Cinta Johanna

Cinta Johanna
Bagian 57


__ADS_3

...CINTA JOHANNA...


...Oleh : David Khanz...


...Bagian 57...


...—------- o0o —-------...


Tok! Tok! Tok!


Terdengar suara ketukan di pintu kamar. Johanna yang baru saja bersiap-siap hendak berangkat kuliah, tersentak. "Sebentar, Ndrew! Jangan dulu masuk!" seru gadis itu buru-buru mengenakan jas almamater kampusnya.


"Ini Mama, Han!" jawab suara di luar.


"Oh, Mama? Ya, ampun!" seru Johanna buru-buru membukakan pintu. "Ih, kirain si Andrew, Ma. Maaf, ya?"


Mama Lilian tersenyum manis. Dia merangsek masuk ke dalam kamar, usai melihat-lihat sejenak ke belakang.


"Ada apa, sih?" tanya gadis muda itu heran melihat gerak-gerik ibunya. Sebentar dia ikut melongok ke luar kamar. "Lihat apa barusan, Ma?"


Jawab Mama Lilian begitu pintu kamar anaknya sudah kembali tertutup rapat, "Ini … sarapan buat kamu." Dia menyerahkan sebuah bungkusan plastik pada anaknya.


Johanna merengut heran. Tanyanya kemudian, "Loh, kenapa dibawa ke kamar? 'Kan, bentar lagi Hanna juga mau ke ruang makan, Ma. Ini lagi … kenapa pake dibungkus plast—"


"Ssttt!" Ibunya menempelkan jari telunjuk ke bibir sendiri. "Jangan keras-keras!"


Johanna melongo dan lanjut bertanya dengan suara berbisik, "Emangnya kenapa sih, Ma? Ini … Mama beli dari warung, ya?"


"Iya. Dari warungnya Bu Haji Samsiah yang di depan gang itu. Sengaja Mama beliin buat kamu."


"Kenapa beli? Bukannya tadi Subuh Mama masak?" Johanna masih belum paham, sekaligus merasa kian penasaran.


Mama Lilian menarik lengan Johanna agar menjauh dari area pintu kamar, lantas mendekatkan wajah ke telinga anak gadisnya tersebut. "Tadi … Tantemu ikut bantu Mama masak, tapi … ssttt, gak usah ngomongin apa-apa, ya. Anggap aja gak pernah terjadi apa-apa," bisik wanita tua tersebut.


Johanna mengangkat alis, heran. Tanyanya kemudian, "Emang Tante Chika masak apaan?" Direspons ibunya dengan reaksi cemberut. Lantas berujar, "Hhmmm, kayak kamu gak tahu aja."


"Tante Chika masak …."


"Udahlah. Kamu pasti paham dong, Sayang," tukas Mama Lilian seraya menepuk lengan Johanna. "Cepetan makan. Abisin. Entar kamu telat pergi lagi, ah."


"I-iya, Ma. I-iya," balas Johanna begitu memahami apa yang diucapkan oleh ibunya barusan. Sekaligus merasa senang dan bangga. "Ma …." panggil gadis tersebut begitu Mama Lilian hendak keluar kamar, "terima kasih, ya."


Wanita tua itu hanya melempar senyum manis dan tepisan tangan ke arah Johanna.


'Alhamdulillah … ya, Allah,' gumam Johanna. 'Ternyata Mama mendukungku untuk menjadi muslimah dan tetap istiqamah. Alhamdulillah … Alhamdulillah … Alhamdulillah.'


Sementara Hanna sedang menyantap makanan, samar-samar dari arah ruang makan terdengar percakapan Lilian dan Chika.


"Hanna mana, Kak? Kok, belum keluar kamar?" tanya adik kandung Jonathan. Jawab Lilian, "Masih di kamar. Lagi dandan. Biasalah … anak perempuan."


"Gak disuruh sarapan dulu? Ini udah mau siang loh, Kak."


"Tahu, tuh. Katanya lagi puasa, Dek," jawab kembali Lilian sengaja berbohong.


"Puasa? Puasa apaan? 'Kan, sekarang bukan bulan puasa (Ramadan), Kak?"


