
...CINTA JOHANNA...
...Penulis : David Khanz...
...Bagian 21...
...------- o0o -------...
"Yaaa … sia-sia aja. Ngasih sedekah kok, sama Cina penipu? Hi-hi."
Laki-laki tersebut mendengkus sesak. Jawabnya kemudian, "Yang namanya ibadah, yaaa … gak ada yang sia-sia, Mas. Biarpun yang kita kasih itu tukang berbuat maksiat sekalipun. Allah itu Mahabaik dan Dia selalu menyukai manusia yang suka berbuat baik. Ingat, ya … bukan cuman hamba-Nya, tapi semua umat manusia. Mau yang taat, mau yang ingkar, mau Islam ataupun kafir, Allah selalu ngejanjiin balasan yang berlipat. Balik lagi ke niat awal kita, ikhlas enggak? Begitu, 'kan? Hidup ini gampang, terus ngapain dibikin ribet, sih?!"
"Panjang amat ngomongnya, Bang. Kayak khutbah Jum'at.'
"Terserah elu-elu pada aja dah!"
Gumam pemilik warung seraya mengelus dada, "Astaghfirullah … kenapa jadi pada su'udzon begono, sih? Suwe dah warung saiyah dipake ngegibah."
Begitulah kehidupan di zaman sekarang. Terkadang orang lebih suka riuh membahas tentang keburukan, akan tetapi ketika menemukan kalimat berharga penuh nasihat, tidak jarang malah diperolok serta dipandang sebagai sesuatu yang norak, sok suci, atau bahkan idiom-idiom semacam ; pemilik kavling surga, panitia kiamat, dan lain-lain.
Sementara di saat pengunjung di tempat makan tadi tengah hangat berdiskusi, Johanna sendiri sudah lama menjauh dari sana usai berterima kasih dan pamit pergi. Sebagai warga minoritas, baginya sudah bukan merupakan hal baru menerima dan mendengar cemoohan-cemoohan semacam tadi. Herannya bagi sebagian orang, mengapa suatu agama seolah-olah hanya boleh dianut oleh satu-dua suku bangsa. Padahal Tuhan menciptakan berbagai perbedaan, tentu saja memiliki maksud dan tujuan tertentu. Salah satunya adalah untuk menentukan sekumpulan hamba-hamba pilihan. Sebagaimana diciptakannya setan teruntuk menguji ketaatan seorang umat.
Sesaat kemudian, gaung azan Duhur bergema memenuhi angkasa. Saling bersahutan dari satu tempat dengan tempat lainnya untuk mengingatkan umat Islam agar segera memenuhi panggilan Ilahi, yakni menunaikan salah satu kewajiban ibadah di antara lima waktu.
__ADS_1
"Alhamdulillah …." gumam Johanna seraya mencari-cari asal sumber suara azan yang paling dekat. Dia segera mempercepat langkah sambil membawa bungkusan plastik besar berisikan pakaian serta seperangkat alat salat bersih. Beruntunglah, pertemuannya dengan Maesaroh beberapa hari yang telah lewat, membekali Hanna dengan sejumlah pakaian baru dan lebih manusiawi.
"Kebetulan, saya punya beberapa setel baju," ujar Maesaroh kala itu, usai Hanna memintanya berhenti tepat di gang seukuran satu ruas kendaraan besar menuju kediaman Tante Chika. "Tadinya mau saya kasih sebagai oleh-oleh buat temen dan tetangga di rumah, tapi … ngelihat kondisi Mbak ini sekarang, rasanya saya lebih ingin mendahulukan kepentingannya Mbak Hanna."
Semula Hanna bermaksud menolak, tapi desakan Maesaroh akhirnya meluluhkan juga.
Setelah berputar mencari-cari, gadis itu pun menemukan —lagi-lagi— sebuah Langgar kecil yang hanya terisi olehnya dan seorang lelaki tua. Sosok itu pula yang tadi terdengar mengumandangkan azan dengan suara parau dan jauh dari makna merdu.
Setelah sekian lama menunggu, belum ada satu pun warga lain yang datang ke sana. Terkecuali mereka berdua.
"Bolehkah saya bermakmum pada Bapak?" tanya Hanna sebelum melaksanakan ibadah salat. Lelaki itu melongo heran. "Anak Muda ini … siapa, ya?" Dia menyipitkan mata hendak memperjelas penglihatan yang sudah berkurang dimakan usia. "Kayaknya situ bukan warga sekitar sini."
