Cinta Johanna

Cinta Johanna
Bagian 67


__ADS_3

...CINTA JOHANNA...


...Oleh : David Khanz...


...Bagian 67...


...—------- o0o —-------...


"Nyari siapa, Han?" tanya Ravi mengejutkan.


"Eh, Mas! Bikin kaget saja. Astaghfirullahal'adziim …."


"Loh, kok bisa kaget? Aku 'kan dari tadi juga ada di sini?" Ravi turut memutari pandangan ke arah Johanna tadi melihat-lihat. "Nyari siapa, sih? Ada orang yang kamu kenal tadi?"


Johanna menggeleng. "Enggak, Mas. Aku cuman ngelihat-lihat tempat ini. Suasananya enak dan adem," jawabnya berbohong.


"Hhmmm, bukannya kita sering ke sini?" tanya Ravi menyelidik. "Kok, jadi kayak baru ke sini aja. He-he."


Johanna turut tersenyum tipis. 'Apa mungkin aku harus menceritakan lelaki tadi sama Mas Ravi, ya? Rasanya, kok aku ngerasa jadi gak enak hati sudah mulai berbuat tidak jujur.'


"Han …."


"Iya, Mas?"


Ravi kembali menatap gadis itu dengan saksama. "Aku ngerasa, kok kayaknya kamu lagi ada sesuatu hal? Uummhhh, maksudku … kamu lagi mikirin sesuatu atau ada masalah lagi dengan keluargamu, mungkin?" tanya lelaki tersebut.


'Ya, Allah … apa dia tahu apa yang sedang kupikirkan saat ini, ya?'


"Enggak juga sih, Mas," jawab Johanna bimbang. "Sejauh ini, masalah di keluargaku gak begitu besar."


"Tantemu?"


"Tante Chika?"


"Ya."


Johanna mendengkus, lantas menggeleng pelan. "Masalahku dengan Tante Chika aku anggap sebagai ujian biasa kok, Mas. Lagipula, dia gak bakal selamanya tinggal bersama kami. Hanya beberapa hari ini saja, nemenin Mama dan bantu-bantu sedikit sesudah kematian Papa."


"Ah, syukurlah. Alhamdulillah."


"Kalo buat hal-hal yang lain, justru Mama yang sering menengahi kalo aku dan Tante Chika lagi berselisih paham. Yaaa … maklumlah, kamu juga pasti pernah tahu dong bagaimana sikap Tanteku yang satu itu? He-he."


"Aku memakluminya," ujar Ravi semringah. Dia melihat-lihat sejenak ke arah bagian pemesanan tadi, karena makanan serta minuman yang ditunggu belum juga datang. "Tapi … boleh gak aku bicara sama kamu tentang hal lain?"


Johanna tersentak. Benaknya mulai menduga-duga, jika lelaki itu akan berbicara tentang sesuatu yang bersifat privasi dan sensitif. Masalah hati atau hubungan mereka, mungkin?


"T-tentang apa, Mas?"


"Ilham …." jawab Ravi membuyarkan perkiraan Johanna.


"Ooohhh … Ilham," desah gadis itu agak sedikit merasa lega kini. "Ada apa dengan Ilham, Mas?"


Lelaki itu menarik napas panjang, sebentar. Lantas lanjut berkata, "Aku merasa sedikit aneh dengan sikap anak itu, Han?"

__ADS_1


"Aneh?" Johanna mengerutkan kening. "Aneh apanya? Bagiku, dia biasa-biasa aja, kok."


"Iya, itu bagimu. Tapi bagiku, enggak."


"Kenapa emangnya, Mas? Selama ini, Ilham baik-baik saja, tuh. Anaknya sopan dan kami sudah menganggapnya sebagai adik-kakak."


"Iya. Aku bilang juga 'kan itu menurut kamu, Han. Tapi sebagai laki-laki, aku menilainya gak kayak begitu."


"Terus?"


Ravi berpikir-pikir sejenak. "Ilham itu 'kan anak remaja, laki-laki, umurnya pun sudah melewati masa akil baligh."


"Iya. Terus?"


"Kalo kuperhatikan, kayaknya dia nganggap kamu bukan hanya sebagai kakak saja deh, Han."


"Maksudmu …." Kening Johanna kembali berkerut, heran.


"Dia menyukai kamu, Hanna," imbuh Ravi kembali dan membuat gadis itu tertawa. "Loh, kok malah ketawa? Ini serius loh, Han."


"Uummhhh, maaf. Aku ngerasa ini lucu banget. Maafin aku, Mas. Hi-hi," kata Johanna sambil menutupi mulut dengan telapak tangan.


"Apanya yang lucu? Aku serius, loh."


"Iya … iya. Maafin aku. Terusin, deh. Aku dengerin."


Lanjut Ravi bertutur, "Aku ini laki-laki dan Ilham juga laki-laki. Dulu aku pernah ngalamin masa-masa dimana seusia si Ilham sekarang. Masa-masa remaja."


"Iya. Terus?"


"Aku paham maksudmu, Mas," sela Johanna begitu mendengar penjelasan Ravi barusan. "Jadi kamu berpikir kalau Ilham itu … menyukaiku?"


"Enggak dalam artian … hubungan sebagai kakak-adik, Han."


"Iya, aku paham, kok," ujar gadis itu kembali. "Menurutmu Ilham itu … secara kasarnya … naksir aku. 'Gitu, 'kan?"


"Yup! Bener!" Ravi menjentikkan jemarinya.


