Cinta Johanna

Cinta Johanna
Bagian 7


__ADS_3

...CINTA JOHANNA...


...Penulis : David Khanz...


...Bagian 7...


...------- o0o -------...


“Hanna memilih keyakinan lain yang berbeda,” tutur Hanna mulai berani berucap jujur, “tanpa memberitahu atau pun meminta izin dari Mama dan Papa.”


Sontak jantung mamanya berdegup kencang begitu mendengar penuturan Hanna barusan. Namun dia masih berusaha untuk tetap tenang dan bersabar. “Sudah berapa lama kamu sembunyiin itu dari kami, Nak?” tanyanya kembali sambil menahan lesakkan rasa sakit di hati.


Jawab Hanna di antara isak dan dekapan hangat mamanya, “Baru beberapa bulan lalu, Ma.”


“Berapa lama?”


“Hampir setengah tahunan, Ma.”


“Ya, Tuhan ....” ujar Mama Hanna seraya melenguh perih. “Selama itu kamu berbohong sama Mama, Johanna?”


“Maafin Hanna, Ma,” timpal gadis tersebut, lantas melepaskan pelukannya. Nanar dia menatap mata sosok terkasih itu beberapa lama. “Hanna takut.”


“Kenapa?”


“Hanna takut kalau sampe Mama dan Papa tahu, kejadiannya akan seperti sekarang ini, Ma,” jawab Hanna kembali dengan suara gemetar.


Wanita tua itu menarik napas panjang. “Maksud Mama ... karena lelaki itu, ‘kan?”


“Lelaki?”


“Jujurlah sama Mama, Johanna,” ujar Mama Hanna pilu. “Mama sudah tahu tentang hubunganmu dengan lelaki itu sejak lama. Siapa namanya, ya? Mama lupa—“


“Reychan?”


“Hhmmm,” deham mamanya disertai raut masam. “Dia yang menghendakimu berubah kayak sekarang ini, Nak?”


Gadis itu mengarahkan pandangannya ke sudut kamar. Entah mengapa, mengingat sosok lelaki yang sempat dia cintai tersebut, rasa perih yang masih dirasakannya kini, seakan-akan kembali mengoyak lebar luka terdalam di hati.


Tutur Hanna kemudian, “Awalnya sih, ... Hanna memilih cara ini, karena dia, Ma.”


“Terus?”

__ADS_1


Lanjut gadis tersebut berucap, “Tapi ... justru karena pilihan itulah, lama kelamaan ... Hanna seperti menemukan sesuatu yang baru dan sering menjadi buah pertanyaan Hanna sebelumnya.”


“Maksudmu?”


Hanna memutar kembali kepalanya untuk beradu tatap dengan sang Mama.


“Sudah lama Hanna tertarik untuk mengenal lebih dekat sumber dari keyakinan Hanna yang baru ini, Ma.”


“Ya, Tuhan ....”


“Kedekatan Hanna dengan Reychan, justru seperti membuka keinginan itu kian dekat. Sampai kemudian ....” Hanna meraih jemari tangan mamanya dengan lembut. “ ... Tanpa sepengetahuan dia, Mama, Papa, maupun Andrew ... Hanna memutuskan untuk berpindah agama, Ma.”


“Semudah itu, Hanna?” tanya Mama Hanna seakan belum memercayai penuturan anak gadisnya tersebut. “Karena hal-hal itu pula, selama ini kamu selalu beralasan untuk menolak pergi sembahyang dengan kami?”


Hanna tertunduk lesu.


“Maafin Hanna, Ma,” ujar gadis tersebut lirih. “Hanna enggak bermaksud ngecewain Mama maupun Papa.”


Percakapan antara ibu dan anak menjelang malam itu, tidak sampai tuntas. Kehadiran sang Papa dengan cara kasar, yakni mendobrak pintu kamar, menjadi sebuah pertanda besar bahwa saat itulah hari terakhir kebersamaan Hanna di tengah-tengah keluarganya.


Lelaki tua itu sudah tidak lagi mampu menahan desakan emosi. Dia mengusir Hanna dari rumah detik itu juga.


“Pa, sabarlah, Pa,” jerit Mama Hanna seraya menahan gerak suaminya yang tengah menyeret paksa Hanna untuk segera keluar dari dalam rumah.


“Ini karena kesalahan kamu juga, Ma!” tuding laki-laki tua itu kembali disertai kilatan tatap murka. “Kamu sudah lalai mengawasi anak-anak sampai dia ikut terpengaruh sama lelaki gak jelas itu!”


“Iya, aku sadari itu sekarang, Pa,” raung sang Mama memohon belas kasih suaminya. “Tapi seenggaknya, beri anak kita kesempatan buat berpikir dan berubah kembali, Pa. Bukan dengan cara ini. Aku mohon sama kamu, Pa.”


