
...CINTA JOHANNA...
...Penulis : David Khanz...
...Bagian 8...
...------- o0o -------...
Tidak terlalu sulit untuk menemukan tempat yang dimaksud. Berada di tengah-tengah lingkungan warga mayoritas, bangunan mesjid, musala, langgar, dan/atau sejenisnya sangat mudah dijumpai di mana-mana. Bahkan di satu ruang lingkup ke-RT-an yang sama sekalipun, dua sampai tiga rumah peribadahan tersebut banyak berdiri kokoh laksana sedang berkompetisi. Akan tetapi fenomena seperti itu kerap tidak diimbangi dengan kuantitas jamaah, berjajar rapi serta indah, di belakang imam salat secara tumakninah. Seandainya rutin pun, senantiasa diisi oleh pemilik rupa lama dan berusia renta. Lantas di mana kaum muda calon penerus agama berada kini? Entahlah. Miris sekali.
Syukurlah, akhirnya Johanna menemukan sebuah musala kecil yang berada persis di tengah-tengah hunian warga setempat. Walaupun tidak bisa masuk karena pintunya dikunci, dia memilih untuk berbaring di teras belakang di dekat area untuk mengambil air wudu. Meskipun lantainya lumayan kering dan tampak kotor berdebu, tapi masih bisa didiami buat sementara waktu. Semilir bau pesing sesekali terhirup menyengat dari arah kamar kecil di sana. Namun gadis itu tidak begitu memedulikannya. Terpenting sekarang dia berada di tempat aman, pikirnya lebih lanjut.
Sebelum memejamkan mata, Johanna membuka balutan lembab kain mukenanya terlebih dahulu dan menggantungkannya pada sebuah paku yang tertancap di dinding area wudu tadi. Tampak sekali jika hal tersebut memang sengaja dibuat di sana untuk menggantungkan sesuatu, semacam peci atau kopiah bagi yang hendak bersuci. Gadis itu berharap, esok hari sudah kering kembali dan siap digunakan lagi untuk menunaikan ibadah salat Subuh. Kemudian duduk bersimpuh seraya menyandarkan punggung pada tembok musala dan mulai mencoba untuk tertidur.
Tidak mudah memang melewati malam itu dengan tenang. Terjangan hawa dingin serta gangguan nyamuk, kerap memaksa Johanna tetap terjaga di hampir semua perjalanan waktu tersebut. Sedih? Tentu saja. Namun bukan karena kondisinya kini yang begitu memprihatinkan, akan tetapi teringat pada keluarganya. Terutama sosok Mama Hanna sendiri.
“Maafin Hanna, Ma,” gumam Johanna di antara gigil kedinginan seraya menekuk lutut dan memeluknya dengan erat menghangatkan dada. ‘Hanna sadar, suatu saat ... Papa dan Mama pasti akan mengetahui apa yang Hanna sembunyikan selama ini. Siap atau tidak, Hanna harus mau menghadapinya. Itu sudah risiko atas pilihan Hanna sendiri ....’
Sejenak gadis itu menoleh ke kanan-kirinya. Keadaan sunyi seperti itu, sedikit memunculkan imajinasi lain di dalam kepala. Apalagi ruangan berwudu di dekatnya tersebut hanya diterangi sebuah lampu pijar kecil berdaya rendah. Sangat bertolak belakang dengan yang selama ini didapatkan di rumah orang tua.
‘Besok Hanna akan mencoba minta bantuan Tante Chika. Siapa tahu, mungkin ....’
“Enggak, Hanna. Maaf. Tante gak bisa ngebantumu,” ujar Tante Chika begitu keesokan harinya ditemui.
“Tante?” Gadis itu terkejut karena respons adik dari papanya tersebut tidak sesuai dengan harapan. “Kenapa, Tante?”
Tante Chika mengalihkan tatapannya dari Hanna ke arah lain dengan bibir bergetar, seperti tengah menahan luapan rasa sedih. Ujar wanita itu menjawab pertanyaan keponakannya, “Kamu tahu sendiri ‘kan, bagaimana kerasnya sikap Papamu itu, Hanna?” Lantas menunduk seraya mempermainkan jemari sendiri. “Dari kecil, Tante gak pernah berani melawan maupun membantah perintah Kak Atan.”
__ADS_1
Pupus sudah harapan Hanna untuk bisa mendapatkan bantuan dari Tante Chika. Satu-satunya kerabat terdekat, sekaligus terakhir dari garis keturunan keluarga papanya.
