Cinta Johanna

Cinta Johanna
Bagian 59


__ADS_3

CINTA JOHANNA


Penulis : David Khanz


Bagian 59


—------- o0o —-------


Di waktu jam istirahat kelas, Johanna dan Ghea bersama-sama pergi ke luar untuk makan-makan. Semula temannya itu mengajak Hanna ke tempat khusus. Namun ditolak halus.


"Kenapa, Han?" tanya Ghea heran. "Itu 'kan tempat favorit jajanan kita." Johanna menggeleng, lantas menjawab, "Enggak ah, Eya. Kita ke kantin aja."


"Ah, di kantin mah makanannya begituan doang. Gak ada variasi," ujar Ghea setengah memaksa. "Mendingan ke sana aja, yuk. Biasa … kita makan mie ayam charsiu."


Johanna terus berusaha menolak, sampai kemudian berkata, "Ya, udah. Kalo elu pengen, sana aja sendiri, gih. Gua sih mending ke kantin aja. Lebih banyak makanan halal."


"Halal?" Ghea mengerutkan kening. "Gua gak salah denger, nih? Maksud lu apaan sih, Hanna?"


Johanna tersenyum. "Elu pasti paham apa yang gua maksud," ujarnya seraya berniat meninggalkan sosok Ghea.


"Eh … eh, tunggu!"


"Apa lagi?"


Ghea menahan gerak Johanna. Ujarnya kemudian, "Ada yang aneh sama elu, Han."


"Aneh apaan?"


"Elu masih Johanna yang gua kenal, 'kan?" tanya Ghea sembari memandangi wujud Johanna dari bawah hingga atas kepala.


"Emang ada yang berubah ama gua? Enggaklah," tandas Hanna mengelak. "Gua masih temen elu yang dulu, Eya. Gua … Jo-han-na! Paham?"


Ghea menggeleng tidak percaya. "Enggak … enggak. Sebenernya gua udah mikir dari dulu, semenjak elu pacaran ama si Reychan. Elu emang udah banyak berubah, Han. Atau jangan-jangan …."


Johanna mendongak seraya bertanya menantang, "Jangan-jangan apa, hah?"


Ucap Ghea dengan nada memelan, "Elu udah kepengaruhin ama si Reychan, ya?"


"Maksud lu?"


Sambil menunjuk-nunjuk muka Johanna, Ghea menjawab, "Elu … masuk …."

__ADS_1


Tukas Johanna tanpa ragu, "Ya! Gua mualaf! Cukup, 'kan?"


"Astagaaa …."


"Kenapa?"


"Ya, gak kenapa-kenapa," jawab Ghea, "gua cuman syok aja."


"Biasa aja 'ngkali!" tandas Johanna kemudian, sambil melanjutkan langkah menuju area kantin kampus. "Yuk, ah jalan. Gua laper, nih."


"Eh, Hanna!" Ghea terus membuntuti. "Serius elu masuk Islam?"


"Iya. Alhamdulillah, 'kan?" timpal Johanna dengan raut ceria. "Insyaa Allah, gua istiqamah kok."


"O, my Gosh! Damn it!" seru Ghea seakan masih belum bisa memercayai ucapan temannya tadi. "Kenapa elu gak pernah cerita ama gua sih, Han?"


"Emang perlu?


"Gila! Selama ini gua dianggap apa sih ama elu, Han?" gerutu Ghea. "Bahkan elu pernah ngilang beberapa hari aja kemaren-kemaren, elu gak pernah cerita ama gua. Tahu-tahu … elu dicariin bokap elu sampe kampus. Ribut di depan sana." Dia menunjuk arah depan gedung perkuliahan. "Gua sih, nyangkanya … itu cuman masalah keluarga doangan dan itu juga elu gak pernah curhat sedikitpun."


"Nah, sekarang elu udah tahu sendiri, 'kan? Ya, udah. Gak usah dipanjangin. Mendingan sekarang nyari makan," ucap Johanna bersikap cuek. "Elu masih mau makan di depan atau di kantin? Terserah, sih."


Akhirnya Ghea memutuskan ikut bersama Johanna ke kantin. Mereka memilih duduk berhadapan di sebuah sudut ruangan agar tidak terlalu terganggu oleh lalu-lalang pengunjung lain, usai memesan makanan.


Johanna tidak lekas menjawab. Pandangannya justru terpaku pada sosok-sosok yang tengah duduk-duduk tidak seberapa jauh dari keberadaan mereka berdua. Kemudian kembali menatap mata temannya tersebut. "Ceritanya panjang, Eya. Gua sendiri gak tahu mesti mulai dari mana."


"Kok, 'gitu sih?" Ghea merajuk. "Sejak pacaran sama si Reychan dulu, elu lebih tertutup ama gua loh, Han. Elu banyak berubah. Sampe-sampe … gua hampir gak ngenalin temen gua sendiri ini." Dia meraih jemari tangan Johanna. "Cerita dong, Han. Please. Serius elu mualaf?"


Johanna mengangguk pelan. "Bahkan keinginan itu, jauh sebelum gua kenal sama Reychan, Eya," tuturnya perlahan.


"O, iya?"


