
...CINTA JOHANNA...
...Penulis : David Khanz...
...Bagian 73...
...------- o0o -------...
Ravi menoleh ke samping, dimana Sarah terlihat Sarah sudah tertidur lelap berbantalkan lengan dan tangan menempel di atas dada lelaki tersebut.
Sepasang suami-istri tersebut baru saja selesai melakukan kewajiban mereka, melanjutkan apa yang telah dilakukan sebelumnya di kamar toilet tadi.
"Jangan di sini, Sar," pinta Ravi dengan napas terengah-engah menahan gejolak hasrat kelelakiannya yang terbangkitkan karena perlakuan dari Sarah. "Kita harus melakukannya sesuai dengan tuntunan agama."
"Aku tahu," balas Sarah seperti biasa. "Tapi bukan berarti jadi haram 'kan, kita ngelakuinnya di sini, Rav."
"Memang gak haram," ujar Ravi seraya memperhatikan kondisi tubuh istrinya yang polos. "Ini hanya terkait adab saja, Sar."
"Aku ingin kita melakukannya dengan variasi dan tempat yang baru, Rav," ucap Sarah seperti tengah memohon pada suaminya tersebut. "Gak ada salahnya sesekali kita ngelakuinnya di sini? Supaya aku bisa---"
"Enggak," tukas Ravi tegas. "Kita lakuin saja di kamar seperti biasa. Dalam keadaan tertutup. Gak serba terbuka seperti sekarang ini. Ayo!" ajak lelaki tersebut seraya menarik lengan istrinya.
"Rav ...." Sarah berusaha untuk menolak dan mencoba bertahan.
"Ayo, ke kamar," tandas laki-laki itu. Kali ini mau tidak mau, dia memaksa Sarah dengan cara menggendong dan membawanya segera keluar dari dalam kamar mandi.
Entah mengapa, niat semula hendak berontak, tapi mendadak perempuan itu pasrah dan tampak senang sekali diperlakukan seperti itu oleh Ravi. Tanpa dipinta pun, Sarah segera mengalungkan lengan untuk menahan beban tubuhnya sendiri agar melekat kuat di dalam rengkuhan suaminya.
__ADS_1
Di kamar itu, mereka melanjutkan aktivitasnya dengan sepenuh jiwa.
Sebagai seorang suami, Ravi sadar akan kewajibannya, yakni mendahulukan hak-hak istri sebelum akhirnya dia pun menggapai apa yang menjadi puncak dari permainan ranjang mereka.
Sarah tersenyum puas dan langsung merengkuh tubuh suaminya sebelum bergegas menuju alam peraduan.
'Jangan kamu tidur dengan cara membelakangi, setelah mendatangi istri dan memberi dia hak pemenuhan nafkah lahir serta batinnya,' demikian petuah guru yang masih diingat oleh Ravi saat belajar kitab uqudulujain dulu sewaktu tinggal di pondok pesantren. 'Raih dan berikan pelukan pengantar tidur, sampai istrimu benar-benar terlelap.'
Secara keilmuan, Ravi masih berkehendak untuk mengikuti. Namun entah mengapa dengan hati kecil lelaki tersebut. Dia masih merasa belum sepenuhnya merasa nyaman dan ikhlas memberikan kasih sayang, yakni ---salahsatunya--- dengan cara seperti itu. Memeluk Sarah.
'Astaghfairullahal'adziim ....' ucap Ravi di dalam hati. Dia berkali-kali mengusap wajah dan melafalkan kalimat istighfar. 'Ya, Allah ... berdosa sekali hamba ini. Karena hati ini telah berani mengkhianati istri hamba sendiri. Astaghfirullahal'adziim.'
Bagaimana tidak, selama menjalankan kewajibannya tadi pada Sarah, diam-diam pikiran Ravi justru menghadirkan sosok Johanna di sana. Menyatukan bayangan gadis bermata sipit tersebut ke dalam rupa dan wujud istrinya sendiri. Sehingga hatinya seolah-olah menafsirkan bahwa sosok Sarah adalah tidak lain dari Johanna.
Kembali dia menoleh, menatap wajah Sarah yang tergolek pulas di sampingnya. Begitu adem jika dalam posisi seperti itu. Tidak terbersit sedikitpun bahwa perempuan yang telah dia nikahi tersebut memiliki karakter keras.
'Astaghfirullah ....' kembali dia beristighfar. 'Hamba tahu, ini adalah dosa. Hamba tidak boleh membayangkan hal-hal yang dilarang oleh agama. Ini jelas sebagai salah satu bentuk dosa zina dan aku sama sekali sulit untuk membuang bayangan-bayangan Johanna pada raut wajah istri hamba sendiri.'