“Papaaa!” Hanna ikut menjerit dan meronta-ronta. “Maafin Hanna, Paaa!”


“Enggak!”


“Mamaaa!” seru Hanna memanggil-manggil mamanya.


“Tolong lepasin Hanna, Pa,” teriak kembali Mama Hanna mengiba. “Lepasin anak kita, Paaa!”


Jawab laki-laki tua tersebut kian mengganas, “Enggak! Dia harus pergi dari rumah ini dan jangan coba-coba pulang sebelum kembali sama keyakinannya semula! Paham?”


“Papaaa!”


“Selama kamu bertahan dengan agamamu yang baru ini, jangan panggil aku Papa-mu, Johanna! Ingat itu! Pergi sana dan berkumpullah dengan orang-orang berengsek sesamamu sekarang!”

__ADS_1


“Papaaa! Ampun, Papaaa!”


“Lepasin anak kita, Paaa! Kasihan dia!”


“Apa yang perlu aku kasihani dari anak seperti dia, hah?! Dia sudah bukan hamba Tuhan kita lagi! Aku benci anak ini!”


“Papaaa!”


“Pergi sekarang juga atau aku bunuh sekarang kamu, Johanna!”


“Papaaa!”


Mendadak suara Mama Hanna lenyap. Sosok wanita tua itu jatuh tersungkur dan tidak sadarkan diri di tempat. Refleks sang Papa melepaskan cekalan tangannya pada lengan Hanna, lantas mendorong kasar tubuh gadis tersebut ke luar rumah, dan berlanjut memburu istrinya dengan panik.


“Mamaaa!” teriak Hanna pilu di luar rumah seraya menggedor-gedor daun pintu yang sudah terlebih dahulu terkunci rapat.


Di antara ketiga orang tadi, hanya sosok Andrew yang terlihat diam mematung memerhatikan kakaknya diseret-seret dengan kasar sejak dari dalam kamar tadi. Dia tidak mampu berbuat banyak, karena tahu sekali konsekuensi apa yang akan diterima jika mencoba membantu Hanna dan mamanya dari sang Papa.


“Cepat bantu Papa bawa mamamu ke kamar, Andrew!” seru laki-laki tua itu panik pada anak keduanya tersebut.


Sesaat Andrew tampak bingung. Bimbang antara harus segera membantu membopong mamanya dengan kondisi Hanna di luar rumah.


“Kak Hanna ....” gumam Andrew turut merasakan sedih.


“Andrew, cepat!”


“I-iya, Pa! I-iya!”


Sementara Hanna masih menggedor-gedor pintu disertai jerit tangis memilukan. “Papaaa ... bukain pintu, Pa! Hanna minta maaf!” seru gadis tersebut tiada henti. “Andreewww! Andreeewww ... tolongin Kakak, Deekkk!”


...------- o0o -------...


Johanna bingung harus pergi ke mana malam itu. Di bawah rintik hujan dan embusan angin dingin, gadis tersebut berjalan sambil terisak sedih, menyusuri ruas trotoar jalanan yang mulai sepi. Hanya ada beberapa kendaraan melewati dan tiada acuh. Itu pun tidak sampai melebihi hitungan jemari kedua belah tangan. Sementara kain mukena yang dikenakan sejak usai menunaikan salat Isya tadi, masih membalut lembab membungkus sekujur badan. Tidak ayal, jika ada seseorang yang melihatnya, mungkin pandangan mereka tidak akan menyangka bahwa itu adalah sosok manusia.


Berkali mengayun langkah tanpa tujuan, Johanna bergeming sejenak seraya memutari pandangan. Mencari-cari dan berharap bertemu dengan seseorang di sekitar tempat tersebut. Namun hasilnya tetap sama. Tiada satu pun tertampak. Mungkin hampir semua penghuni bumi lebih memilih untuk jatuh terlelap, ketimbang berharmonisasi dengan alam yang tengah kurang bersahabat.


‘Ya, Tuhan ... harus ke mana malam ini aku menitip badan?’ membatin gadis bermata sipit itu sedih. ‘Sementara rumah sanak keluarga pun jauh dari pelupuk mata.’


Di saat kecamuk pikiran dan buntu benaknya bekerja, Johanna teringat bahwa satu-satunya tempat yang bisa dituju untuk sementara waktu malam itu adalah mesjid. Tempat harapan untuk sekadar berteduh, sekaligus mengadukan jerat derita yang kini tengah dirasa. ‘Mengapa tak kucoba saja berlindung di sana. Bukankah itu salah satu rumah Tuhan juga? Setidaknya sambil menunggu waktu hingga besok fajar dan melanjutkan perjalananku ini ke rumah Tante Chika.’


...BERSAMBUNG ...

__ADS_1


__ADS_2