"Kalo yang aku rasa dan pikir sih, sikap Ilham belum mengarah atau menunjukkan ke arah itu, Mas. Dia bersikap sebagaimana layaknya seorang adik terhadap kakak. Gak lebih," pungkas Johanna. "Hal itu, bisa jadi karena di dalam keluarga Ilham sendiri, dia adalah anak tunggal. Gak punya kakak maupun adik. Makanya begitu kenal sama aku, dia ngerasa … ini sih kemungkinan, ya? Aku ini … bisa ngemong sama dia. Istilahnya begitu. Dia ngerasa cocok sama karakter aku dan menganggap aku ini sebagai kakak dia."


"Tapi tiap kali ketemu sama aku, anak itu selalu nunjukkin sikap … kayak gak suka 'gitu loh, Han," timpal Ravi. "Aku sendiri gak tahu persis, kenapa sikapnya beda sama aku? Apa dia ngerasa aku ini … maaf, ya? Mungkin di mata si Ilham itu … aku ini pacarnya kamu. 'Gitu loh, Han? Makanya, dia nganggap aku ini kayak saingannya dia, buat ngerebut perhatian dari kamu."


Johanna tersenyum tipis. "Apa ini bukan faktor dari kamu sendiri, Mas?"


"Faktor apaan?"


"Misalnya … kamu ngerasa … cemburu 'gitu? Hi-hi."


"Dih, cemburu kok sama bocil? Aneh-aneh saja kamu, Han. Ha-ha."


"Yaaa … siapa tahu aja," ujar Johanna bermaksud bercanda.


"Kalo iya, bagaimana?"

__ADS_1


"Eh, 'gimana bisa?"


"Bisa aja. Kalo misalnya … aku cemburu, berarti aku punya rasa sama kamu, dong? Iya gak?"


Wajah Johanna tiba-tiba terasa hangat. Dia yakin, rona merah itu sudah mulai menjalari sekujur kulit mukanya. Makanya, buru-buru dia meraih ponsel dan berpura-pura memeriksa bilah pemberitahuan di layar.


Untunglah keadaan itu terselamatkan oleh datangnya pesanan mereka. Seorang pelayan membawakan makan serta minuman yang sedang mereka tunggu-tunggu.


"Mohon maaf ya, Bapak-Ibu. Pesanannya agak lama."


"Iya, gak apa-apa, Mas. Yang penting, sekarang 'kan udah nyampe. He-he," timpal Ravi seraya melirik memerhatikan perubahan warna pipi Johanna yang tengah menunduk dalam-dalam.


Setelah selesai menyajikan menu pesanan, pelayan itu pun kembali pergi bertugas. "Silakan, Bapak-Ibu. Selamat menikmati."


"Oke. Terima kasih ya, Mas."


"Baik, Pak. Saya mohon permisi, ya."


"Silakan."


Ravi kembali melirik ke arah Johanna.


"Han! Ssttt … ayo, makan. Kok, malah maen HP?" goda laki-laki itu.


Balas Johanna masih tertunduk dalam-dalam, "Iya, sebentar, Mas. Aku balas chat dari temen-temen dulu," ucapnya beralasan. Padahal menunggu sampai rasa panas di wajahnya itu mereda.


"Bales chatting-annya entar aja. Ayo, makan dulu. Mumpung masih panas, nih," kata Ravi kembali.


Namun baru saja hendak menyendok makanan, ponsel laki-laki itu berdering-dering mengejutkan. Sesaat Ravi tersentak. Dia tahu betul, itu bunyi notifikasi khusus dan hanya satu nomor yang dia atur. Siapa lagi kalau bukan berasal dari Sarah, istrinya. Bukan hanya sekali, tapi berkali-kali. Itu bertanda, ada banyak pesan instan yang diterima.


"Tuh, kamu sendiri juga malah maen HP, Mas," balas Johanna diiringi cekikiknya.


"Eh, iya. Sebentar, ya," kata Ravi seraya merogoh ponselnya dari saku. Lantas memerhatikan balon pemberitahuan di layar akan pesan instan yang di terima dari Sarah. 'Tumben, dia gak ngeblokir nomorku,' gumamnya terheran-heran. Kemudian mengusapkan jemarinya untuk membuka pesan tulisan yang dikirim oleh istrinya tersebut.


[Bagus ya, Rav!]


[Udah mulai bosan sama aku ya?]


[Mau nyari perempuan lain di luar sana buat kesenanganmu?]


[Pantesan aja selalu telat pulang kerja]


[Alasannya lembur]


[Ternyata kamu punya mainan baru]


"S-saraahhh …." gumam Ravi dengan jantung berdebar-debar kencang.


"Ada apa, Mas? Itu istrimu?" tanya Johanna.


"S-sebentar ya, Han. A-aku mau nelpon dulu," kata Ravi seraya beranjak dari tempat duduknya. Melangkah ke luar tergesa-gesa sambil berusaha menghubungi nomor ponsel istrinya. "Sialan! Malah langsung diblokir!"


'Aneh … ini jelas aneh,' katanya bergumam. 'Sudah dua kali Sarah mengirim pesan. Seolah-olah dia mengetahui persis apa yang aku lakukan di sini bersama Hanna. Tapi tidak mungkin, dia mengetahui keberadaan tempat ini. HP-ku disadap? Itu juga tidak mungkin. Terus, bagaimana dan dari mana Sarah bisa sampai tahu? Mustahil seseorang bisa menebak dengan begitu benar sampai dua kali seperti ini.'

__ADS_1


Kemudian Ravi masuk kembali ke dalam. Melihat-lihat sekitar, memperhatikan satu per satu pengunjung yang ada. Tidak satu pun di antara mereka yang dia kenali. Terus bunyi pesan tadi? Benar-benar sulit dimengerti.


...BERSAMBUNG...


__ADS_2