"Gak tahu, ah!" timpal Lilian merasa malas ditanya-tanya terus oleh Chika. "Udahlah. Kamu kalo mau nyarap, makan aja duluan. Aku mau ngamar lagi, ya."


Chika menggerutu sendirian. Bibirnya bergerak-gerak tanpa suara. Entah apa yang dia ucapkan. Tidak jelas.


Kebetulan pada waktu bersamaan, Andrew lewat di ruangan tersebut. Spontan Chika langsung memanggilnya.


"Ada apa, Tante?" tanya anak laki-laki itu terlihat cuek dengan setelan seragam sekolahnya.


"Itu … Tante mau nanya."

__ADS_1


"Nanya apaan?"


"Itu, Ndrew, kalo orang Islam puasa, itu namanya puasa apa?"


"Hah?" Andrew malah melongo. "Puasa ya, puasa. Gak ada namanya, Tan."


"Iihhh, itu kakakmu … si Hanna, katanya hari ini lagi puasa. Emang bener, ya?"


"Mana Andrew taaahhuu!"


"Dih! Ya, kamu harus tahu dong, Ndrew!"


"Buat apaan?"


"Supaya kalo Tante nanya, kamu tahu jawabnya apa 'gitu."


"Ya, tinggal nanya aja langsung sama Kak Hanna. Ngapain juga nanya sama Andrew."


"Minimal kamu tahu dikit-dikit 'gitu, Ndrew. Jangan polos-polos amat jadi orang."


"Yeee … emangnya kudu 'gitu ya, Tan? Kecuali kalo Andrew mau ikut-ikutan jadi kayak Kak Hanna."


"Ah, malah makin ngaco! Jangan … jangan! Gak usah banyak tahu deh, kalo begitu! Kacau, ah!" gerutu Tante Chika langsung berubah roman mukanya. "Udah, berangkat sana!"


Andrew tertawa-tawa melihat reaksi tantenya. Lantas timbul keisengan untuk menjahili sosok tersebut. "Ya, udah. Andrew berangkat dulu ya, Tan. Mama mana?"


"Tuh, lagi ngamar!" jawab Tante Chika masih dengan raut sama.


"Oohhh, kalo 'gitu Andrew berangkat dulu ya, Tan."


"Oke."


"Salamulikum!"


"Ha-ha-ha!"


Andrew buru-buru menjauh sambil tertawa-tawa. Tinggal menyisakan Tante Chika seorang diri di ruangan itu sembari menggeleng-geleng kepala dan menggerutu tiada henti. "Heran, deh! Gara-gara satu orang, jadi pada gila semuanya! Bo kang co, kui!"


" … Iya, Mas. Ini aku baru mau berangkat." Johanna tiba-tiba muncul dari dalam kamarnya sambil bercakap-cakap melalui ponsel. "Iya … tunggu aja di depan. Gak usah masuk gang. Entar kamu nyasar lagi, ah!"


"Heh, Johanna!"


Johanna menoleh dan sejenak menghentikan obrolannya. "Sebentar ya, Mas. Ada Tanteku, nih. Mau ngomong 'ngkali? Oke …." Dia menatap Tante Chika. "Ya, Tante. Ada apa?"


Raut wajah wanita tua itu makin terlihat kusut. "Ada apa … ada apa," katanya dengan kondisi bibir mengerucut. "Mau ke mana kamu?" tanya Tante Chika yang sebenarnya tidak perlu lagi melempar pertanyaan seperti itu. Namun dipikir-pikir daripada tidak ada bahan untuk berseteru, meneruskan perdebatan mereka tadi Subuh.


"Kuliah, Tante," jawab Johanna santun.


"Kok, teleponan?"


'Idiihhh, mulai kepo dia!' kata Hanna di dalam hati.


Jawab gadis itu, "Ya, orang ada yang nelepon. Masa dicuekin, Tante?"


"Telepon kok dipake ngobrol."


"Ya, kalo buat dimakan, namanya bukan telepon. Tapi kelepon, Tante."


"Heh! Jawab aja kamu!"