“Semalem Papamu nelpon Tante,” imbuh Tante Chika melanjutkan penuturannya. “Dia nyeritain semua tentang diri kamu, Hanna. Termasuk apa yang membuat Papamu itu marah besar dan mengusir kamu.”
“Jadi Tante sama sekali gak bisa nolong Hanna?” Hati gadis itu kian teriris perih. Dijawab gelengan pelan oleh tantenya tersebut. “Ya, Allah ....”
“Hanna ....” Tiba-tiba Tante Chika balik menatap keponakannya sambil memegang kedua bahu gadis tersebut. “Tante sayang banget sama kamu, tapi ....”
“Tapi apa, Tante?”
Mata wanita itu semakin berlinang air mata.
“Tapi Tante lebih takut sama Papamu, Sayang. Tante gak berani menolak perintah Kak Atan buat gak ngasih bantuan apa pun sama kamu. Tante minta maaf. Hiks ... hiks.”
Hanna menelan ludah. Kerongkongannya mendadak terasa kering kerontang dan rasa air liur pun seperti berubah pahit. Dia memahami perasaan tantenya tersebut. Apa mau dikata, memang begitulah perjalanan kisah hidup yang harus dijalaninya kini.
“Maafin Tante ya, Hanna. Kalo boleh Tante ngasih saran ....” Ucapan wanita tersebut terhenti sejenak. Tampak seperti ragu untuk menyampaikan apa yang tengah dia pikirkan. Khawatir hal itu akan menyinggung perasaan keponakannya.
Usai menelan ludah, Tante Chika pun lantas menjawab, “Kembalilah seperti sebelumnya, Hanna, supaya kamu pun bisa kembali tinggal bersama keluarga. Kasihani Mama dan Papamu.”
“Maksud Tante ... Hanna ....”
“Tinggalkan apa yang kamu yakini sekarang, Hanna. Kembalilah menjadi hamba Tuhan—“
“Enggak!” tukas Hanna secepatnya. “Hanna gak mungkin ngelakuin itu, Tante!”
“Hanna ....” balas Tante Chika mengiba. “Ini semua demi kebaikanmu juga, Sayang. Demi keluargamu, Papa-Mamamu, juga adikmu Andrew.”
__ADS_1
“Tante?”
“Mau ya, Sayang? Kamu mau ‘kan ngelakuinnya?”
Hanna tidak menjawab.
“Lagipula ... gak ada untungnya sedikitpun bagi kamu, meyakini agama yang bukan merupakan kepercayaan atas leluhur-leluhur kita dulu, Hanna.”
Gadis itu menggeleng-geleng sedih.
“Tante juga gak mau, keponakan yang sangat Tante sayangi ini ... suatu saat berubah menjadi manusia keji, pembunuh, penebar kekacauan, *******, atau mungkin ... menjadi pemuas nafsu laki-laki yang mengagungkan-agungkan paham perzinahan poligami.”
“Hentikan, Tante,” ujar Hanna kian merasa bersedih. “Jangan lagi berkata-kata seperti itu, Tante.”
“Kenapa? Nyatanya memang seperti itu ‘kan, agama yang kamu yakini sekarang ini, Hanna?”
Hanna kembali menggelengkan kepala, lantas berucap, “Enggak, Tante. Itu sama sekali enggak benar. Islam gak seperti itu. Apa yang Tante omongin tadi, itu adalah fitnah terbesar yang sering Hanna dengar sebelum Hanna menemukan kebenaran akan agama yang Hanna yakini sekarang ini, Tante.”
Tante Chika mengerutkan kening. “Bagaimana kamu bisa mengetahui kebenaran agama barumu itu, sementara kamu sendiri baru menjadi penganutnya?” ucapnya seperti tengah berusaha menggoyahkan keyakinan Hanna. “Percayalah, Hanna ... Tante sudah tahu lebih jauh tentang itu ketimbang kamu yang masih muda ini.”
“Itu karena Tante menilai dengan mata Tante,” balas Hanna berusaha sabar. “Bukan dengan hati dan pikiran.”
“Tante berpendapat dengan memakai logika, Hanna. Buktinya, bukan hanya Tante doang yang mengetahui kebusukan orang-orang Islam itu. Teman-teman Tante, keluarga Tante ... termasuk Papamu sendiri, juga--”
“Itu! Itu!”
“Itu apa maksudmu?”
__ADS_1
Tandas Hanna menjelaskan, “Nah, itu dia yang Hanna maksud bahwa Tante menilai Islam itu hanya dari mata. Pandangan. Bukan dengan menggunakan hati dan akal pikiran.”
...BERSAMBUNG...