Hanna tersenyum di balik balutan mukenanya, lantas menjawab, "Saya kebetulan lewat sini, Pak. Sekalian mau numpang salat."
"Oohhh."
"Enggak, tapi saya selalu berharap ada banyak jamaah lain turut berjejer di sini mengisi saf-saf sholat," ungkapnya bernada sedih. "Keadaannya selalu begini, terkecuali waktu Magrib dan Isya. Itu pun karena ada beberapa anak-anak kecil yang belajar mengaji di sini."
Hanna mengangguk paham.
Islam adalah agama mayoritas yang banyak dipeluk oleh penduduk di negeri ini. Namun dari fakta yang terkuak, justru rumah-rumah ibadah kerap dilanda kesunyian dan kekurangan jumlah jamaah di hampir setiap waktu sembahyang. Lebih mirisnya lagi, bibit-bibit generasi muda calon penerus tokoh agama, malah lebih hafal lirik-lirik lagu ketimbang bacaan salat serta kumpulan ayat-ayat suci Al Quran.
Akhirnya, di tengah hiruk pikuk padatnya pemukiman warga sekitar, hanya Hanna dan lelaki tua tadi yang berada di sana hingga usai pelaksanaan ibadah salat Duhur. Lantas usai meminta izin terlebih dahulu pada sosok tadi, gadis bermata sipit tersebut berdiam diri di dalam Langgar. Berzikir sebisa yang dia mampu dan hafal. Kemudian merenung tentang rencana perjalanan hidup ke depan yang belum pasti. Tidak berapa lama, tertidur lelah dalam posisi terduduk, masih dibalut lengkap kain mukena di sekujur badan.
__ADS_1
Beberapa waktu kemudian kembali terbangun, begitu mendengar suara seseorang membuyarkan kenanya. "Nak … bangun, Nak."
"Eeummmhh." Hanna menggeliat hebat. Meregangkan persendian yang terasa kaku usai berjalan jauh tiada henti. "Astaghfirullah … Bapak?"
Sosok tua yang tadi berjamaah salat Duhur kembali menyapanya. "Kamu masih di sini rupanya, Nak," ujarnya lembut.
"Jam berapa ini, Pak?"
"Sudah hampir waktunya Ashar."
"Ya, Allah!"
"Bangunlah …." kata lelaki tua tersebut seraya melangkah ke arah mimbar, dimana di sana terletak seperangkat pengeras suara. "Saya mau azan Ashar dulu."
Hanna mengerjap-ngerjap sejenak. Berusaha memokuskan pandangannya yang tiba-tiba agak mengabur. Ditambah rasa pusing menggayuti seisi kepala begitu hendak bangkit dari duduk.
'Ya, Allah … ada apa denganku?' membatin gadis tersebut di antara langkah yang tertatih-tatih. 'Sakit sekali kepala ini.'
Dalam kondisi limbung, Hanna tetap memaksakan diri berjalan menuju tempat wudu. Saat tiba di luar, dia berdiri membungkuk layaknya tengah melakukan gerakan rukuk. Perlahan-lahan rasa pusingnya memang berkurang dan mulai melanjutkan langkah walaupun agak timpang. Dera sakit yang lain pun bukan hanya datang dari kepala, tapi juga lambung. Mungkin akibat seharian lebih sebelumnya tidak kunjung menemukan makanan, pikirnya.
Seperti waktu Duhur tadi, salat Asar pun hanya ada mereka berdua di Langgar tersebut. Tidak tampak sosok tambahan atau wajah-wajah baru hendak menunaikan kewajiban. Rumah ibadah mungil itu tetap sunyi walaupun kumandang azan kerap digaungkan.
Usai melaksanakan salat Asar berjamaah, kemudian Hanna berpamitan hendak melanjutkan perjalanan. Dia tidak tahu harus ke arah mana tempat yang akan dituju. Namun tekad hati tetap berbisik untuk menghindar sejauh mungkin dari kediaman kedua orangtuanya, terutama dari Jonathan sang Papa.
__ADS_1
Timbul di dalam pikiran gadis itu, sepahit inikah perjalanan hidupnya dalam mempertahankan sebuah pilihan akhir. Menjadi sosok berbeda di antara lingkungan keluarga sendiri dan otomatis menjadi pihak paling dibenci di sana. Sampai kemudian guratan nasib berkata lain kini, terlempar secara paksa untuk mengarungi lautan luas tidak berkepastian. Layaknya ayunan langkah tidak bermata.
...BERSAMBUNG...