Cinta Johanna

Cinta Johanna
Bagian 9


__ADS_3

...CINTA JOHANNA...


...Penulis : David Khanz...


...Bagian 9...


...------- o0o -------...


“Itu karena Tante menilai dengan mata Tante,” balas Hanna berusaha sabar. “Bukan dengan hati dan pikiran.”


“Tante berpendapat dengan memakai logika, Hanna. Buktinya, bukan hanya Tante doang yang mengetahui kebusukan orang-orang Islam itu. Teman-teman Tante, keluarga Tante ... termasuk Papamu sendiri, juga--”


“Itu! Itu!”


“Itu apa maksudmu?”


Tandas Hanna menjelaskan, “Nah, itu dia yang Hanna maksud bahwa Tante menilai Islam itu hanya dari mata. Pandangan. Bukan dengan menggunakan hati dan akal pikiran.”


Kembali kening Tante Chika berkerut hebat. Tanyanya kemudian, “Tante masih belum paham apa yang kamu maksud, Hanna.”


Dengan lugas, Hanna mencoba kembali menegaskan. “Maksud Hanna, Tante menilai agama Islam itu dari orang-orangnya. Pe-nga-nut-nya.”


“Memang dari yang Tante lihat selama ini, orang-orang Islam itu memang begitu. Gemar berbuat—“


“Jika Tante menilai hal itu dari sisi perilaku penganutnya yang buruk, mengapa Tante gak nyoba melihat dari sudut orang-orang Islam yang baik-baik, saleh, taat, juga ramah,” tukas Hanna penuh semangat dan mulai memahami celah awal mengapa Tante Chika terlihat tidak begitu menyukai Islam. “Orang-orang Islam itu banyak, Tante. Bukan hanya yang sehari-hari kita temui. Tetangga terdekat, orang-orang Islam di luar daerah sana, jauh di pelosok provinsi, negara, bahkan di negeri-negeri yang sama sekali belum pernah kita kunjungi.”


“Iya, Tante tahu itu,” balas wanita itu kembali. “Tapi seenggaknya, perilaku buruk orang-orang Islam itu ‘kan bisa dijadiin dasar acuan buat menilai seberapa buruknya ajaran agama mereka itu.”


“Hhhmmm,” deham Hanna diiringi senyum kecutnya. “Begitu ya, Tante?”


“Iyalah. Mau dibantah sampai kapan pun juga, tetep saja intisari asli ajaran agama mereka yang buruk itu gak bisa lagi disembunyiin. Bener, ‘kan?”


Melihat Hanna terdiam, Tante Chika merasa bahwa keponakannya tersebut sudah mulai memahami dan menelan mentah-mentah argumennya.


“Baiklah ....” ujar Hanna setelah beberapa saat terdiam demi memperkaya kesabaran diri, “jika menurut Tante perilaku sebagian umat beragama itu bisa dijadikan dasar penilaian terhadap ajaran agamanya, lalu bagaimana dengan fenomena pernikahan sejenis yang disahkan oleh pendeta dan direstui pihak gereja. Apakah itu berarti Tuhan –nya Tante-- pun mengizinkan seorang lelaki menikahi  lelaki dan perempuan menikah dengan sesama perempuan?”


Mendengar pernyataan dan pertanyaan keponakannya tersebut, raut muka Tante Chika spontan berubah. Tampak sekali seperti merasa terkejut bercampur bingung.


“Kenapa kamu mempertanyakan hal itu sih, Hanna? Tante ‘kan, lagi ngebahas tentang Islam. Agama barumu, tuh!”


Gadis itu tersenyum simpul.


“Apa ada yang salah dengan pertanyaan Hanna, Tante?”


Jawab Tante Chika, “Yaaa ... itu sih, terserah kamu, Hanna. Tapinya ... yaaa ... kenapa juga harus mempertanyakan sesuatu yang bukan lagi merupakan bagian dari agamamu yang sekarang? Bahas saja agama barumu sendiri itu.”


“Itu Hanna lakuin, karena Tante juga sudah membicarakan sesuatu yang bukan merupakan ranah kepercayaan atau agama Tante sendiri. Bahkan Tante sudah berani memberikan penilaian terhadap sesuatu yang belum tentu benar menurut sangkaan Tante. Bukannya begitu, Tante?”


Tante Chika mendelik.

__ADS_1


Ujarnya sengit, “Kamu emang paling bisa ngebalikin omongan Tante.”


“Bukan ....” Hanna tersenyum lembut. “Bukan begitu maksud Hanna. Sama sekali enggak bermaksud begitu, Tanteku sayang.”


“Terus?”


“Jawab saja dulu pertanyaan Hanna tadi.”


“Yang mana?”


“Tentang pernikahan sejenis, Tante sayang.”