"Tadi 'kan Tante nanya, makanya Hanna jawab. Tante ngajak ngobrol, ya Hanna balas," ujar Johanna sembari menahan senyum. "Emang Tante mau ngobrol sendiri? Ya, sudah … Hanna berangkat dulu, deh."


"Heh, kurang ajar ya kamu sekarang!" sentak Tante Chika mulai naik darah.


"Chikaaa!"

__ADS_1


Johanna langsung menunjuk ke arah kamar ibunya. Sementara Tante Chika spontan menutup mulut.


"Tuh, Mama manggil, Tan," kata gadis itu.


"Bukan manggil, tapi mau ngomelin gua!" timpal wanita tua itu dengan suara pelan. "Gara-gara kamu, sih."


"Kok, jadi Hanna yang disalahin?"


Bibir Johanna sampai bergerak-gerak saking tidak kuat menahan gelitik syaraf ketawanya.


"Iya, gara-gara kamu lewat di sini. Makanya mulut Tante jadi gatel pengen ngomelin kamu!" ujar Tante Chika kembali. Masih dengan intonasi serendah mungkin.


"Dih!"


"Chikaaa!" Terdengar lagi teriakan Mama Lilian di kamarnya. "Elu kalo masih ngomelin anak gua, mending elu balik deh ke rumah lu sana!"


"Astaga! Gawat!" seru Tante Chika seraya menutup mulut dengan jemarinya. Kaget bukan kepalang. Lalu balas menyahut, "Enggak, Kak! Hanna udah berangkat, kok! Tuh, orangnya mau jalan!"


"Awas lu ya!"


"I-iya, Kak! Selow aja!"


"Hi-hi-hi!" Akhirnya cekikik Johanna pun membuncah.


"Heh, malah cekikikan kamu kayak kuntilanak," seru Tante Chika langsung menurunkan kembali volume suaranya. "Buruan pergi sana. Entar Tante didamprat habis-habisan sama Mama kamu."


"Oke, deh. Makasih, Tante. Daahhh."


Kembali Tante Chika menggerutu tanpa suara seraya mendelik ke arah keponakannya yang bergegas berangkat.


Usai berpamitan pada ibunya, Johanna berjalan tergesa-gesa menyusuri gang. Sampai kemudian melihat sosok Ravi sedang menungguinya di pinggir jalan.


"Hai, Mas!" sapa Johanna.


Ravi merengut. "Kok, 'hai' sih? Ucapin salam dong. Assalaamu'alaikum 'gitu."


"O, iya … lupa," ucap Johanna, lantas buru-buru meralat sapanya tadi. "Assalaamu'alaikum, Mas."


"Wa'alaikumussalaam," jawab Ravi disertai senyuman. "Nah, 'gitu dong. 'Kan, lebih enak didengernya."


"Langsung berangkat?" tanya Johanna, tapi kali ini sambil mencari-cari kendaraan yang biasa dibawa oleh Ravi. "Mobilnya mana, Mas? Kok …."


"Aku bawa motor. Tuh!" tunjuk Ravi pada sebuah kendaraan roda dua yang terparkir agak jauh dari tempat mereka berdiri.


"Loh, mobil Mas Ravi emang ke mana?" Rasa was-was seketika menjalari dinding hati gadis tersebut. Khawatir jika telah terjadi sesuatu yang tidak diharapkan. Pencurian, misalkan.


Jawab Ravi pendek, "Dibawa istriku."


"Loh?"


"Kok, loh?"


"Emang …."


"Udahlah. Gak usah dibahas di sini. Panjang ceritanya," tutur laki-laki itu dengan bias aneh di wajahnya. Seperti tengah memendam rasa kesal. "Yuk, berangkat."


Seraya berjalan menuju motor yang terparkir, Johanna bertanya perlahan. "Ribut lagi sama istri Mas?"


Ravi tersenyum tipis.


"Biasalah. Udah gak aneh. Yuk, ah … kita let's go!"


Johanna tidak berani lagi untuk bertanya-tanya. Bahkan di sepanjang perjalanan, nyaris tidak ada percakapan sama sekali. Ravi yang biasa terlihat enerjik, mendadak berubah kaku dan dingin. Persis seperti awal mereka berjumpa dulu di sebuah klinik pengobatan.


...BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2