"Iya," jawab Johanna mengakui. "Saat itu … gua ngerasa kayak ada di posisi transisi. Bingung sendiri ama keraguan yang ada di hati gua waktu itu Bertahan atau justru maju buat ngeraih apa yang baru gua percayai."


"Terus?"


"Sampe akhirnya … gua kenal dan mulai dekat sama Reychan," kata Johanna melanjutkan. "Dari situlah, gua semakin yakin kalo gua emang mesti berubah. Gua gak bisa terus-terusan bertahan dalam kemunafikan gua. Yaaa … walopun, konsekuensinya … gua harus ngadepin keluarga gua sendiri. Salah satunya … yaaa … gua diusir dari rumah."


"Astaga, Hanna!" seru Ghea miris. "Kenapa elu gak cerita ama gua, sih? Seenggaknya … gua bisa nolong waktu itu. Tapi … ah, sialan! Elu bener-bener nutupin semuanya dan lebih memilih menjauh dari gua!"


"Sorry, Eya. Gua gak bermaksud 'gitu," ujar Johanna pilu. "Gua cuman pengen … apa yang gua jalanin waktu itu, cukup gua sendiri yang ngerasain. Gua gak mau siapa pun tahu tentang kondisi gua. Termasuk elu!"

__ADS_1


"Gila!" rutuk Ghea kesal sekali. "Temen macem apa gua ini? Sampe-sampe gak peka banget ama masalah elu waktu itu." Dia mendecak dongkol. "Lagian … elu-nya sendiri yang selalu ngejauh dan ngehindarin gua. Lah, gua pikir elu udah gak mau lagi bertemen ama gua."


"Sorry, ya. Intinya, gua gak pengen ngerepotin orang lain aja."


Ghea mendelik. "Terus … cowok yang tadi itu, siapanya elu?" tanya Ghea makin penasaran.


"Dia itu … orang yang nyelamatin gua."


"Nyelamatin? Maksudnya … elu dapet musibah atau apa, sih? Yang jelas dong kalo ngomong."


Johanna menatap sayu bola mata temannya tersebut, lantas menjawab, "Dia … guru spiritual gua. Dia banyak ngajarin gua soal-soal agama. Dia juga yang nolongin gua sewaktu gua …." Gadis itu mulai bertutur kejadian awal bertemu dengan Ravi, hingga akhirnya dekat seperti sekarang itu. " … Dan gak tahu kenapa, gua ngerasa nyaman aja sama dia."


Ghea mengernyit. "Elu suka sama dia karena ngerasa nyaman atau ngerasa karena punya utang Budi?"


Johanna menggeleng. "Gua gak tahu …." jawabnya lirih. "Tapi—"


Tiba-tiba seseorang mengantarkan pesanan makanan ke meja mereka berdua. Johanna tidak meneruskan ucapannya tadi walaupun Ghea berulangkali bertanya penasaran.


'Sebaiknya soal Mas Ravi ini, Ghea gak usah tahu banyak,' gumam gadis tersebut diam-diam. 'Cukuplah dia menilai, kalo kondisi aku sekarang, baik-baik saja.'


"Pantes aja, selama ini elu gak pernah lagi mau gua ajakin makan-makan di tempat jajanan depan," ujar Ghea sebelum menyantap makanannya. "Tahunya elu udah jadi mualaf. Hhmmm?"


Johanna tersenyum kecut. "Kalo gua mau saranin sih, sebaiknya mulai sekarang … elu juga mulai ngejaga hal-hal yang dilarang ama agama kita deh, Eya. Yaa … minimal apa yang elu makan itu."


"Emang kenapa?"


"Kok, malah nanya?"


"Ya, 'kan gua gak paham, Han."


"Gak paham ama agama elu sendiri?"


Ghea mengekeh. "Uumm, 'gimana gua mau paham, orangtua gua gak pernah ngajarin gua soal agama," jawabnya terdengar apatis. "Bokap-nyokap gua sendiri beda agama. Makanya gua bebas dan gak pernah dituntut buat ikut sana-sini."


"Hah? Kok 'gitu, sih?" Giliran Johanna sekarang yang mengerutkan kening, terheran-heran.


"Emang begitu adanya," papar Ghea kembali. "Bagi mereka sih, agama itu gak terlalu penting. Karena cuman bakal ngebatesin gerak hidup kita. Yang harus itu, gua sukses ngeraih jenjang pendidikan tinggi dan karir. Percuma juga beragama, tapi mindset kita terbelakang. Hidup jadi beban orang lain dan miskin."


'Astaghfirullahal'adziim ….' desah Johanna miris.


"Elu perhatiin aja, kehidupan orang-orang yang religius," imbuh Ghea menegaskan, "sehari-hari ruang lingkupnya cuman ngurusin agama, tapi melarat. Ekonomi keluarga gak terjamin, pikirannya picik gak bisa nerima perkembangan zaman. Yang ada di dalam otak mereka cuman … surga dan neraka. Ha-ha-ha! 'Kan, bodoh ya? Emangnya hidup ini bakalan cukup makan pake ayat-ayat Tuhan? Oh, no way. That's a weird."

__ADS_1


'Astaghfirullah ….' kembali Johanna melenguh sedih mendengar ucapan temannya tersebut.


...BERSAMBUNG...


__ADS_2