Wanita itu tampak gelagapan. Dia mencoba menjawab dengan nada terpatah-patah. “Yaaa ... itu ‘kan cuman segelintir oknum saja. Mana ada aturan di Al Kitab yang membolehkan pernikahan sesama jenis kayak ‘gitu. Ngawur saja, ah.”


“Terus?”


“Ya, gak bolehlah!”


“Terus?”


“Apanya yang terus, sih?”


“Tentang perilaku orang-orang Islam yang buruk itu menurut Tante?”


Tante Chika berpikir kembali. Kali ini tampak sedikit berhati-hati dalam berucap. Mengingat lawan bicaranya adalah seorang anak muda yang cukup cerdas.


“Oknum maksud Tante?”


“I-iyalah! Semacam itulah!” jawab Tante Chika kembali gelagapan. “Kenapa sih, kamu tanya-tanya Tante masalah begituan, Hanna? Tante ‘kan, bukan tokoh rohaniawan.”


“Rohaniawati, Tante.”


“I-iya ... itu maksud Tante barusan,” ucap Tante Chika lagi. “Udah, ah. Tante gak tahu banyak tentang urusan begituan. Apalagi perihal agama baru kamu itu tuh, Hanna.”


Kalau saja Hanna bernafsu ingin membalas, mungkin bisa saja berkata ; ‘Makanya, kalau Tante belum paham ajaran agama Islam, jangan suka ngomong yang aneh-aneh, deh. Apalagi nuduh-nuduh ... Islam beginilah, Islam begitulah. Bener juga enggak, malah jatuhnya ke fitnah.’


Dengan bijak, Hanna pun berkata, “Ya, sudah. Kalo Tante mau atau berniat mempelajari Islam, Hanna bersedia kok buat ngajarin.”


“Halah, kamu ini,” timpal Tante Chika. “Orang-orang Islam yang sudah ber-Islam sejak lahir pun, belum tentu tahu banyak mengenai ajaran agamanya sendiri. Lah, kamu? Orang baru ....”


“Hanna ‘kan, banyak belajar juga, Tante,” balas gadis tersebut lembut. “Banyak baca-baca buku tentang Islam, berguru sama tokoh agama Islam, atau sekadar tanya-tanya sama temen yang bener-bener sudah paham tentang Islam.”


“Kamu serius?” tanya Tante Chika seraya menatap dalam-dalam mata keponakannya.


“Apanya?”


“Bertahan dengan keyakinan barumu itu?”


“Insa Allah, Tante,” jawab Hanna yakin.

__ADS_1


“Apa itu artinya?”


“Jika Tuhan Allah menghendaki.”


“Kalo enggak menghendaki?”


“Yakini dan imani saja, Tante. Karena, pandangan Allah itu tergantung seberapa besar kita meyakini dan prasangka kita terhadap-Nya. Percayai sepenuh hati bahwa Allah itu Maha terhadap segala-galanya. Termasuk soal kehendak-Nya itu tadi. Kalo kita yakin Allah akan memberi, kun fayakun ... yang tidak seharusnya terjadi pun, Insa Allah akan terwujud. Itu pun enggak mesti menurut keinginan manusianya, tapi atas dasar kuasa-Nya.”


“Hhmmm ... sudahlah. Tante gak paham. Jadi pusing dengerin omongan kamu, Hanna.”


“Iya, makanya harus banyak belajar, Tante. Entar deh, Hanna bimbing. Mau?”


“Enggak!” jawab Tante Chika galak. “Gak usah!”


Di tengah obrolan mereke berdua, tiba-tiba terdengar nada dering ponsel menjerit-jerit.


“Kak Atan?” seru Tante Chika spontan merasa ketakutan. “Papamu nelepon, Hanna!”


“Apa? Ya, Allah!”


“Bagaimana ini?” Bertanya-tanya sendiri wanita tersebut. “Sssttt ... kamu jangan dulu bersuara ya, Hanna. D-diam ... d-diam saja. T-tante mau ngangkat telepon dari Papamu.”


Hanna ikut merasa ketakutan.


“Halo, Kak?”


Jawab suara dari seberang telepon, “Chika! Apa si Johanna datang ke rumah kamu?”


“H-hanna? Ah, eh ... gak ada tuh, K-kak,” balas Tante Chika ketakutan. “M-memangnya k-kenapa?”


“Kamu jangan bohong, Chika!” bentak Papa Hanna menggelegar.


“B-benar, K-Kak. A-aku gak b-bohong.”


“Awas ya, kalo kamu ketahuan nolongin dia!”


“B-benar, K-kak. H-hanna gak ada ke rumahku, kok.”


“Huh, aku lagi nyari-nyari si Hanna. Akan kubunuh anak sialan itu kalo kutemukan!”


“H-hah? E-emangnya K-kakak lagi a-ada d-di mana s-sekarang?”


“Seberang rumahmu, Chika! Apa kamu gak lihat?”


“A-apa?!”


Mata Tante Chika membesar. Dia menatap Hanna penuh ketakutan.


...BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2