Cinta Johanna

Cinta Johanna
Bagian 68


__ADS_3

...CINTA JOHANNA...


...Oleh : David Khanz...


...Bagian 68...


...—------- o0o —-------...


"Ada apa, Mas?" tanya Johanna begitu Ravi kembali ke tempat semula. "Nelpon istrimu?" Gadis itu mulai menduga-duga. Namun dari raut wajah lelaki tersebut, tampak sekali bahwa dia tengah risau.


"A-ah, uummhhh … enggak. Bukan apa-apa," jawab Ravi tergagap. "Hanya pesan biasa. He-he."


"Iya. Dari istrimu, 'kan?" Tadi aku denger, kamu nyebut nama 'Sarah'," ujar Johanna kembali dengan nada cuek, tapi hatinya penasaran. Mungkinkah telah terjadi sesuatu atau mereka berdua kembali bermasalah? Bertanya-tanya gadis itu.


"Sudahlah, gak usah dibahas dulu," timpal Ravi seraya melihat-lihat kembali keadaan sekitar mereka, sejenak. "Kita makan aja, yuk. Entar keburu dingin jadi gak enak."


Johanna menyerah. Dia tidak ingin memaksa lelaki itu untuk berterus terang. Percuma saja. Lagipula, pikirnya, itu masalah internal keluarga Ravi. Namun di sisi lain, gadis itu merasa dia tengah berada di antara dua orang yang sedang berseteru. Tidak nyaman? Sudah pasti. Lantas, apa sebenarnya fungsi kehadirannya bagi Ravi dan Sarah sekarang?


'Hhmmm, aku masih tidak mengerti. Kenapa Sarah bisa menebak apa yang kulakukan sekarang, ya?' pikir Ravi masih merasa penasaran. 'Seolah-olah dia memang tahu banget semuanya. Apa mungkin … ah, Hanna sama sekali tidak pernah mengenal Sarah. Bagaimana mungkin dia yang mengabarkan itu pada dia? Sedangkan orang-orang yang ada di sini, tidak satupun ada yang kukenal.'


Gumam Johanna di dalam hati, 'Mas Ravi kayaknya gelisah. Beberapa kali kulihat dia menoleh ke arah pengunjung lain. Apakah ada seseorang yang membuat dia tidak nyaman? Apakah itu berhubungan dengan Sarah? Kenapa juga harus menjauh dari sini kalau hanya ingin menelepon istrinya? Biasanya juga tidak begitu.' Kemudian teringat pada sosok lelaki yang sempat gadis itu lihat sebelumnya. 'Apakah ada hubungannya juga dengan sosok yang tadi, ya? Dia menghilang, persis setelah Mas Ravi kembali dari petugas pemesanan tadi.'


"Ah!" desah Johanna tidak sadar. Dia mengibaskan tangan di depan muka sendiri.


"Ada apa, Han?" tanya Ravi heran. "Kamu lagi mikirin sesuatu, hhmmm?" Mata lelaki itu menatapnya lekat sambil menikmati makanan.


Johanna melirik, lantas menjawab, "Ah, enggak, Mas. Aku cuman …." Dia berpikir sejenak. 'Ya, Allah … haruskah aku kembali berbohong sama dia? Lama-lama aku berubah seperti orang munafik.' Kemudian lanjut berkata, "Enggak … enggak. Kita habiskan dulu makanan ini. Enggak baik makan sambil berbicara."

__ADS_1


Ravi tersenyum walaupun benaknya masih digayuti pikiran tadi. "Bener. Emang sebaiknya kalo lagi makan itu gak boleh disertai ngobrol. Tahu gak alasannya kenapa, Han?" tanyanya mengingatkan, tapi malah mengajak berbincang-bincang.


"Setahuku buat menghindari … kalau-kalau ada ucapan yang bikin perasaan tersinggung, terus ngaruh sama selera makan kita," jawab Johanna begitu meyakinkan.


"Ada benarnya juga," timpal Ravi. "Walaupun dalam adab Islam, aku pernah membaca beberapa bunyi hadits bahwa tidak sekali saja ditemukan kalau Rasulullah sendiri pernah berbincang-bincang ketika sedang makan-makan. Tapi tentunya bahasa yang diucapkan beliau, pasti sesuatu yang baik-baik. Bukan tentang keburukan."


"Terus?" tanya Johanna penasaran.


Lanjut Ravi berucap, "Tapi jika sekiranya mengandung sesuatu yang enggak baik, ya … diam adalah satu-satu cara yang bagus. He-he."


"Terus kenapa kamu sekarang masih juga berbicara, Mas?" Johanna bermaksud menguji wawasan lelaki yang ada di hadapannya tersebut.


"Yaaa … 'kan aku gak lagi ngomongin yang jelek-jelek," elak Ravi diiringi senyumannya. "Kalo aku ngomongin kurang bagus, mending aku diam. Kayak … ungkapan seorang ulama bernama Syaikh Albani, beliau berkata; 'Berbicara ketika makan, hukumnya seperti berbicara di luar makan. Jika pembicaraannya baik, maka baik. Jika pembicaraannya buruk, maka buruk.'1 Jadi sebenernya gak ada larangan juga makan sambil ngobrol-ngobrol, karena itu juga merupakan bagian dari Sunnah. Begitu sih, menurut beberapa ulama. Asal pembicaraannya mengandung sesuatu yang baik, semisal … pujian terhadap tuan rumah yang memberikan jamuan makan-makan. 'Wah, pandai sekali yang masak. Rasanya sangat lezat sekali dan kami sangat menyukai makanan yang Anda sajikan.' Bisa juga berupa ucapan terima kasih. Itu cuma contoh saja."


