemerahan itu sambil menunjuk-nunjuk sosok Hanna.
"Sabar, Kak, sabarlah dulu. Malu dilihat banyak orang," pinta Tante Chika seraya menghalang-halangi langkah kakaknya yang hendak mendekati Hanna. "Kita omongin secara baik-baik di rumah ya, Kak. Aku mohon."
"Diam kamu, Chika!" bentak laki-laki tersebut menggelegar. "Aku akan menghajar anak sialan itu sekarang juga!"
"Jangan, Kak! Aku mohon, jangan!"
"Minggir!"
"Kak Atan! Kaakkk!"
"Minggir gua bilang juga!"
...BERSAMBUNG...
__ADS_1