Sejenak lelaki tersebut menoleh ke belakang untuk memastikan jika Sarah masih terlelap di atas pembaringan. Usai meyakinkan diri, lantas dia pun menuju ruang tengah. Duduk-duduk di atas kursi sofa sendirian sambil menikmati sebatang rokok.
'Johanna ....' bisik Ravi di dalam hati. Kembali pikirannya menghadirkan sosok gadis tersebut. Mengingat-ingat kembali awal pertemuan mereka dulu di jembatan itu pada waktu menjelang akhir petang. Lantas bertanya-tanya sendiri, gerangan apa yang telah Tuhan tuliskan sehingga dia harus bertemu dengan perempuan mualaf itu.
Awalnya Ravi tidak pernah merasakan hal apa pun terkait Johanna. Namun seiring perjalanan waktu dan intensitas pertemuan mereka berdua, lelaki muda itu merasakan kenyamanan tersendiri setiap kali bertemu. Bahkan seringkali terselip rasa ingin bertemu walaupun tidak ada rencana apa pun, terkecuali berbicara secara empat mata.
Ravi seolah lupa dan melupakan diri bahwa dia kini telah menjadi seorang suami bagi Sarah. Ada kewajiban lain yang harus dilakukan ketimbang mengurusi persoalan yang membelit gadis berketurunan Tionghoa tersebut.
Apakah ini yang dinamakan cinta? Mengapa sosok Johanna harus turut hadir ketika kebersamaannya kini justru dengan Sarah? Lantas, jika perasaan yang sama itu muncul pada saat berbarengan, benarkah itu cinta? Bedanya apa dengan nafsu syahwat?
__ADS_1
'Astaghfirullahal'adziim ….' kembali Ravi mengucap kalimat sakral tersebut. 'Bagaimana jika kelak Sarah mengetahui ….'
Mengetahui? Sebentar, Ravi seperti diingatkan pada kejadian-kejadian yang telah lalu tersebut. Dimana Sarah seperti sering tahu tentang pertemuannya dengan Sarah.
'Apakah Sarah sudah mencium aroma perselingkuhan hati ini?' tanya Ravi was-was. 'Kalau memang Sarah sudah mengetahui gelagat kebusukan hati imi, lantas mengapa dia tidak pernah ingin mengungkapkan sendiri begitu bertemu langsung denganku? Mengapa harus melalui sindiran-sindiran melalui satu perangkat atau alat?'
"Mas …." Tiba-tiba terdengar suara memanggil di belakang
Sontak Ravi pun tersentak kaget. Dia menoleh ke arah pintu kamar tidur.
"Sarah?" panggil lelaki tersebut seraya mengerjap-ngerjap kelopak mata. Berusaha memastikan bahwa di depan ambang pintu kamar tengah berdiri sosok Sarah.
Namun ternyata dia baru menyadari kembali bahwa posisi daun pintu kamar masih dalam keadaan tertutup rapat.
Ravi berusaha meyakinkan diri bahwa apa yang dia dengar baru saja, bukanlah hasil rekayasa dari alam imajinasinya belaka.
'Astaghfirullah ….' desah lelaki itu seraya mengusap dada. 'Aku baru ingat, jika Sarah selama ini jarang sekali memanggilku dengan sapaan tadi. Tapi mengapa ruang dengarku ini begitu jelas sekali mendengar suara panggilan?'
'Bukankah sapaan panggilan tadi kerapkali digunakan oleh Johanna?' imbuhnya berpikir-pikir. 'Ah, apakah ini cuma tipuan alam pikiranku saja, karena terus-terusan mengingat akan sosok Johanna? Jangan-jangan, detik ini pun gadis itu tengah membayangkanku pula?'
"Ah, sialan!" kutuk Ravi menyesali dan berusaha membuang pikiran-pikiran akan bayangan wajah Johanna.
Kemudian Ravi pun bergegas masuk kamar kembali setelah mematikan rokoknya terlebih dahulu.
Saat pintu kamar berhasil dikuak, tampak Sarah masih terlelap di atas pembaringan. Berselimutkan kain memanjang hingga menutupi area inti aurat kewanitaannya.
'Ah, ternyata benar. Sarah masih tidur, kok,' gumam Ravi keheranan. 'Lantas tadi siapa yang memanggilku?'
__ADS_1
Dengan perasaan masih diliputi tanya, maka Ravi pun urung memasuki kamar tidur sendiri. Dia berlalu dari sana untuk mengambil air wudhu. Rutinitas yang kerap dilakukan sebelum beranjak tidur bersama-sama.
...BERSAMBUNG...