"Kalau istri Mas Ravi sendiri yang masak, bagaimana?" tanya kembali Sarah iseng-iseng.


Seketika raut wajah Ravi berubah datar. Dia mendeham sebelum menjawab. Katanya kemudian, "Yaaa … sebisa mungkin, suami juga memberikan pujian dan ucapan terima kasih, walaupun kadang-kadang rasanya gak sesuai dengan selera. Ha-ha."


"Gak apa-apa juga sekali-sekali bohong demi kebaikan," tangkis Ravi tidak mau kalah.


"Mana ada bohong demi kebaikan? Yang ada juga bohong itu untuk menutupi keburukan, Mas!" Johanna agak terpancing untuk lanjut berdiskusi. "Biasanya … orang itu terpaksa berbohong, untuk menutupi sebuah kebohongan yang lain."


Balas Ravi kembali, "Enggak juga, dong. Itu tergantung niatnya. Kalo yang aku maksud bohong sama istri tadi, niatnya adalah jangan sampe perasaan istri kecewa atau tersinggung. Lah, kalo entar suami ngomong jujur … 'Wah, masakanmu kok gak enak, sih?' Ini misal saja, ya … nanti yang ada, istri marah, istri ngambek, terus ngambek deh gak mau masak lagi. Hi-hi. Makanya untuk sementara, berbohong dulu buat ngejaga perasaan istri. Entar habis makan, lanjut ngobrol; 'Eh, Mah … lain kali kalo Mamah masak, Papah juga pengen bantu, dong. Yaaa … tibang nyobain icjp-icip juga gak apa-apa. Siapa tahu, Papah jadi tahu … ini kurang apa, itu kurang apa. Papah juga 'kan pengen pinter masak kayak Mamah.' Sekilas seperti sebuah pujian, tapi sebenernya itu adalah sindiran halus buat istrinya."


"Ha-ha-ha." Johanna tertawa lepas. "Bisa aja kamu ngedrama, Mas. Ha-ha. Terus … terus, 'gimana lagi?"


Imbuh Ravi bertutur kembali, "Yaaa … syukur-syukur istrinya gak baperan. Mau memperbaiki kesalahan yang ada. Bukan malah lanjutin ngambeknya; 'Eh, Papah nyindir Mamah, ya? Masakan Mamah gak enak, ya? Ya, sudah … besok-besok masak aja sendiri. Gak usah ngandelin Mamah. Bila perlu, beli tuh makanan jadi di luar. Jadi enak, Mamah gak usah repot-repot masak!' Nah, kalo udah kayak begini, repot urusannya. Ya, mesti ngobatin penyakit ambekan istri … ya, kudu ngebenerin masakan istri. Double dah kerjaan laki. Ha-ha!"

__ADS_1


"Ha-ha-ha! Ternyata seru juga dunia pernikahan itu. Kayak lagi ngejalanin script drama series. Hi-hi-hi!" Johanna tergelak-gelak.


"Iya, makanya penting banget adalah saling memahami karakter pasangan masing-masing. Jangan sampai kayak begini … istri maksa suami buat bersikap seperti apa yang dimiliki atau dipikirkan oleh istri. Begitupun sebaliknya. Istri dan suami itu adalah dua jenis manusia yang diciptakan oleh Allah dengan segala keunikan dan kekhasannya masing-masing. Perempuan begini, laki-laki ya begitu. Gak bisa … keduanya dicampuradukkan menjadi satu kesatuan. Ya, bedalah. Terutama dari segi hati dan pikiran. Yang bisa menyatukan itu adalah pemahaman dan pengertian. Bukan pemaksaan."


Mata Johanna tampak berbinar-binar memperhatikan setiap ucapan yang disampaikan oleh Ravi. Tidak sadar, dia seringkali tersenyum sendiri sembari menatap lekat sosok lelaki di hadapannya tersebut.


Pungkas Ravi akhirnya, "Nah, gak ada salahnya juga, mulai dari usia sebelum menikah, baik laki-laki maupun perempuan saling belajar memahami karakteristik lawan jenis. Terutama calon pasangan. He-he."


"Iya, aku juga pengen lebih banyak belajar tentang itu, Mas," kata Johanna. "Biar suatu saat kelak … aku bisa memahami kamu."


"Memahami aku? Kok, jadi memahami aku?" tanya Ravi heran.


Johanna buru-buru meralat. "Aahhh, maksudku … belajar tentang karakteristik kaum laki-laki seperti halnya kamu, Mas. Buat calon jodohku kelak. M-maksudku begitu."


"Kok, aku kayak jadi obyek observasi, ya? Ha-ha-ha!" Ravi sendiri lekas menutupi prasangka yang sempat mencuat ke dalam benaknya dengan gaya bercanda. "Tapi gak masalah sih, dijadiin bahan juga. He-he."


Johanna tersenyum kambing seraya pura-pura minum. Padahal hatinya menggerutu. 'Uuhhh, hampir saja aku keceplosan ngomong. Ya, Allah … kok, bisa-bisanya aku lepas kontrol, ya?'


'Kenapa Hanna jadi salting begitu, ya? Kalau memang salah ucap, ya kudunya biasa saja, sih. Tidak usah mesti bikin wajahnya memerah seperti itu,' gumam Ravi sembari sesekali melirik sosok gadis di depannya.


'Ih, Mas Ravi kenapa, sih? Kok, dia ngelirik-lirik terus sama aku? Apa dia curiga dengan omonganku tadi? Duh, malu banget jadinya. Huh!'


...BERSAMBUNG...


Keterangan :


__ADS_1


Kitab Silsilah Huda wan Nuur, 1/15.



__ADS_2